
Enjoy Reading ๐คโ
___________
Matahari sudah tampak malu-malu di ufuk timur, sebagian orang sudah melakukan aktivitas kesehariannya. Kayla sebenarnya sudah sadar dari tidurnya, namun raga seakan enggan beranjak, kepalanya terasa berdenyut. Semalam dia sulit memejamkan mata akibat pernyataan Eltan saat makan siang.
"Hamil, bagaimana kalau kamu hamil."
Pernyataan tersebut membuat kekhawatiran semakin besar saat Kayla membuka aplikasi kalender pada ponselnya. Selalu menandai tanggal saat dia mengalami datang bulan, mendapati bahwa tanggal yang sama bulan ini telah terlewat beberapa hari. Mencoba menghibur dirinya, bahwa telatnya disebabkan karena kesibukannya sehingga menyebabkan dia stress dan mempengaruhi siklus kewanitaannya.
Namun, ketidaknyamanan pada tubuhnya membuatnya berfikir untuk mencari kebenaran terhadap gejala-gejala yang muncul. Nafsu makan yang turun karena rasa mual tiba-tiba, rasa kantuk yang sering tidak tau waktu, badan yang terasa cepat lelah dan rasa pening yang mengganggu. Dia pernah mendengar obrolan bunda Meera dengan Tante Ira istri dari Om Pram mengenai keluhan-keluhan awal kehamilannya dan keluhan tersebut hampir sama dengan yang Kayla rasakan beberapa hari ini. Hanya ada satu cara memastikannya, membeli tespek dan memastikan kebenaran.
.
.
Air matanya tumpah, dadanya terasa sesak saat melihat hasil yang muncul pada alat tes kehamilan untuk uji urinenya. Dua garis sejajar menandakan bahwa saat ini ia sedang hamil. Tangisnya pecah, rasanya dia ingin berteriak. Dia merindukan pelukan bundanya.
Seharusnya dia tidak perlu khawatir, Eltan sudah menyatakan dia siap bertanggung jawab. Namun dia tidak bisa membayangkan, dia harus menikah dengan laki-laki yang saat ini tidak dia cintai. Tapi cinta itu bisa hadir seiiring waktu, ada hal lain yang menjadi ganjalan baginya. Keluarganya pasti kecewa dan jelas ini menyakiti hati Mami Laksmi, Ayah dan bundanya akan merasa gagal mendidiknya.
Drt drt
Ponsel Kayla bergetar, nampak panggilan dari Papi Kevin.
Kayla berdeham dan mengapus air matanya sebelum menerima panggilan.
"Halo, Pih."
"Kamu di mana Kay?"
"Apartemen Kak Dipta Pih."
"Segera ke sini, jangan pergi kemana pun termasuk ke butik".
"Ada apa Pih, aku harus ke Luxurius."
"Tidak usah banyak tanya, kamu akan tau kalau sudah tiba."
"Pih..."
"Segera Kayla!" terdengar suara Kevin dengan oktaf lebih tinggi dari biasanya.
"iya, aku berangkat sekarang."
Permasalahan apa yang membuat Kevin meninggikan suaranya pada Kayla, meskipun Kayla adalah anak sambungnya, dia tidak pernah kurang kasih sayang dari Kevin. Selalu memberikan perhatian dan hal lain yang sama dan adil kepadanya juga anak kandungnya. Tidak ada pembedaan apapun.
'Apa Papih tahu apa yang terjadi padaku?' gumam Kayla.
Kayla beranjak ke kamar mandi dengan tujuan membersihkan diri serta mengganti pakaiannya.
Mengambil kunci mobil dan ponsel serta memakai tasnya, segera ia menuju mobilnya di basement.
Drt drt
Kayla sudah berada pada kemudi mobilnya saat ponselnya bergetar dan menampakan nomor panggilan yang tidak dikenal.
__ADS_1
"Halo."
"Kay, dimana kamu ?"
Kayla menghembuskan nafasnya, "Bang, please ! sudah aku bilang jangan ganggu aku. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita," jawab Kayla, seakan lupa bahwa dia baru saja memastikan kehamilannya yang disebabkan oleh Eltan.
"Tidak bisa Kay, pertama kita harus pastikan kamu tidak hamil. karena kalau kamu tidak hamil, kita lebih leluasa merencakan pembicaraan ke keluarga"
"Lalu, kalau aku hamil? Abang mau minta aku buang?"
"Kayla, jaga bicaramu. Kalau kamu hamil, aku akan segera melamarmu."
"Ck,, udah Bang jangan ganggu aku. Abang cuma bikin aku tambah pusing. Mending Abang urus hotel milik keluarga Abang. Itu kan tujuan Abang ke Jakarta? Aku enggak mau Mami Laksmi kecewa sama aku karena menjadi kegagalan Abang dengan urusan usaha keluarga abang."
"Itu urusan aku Kay, kamu.."
Kayla mengakhiri panggilan dari Eltan, segera menghidupkan mobil dan membawanya menuju kediaman Kevin. Melewati beberapa titik kemacetan mengingat saat ini adalah jam sibuk, dimana setiap orang berlomba menuju tempat aktivitas masing-masing. Kepalanya terasa berdenyut, perutnya terasa bergejolak antara rasa mual yang kemungkinan efek dari gejala kehamilannya dan perih karena belum terisi makanan. Terakhir dia mengisi perutnya adalah kemarin siang.
Kayla telah tiba di kediaman Kevin, memarkirkan mobilnya pada carport yang ada. Sekilas dia melihat mobil lain yang dia ketahui bukan milik keluarga Kevin.
"Mbak Lula, Bunda sama Papi dimana?" tanya Kayla saat masuk dan bertemu dengan salah satu pelayan rumah Kevin.
"Nyonya di belakang non, kalau Tuan di ruang kerja bersama Pak Pram."
"Owhh."
Kayla melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat Bunda berada.
"Pagi Bunda," sapa Kayla sambil memeluk Meera dari belakang.
Kayla menggelengkan kepalanya "Aku mau ketemu Papi?"
"Papi di ruang kerja dengan Om Pram, mereka sudah tunggu kamu?"
"Ada apa sih Bun?"
"Kamu cepat temui mereka, atau kamu mau makan dulu. Kamu kurusan Kay, muka kamu pucat begini. Kamu sakit?" tanya Meera.
"Enggak Bun, aku enggak apa-apa. Ya udah aku temui Papi dulu."
Tok tok tok
Kayla mengetuk pintu ruang kerja Kevin, sebelum ada perintah masuk dia langsung membuka pintu dan menyapa Kevin.
"Pagi Pih," ucapnya sambil mengecup pipi Papi Kevin.
"Hmm."
"Pagi om Pram." sapa Kayla pada Pram yang merupakan kerabat juga pengacara keluarga Kevin.
"Pagi Kayla."
"Duduk Kay," perintah Kevin pada Kayla.
Kevin duduk bersebrangan dengan Pram pada sofa yang berada di ruangan kerja Kevin, Kayla memilih duduk di samping Kevin.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Kevin.
"Biasa aja, belum ada project peragaan busana lagi."
"To the point Kay, PT. Mode Indonesia kamu tau?"
"Taulah Pih, itu lembaga yang mengadakan kompetisi Top Designer Indonesia tiap tahun. Aku ikutan tahun ini, sudah lewat babak penyisihan," terang Kayla.
"Kamu baca ini," ujar Kevin sambil memberikan amplop coklat yang sepertinya isinya berkas.
"Ini apa Pih."
"Bacalah Kay!"
Kayla membuka amplop tersebut mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya. Sebuah surat dengan kepala surat teridentifikasi sebagai PT Mode Indonesia. Dia mengernyitkan alis dan dahinya, sambil terus membaca kelengkapan surat ditangannya.
Ternyata surat tersebut ditujukan kepadanya, menyatakan bahwa dia didiskulifikasi dari Top Designer Indonesia karena sketsa yang didaftarkan dianggap sebagai plagiat salah satu Rumah Mode.
Disana juga dijelaskan apa yang harus dilakukan sebagai sanksi dari kesalahannya.
"Ini maksudnya apa Om Pram? Aku enggak ngerti." tanya Kayla.
"Kay, sepertinya sketsa rancangan yang kamu ikut sertakan dalam kompetisi sudah menjadi hak milik sebuah rumah mode Daily Fashion? Kamu tau?"
"Hmm, aku pernah dengar."
"Kamu dinyatakan diskualifikasi karena rancanganmu dianggap plagiat," Ujar Pram.
"Tapi gak mungkin Om, itu rancangan aku sendiri bukan plagiat."
"Kalau kita baca surat tersebut, jelas disini posisi kamu lemah. Kamu harus ada bukti bahwa rancangan kamu asli. Kamu bisa lihat lampiran-lampirannya."
Kayla membuka lembar-lembar berikutnya, yang ternyata adalah copy dari rancangan yang dia kirim untuk mengikuti kompetisi tersebut. Terdapat juga katalog Daily Fashion yang isinya busana-busana rancangan milik rumah mode tersebut.
Kayla menggelengkan kepalanya "Om.."
"Kamu bisa buka link Daily Fashion, disana lebih mudah pencariannya," terang Pram.
Kayla mengambil ponsel dalam tasnya, membuka web browser mengetikan sebuah link dan menelusuri gambar-gambar busana yang terpampang pada Butik Online tersebut. Daily Fashion pernah dia dengar, termasuk rumah mode kenamaan.
Kayla terkejut ketika menemukan dua busana yang sangat mirip dengan sketsa rancangannya. Mengalihkan pandangannya pada Om pram memohon penjelasan.
"Kamu tau Papi sangat tidak setuju ketika kamu memilih jurusan Fashion Design. Papi belum tau ini kekeliruan atau memang kamu yang salah. Yang jelas ini bukan masalah kecil, penyelesaiannya mudah. Namun jika pencari berita tau kamu siapa, akan menjadi menarik."
Dada Kayla terasa sesak, dia berdiri masih memegang ponsel di tangan kanan dan berkas di tangan kirinya.
"Tapi ini murni rancangan Kayla Pih, bahkan yang dianggap sama dengan katalog ini hasil rancangan Kayla dulu saat Kayla Kuliah dan aku belum pernah buat sampai jadi pakaian. Belum pernah aku tawarkan pada butik manapun dan aku tidak ikut sertakan pada peragaan busana apapun," tutur Kayla.
Kepalanya semakin terasa sakit, keringat terasa membasahi keningnya, pandangannya mulai kabur dan, "Aku bukan plagiat," ucap Kayla lirih hampir tak terdengar.
"Kayla!" sayup terdengar teriakan Bunda, namun semua terasa melayang dan gelap.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan menekan like, komentar, vote, favorit dan bintang 5. Thannks, Salam sayang dari author ๐
__ADS_1