Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Terungkap (2)


__ADS_3

Kayla terbangun karena getaran ponsel di atas nakas, cukup mengganggunya. Sepagi ini menghububgi berarti urusan pelik, namun itu bukan berasal dari ponselnya.


Tubuhnya terasa pegal karena beban di perut dan kegiatan mengasyikan yang semalam ia lewati dengan Elang.


"Meta?" ucap Kayla saat melihat nama pemanggil di layar ponsel Elang. "Ganggu aja pagi buta udah ngerecokin tidur aku."


Kayla baru saja akan merebahkan kembali tubuhnya saat ponsel Elang kembali bergetar. Sedangkan pemiliknya masih terlelap.


Kayla meraih ponsel Elang dan menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Pak Elang."


"Halo."


"Loh, ini kan ponsel Pak Elang."


"Iya, dan aku isrtrinya. Khawatir kamu lupa." Terdengar Meta mendecak.


"Mana Pak Elang, aku harus bicara sama dia."


"Kamu punya jam tangan atau jam dinding kan? Atau cek diponsel kamu sekarang itu jam berapa. Ngapain ganggu orang di pagi buta begini."


"Karena ini penting, pasti semua begini karena kamu."


"Penting menurut kamu bukan menurut orang lain. Hubungi kembali di jam kerja."


"Eh, Kay....


Kayla memgakhiri panggilan telpon dari Meta dan meletakan kembali ponsel Elang. Menarik selimut menutupi tubuhnya.


.


.


.


"Kamu belum siap? Kita mau sarapan." Elang yang sedang mengkancingkan lengan kemejanya menoleh pada Kayla yang masih duduk di ranjang.


"Biar aku yang pakaikan dasi," pinta Kayla. "Tadi pagi, ponsel Mas El bergetar terus. Aku sampai terbangun, ternyata dari Meta."


"Kamu jawab ?"


Kayla mengangguk.


"Meta sepertinya akan mencari Mas El, bahkan mungkin menyusul ke sini."


"Hmm."


"Oke," ucap Kayla saat dasi Elang terpasang sempurna. Ia juga membantu Elang mengenakan jasnya. "Sarapan kamu nanti aku minta antar ke kamar," kata Elang sambil mendekat dan mencium bibir Kayla.

__ADS_1


"Aku turun dulu, Rena akan temani kamu di sini."


Di tempat lain, Meta bergegas menemui ketua panitia lelang. Ia panik, saat kemarin sore mendapat kabar bahwa ia mendapatkan pemutusan kontrak dengan Daily Fashion. Bahkan Mery belum menjawab dan menjelaskan alasannya. Wanita itu akan menyampaikan alasannya langsung setelah kembali ke jakarta.


Khawatir berimbas dengan posisi kepesertaan lelang dengan Two Season Meta bahkan mengancam Edo bahwa Pamannya akan menghentikan kerja sama jika ia sampai di diskualifikasi.


"Aku mau bertemu Pak Edo," ucap Meta pada sekretaris Edo. "Maaf Bu, Pak Edo sedang rapat dengan tim lelang.


"Nah, itu. Sekalian temukan aku dengan mereka. "


"Dengan Ibu siapa?"


"Meta, Meta Wijaya. Kamu tau kan keluarga Wijaya." Meta berujar dengan sombong. "Maaf Bu, saya tidak tau. Saya sampaikan dulu ke Pak Edo."


"Gimana?" tanya Meta saat sekretaris itu meletakan gagang telpon. "Pak Edo tidak bisa bertemu Ibu," jawabnya.


Meta geram, "Sepertinya aku harus temui Pak Elang di Surabaya," batin Meta.


Sore harinya, Meta sudah menjejakan kakinya di kota Surabaya. Menutup pintu taksi yang ia naiki, "Two Season, tolong lebih cepat." Membuka ponselnya dan menghubungi Elang.


Meskipun suasana jalan cukup padat namun Meta tiba di Two Season tanpa mengalami kemacetan. Memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi saat taksi sudah berhenti di depan lobi.


"Surabaya Fashion Week," baca Meta saat ia berada di lobi membaca standing banner dan digital banner. Segera menuju lift untuk menuju ruangan Elang.


Dering ponsel Kayla berbunyi.


Baru saja keluar dari kamar mandi bahkan masih menggunakan bathrobe, bergegas meraih ponselnya.


"Kamu, turun ya. Aku tunggu di ruangan."


"Tapi, setelah ini aku mau keliling ya. Jenuh di kamar terus."


"Oke, aku tunggu."


Tingg


Pintu lift terbuka, Kayla keluar dan berjalan sepanjang koridor yang hampir-hampir mirip dengan design ruangan khusus direksi dan para manajemen hotel. "Ruangan Pak Elang yang itu Bu, jika ibu butuh bantuan saya bisa hubungi saya saja."


"Oke, terima kasih Mbak."


Tap tap tap


Suara alas kaki Kayla, pintu ruangan Elang tidak tertutup rapat. Terdengar suara orang sedang berbicara.


"Ini pasti ulah Kayla, aku enggak mau kalau karena masalah ini sampai aku didiskualifikasi dari kepesertaan lelang."


Selanjutnya terdengar suara Elang terbahak, "Yang berhak mendiskualifikasi peserta lelang itu panitia. Kamu salah kalau temui saya cuma karena hal itu. Statusku pemilik Two Season dan penyelenggara kegiatan, tidak ada hubungan dengan peserta. Silahkan keluar, aku masih sibuk, tidak ada waktu urus hal beginian."


"Pak Elang, tidak malu atau tidak khawatir akan berita istri dari seorang Elang Sanjaya punya kasus. Apa tidak akan berpengaruh terhadap saham?"

__ADS_1


"Meta, berita ini sudah basi. Harga saham bukan terpengaruh dari berita kacangan seperti ini."


"Aku juga bisa membujuk Paman untuk membatalkan kerja sama dengan Two Season."


Srekk.


Suara pintu terbuka, kedua orang yang berada dalam ruangan menoleh pada Kayla yang membuka pintu.


"Sayang, kemarilah." Titah Elang pada Kayla.


"Hai Ta," sapa Kayla lalu duduk di sofa sebelah Elang. Elang merangkul bahunya dan menyelipkan rambut pada daun telinganya. Bibir Meta mencibir melihat tingkah Elang pada Kayla.


"Kamu jauh-jauh dari Jakarta dan pagi buta ganggu tidur orang lain hanya untuk ini?" tanya Kayla.


"Hanya ini yang kamu maksud itu berkaitan dengan profesi aku. Kamu tau sendiri, aku sudah termasuk designer papan atas bukan kayak kamu yang kariernya sudah terpuruk."


Kayla tersenyum dan mengedikkan bahunya, "Aku pernah bilang bahwa waktu akan membuktikan semuanya dan kalau kamu merasa posisimu aman, tidak akan kamu jauh-jauh ke sini,"


"Kamu belum pernah di posisi aku, jadi tidak bisa merasakan yang namanya sukses," ujar Meta masih dengan gaya tinggi hatinya.


"Terserah kamu Ta. Mas, kita jadi jalan-jalan?" tanya Kayla sambil menoleh pada Elang.


"Jadi dong, apa sih yang enggak buat kamu, dari pada nanti anak kita ngecess," jawab Elang sambil tertawa.


"Loh, Pak Elang tadi bilang sibuk, tapi kok..."


"Iya, saya sibuk. Sibuk menyenangkan istri tercinta. Ayo, sayang. "Elang berdiri dan mengulurkan tangannya.


Elang memeluk pinggang Kayla, saat sampai pintu Kayla berhenti dan menoleh pada Meta. "Owh iya Ta, Bu Mery ada di hotel ini. Sekedar info, kalau kamu mau bertemu dengan beliau."


"Sudah kuduga, ini pasti ulah kamu Kay," sahut Meta.


Meta berniat menemui Mery, atasan sekaligus pemilik Daily Fashion. Setelah beberapa kali menghubungi akhirnya Mery mengiyakan ajakan Meta untuk bertemu.


"Bu, saya perlu jawaban. Mengapa kerja sama kita berakhir sepihak?" tanya Meta saat mereka sudah berada di salah satu meja resto Two Season.


Mery yang menatap Meta sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kamu tanya mengapa?" Meta mengangguk.


"Sekarang aku tanya? Sebenarnya siapa yang benar, antara kamu dan Kayla?"


"Aku enggak ngerti Bu, ini terkait apa?"


"Meta, sebaiknya kamu tidak usah berkilah, aku sudah dengar pengakuan kamu bahwa rancangan itu milik Kayla yang kamu curi?"


"Apa? Ini pasti salah Bu, enggak mungkin Kayla punya bukti seperti itu. Bu Mery harus percaya aku."


to be continue


_______________

__ADS_1


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–


__ADS_2