Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
LDR (1)


__ADS_3

Rika sudah tertidur saat Eltan pulang, setelah membersihkan diri ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rika. Memeluk Rika, kemudian ikut terlelap karena lelah dengan aktivitas selama seharian. Tengah malam, Rika terbangun karena gerakannya yang terbatas. Saat membuka matanya, ternyata ia berada dalam pelukan Eltan. 


Menatap wajah lelah suaminya, dengkuran halus terdengar dari wajah Eltan. Menelusuri garis hidung Eltan dengan telunjuknya, lalu turun ke bibir dan rahang Eltan. 


"Bang El pasti lelah, lelah sebagai suami yang istrinya kayak aku. Maafin aku ya Bang," ucap Rika lirih lalu mencium bibir Eltan. "Aku sayang Bang El." Kembali ke pelukan Eltan dan memejamkan matanya.


Esok pagi, “Bang El,” panggil Rika yang sedang duduk di pinggir ranjang pada Eltan yang sedang mengikat dasinya. Rika yang bangun lebih awal karena mual muntah yang masih ia rasakan setiap pagi, menyempatkan menyiapkan pakaian kerja Eltan.


Eltan mengenakan pakaian yang disiapkan Rika, namun sejak bangun ia seakan mengacuhkan Rika. Rika paham kesalahan yang sudah ia lakukan, “Bang El,” ucapnya lagi, “maaf,” ucapnya.


Eltan yang membelakangi Rika tersenyum, karena sebenarnya ia tidak marah pada Rika hanya ingin mengerjainya istrinya. Perlahan terdengar isak tangis membuat Eltan menoleh. “Kamu kok nangis,” ucap Eltan yang menghampiri Rika lalu duduk disisinya.


“Kok nangis sih?” Eltan menghapus air mata Rika. “Maafin aku Bang, aku janji enggak kabur kayak kemarin dan buat Bang El khawatir. Aku juga akan berusaha bersikap dewasa.” Eltan merengkuh Rika ke dalam pelukannya. “Sudah sayang, jangan nangis lagi ya. Kamu sedang hamil, bayi kita akan merasakan apa yang sedang Ibunya rasakan. Termasuk kesedihan,” jelas Eltan.


“Sayang, sepertinya aku akan semakin sering ke luar kota,” ucap Eltan. Rika menatap Eltan saat mendengar apa yang disampaikan olehnya, “kamu ...”


“Enggak apa-apa, aku bisa tinggal dengan Bunda atau disini.”


Eltan menghela nafasnya, “Itu yang mengusik pikiran aku, enggak mungkin aku biarkan kamu tinggl di sini sendiri.”


“Aku ikut Bang El aja ya, kuliah aku off dulu,” ungkap Rika seakan tidak ada beban menyampaikan keinginannya yang pasti tidak akan diterima oleh semua anggota keluarganya. “Enggak, kamu harus tetap kuliah. Salah satu hal yang aku janjikan pada orangtua kamu saat kita akan menikah adalah aku harus memastikan jika kamu akan sampai lulus kuliah dan wisuda.”


Eltan berdiri dan mengambil jas, mengenakannya dibantu oleh Rika, “Terus gimana dong? Aku enggak mau jauh dari Bang El,” rengek Rika.


“Aku akan pikirkan dan bicarakan ini dengan orangtua kamu.” Rika mengngguk lalu memeluk erat Eltan sebelum pria yang berstatus suaminya itu berangkat ke Two Season.


.


.


.

__ADS_1


Rika yang pulang kuliah bersama Reka ikut pulang ke rumah Kevin, Eltan yang memintanya pulang kesana karena ia pun malam ini akan menemui Mertuanya. Turun dari Motor Reka dengan perlahan, “Gue bilang juga naek taksi aja, loe kan lagi hamil,” ujar Reka yang melihat Rika kesulitan turun dari motor yang membawa mereka pulang.


“Berisik ih, yang penting sudah sampai rumah dan selamat,” jawab Rika lalu meninggalkan Reka.


“Bunda,” panggil Rika, “aku kangen.” Rika memeluk Meera yang sedang duduk di sofa menghadap layar TV. “Gimana, masih mual enggak?” tanya Meera sambil mengelus tangan Rika. “Kadang-kadang Bun,” jawab Rika sambil bersandar pada sofa. “Aku lapar, Bunda masak apa?”


“Coba kamu tengok di meja makan, kalau enggak cocok mau dibuatkan apa? Mumpung masih siang, jadi bisa cari bahannya.” Rika yang beranjak menuju meja makan dan kembali dengan membawa segelas jus. “Bun, Papih malam ini pulang jam berapa?”


“Seperti biasa,” jawab Meera tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV. “Bang El mau ketemu Papih, ada yang mau dibicarakan.” Meera menoleh pada Rika yang sedang meneguk isi gelasnya.


“Masalah apa? Hubungan kalian baik-baik aja kan?”


“Baik dong, malah makin hot,” ucap Rika asal. Meera menepuk lengan Rika, “Orangtua nanya serius dijawab yang bener.”


“Bener Bun, enggak ada masalah. Kita baik-baik aja.” Meera menghela nafasnya, masih menatap pada putrinya. Memindai wajahnya yang mungkin saja menggambarkan pesan yang menjadi jawaban akan kegundahan Meera.


“Aku ke kamar ya Bun, pengen rebahan. Pegel naek motor Reka.”


Eltan dan Kevin tiba berbarengan, “Malam Pih,” sapa Eltan. “Hmm.” Keduanya masuk beriringan. Menyampaikan niatnya ingin berdiskusi dengan Kevin, termasuk Meera. “Kita bicara di ruang kerjaku.”


“Rikanya mana?” tanya Kevin pada Meera.


“Tadi makan malam duluan terus naik ke kamar, katanya ngantuk. Biarkan aja deh, hamil muda ya begitu bawaannya mau merem aja. Yang penting sehat,” ujar Meera. Akhirnya Eltan menyampaikan bahwa ia akan banyak berada di Jogya, butuh masukan terkait kondisi Rika yang sedang hamil.


“Rika biarkan tinggal di sini,” titah Kevin. “Jika kondisinya baik, weekend biar dia susul kamu ke Jogya atau sebaliknya. Semoga saja saat Rika melahirkan proyek itu sudah selesai,” ujar Kevin.


Setelah cukup berbincang dengan Kevin dan Meera, Eltan menuju kamar Rika. Menggelengkan kepalanya melihat kondisi Rika yang sudah tertidur. Mengenakan gaun tidur dengan tali kecil terikat di kedua pundaknya, dengan posisi berbaring miring membuat gaunnya tersingkap hingga menampakan penutup segitiga penutup bagian intinya.


Setelah mandi, Eltan yang hanya mengenakan boxer naik ke ranjang berbaring disebelah Rika. “Sayang, lihat kamu tidur bikin tegang.” Eltan yang mencium pelan tengkuk dan bahu Rika membuat wanita itu bergumam tidak jelas.


“Sayang,” panggil Eltan sambil tangannya mulai menyentuh area-area yang disukainya dari tubuh Rika. “Hmm,” gumam Rika.

__ADS_1


“Sayang,” panggilnya lagi.


Rika bergeming, Eltan berpindah posisi, kini ia berbaring miring menghadap Rika. Melepaskan tali gaun yang berada di bahu Rika, membuat sebagian dada Rika terekspos. Eltan tersenyum dan bermain di area tersebut, membuat Rika kegelian dan membuka matanya.


“Bang El,” dengan suara khas bangun tidur. “Sudah ketemu Papih belum?” Eltan tidak menjawab masih asyik menyesap puncak gundukan yang ukurannya semakin menggoda.


“Bang Eltan,” ujar Rika sambil mendorong tubuh Eltan.


“Apa sayang.”


“Sudah ketemu Papih?” Eltan mengangguk. Rika beranjak duduk, “Lalu, Papih bilang apa?” Tatapan Eltan fokus pada area yang tadi ia eksplor hingga menyisakan jejak di sana.


“Ya seperti yang aku perkirakan, kamu akan tinggal di sini selama aku pergi.” Eltan menurunkan gaun yang dikenakan Rika hingga bagian atas tubuh Rika sudah polos. “Papih enggak ijinkan aku ikut Bang El?” tanya Rika.


Eltan menggelengkan kepalanya. “Tapi aku ingin ikut kemana pun Bang Eltan pergi,” ujar Rika. “Aku lebih setuju saran Papih.” Eltan berbaring dengan kedua tangan di lipat di belakang kepalanya.


“Bang El enggak asyik, harusnya kita kerja sama biar Papih setuju dengan keinginan aku.” Rika menaikan kembali gaunnya. “Bukan cuma papih yang enggak setuju dengan keinginan kamu, aku juga enggak. Mau tau keinginan aku?”


“Apa?” tanya Rika.


“Naik sini, dijamin kamu enggak akan ada keinginan lain selain mendessah.”


“Eltan mesumm!!!”


 


 ______


Yuhuuuuu, jangan lupa jejak yesss


 

__ADS_1


__ADS_2