
Meera menoleh pada Dipta, "Kita share hal ini hanya pada Elang, jangan sampaikan apapun pada Agha."
Dipta menoleh pada Kevin dan Meera bergantian, menurutnya sangat aneh kalau Agha tidak diberitahu tentang hal ini. Karena Agha adalah Ayah dari Kayla dan juga dirinya. Entah ada dendam kesumat apa sampai harus seperti ini.
"Meera, bagaimanapun Agha adalah ayah mereka. Dia berhak tau," ujar Kevin.
"Untuk apa Agha harus tau di mana Kayla berada, toh dia tidak pernah ingin mencari Kay
Kevin menghela nafas, "Dipta lanjutkan kembali rencanamu. Hubungi Elang, kita diskusikan bersama."
"Oke."
Berbeda dengan Kayla walaupun saat ini menyibukan diri dengan bergabung pada usaha milik Ria, tapi perasaan hancur dan terpuruk tidak dapat hilang. Berharap dengan sementara menjauh dari lingkungannya dapat menyembuhkan luka dan menata kembali perasaannya.
Waktu yang dilewati untuk berfikir jernih sepertinya tidak cukup. Emosi tidak dapat dibendung, namun Kayla sudah lelah untuk menangis.
Keinginan Kayla sederhana hanya ingin memejamkan mata saat malam tanpa mengingat ketidakadilan yang ia rasakan. Bisa menikmati makannya tanpa rasa pahit getir cobaan kehidupan. Mengira Elang datang sebagai rumah penuh cinta namun Kayla tidak dapat singgah menikmati rasa.
Elang yang masih berada di Singapura memutuskan segera kembali ke Jakarta setelah menerima pesan dari Dipta.
"Jadi, apa ada petunjuk lain?" tanya Elang saat bertemu Dipta. Dipa menyebutkan beberapa petunjuk yang mungkin bisa dilacak lokasinya. Salah satunya adalah capture dari video Kayla saat berada di Cafe.
Sempat meng-up random pada media sosialnya menanyakan apakah ada yang mengenali lokasi tersebut. Ternyata usaha Dipta tidak sia-sia, 3 nama lokasi dijawab oleh netizen yang kesemuanya berada di Bandung.
Elang segera mengerahkan orangnya untuk mencari tiga nama tempat yang kemungkinan Kayla sering singgah di sana.
"Kay, kok muka lo pucat banget sih," ucap Ria pagi ini saat Kayla tiba di ruko. "Hmm, masa sih."
"Lo sakit ya? Mending istirahat aja, ngeri gue apalagi perut lo bengkak begitu."
Kayla memukul lengan Ria pelan, "Bukan bengkak tapi lagi hamil aku tuh," jawab Kayla.
"Sama aja kali, apa mau gue antar ke dokter?" ajak Ria.
"Jangan antar ke dokter tapi antar ke tempat lain aja," tawar Kayla sambil tersenyum.
"Mau ke mana? Biar gue aja yang anter," ajak Bara. Pria itu baru saja tiba bahkan masih melepas jaketnya dan menenteng helm.
"Enggak ada ya, istri orang nih. Takutnya nanti lo modus," ucap Ria.
"Kalo Kaylanya mau gue modusin ya enggak masalahlah."
__ADS_1
Kayla menggelengkan kepala melihat kedua orang itu berdebat. "Gue yakin suaminya Kayla ganteng maksimal dibandingin lo, enggak bakal tergoda sama laki-laki modal tato sama gondrong doang mah," tutur Ria.
"Udah-udah, apaan sih kok kalian malah berdebat pake *body shaming* segala. Aku mau ke mall, wisata kuliner sambil *shopping*. Kalian kalau mau antar jangan tanggung ya, modalin sekalian," ungkap Kayla sambil tertawa.
.
.
.
"Pih, udah ada kabar lagi belum dari Dipta?" tanya Meera. "Orangnya Elang sedang mengecek lokasi kemungkinan Kayla berada. Kita akan ke sana setelah pasti," jawab Kevin.
Agha datang mengunjungi kediaman Kevin, "Mau apa kamu kemari?" tanya Meera dengan sinis.
"Meera," tegur Kevin.
"Urus saja anak sambungmu yang sudah menghancurkan hidup putriku padahal dia juga putrimu," sindir Meera.
"Meera, Kayla itu anakku dan aku menyayanginya," jawab Agha.
Meera menatap sinis pada Agha, bahkan dalam hatinya bertanya-tanya apa yang membuat dirinya dahulu mencintai Agha.
"Karena Kayla dan kita perlu waktu. Kayla butuh waktu untuknya menyadari bahwa yang ia lakukan itu salah dan kita perlu waktu untuk memahami sebagai orangtua kita belum maksimal," tutur Agha. "Jadi, apa yang sudah aku lewatkan?"
"Dipta sudah mendapatkan lokasi yang mungkin sering dikunjungi Kayla dan sedang diselidiki untuk memastikan keberadaan Kayla," ungkap Kevin.
"Tapi, kalaupun Kayla sudah diketahui keberadaannya, kita tidak perlu tergesa-gesa untuk menemui dan memintanya pulang. Harus pelan-pelan, jangan sampai dia merasa bersalah dan melakukan hal yang nekat lagi."
"Maksudku juga begitu, Kayla perlu waktu untuk mengobati luka hatinya," ucap Agha.
"Tapi dia sendiri di luar sana, hamil dan kecewa. Sebagai Ayah, kamu sungguh tega," pekik Meera.
"Meera, sudahlah. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah," ujar Kevin sambil mengelus punggung Meera untuk menenangkannya. "Dipta baru saja mengirimkan pesan, Elang sudah berada di Bandung. Kita tunggu kabar darinya," tambah Kevin.
Agha menyandarkan punggungnya pada sofa, saat tiba di rumah. "Kenapa Yah? Ada masalah di kantor?" tanya Laksmi.
__ADS_1
Agha menggeleng, "Aku baru dari rumah Kevin," ucapnya.
"Mau apa lagi ke sana? Pasti tentang Kayla. Kenapa lagi putri kesayanganmu itu?"
Agha terdiam, "Kenapa istri dan mantan istriku selalu saja emosi saat membahas Kayla," batin Agha.
"Tidak ada, aku hanya menanyakan informasi terbaru tentang Kayla," ucap Agha, "aku mandi dulu."
Elang sudah berada di Bandung, janji temu dengan rekan bisnisnya sekaligus mengawasi langsung pencarian Kayla. Ia sudah tidak sabar menunggu kabar kebenaran lokasi yang seperti sering didatangi Kayla.
"Kita kemana dulu nih?" tanya Ria saat mereka menjejakkan kaki di salah satu mall. "Makan, dong," jawab Kayla.
"Gue yang pilih tempat yak."
"Enggak ada, Kayla aja. Lidah gue bukan buat coba resto pilihan lo," sahut Bara. Ria berdecak mendengar ucapan Leo.
"Oke, aku mau sukiyaki kuah tomyam," ucap Kayla.
"Pas banget Kay, di depan tuh. Ayo ah, udah sore gini ramai. Nanti enggak kebagian meja," Ria menarik lengan Kayla.
Lebih dari satu jam mereka berada di resto, saat ini mereka berpindah pada outlet elektronik. Entah akan membeli gadget apa, yang jelas Ria antusias dan terlibat bertanya lebih detail terkait kelebihan produk.
"Bara, aku tunggu di luar ya," ujar Kayla. Bara hanya mengangguk, dia mengikuti kemana pun Ria beranjak.
Kayla berdiri dekat pagar besi pembatas, melihat area lantai di bawahnya. Cukup ramai, apalagi saat ini adalah sabtu sore atau malam minggu.
Mengalihkan pandangannya dan tatap mata Kayla terpaku pada seorang pria yang sedang menerima panggilan telepon. Berada di sebrang tempat Kayla berdiri, Kayla menatap tajam memastikan sosok pria tersebut.
"Gawat !"
Kayla memutar badannya dan pergi ke sisi yang berlawanan dengan Elang yang berlari berputar mengikuti besi pembatas. Sampai di tempat Kayla tadi berdiri.
Elang menoleh kiri dan kanan di tempat Kayla tadi berdiri. Melihat ke bawah dan sosok Kayla kembali terlihat di escalator turun.
\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐๐