
Kayla berjalan menuju lobi yang sudah ditunggu oleh Elang. Perutnya yang terlihat semakin besar membuat ia harus jalan perlahan.
Elang memeluk pinggang Kayla posesif dan berjalan menuju lift, "Ayah mengabari pertemuannya setelah makan siang, beliau ada keperluan mendadak. Kita bertemu di ruang kerja aku saja." Kayla hanya mengangguk.
Duduk pada sofa saat tiba di ruang kerja Elang, "Aku sudah pesan makan siang, kamu mau tunggu di sini atau iatirahat di dalam?" tanya Elang menunjuk kamarnya.
"Di sini aja, Mas."
Elang lalu duduk di samping Kayla, dan membungkukkan punggungnya menciumi perut Kayla. "Hey, buddy. Daddy's here," ia mengusap-usap lerut Kayla.
"Woww," jerit Elang saat tangannya merasakan pergerakan. "Kencang sekali, tidak sakit Kay," tanya Elang.
Kayla hanya tersenyum, ia mengusap rambut Elang. "Kita belum belanja keperluan baby ya?"
"Belum, Mas. Tapi aku malas, karena nanti harus mondar mandir. Pesan aja ya, kan ada katalognya," sahut Kayla.
"Aku baru menemukan perempuan malas shopping, biasanya kan perempuan ratu belanja."
"Aku beda Mas, limited edition," ujar Kayla sambil tertawa. Elang duduk menghadap istrinya dan memandangnya lekat. "Apa sih Mas, jangan natap begitu. Aku jadi takut."
"Benar, kamu memang limited edition. Ahhh, jadi pengen makan kamu Kay," ucap Elang. Kayla memukul lengan Elang, "Mesum."
Tok tok tok
"Paman, kalau ini...Aataga," ucap Eltan yang melihat Elang sedang menunduk menciumi perut Kayla. "Yaelah, datang diwaktu yang tidak tepat," ucap Eltan sambil menuju meja kerja Elang.
"Ganggu aja, jam istirahat ini," ujar Elang.
"Ini berkas laporan cabang Singapur," ucap Eltan lalu pamit pergi keluar ruangan.
Tidak lama kemudian Mega mengantarkan makanan pesanan Elang. Menyuapi Kayla dengan penuh suka cita, "Udah, ahh. Kamu aja yang lanjut makan. Aku udah kenyang," ujar Kayla.
"Ini baru habis setengahnya, sayang." Kayla hanya mengedikkan bahu, akhirnya mau tidak mau Elang menghabiskan porsi miliknya dan milik Kayla.
.
.
.
Kayla duduk di samping Elang yang merangkulnya, wajah yang menatap ke bawah enggan memandang Agha dan Laksmi yang duduk dihadapannya hanya terhalang meja sofa.
"Kayla," panggil Agha. Kayla hanya menoleh sekilas lalu kembali menunduk. "Ayah hanya ingin keluarga kita kembali rukun, entah mengapa kita jadi seperti ini. Apa yang harus Ayah lakukan agar kita kembali seperti dulu."
__ADS_1
"Ayah ingin kamu dan Mamih kamu saling memafkan, kalian sesama wanita. Seorang Ibu dan calon Ibu, contoh an hal baik untuk anak-anak kalian."
"Mamih minta maaf, karena sudah buat kamu sakit hati tapi kamu harus tau semua yang Mamih lakukan dan katakan ada dasarnya," ucap Laksmi.
Elang menepuk bahu Kayla yang saat ini matanya terlihat berkaca-kaca. "Ayah ingin kita seperti dulu, bahagia. Tinggal bersama lagi, bukan seperti musuh yang selalu saling menghindar. Bahkan Ayah tidak bisa menghubungi kamu Kay," ungkap Agha.
"Rumah Ayah sudah menjadi mimpi buruk untuk Kayla," tukas Kayla.
"Kenapa? Apa tidak bisa kita mengembalikan keadaan seperti semula. Batasan itu kita sendiri yang buat Kay," terang Agha.
Laksmi menatap Kayla "Kayla, ini Ayahmu bicara terus tapi kamu diam saja. Mas, ya seperti inilah Kayla, makanya kadang aku greget sama dia" sela Laksmi.
"Laksmi," tegur Agha.
Kayla tertawa, lalu memandang Elang. "Kamu lihat, disini tetap aku yang bersalah. Pertemuan ini percuma, percuma," jerit Kayla.
"Hey, sayang. Sabar, sampaikan yang ingin kamu katakan. Tapi jangan emosi, ingat kamu sedang hamil." Elang mengeratkan rangkulannya.
"Rumah Ayah selalu mengingatkan aku dengan malam kelam yang pernah aku lalui ditambah Mamih yang selalu memojokkan aku seakan aku yang bersalah. Dari awal tidak ada sedikit pun niat aku meminta Bang Eltan untuk bertanggung jawab, tapi kalian seperti tidak ada empati sedikit pun terhadap aku."
"Ayah salah, Ayah minta maaf karena tidak bisa menjadi penengah dalam hal ini. Ayah akan pastikan Mamih kamu akan memfilter apa yang akan disampaikan," jelas Agha.
"Tanpa Mamih ucapkan aku seperti piala bergilir, aku sudah menyadari itu. Perasaan aku takut dan malu setiap bertemu Bang Eltan atau mengingat kejadian itu. Meskipun Mas Elang menerima aku apa adanya tapi kepercayaan diriku sudah berlari entah kemana, aku ..." Kayla terisak lalu meraung dalam pelukan Elang.
Tanpa mereka sadari, pintu ruangan tidak tertutup rapat. Sena yang berada di luar mendengar semua percakapan lalu beranjak pergi. Niatnya menemui Elang malah mendapatkan informasi yang sudah pasti sangat rahasia bagi keluarga Sanjaya.
Elang memang meminta Mega meninggalkan mejanya agar tidak mendengar apa yang dibicarakan, tapi malah Sena mendengarkan semua.
Setelah mendengar apa yang membuat Kayla menjaga jarak dengan Ayahnya, mereka sepakat memperbaiki hubungan. Agha memeluk Kayla sebelum ia meninggalkan ruangan Elang, "Ayah rindu kamu Kay, rindu putri Ayah yang manja. Walaupun kamu sudah memiliki tempat bermanja tapi Ayah juga masih bisa menerima kemanjaan kamu," ucapnya sambil tertawa.
Di tempat berbeda, Eltan memang mengetahui Ibu dan Ayah sambungnya sedang bertemu Pamannya juga Kayla. Ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk dan di layar menunjukan nomor yang belum tersimpan.
"Halo."
"Halo, Bang Eltan"
Eltan menjauhkan ponsel dari telinganya karena penelpon agak berteriak memanggilnya. Seulas senyum terbit di bibirnya, dari suaranya ia tau siapa yang menelpon.
"Bang El."
"Hmm."
"Lagi ngapain sih?"
__ADS_1
"Menurut kamu?"
"Ck, Bang, bener ya Kak Kayla lagi bicara sama Ayah Agha dan Mamih Laksmi."
"Sepertinya begitu."
"Kak Kay nangis enggak Bang? Kalau bunda tau kak Kay nangis lagi pasti drama lagi deh."
"Aku enggak tau, enggak ikutan. Baiknya kita biarkan mereka selesaikan masalahnya."
"Iyalah, aku juga kesel lihat kak Kay nangis mulu."
"Kamu telpon aku cuma mau nanya masalah ini?"
"Iya, ponsel kak Kay enggak aktif. Enggak mungkin hubungi Kak Elang."
"Tunggu-tunggu, kamu panggil paman apa? Kak Elang?"
"Iya, Kak Elang. Kenapa?"
"Rika, kamu tau perbedaan umur Elang dan Kayla. Masa kamu panggil Kak, aku aja kamu panggil Abang."
"Karena suaminya Kak Kayla jadi aku panggil Kak juga, ya udah aku panggil Bang El, Om aja ya. Kan udah tua."
Terdengar Rika tertawa sedangkan Eltan berdecak.
"Ya enggak apa-apa, berasa punya sugar baby."
"Ogah."
"Oke baby, mau ke Cafe lagikah ? Atau ke tempat lain, aku siap loh."
"Rese ihhhh."
Rika mengakhiri panggilannya, Eltan tersenyum lalu meletakan kembali ponselnya.
"Sugar baby, ihhh udah error kali Bang Eltan ini. Kemarin minta aku menjadi pengganti jodohnya sekarang sugar baby," ucap Rika bermonolog.
lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐๐
__ADS_1