Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Menggoda Iman


__ADS_3

Rika dan Reka berjalan dikoridor sekolah menuju kelasnya. Sambil merapihkan rambutnya karena ia dibonceng motor oleh Reka. 


"Woyyyy," ucap Vano yang muncul dari mana lalu merangkul Reka, "semalam lo enggak mabar ya?"


"Enggak, lagi ngedit content," jawab Reka.


"Content apa?" 


"Tuh punya si 'rese," menunjuk Rika dengan wajahnya. 


"Hmm," Vano menatap Rika yang cuek. "Kemarin nanya nomor telpon Bang Eltan, mau ngapain?" tanya Vano pada Rika. 


Rika menoleh, "Ya telpon lah, pakai nanya. Iya kali nomor telpon buat tidur." Mereka tiba di kelas dan menuju meja kursinya masing-masing.


Menjelang jam istirahat, ponsel Rika yang disimpan di kolong meja bergetar, karena masih ada guru yang sedang menjelaskan materi, Rika mengabaikan getaran ponselnya.


Terdengar bel istirahat berbunyi, Rika meraih ponselnya. "Enggak ikut ke kantin?" tanya Vano, Rika menggelengkan kepala, "titip es capucino aja ya," ujar Rika. 


Banyak notifikasi pesan masuk, baik itu dari grup kelasnya, teman sekelas yang iseng saat jam pelajaran, Kayla yang baru jawab pesan yang Rika kirim dua hari yang lalu. 


Mencibir membawa balasan pesan dari Kayla, "Yaelah, udah basi kali." Rika mengirim pesan saat mencari Kayla waktu moment Kayla mendengar ejekan Mamih Laksmi.


Namun yang membuatnya mengernyitkan dahi adalah pesan dari Eltan. 


'Gimana tawaran aku, mau enggak ke cafe lagi? Mall juga boleh, pengen mgerasain nge mall sama bocah, '


'Kok enggak dijawab sih.


'Eh lagi sekolah ya? Belajar yang bener ya Mut!'


"Mut," ucap Rika.


'Mut apaan, marmut?'


Balas Rika.


Eltan yang baru saja mengakhiri rapat manajemen terkait pergantian dirinya sebagai pimpinan cabang Two Season Singapore membuka ponselnya, tersenyum membaca pesan yang dikirim Rika. 


'Mut - Imut' 


Balasnya 


'Owh, 


Kerja yang benar ya Om' 


Balas Rika 


"What, Om?" ujar Eltan. 


"Kenapa?" tanya Elang. 


"Owh, enggak apa-apa." 

__ADS_1


"Siap-siap aja, kita ke Singapur untuk rapat pemegang saham sekaligus pergantian pimpinan." 


"Oke," jawab Eltan.


"Kamu serius enggak keberatan? Karena kalau di Jakarta kamu hanya posisi GM?" 


"Enggak masalah, sepertinya aku akan pertimbangan memegang cabang kalau sudah menikah." 


Elang tertawa mendengar ucapan Eltan, "Ya udah cepat cari jodoh, biar cepat aku mutasi." 


Eltan berdecak, "Senang amat mau mutasi gue," ucapnya lirih namun bisa didengar. 


Setelah Elang makan siang, di depan ruangannya sudah ada Meta menunggunya.


"Pak, Ibu Meta menunggu Bapak."


"Hmm."  Saat Elang masuk ke ruang kerjanya Meta mengekor. "Saya sibuk, jadi tidak ada banyak waktu," ujar Elang. 


"Pak Elang, apa tidak bisa memberi info pemenang lelang," pinta Meta.


"Info pemenang lelang hak penuh tim juri, tunggu saja tanggal mainnya." 


"Pak Elang, baiknya saya ada di list pemenang ya. Bapak tau sendiri Perusahaan Paman saya kerja sama dengan Hotel ini. Jangan sampai Pak Elang merugi pembatalan kerjasama.”


Elang tertawa, “Meta, aku dan Paman Kamu, kerja sama murni karena urusan bisnis, kalau pun kamu sangkut pautkan urusan lelang dengan memutuskan kerja sama ya silahkan saja. Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kamu gertak,” ungkap Elang.


Meta berdecak, terdesak bingung dengan cara apa agar pamornya sebagai designer tetap bersinar, setelah Daily Fashion memutuskan kerja sama. Tidak lama lagi pasti akan ada berita terkait hal ini. Muncul ide dibenaknya, sebagai laki-laki Elang tidak akan bisa menolak godaannya.


Meta menghampiri Elang, “Pak Elang tau kan kalau sejak dulu aku menaruh hati pada Bapak,” ucap Meta lalu berdiri di belakang Elang dan meraba dada bidang pria tersebut. Saat wanita itu akan mencium pipi Elang, Elang berdiri.


“Ada apa dengan para wanita aneh ini, mereka agresif sekali. Kayla, suamimu kalau tidak kuat iman sudah pasti tergoda,” ucap Elang.


Saat keluar dari lift Meta bertemu dengan Sena, ia menarik lengan Sena menuju toilet. “Kamu panitia lelang bukan? Apa aku ada di list pemenang?” tanya Meta.


Sena melepaskan cengkraman tangan Meta, “Maaf, kalau itu rahasia. Aku tidak bisa sampaikan. Karena saat pengumuman Juri akan menyampaikan deksripsi kemanangan,” jawab Sena.


“Udah deh, cepet kasih tau aku siapa pemenangnya?" Paksa Meta.


Sena menatap cermin di toilet, menyelipkan rambut ke belakang telinganya, “Tidak bisa, kamu sabar aja. Tunggu tanggal pengumuman.”


Meta semakin gusar dengan sikap Sena yang menurutnya tidak koperatif dalam pertemanan mereka. “Apa kamu tidak butuh dukungan aku untuk mendapatkan Elang?"


Sena tertawa, "Aku bisa mendapatkan Elang kembali tanpa bantuan kamu, lagi pula bagaimana kita bisa saling dukung aku kalau kamu sendiri sedang berada di ujung tanduk."


Meta mencengkram leher Sena dan mendorongnya hingga menempel pada tembok, "Jangan sombong, kamu itu bukan siapa-siapa. Selain label mantan istri Elang Sanjaya." Meta menarik tangannya dan meninggalkan Sena.


.


.


.


Berada di tingkat akhir masa SMA membuat jadwal sekolah Rika dan Reka lumayan padat. Tambahan pelajaran, bimbingan belajar bahkan tryout. Seperti saat ini mereka ada kelas tambahan sampai dengan sore. Berharap segera pulang ke rumah, Reka malah mampir ke rumah Avano entah untuk keperluan apa.

__ADS_1


"Aku tunggu sini aja," ucap Rika. Reka memarkirkan motornya sebelum gerbang pagar rumah Agha, "jangan lama-lama atau aku pesan taksi."


"Iya bawel," ucap Reka berlari melewati gerbang yang sudah dibuka oleh penjaga rumah Agha. Rika memainkan ponselnya sambil menunggu Reka.


Tin Tin


Terdengar bunyi klakson mobil, namun Rika cuek ia berfikir mobil yang akan masuk ke dalam rumah Agha. Namun, "Rika," merasa ada yang memanggil namanya, Rika pun menoleh.


"Ngapain berdiri disitu? Ngojeg?" tanya Eltan sambil tertawa. Rika hanya berdecak, Eltan turun dari mobilnya menghampiri Rika.


"Kenapa enggak masuk?" tanyanya lagi.


"Enggak, nanti kelamaan."


"Kelamaan atau takut ketemu Mamih," ujar Eltan sambil tertawa.


"Om Eltan mau ke dalam bukan? Panggilan Reka ya, suruh cepetan," pinta Rika.


"Enggak, siapa bilang aku mau ke dalam," sanggah Eltan.


"Terus ngapain ikutan berdiri di sini?"


"Suka-suka aku dong, mau berdiri di sini, duduk di kap mobil atau jongkok di selokan," jawab Eltan.


"Tau ah, lagi bete malas bercanda, mana haus pula."


"Ikut aku yuk!"


"Ke mana?


"Katanya haus, ya beli minum pengobat dahaga kamu."


"Rekanya masih di dalam," ujar Rika.


"Tinggal kirim pesan dan bilang kamu pulang duluan, nanti aku antar pulang," titah Eltan.


Rika tampak berfikir lalu ia mengangguk setuju.


Setelah membeli minuman dingin pada mini market, Eltan berniat mengantarkan Rika pulang. Rika yang sedang menenggak teh rasa buah dalam kemasan botol tidak menyadari Eltan sesekali menatap ke arahnya.


Shittt, maki Eltan dalam hati. Ia lalu menepikan mobilnya.


"Om Eltan, kok berhenti sih," tanya Rika.


Eltan melepas Seat Beltnya lalu mendekat ke arah Rika dan meraih tengkuk gadis itu, lalu melummat bibirnya.


bersambung ya


follow ig : dtyas_dtyas


atau facebook : dtyas auliah


_______________

__ADS_1


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖


__ADS_2