Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Mengejar Restu


__ADS_3

Sejak Eltan meninggalkan kediaman Kevin, Rika terlihat semakin resah. Membuka laptop dan buku kuliahnya untuk mengerjakan tugas namun sulit konsentrasi.


Menghubungi Eltan, sudah pasti pria itu masih dalam perjalanan menuju apartemennya.


"Bunda," panggil Rika pada Meera yang sedang mengarahkan asisten rumah tangga, menoleh namun kembali meneruskan aktifitasnya.


"Kenapa?" tanya Meera menghampiri putrinya. "Itu Papih jadi seriusan gituh, mau menerima lamaran Bang El?"


Meera menatap Rika heran, "Bukannya kamu menjawab Iya, kenapa sekarang balik tanya ke Bunda."


"Tapi aku belum siap Bun, aku takut Mamih Laksmi enggak terima aku. Gimana dong?"


"Tidak ada seorang pun yang siap dalam menghadapi takdir, termasuk kamu. Bisa jadi takdir kamu menikah dengan Eltan bisa membuat hidup kamu jadi lebih baik."


Rika mendengarkan nasihat Bundanya, termasuk tentang Laksmi. Ia juga mendapat pencerahan dan hal yang ia mesti lakukan sebagai calon menantu dari Laksmi.


"Jadi, bukan dijauhi atau ditakuti tapi dekati, rebut hatinya. Masalah dia ada sentimen dengan Bunda atau Kayla itu lain cerita. Sudah malam, sana tidur, besok kamu harus kuliah."


"Iya Bun," jawab Rika. "Jangan iya-iya aja, tapi dicermati dan dilakukan."


"Baik, ibu suri. Hamba akan lakukan semua titah ibu suri. Selamat malam ibu suri," ejek Rika.


.


.


.


Esoknya, berada di area Two Season. Eltan menemui Elang di ruang kerjanya.


"Hah, berani juga kamu. Gercep banget, kamu enggak aneh-aneh dengan Rika kan?" tanya Elang setelah mendengar informasi dan rencana Eltan melamar Rika.

__ADS_1


Eltan berdecak, "Ya enggaklah, justru pengen cepet halal. Habis, takut aku khilaf. Jadi, bisa bantu gak?"


"Bisa, hal gampang, ibu kamu udah tau?"


Eltan menggeleng pelan. Elang berdecak, "Jangan sampai kalah, nanti yang ada Rika tertekan. Kamu yang harus pegang kendali untuk dua wanita ini."


Eltan mengangguk, "Kita lamar Rika setelah urusan kamu di Bali selesai."


"Hah, ke Bali?"


"Iya, ada manajemen trouble di Bali. Kamu handle, aku malas ke sana."


Eltan mendessah pelan, "Tapi, beneran nih, beres dari sana temani aku melamar Rika."


"Ampun, bawel macam perempuan."


Sesuai nasihat Elang, ia harus memegang kendali Ibunya. Kini Eltan telah sampai di rumah Agha, kediaman itu terlihat sepi. Jika Agha belum pulang maka sudah pasti Laksmi akan sendiri, Vano tidak mungkin akan berlama-lama dengan Ibunya. Paling di kamar sedang asyik dengan game onlinenya.


Duduk bersisian dengan Ibunya, menggenggam salah satu tangan Laksmi yang ada dipangkuannya. "Aku ingin melamar gadis itu Bu, aku harap Ibu mendukung aku!"


"Rika!" ucap Laksmi. Eltan mengangguk sambil menoleh pada Laksmi yang menghela nafasnya. "Aku sudah bilang Paman, dia siap mewakili keluarga. Tapi aku akan lebih bahagia kalau ibu ikut serta."


Laksmi terdiam, Eltan merasa aneh, tidak biasa Ibunya seperti itu. "Tadi sore Ibu bertemu Michele, dia ada di Jakarta. Katanya sudah bertemu kamu, sebelumnya Ibu pikir dia sempurna dan cocok jadi menantu tapi ternyata topeng. Kamu yakin Rika akan bisa membahagiakan kamu? Apa Rika bisa mengurus rumah tangga? Umurnya baru sembilan belas atau dua puluh tahun."


Eltan mengeratkan genggaman tangannya, "Yang sempurna ternyata topeng, belum tentu yang terlihat banyak kekurangan itu bukan yang terbaik. Aku akan bimbing Rika agar ia bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan aku perlu peran Ibu juga."


Ibu dan anak itu saling menatap, "Jadi, kapan Ibu harus ikut ke rumah Meera?"


"Setelah aku dari Bali, nanti aku kabari."


Di tempat berbeda, tepatnya di apartement Elang. Kayla yang baru saja meletakan Kenan di box bayi. Jika malam hari, box bayi itu akan berada di kamarnya untuk memudahkan Kayla merawat Kenan.

__ADS_1


Elang menceritakan niat Eltan, "Masa sih Papih selunak itu, perasaan waktu sama Mas El enggak mudah deh."


"Nyatanya begitu," jawab Elang.


"Besok aku mau tanya Bunda deh, lengkapnya gimana."


Elang semakin mendekatkan tubuhnya pada Kayla, "Iya, itu besok aja diurusnya. Sekarang ada yang lebih penting," uxap Elang.


"Apa?"


Elang berdecak, "Masa sih enggak tau." Lalu mendekatkan wajahnya dan menyambar bibir Kayla. Selanjutnya, kedua insan itu berada dalam penyatuan diri. Pendingin ruangan seakan tidak berfungsi karena suasana panas diantara keduanya.


Elang yang berkali-kali menyebut nama Kayla saat merasakan miliknya di dalam lubang kenikmatan. Sedangkan Kayla hanya bisa menggigit pelan bibir bawahnya agar tidak ikut mendessah, karena khawatir Kenan akan terbangun.


Keduanya akhirnya mengerang sempurna setelah pergulatan dengan durasi yang lumayan lama. Elang lunglai di samping Kayla dengan tubuh polosnya. Kayla kembali mengenakan pakaiannya dan berbaring disamping Elang lalu menarik selimut menutupi tubuh keduanya.


...~ *** ~...


"Ka, loe pulang naik taksi ya! Gue sama Vano ada acara," ujar Reka. "Acara apaan?" tanya Rika.


"Enggak usah tau, aman kok. Lagian mending loe cepet pulang atau perawatan diri biar makin glowing."


"Aku udah glowing kok," ucap Rika dengan percaya diri. "Terserah, ya udah sana pulang," titah Reka.


Berada di dalam taksi yang membawanya pulang, Rika membuka ponselnya yang sejak pagi belum ia sentuh.


Terlihat panggilan tak terjawab dari Eltan, juga pesan masuk.


"Mut, aku ke Bali, ini pesawat sudah mau take off. Setelah beres urusan di Bali aku akan melamar kamu. Tunggu ya." Rika hanya tersenyum membaca pesan dari Eltan.


____________

__ADS_1


Hai gaess, mohon maaf yang tidk setuju Rika dgn Eltan. 😊 jangan lupa jejaks, vote dll.


__ADS_2