
Sepanjang perjalanan Rika memeluk Eltan, sambil mereka ngobrol yang terkadang diselingi dengan tawa Rika. Meskipun hal tersebut sedikit berbahaya, karena beresiko mengurangi konsentrasi dalam membawa kendaraan. Berhenti pada salah satu resto disebabkan Rika yang sudah ribut dengan rasa laparnya.
Rika memeluk lengan kiri Eltan, mereka berjalan masuk ke dalam resto tanpa mengetahui bahwa ada sepasang mata memperhatikan sejak mereka melewati pintu masuk.
Memilih meja yang berada di sudut agar tidak menjadi perhatian pengunjung resto lainnya, "Bang El mau makan apa?" tanya Rika sambil membuka buku menu.
"Makan kamu," Jawabnya pelan.
Rika menoleh sambil mencibir sedangkan Eltan hanya tertawa. Setelah menyebutkan pesanannya pada pelayan, Eltan menerima panggilan telpon yang sudah pasti masalah pekerjaan.
"Kalau sibuk, ngapain jemput aku segala sih," ujar Rika. "Enggak sibuk-sibuk banget, biasa aja kok."
"Buktinya, sampai ditelpon begitu."
"Mereka hanya kordinasi. Santai aja lagi, emang kamu enggak kangen aku Mut?"
"Kangen enggak ya?"
Eltan berdecak. Kemudian pelayan mengantarkan pesanan mereka. Sesekali Eltan menyuapkan makanannya pada Rika, yang tidak ditolaknya.
"Habis ini mau ke mana?"
"Langsung pulang, aku belum ijin Bunda," jawab Rika.
"Nanti beliau marah," tambahnya lagi, yang direspon Eltan dengan mengangguk.
Eltan menggandeng tangan Rika menuju pintu keluar, tanpa diduga seseorang menghadang mereka.
"Wow, tidak kusangka kita bertemu lagi Eltan. Bagaimana kabarmu?" sapa seorang wanita dengan dengan paras cantik tubuh yang tingginya hampir sama dengan Eltan.
Rika menatap Eltan yang berdiri di sampingnya, "Maaf, aku sibuk. Ayo," ucap Eltan pada Rika. Wanita tersebut berjalan mengikuti Eltan, "Tunggu Eltan."
Eltan dan Rika yang sudah berada di parkiran terpaksa menoleh. "Dia siapa?" Tunjuknya pada Rika.
"Calon istriku," jawab Eltan. Wanita itu tertawa, "Kamu yakin?" Rika risih karena wanita itu memindainya dari kepala sampai kaki.
"Sepertinya masih polos, bukannya kamu suka dengan wanita agresif dan berpengalaman."
"MICHELE, kamu tidak ada hak menilai atau mengomentari kami," sahut Eltan. Lalu memberikan helm pada Rika.
"Kamu pakai motor? Mobil kamu kemana? Hotel kalian tidak gulung tikar kan?"
__ADS_1
"Bukan urusan kamu," ujar Eltan. Lalu menjalankan motornya, selama perjalan pulang Rika terdiam membuat Eltan gelisah. Karena tidak biasanya seperti itu, "Mungkinkah Rika cemburu," Batin Eltan.
Telah tiba di halaman rumah Kevin, Rika yang turun dari motor dan membuka helm yang ia kenakan lalu menyerahkan pada Eltan.
"Perempuan tadi siapa?" tanyanya sambil cemberut. Eltan ingin tertawa namun ia tahan. "Ternyata benar, gadisku cemburu," batin Eltan.
"Bukan siapa-siapa, hanya masa lalu," jawabnya sambil membuka bagasi motor mengeluarkan tas milik Rika.
"Masa lalu, bilang aja mantan Bang El. Maksud dia apa bilang ..."
"Rika, dia hanya masa lalu sedangkan kamu masa depan aku," ujar Eltan sambil memegang kedua pundak Rika.
"Gombal." Eltan menggaruk tengkuknya, "Aku jujur loh," ungkapnya.
"Halahhh pake ngambek, giliran enggak ada orangnya muka ditekuk terus, ada orangnya diambekin. ABG labil," ejek Reka pada saudari kembarnya dari atas balkon.
Eltan mengekor Rika yang masuk ke dalam rumah, untuk pamit pada Meera.
"Padahal belum hilang kangennya, tapi yang dikangenin udah ngambek," ujar Eltan menggoda Rika.
Eltan sudah memakai helmnya dan duduk di atas motornya untuk kembali ke hotel. "Wanita tadi Michele, mantan tunangan aku. Apa lagi yang mau kamu tanyakan?"
"Tidak, aku tidak ada perasaan dengan Michele," jawab Eltan. "Tapi kok sampai tunangan?"
"Kami dijodohkan dan itu sudah masa lalu. Kenapa? Enggak percaya kalau kamu masa depan aku."
Rika tidak menatap pada Eltan.
"Oke, nanti malam aku kembali lagi mau bertemu Om Kevin."
Rika menoleh, "Mau ngapain lagi?"
"Melamar kamu."
"Ehhhhh."
.
.
.
__ADS_1
Setelah makan malam keluarga Kevin, Eltan memenuhi janjinya untuk kembali datang menemui orang tua Rika.
"Melamar Rika? Kamu enggak salah?" tanya Meera pada Eltan.
"Saya seius tante."
Kevin terdiam, tapi tampak dia sedang berfikir. "Pih, kita kan sudah sepakat, tunggu sampai Rika menyelesaikan pendidikan."
"Maaf Om Kevin dan Tante Meera, saya serius dengan Rika. Awalnya saya pikir saya sanggup menunggu empat tahun. Tapi," Eltan menjeda kalimatnya, "saya ingin menyegerakan niat baik saya."
"Jika Om dan Tante setuju, saya akan kembali lagi dengan keluarga untuk melamar secara resmi. Ke depannya saya tetap mendukung Rika dengan kelanjutan pendidikannya."
"Panggil Rika kemari," titah Kevin.
Rika duduk di samping Eltan berhadapan dengan Kevin dan Meera, ia menundukkan wajahnya.
"Jawab dengan jujur. Apa kalian melakukan perbuatan terlarang?"
Rika menggelengkan kepalanya berbarengan dengan Eltan yang menjawab, "Tidak."
"Lalu kenapa kamu malah menyegerakan niat menikahi anakku?" kembali Kevin bertanya pada Eltan.
"Karena niat baik tidak boleh ditunda," jawab Eltan.
"Halahhhh, klasik. Apa motif kamu mempercepat ingin melamar Rika?"
Eltan menghela nafasnya, "Maaf Om, Tante, saya sungguh serius dan cinta pada Rika. Saya ... takut khilaf," ucap Eltan dengan jujur.
Kevin terbahak mendengar ucapan Eltan.
"Rika, kamu dengar yang Eltan sampaikan?"
"Iya, Pih."
"Kamu mau menerima Eltan?" Kini semua menoleh pada Rika menunggu jawaban Rika. Gadis itu menatap Kevin, Meera dan Eltan bergantian lalu menganggukan kepalanya.
"Aku tunggu kedatangan keluarga Sanjaya," ujar Kevin.
_________
Haiiiii, Eltan hampir khilaf mak, kita sahkan aja ya. Jangan lupa jejakss dan selamat bermalam minggu. Awas khilaf ya 🤣, uppps
__ADS_1