Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Karya Pertama Ku Persembahkan Untukmu (2)


__ADS_3

Senyum Kayla hilang saat membuka pesan dari Elang, pesan berisi foto Kayla saat sedang berbelanja di malam keberangkatan Elang ke Surabaya ditambah dengan kalimat, "Kamu keluar rumah tidak ijin dengan suami, kejutan apa lagi yang ingin kamu berikan?"


Kayla menghela nafasnya, "Apa kalian masih saling komunikasi di belakangku," ujar Kayla bermonolog.


...~ *** ~...


"Kamu kenapa? tanya bunda saat Kayla menghampirinya di dapur pagi ini. "Hmmm, enggak apa-apa."


"Wajah kamu seperti yang kurang tidur."


Kalka diam, memang semalam dia tidak bisa tidur memikirkan pesan yang dikirim Elang dan juga bayi di dalam perutnya yang aktif bergerak mungkin rindu disentuh Bapaknya sama seperti ibunya yang rindu pada Elang.


Kayla membantu Meera merapihkan meja makan dan menyajikan sarapan. "Tumben, anak papih yang ini ikutan sibuk," ucap Kevin sambil duduk di kursinya.


"Tau ah, Papih enggak asyik." Lalu Kayla pun duduk di kursinya, Bunda meletakan gelas susu di depannya. "Habiskan!"


Saat Kayla menikmati sarapan bersama yang lain, tiba-tiba, "Selamat Pagi," ucap seseorang.


Papin dan Bunda menjawab salam yang diucapkan. Kayla menoleh pada asal suara, "Om Elang," ucapnya sambil terkejut.


Elang menatap Kayla yang hanya mengenakan piyama pendek selutut dengan perut buncit dan rambut dicepol asal, terlihat kalau memang bumil yang satu ini belum mandi namun tidak mengurangi kecantikannya. Mencium kening Kayla lalu duduk disampingnya.


"Kayla," panggil Bunda.


"Eh, iya Bun." Kayla lalu berdiri dan menuju dapur tidak lama kemudian kembali membawa secangkir kopi. Entah apa yang dibicarakan Elang dan Kevin.


"Om Elang kok enggak bilang sih mau pulang," ucap Kayla. "Habiskan dulu sarapanmu," jawab Elang.


"Kita diskusikan setelah sarapan," ucap Kevin. Kayla menatap heran pada Kevin dan Elang. Kemudian si kembar bergabung dimeja makan membuat riuh suasana ksrena ulah mereka.


"Untung, aku sudah selesai sarapan, ribet sama kalian," ujar Kayla.


"Hmm, boleh. Ada suaminya dia bilang begitu, kemarin mah waktu LDR, muka jutek mulu bentar-bentar manggil-manggil aku untu nemenin" sahut Rika.


"Apaan sih, hoax," ujar Kayla sambil meninggalkan meja makan mengekor Elang. Elang menemui Kevin di ruang tamu, Meera ikut bergabung di sana. Kayla sendiri bingung ada apa sepagi ini mereka dalam mode serius. Duduk disamping Elang, mendengarkan apa yang akan dibicarakan.


"Jadi, masalah di sana belum selesai?" tanya Kevin.


"Belum, sepertinya saya akan lama disana, makanya saya akan bawa Kayla ikut ke Surabaya." Kayla menoleh pada Elang, ternyata kepulangannya yang tiba-tiba mau menjemput Kayla.


"Saya dan Kayla sedang memperbaiki hubungan kami, kalau terpisah begini saya khawatir malah menjadi masalah lagi."


"Bunda setuju sama kamu, bawa dia. Yang penting jaga kondisi kehamilannya. Tidak baik kalian terpisah terus," nasihat Meera.


"Jadi, kapan kalian berangkat?"


"Besok pagi," jawab Elang.


"Kayla, kamu ikut apa kata suamimu. Sebenarnya sudah hak Elang dan kewajiban kamu ikut kemana pun suamimu pergi," ujar Kevin.

__ADS_1


.


.


.


"Aku berangkat, kamu siapkan keperluan untuk kamu disana. Tidak usah terlalu banyak, sisanya kamu bisa beli disana. Nanti sore aku mampir ke apartemen untuk ambil keperluan aku," titah Elang saat mereka ada di kamar Kayla.


"Aku aja yang ke apartement."


"Jangan, nanti kamu capek bolak balik, kamu istirahat besok kita harus naik pesawat. Kamu tau sendiri tidak mudah orang hamil naik pesawat."


"Tapi bener Om Elang sendiri yang ambil ke apartement, bukan ..."


"Aku, aku sendiri Kay. Aku berusaha untuk buat kamu nyaman," ujar Elang.


"Hmm."


Lalu Elang mendekatkan wajah mereka dan melu_mat bibir Kayla dalam dan cukup lama, "Aku kangen kamu Kay," ucapnya sambil menempelkan dahi mereka.


"Aku juga kangen Om Elang, kangen banget malah."


"Masa?"


Kayla mengangguk.


"Iya Mas El," ucap Kayla, "nanti kalau anak kita sudah lahir aku ingin mereka panggil kita Bapak dan Ibu. Boleh?" Elang menyentuh pipi Kayla dengan kedua telapak tangannya lalu mengecup bibir Kayla.


"Boleh, sayang, boleh," ujarnya, "istirahat dan packing secukupnya."


Elang yang masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti Edo, mendengarkan laporan yang disampaikan Edo dan membaca berkas yang ada dimejanya.


"Jadi, kapan berangkat lagi ke sana?" tanya Edo.


"Besok pagi, sekalian ajak Kayla." Tatapan Elang tetap pada berkas yang ditelitinya.


"Tumben, dinas bawa buntut."


"Harus, gue enggak mau kejadian lagi Kayla kabur. Jadi kita harus perbaiki komunikasi dan LDR itu bisa jadi masalah berikutnya."


"Hmm, syukur deh kalau mulai sadar mah," ucap Edo.


"Maksudnya?" Elang bertanya sambil menoleh pada Edo.


"Iya kan dulu loe orangnya cuek, sibuk yang dipikirin cuma bisnis doang."


Elang berdecak, "Itu dulu, insyaf gue. Pengen punya keluarga yang bener, punya keturunan dan gue bukan anak muda lagi, Do."


Sore harinya sebelum pulang, Elang masuk ke dalam kamar dalam ruang kerjanya. Bermaksud menyiapkan untuk keberangkatan besok. Ia terkejut melihat dua manekin dalam kamarnya, manekin yang memajang gaun wanita yang cukup indah dan elegan menurutnya sebagai laki-laki dan juga setelan tuxedo dengan bahan halus dan Elang tau itu adalah bahan premium.

__ADS_1


Elang menuju meja kerjanya mengambil lembar sketsa yang sebelumnya pernah ia lihat, "Hmm, ini sketsa milik Kayla. Jadi yang sudah jadi itu buatan Kayla," gumam Elang.


Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi Kayla.


"Halo."


"Halo, sayang."


"Iya, Mas El."


Elang tersenyum mendengar panggilan Kayla untuknya.


"Kay, ini hasil rancangan kamu? Untuk aku?"


"Hmm, apa ya Mas?,"


"Setelan yang ada di ruanganku."


"Owh, baca dong pesannya."


Elang mencari pesan yang dimaksud dan ia menemukan kertas dalam saku depan. 'Karya Pertama Ku Persembahkan Untukmu'.


"Malam itu aku ke Mall mencari kain, kejutan untuk Mas El. Aku ingin kembali mendesign, bolehkah?"


"Boleh, tentu boleh sayang. Selama tidak menyusahkanmu dan anak-anak kita nanti."


"Terima kasih, Mas El."


Elang keluar dari lift menuju lobby diikuti oleh salah satu karyawannya membawakan koper milik Elang. Ia melihat Sena dan Meta sedang bercakap-cakap di sofa lobby, "Pak Elang," panggil Meta lalu menghampirinya diikuti oleh Sena.


"Bisa bicara sebentar, Pak!" Pinta Meta.


Elang melirik arloji di tangannya, "Maaf, saya sedang buru-buru. Lain kali saja."


"Tapi ini terkait lelang, Pak."


"Apalagi itu, kamu peserta lelang tapi menemui panitia dan pemilik penyelenggara kegiatan. Ini tidak benar, kamu bisa didiskualifikasi."


"Tapi saya punya rekomendasi loh," ucap Meta.


"Rekomendasi apa? Ini kompetisi terbuka bukan ajang nepotisme. Saya jadi tidak yakin pemberitaan kemarin itu benar kalau Kayla meniru hasil karyamu." Elang melipat kedua tangannya di dada, "Melihat usaha kamu untuk menang dengan cari seperti ini," ujar Elang.


to be continue


Haiiii, thanks yang baru bergabung dan suka dengan kisahnya, sabar ya .... pasti gemes sama tokoh Elang.๐Ÿคญ,,, tunggu kelanjutannya ya


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

__ADS_1


__ADS_2