
Elang menghela nafasnya, "Oke, kita sama-sama perbaiki. Aku janji Kay dan memang kamu satu-satunya dihati aku Kay. Dia cuma masa lalu."
Ponsel Elang yang ada dinakas bergetar, Kayla meliriknya panggilan masuk dengan nama Sena tertera dilayar. "Bener-bener mengganggu," ucap Kayla.
"Enggak akan aku jawab Kay, nanti setelah kita pulang ke Jakarta aku akan pastikan dia tidak akan menghubungi aku selain urusan pekerjaan. Sekarang kamu istirahat ya, aku berharap besok dokter mengijinkan kamu untuk pulang."
Elang meluruskan kembali sandaran bed Kayla. Membenarkan posisi selimut dan mengecup kening Kayla, tidak lama Kayla pun terlelap.
Sedangkan di Jakarta, Agha yang baru saja menerima informasi keadaan Kayla dari Kevin via telpon merasa sangat lega. Apalagi mengetahui bahwa Kayla akan kembali ke Jakarta.
"Kamu terlalu memanjakan Kayla, makanya dia seperti itu. Dia kan sekarang sudah menjadi seorang istri bahkan mau jadi Ibu masa ada masalah memilih kabur. Bikin malu aja, harusnya dia paham sekarang membawa nama Sanjaya," tutur Laksmi.
"Kita belum tau sebenarnya apa masalah Kayla sampai ia memilih pergi, jadi jangan menjudge sebelum tau permasalahannya," ujar Agha.
"Kamu selalu saja bela Kayla, ingat Mas kita masih punya Avano yang juga harus diprioritaskan. Rencana kamu kemarin membagi saham untuk anak-anak harus adil. Adil dalam artian bukan sama rata tapi sesuai dengan pertimbangan anak laki-laki dan perempuan."
Agha memilih diam, dia tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan istrinya karena percuma sepertinya Laksmi memiliki ketidaksukaan dengan Kayla karena kesalahan Eltan.
"Sebentar lagi pernikahan Eltan, aku enggak ingin ada masalah Mas."
"Maksud kamu Kayla akan mengacau di pernikahan Eltan, ya enggak mungkin Laksmi. Kamu tau sendiri dia menolak pertanggung jawaban Eltan," sahut Agha.
"Sudahlah, ini kelamaan kita bisa bertengkar. Kalau kamu membela Eltan karena dia anakmu sama akupun membela Kayla karena dia putriku," tambahnya.
...***...
Visit Dokter pagi ini memperbolehkan Kayla pulang, namun karena ia akan pulang ke Jakarta dokter memberikan catatan untuk Kayla kontrol kehamilannya di sana.
"Administrasi sedang diurus, pakaian-pakaian kamu juga sudah ada yang handle. Motor kamu aku serahkan ke pengurus rumah kost untuk bisa dimanfaatkan bersama. Sebentar lagi temanmu juga datang, tadi aku sudah menghubungi Kalau kamu sudah boleh pulang," ungkap Elang.
Kayla menghela nafasnya, teringat bagaimana baiknya Ria dan Bara. Bahkan saat pertama bertemu. Dan pertemuan dengan Ria juga Bara kali ini membuat Kayla sedih karena harus berpisah.
"Sehat-sehat di sana, kalau gue lihat keluarga lo baik dan mendukung lo Kay. Coba berdamai dengan hati agar kita lebih tenang menghadapi hidup," ucap Ria setelah memeluk Kayla. "Kalau jadi, aku dan Bara akan membuka usaha di Jakarta pasti kita hubungi lo deh," tambahnya.
"Serius? Usaha apa? Aku tunggu ya, jangan sampai enggak hubungi aku kalau kalian ke Jakarta." Kayla kembali memeluk Ria.
__ADS_1
"Ingat Kay, kita selalu ada untuk lo, jangan sungkan kalau ada yang jahat sama lo," ucap Bara sambil bersalaman dengan Kayla sebenarnya dia ingin memeluk Kayla tapi Elang terus menatap kepada mereka berdua.
"Bara, lahir diantara kemewahan itu bukan suatu kesalahan itu sudah takdir kamu. Manfaatkan untuk kebaikan jangan menolak dengan cara yang salah," ucap Kayla.
Bara mengangguk, "Nama belakang keluargamu apa Bar?" tanya Kayla. Bara hanya tertawa, "Rahasia," ucapnya.
Kayla mengenakan maternity dress selutut dan sandal, Elang mendorong kursi roda yang diduduki Kayla. Saat hendak masuk ke mobil, Kayla melambaikan tangan ke arah Ria dan Bara tanpa mengucap apapun sedangkan matanya sudah berkaca-kaca. Bisa dipastikan ia akan menangis jika bersuara.
Mobil yang membawa Kayla melaju meninggalkan kota Bandung tempat pelarian Kayla. Elang merengkuh istrinya yang terisak, "Sudah Kay, kamu terlalu banyak menangis. Tidak baik untuk anak kita nanti dia akan menjadi lebih sensitif." Elang mengelus perut Kayla yang sudah membola.
Dalam perjalanan Kayla sempat terlelap, mereka telah tiba di Jakarta dan sesuai dengan arahan Kevin dan Meera, Kayla akan tinggal bersama mereka sampai dilihat Kayla sudah siap untuk tinggal terpisah.
"Kay, aku sudah siapkan rumah untuk kita dan anak-anak kita nanti. Aku harap setelah kamu sudah aman menurut dokter, kita kembali ke apartemen atau pindah ke rumah kita," ujar Elang.
Mobil itu sudah memasuki kawasan perumahan kediaman Kevin, dan kini sudah terparkir di carport yang tersedia.
"Mau langsung ke kamar ?" tanya Meera, Kayla hanya mengangguk. Bersandar pada headboard dan meluruskan kakinya, Elang menghampiri Kayla "Aku ke Two Season dulu, ada beberapa berkas penting harus menunggu approve dariku. Nanti beres aku langsung ke sini," ucap Elang sambil mengecup kening Kayla.
Tiba di Two Season, Elang meminta Mega memanggil Edo.
"Gimana ? Ada perkembangan atau masalah?" tanya Elang pada Edo, sambil membaca berkas yang ada dimejanya. Edo melaporkan informasi yang harus diketahui Elang selama ia tidak ada di tempat.
"Lihat besok, siapkan teleconference dengan cabang," titah Elang. Salah satu Ob masuk mengantarkan secangkir kopi.
"Lang, terkait Sena," ucap Edo.
"Hmm," Elang mulai menyesap kopinya.
"Apa yang diperintahkan udah aku lakuin ya, dia cuma diam saat tau kalau loe lagi fokus sama Kayla dan minta dia menjaga batasan. Terpaksa aku minta orang awasi dia," tutur Edo.
"Oke, laporkan hasilnya. Yang jelas gue enggak mau hubungan sama Kayla memburuk lagi karena masalah ini, beres meeting aku mau manggil dia biar enggak berlarut-larut."
"Oke," jawab Edo.
Elang dan Edo berada di ruang rapat untuk melakukan teleconference, cukup lama karena ternyata sekarang sudah lepas sore. Elang melirik arlojinya, "Setengah tujuh," batinnya.
__ADS_1
Masih berada di ruang rapat, Elang meminta Mega menghubungi Sena untuk menemuinya di ruang rapat.
"Enggak pulang?" tanya Edo.
"Nunggu Sena, gue mau clear -kan sekarang dan sengaja di ruangan ini biar enggak ada fitnah."
Saat ini Elang berada di ruangan rapat yang terdiri dari banyak kaca, karena tembok hanya sebagian, sisanya adalah kaca.
"Selamat sore," sapa Sena saat masuk ruangan.
"Aku tunggu di luar," ucap Edo pada Elang.
"Hmm," ucap Elang sambil menggeser tampilan di tabletnya. "Duduklah," pintanya pada Sena.
"Kamu, apa kabar Mas? Aku jarang lihat, sepertinya sibuk ya sebab aku hubungi tidak dijawab," ujar Sena tanpa malu.
"Tentu saja aku sibuk dan kamu tau itu. Apalagi sekarang Kayla sedang hamil jadi aku perlu konsentrasi menjaganya."
"Hamil?"
"Iya, Kayla mengandung calon penerus Sanjaya. Sena, mungkin aku perlu ingatkan kembali, walaupun kita pernah punya kisah tapi itu dulu dan sudah berakhir. Saat ini posisi kita adalah kamu bekerja dan aku pemilik perusahaan. Hargai batasan itu," ucap Elang.
Sena diam, dia memandang sendu pada Elang.
"Aku tidak ingin Kayla salah paham, kalau kamu masih nyaman di Jakarta sebaiknya jangan berulah, atau aku akan mutasi kamu kembali ke cabang Bali."
"Kamu tega Mas," jawab Sena.
"Mana bagian yang tega menurut kamu?" tanya Elang mulai emosi.
"Aku hanya ingin memperbaiki komunikasi kita," jawab Sena.
"Komunikasi kita baik-baik saja, sebatas yang tadi aku sampaikan. Kalau kamu berharap lebih dari itu, salah. Kamu salah. Ah satu lagi, untuk pekerjaan garis kordinasi kamu bukan ke aku tadi ada atasan kamu. Jangan terus menghubungiku itu membuat Kayla tidak nyaman." Elang meninggalkan ruangan.
Sena kesal, kedua tangannya meremas rok yang ia kenakan.
__ADS_1
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐๐