Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Esok paginya, Rika yang lebih dulu bangun segera membersihkan dirinya. Ia berada di walk in closet melihat apa yang kira-kira bisa ia siapkan untuk suaminya.


Beberapa hari kemarin ia mempelajari gaya berpakaian Eltan saat ke kantor dan hari ini ia berusaha menjadi istri yang baik. Memilihkan pakaian, sepatu sampai jam tangan untuk dipakai Eltan.


Seperti biasa, gaya pakaian Rika jika di rumah ia memakai hot pants dan kaos model crop top yang membuat pusarnya terpampang.


Duduk pada sofa dan menyandarkan kepalanya di sana. Memainkan remote tv mencari channel yang menarik dan terhenti pada acara infotainment. Tanpa disadari, ternyata sudah cukup lama Rika berada di sepan TV, karena Eltan yang sudah rapih mengenakan pakaian yang disiapkan Rika mencium pipinya lalu duduk di samping Rika.


"Bangun duluan kok enggak bangunkan aku sih," ujar Eltan yang merantangkan tangan kirinya di sandaran sofa membuat Rika segera merangsek dan bersandar pada lengan kekar itu.


"Yang ada aku dibuat tidur lagi," sahut Rika, Eltan terkekeh. "Makin pinter sekarang ya," jawab Eltan, "pinter nyenengin suami." Eltan berbisik di telinga Rika membuatnya bergidik.


"Kamu ada kuliah jam berapa?" Rika menggelengkan kepalanya. "Hari ini kosong."


"Mau jalan? Aku bisa atur waktu untuk .."


"Aku kangen Bunda," ucap Rika. Eltan lupa bahwa istrinya ini anak bungsu dari Kevin dan Meera yang terbiasa dimanja dan tidak pernah jauh dari orangtua. Mengajaknya pindah sejak resmi menikah sudah pasti menumpuk kerinduan dalam hati Rika.


"Mau aku antar ke tempat Bunda?"


"Aku boleh ke sana?" tanya Rika sambil menoleh pada Eltan, rona bahagia terlihat di wajah istrinya. Eltan mengangguk sambil tersenyum, "Aku berangkat agak siangan, nanti sore Bang El jemput aku ya," titahnya.


"Siap bos," jawab Eltan, "aku mau berangkat, tapi kasih vitamin dulu dong."


"Vitamin apa? Aku enggak tau jenis vitamin yang biasa Beng El minum. Lagi pula sarapan juga belum," sahut Rika.


"Bukan vitamin yang diminum tapi yang di ku_lum," ujar Eltan sambil tersenyum. Rika terdiam, Eltan berdecak karena tau Rika yang masih loading. Mendekatkan wajahnya pada wajah Rika lalu memagut bibir yang terlihat natural tanpa sentuhan apapun.


Pagutan lembut yang dilakukan Eltan hanya bisa membuat Rika pasrah, Eltan menyesap bibi atas dan bawah Rika bergantian, dirasa puas ia pun melepas pagutannya.


Nafas Rika tersengal, Eltan menghapus bibir Rika yang basah dengan jarinya sambil tersenyum, "Itu vitamin aku."


...~***~...


Hari-hari berlalu, bahkan sudah lebih dari tiga bulan pernikahan Rika dan Eltan. Ritme kerja Eltan semakin sibuk tak terkecuali Elang. Beberapa kali mereka bergantian keluar kota mengecek cabang Two Season, termasuk yang di Singapura.

__ADS_1


Bahkan rencana mendirikan cabang baru membuat keduanya semakin sibuk. Wacana honey moon saat libur semester Rika pun menguap karena kesibukan Eltan.


Paman dan keponakan tersebut kompak menitipkan istri mereka pada Meera saat berada di luar kota. Seperti saat ini, Rika sudah dua hari menginap di kediaman Kevin karen Eltan yang mengunjungi Two Season di Bali. Menjelang moment libur, mempersiapkan dan memastikan Two Season siap melayani kebutuhan tamunya.


Elang yang bertolak ke Jogya mengecek pembebasan lahan untuk pembangunan cabang baru, mengantarkan Kayla dan Kenan pagi hari sebelum ia menuju bandara.


Rika yang merasa kurang sehat namun mendengar kedatangan Kayla pun keluar dari kamarnya. Ia merindukan keponakannya, saat sampai pintu yang menghubungkan halaman samping dan ruang keluarga, langkahnya terhenti.


Ada Kayla yang sedang berbicara dengan Dipta. "Aku sengaja Kay, justru aku sengaja menjauh karena tidak tega melihat Bunda. Kamu tau kalau aku sejak bayi sudah ditinggal ibuku dan Bunda Meera yang merawat aku. Dia sudah aku anggap ibu aku sendiri, namun melihat pernikahan Eltan dan Rika, aku merasa itu menyakiti hati Bunda."


Jantung Rika berdetak lebih cepat mendengar pernyataan Dipta.


"Kenapa begitu Kak, mereka bahagia, Bunda juga terlihat biasa aja," sahut Kayla. "Hati mana ada yang tau Kay. Aku merasa Bunda kecewa, harus melepas putrinya kepada pria yang pernah menghancurkan putrinya yang lain, dan kamu harus bertemu lebih intens dengan pria breng*sek itu."


"Kak, aku sudah mencoba menutup masa lalu aku. Aku sudah bahagia dengan Mas Elang dan kehadiran Kenan. Sedangkan pernikahan Eltan dan Rika itu sudah takdir, kita harus terima termasuk apa yang sudah aku lalui itu pun sudah takdir," ungkap Kayla.


Rika meremat ujung piyama yang dikenakannya, kedua matanya sudah berembun dengan air mata yang siap turun. Tidak ingin mendengar yang lebih dari itu, ia pun kembali ke kamarnya.


"Apa aku bahagia di atas luka Kak Kayla dan kekecewaan Bunda?" batin Rika. "Kenapa aku begitu bodoh tidak berfikir ke arah sana saat memulai ini semua," batinnya lagi.


"Bodoh, kamu bodoh Rika," ucapnya menenggelamkan wajah pada bantal sedangkan tubuhnya mulai berguncang karena isak tangis.


"Bangun, ditunggu Bunda sama Kak Kayla. Makan dulu, kata Bunda kamu belum sarapan. Jangan manja deh, suami loe lagi liburan di Bali," ujar Reka.


"Kerja bukan liburan," jawab Rika dengan suara parau. "Loe bukannya ikut, sekalian liburan." Reka masih setia menunggu Rika bangun bahkan kini menarik selimutnya.


"Kalau aku sehat pasti ikut, kayak gini yang ada nanti di sana malah nyusahin," ucap Rika sudah menurunkan kedua kakinya. Reka memperhatikan wajah Rika yang pucat, "Mending cuci muka dulu biar enggak kelihatan loe habis nangis."


Rika menoleh, "Gue enggak tau masalahnya apa, tapi jangan lebay. Wajah loe makin pucat, mending ke dokter deh," titah Reka yang hanya dibalas anggukan.


Reka berjalan keluar dari kamar Rika, "Enggak pake lama, gue udah laper."


"Sini duduk, cepat makan. Bunda enggak mungkin anterin kamu sarapan ke kamar, kamu bukan bocah lagi, sudah jadi istri," jelas Meera saat melihat Rika bergabung di meja makan.


"Kamu sakit apa?" tanya Kayla pada Rika.

__ADS_1


"Sakit hati," jawab Reka, "enggak di ajak ke Bali." Rika yang duduk disebelah Reka memukul lengan saudara kembarnya karena jawaban Reka.


"Besok bikin plang di depan rumah Bun, tempat penitipan istri keluarga Sanjaya," canda Reka. Kayla bahkan tergelak mendengar ucapan Reka. "Iya ya, rumah ini jadi tempat menitipkan istri," tambah Kayla. Hati Rika semakin tak karuan, karena candaan Reka mengingatkan pernyataan Dipta yang ia tidak sengaja dengar.


"Bun aku enggak lapar," ujar Rika.


Meera menoleh pada Rika dan memandang wajah putrinya. "Makan walau sedikit, mau Bunda suapi? Bunda enggak mau nanti suami kamu pulang, sakit kamu makin parah. Kalian juga makan, bercanda aja," titah Meera pada Reka dan Kayla.


Setelah menghabiskan makanan yang hanya beberapa suapan, Rika pamit kembali ke kamarnya. "Bun, Rika sebenarnya sakit apa?"


"Kemarin bilangnya hanya pusing, habis ujian semester. Tau sendiri adik kamu waktu SMA kalau habis ujian ya ngedrop," jelas Bunda.


"Kuliah kalian berat banget ya?" tanya Kayla pada Reka. "Aku sih biasa aja, enggak tau kalau yang Rika rasakan. Waktu sekolah juga bilangnya susah, mungkin sekarang juga sama," jawab Reka.


Sore harinya, "Enggak, Eltan belum pulang. Kamu nanti sendirian di sana," ujar Meera, saat Rika menyampaikan ia ingin pulang ke apartement.


"Besok juga Bang El pulang," sahut Rika.


"Enggak, Bunda enggak ijinkan."


.


.


.


Esok pagi, Rika merasa tubuhnya semakin tidak nyaman. Mengetahui Meera sedang menemani Kayla ke Rumah sakit karena sejak semalam Kenan demam, dimanfaatkan Rika untuk pulang ke apartement.


Tubuh Rika tidak bisa menerima apapun yang ia makan, membuatnya semakin lemas. Namun saat Meera menghubungi menanyakan kondisinya, Rika menjawab ia baik-baik saja. Berbohong mengenai kondisinya karena Meera harus fokus menemani Kayla menjaga Kenan yang sedang dirawat.


Eltan khawatir karena Rika tidak dapat dihubungi sejak semalam, ia pun meminta Reka mengecek keadaan Rika.


"Pass codenya apa?" tanya Reka melalui sambungan telpon saat ia sudah berada di depan unit apartement Eltan.


Reka mencari keberadaan Rika dan menemukannya terbaring lemah di atas ranjang. "Astaga, ka. Rika," panggil Reka sambil menepuk pipi Rika.

__ADS_1


___________


Haiii gaess, apa kabar ? ๐Ÿ˜Š,,, jangan lupa jejaks yesss. udah hari senin nih, boleh vote nya ๐Ÿ˜„


__ADS_2