
"Hai," sapa Nana saat masuk ke dalam ruang kerja Eltan. Tanpa menjawab, Eltan hanya menatap sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ada apa?" tanya Eltan.
Nana duduk pada kursi depan meja Eltan, "Bunda aku menanyakan kelanjutan kita?"
"Kita?" tanya Eltan, "tidak ada kita. Tinggal jawab apa adanya. Toh dari awal kita hanya dikenalkan bukan dijodohkan."
"Dan dari awal aku juga bilang, aku hanya tidak ingin mengecewakan orangtua, jadi sebaiknya ibu kamu yang kembali bicarakan tentang masalah ini."
Eltan terdiam, dia ragu apakah Ibunya mau membatalkan rencananya mendekatkan ia pada Nana. Apalagi jelas-jelas dia sudah mengetahui bahwa Eltan menyukai Rika dan Rika memprovokasinya.
“Perlu kamu tau, Bunda semakin tertarik memiliki menantu kamu waktu dia tau kamu adalah keluarga Sanjaya,” ujar Nana sambil tertawa, “Bunda tidak akan dengarkan aku, apalagi aku sedang dekat dengan pria yang menurutnya tidak selevel dengan status sosialnya.”
“Oke, aku pastikan kita tidak akan berlanjut ke tahap apapun,” sahut Eltan.
“Gadis kemarin itu ...”
“Iya, aku mencintainya dan aku akan perjuangkan,” sela Eltan.
Nana tertawa, “Kamu serius Eltan, sepertinya dia masih ...”
“18 tahun, sebentar lagi lulus SMA. Tidak ada masalah, secara biologis dia sudah dewasa. Lagi pula aku tidak akan langsung menikahinya,” jawab Eltan.
Nana mengedikkan bahunya, “Apa seleramu gadis muda seperti itu?”
Eltan menatap layar komputer, “Tidak juga.”
“Oke, selamat berjuang. Sudah pasti tidak mudah,” ujar Nana lalu berdiri.
Eltan menoleh, “Kamu juga selamat berjuang, dan pastikan tidak menemuiku lagi apalagi harua ke sini.”
“Woww, penolakan langsung. Tenang saja, kalaupun lain kali aku harus menemuimu aku akan ajak kekasihku.”
.
.
.
Rika keluar ruang kelas dengan lemas, bahkan ransel sekolahnya hanya ia jinjing. “Yaelah, baru tryout aja udah kayak menghadapi ujian hidup,” ledek Reka yang berjalan di belakang Rika. “Kemarin sesumbar mau ujian dengan baik dan hasil yang baik, belum apa-apa udah ...”
“Berisik, aku udah usaha maksimal ya. Lagian kenapa juga kita kembar identik tapi kecerdasan berbeda.”
“Nih, buat ngembaliin mood loe,” Vano menyodorkan es cup kesukaan Rika.
“Makasih, tapi jangan ngarep macam-macam ya, gue tetep masih punya rasa sama Abang loe bukan loe,” sahut Rika.
__ADS_1
“Ampun dah ini anak, dipikir gue nembak dia pake es begituan,” ucap Vano.
Rika, Reka dan Vano berjalan menuju parkiran. “Rika,” panggil seseorang. Ketiganya menoleh pada arah suara. “Mamih,” ucap Vano. Rika dan Reka saling menatap. “Rika, ikut Mamih ada yang perlu kita bicarakan!” titah Laksmi.
“Tapi, Rika harus pulang dengan aku Mih,” ucap Reka.
“Sebentar saja, hanya di cafe tidak jauh dari sini,” sahut Laksmi.
Kini Laksmi dan Rika duduk berhadapan di sebuah meja cafe tidak jauh dari sekolah Rika. Reka dan Vano ada di cafe yang sama namun meja mereka berjauhan.
Kedua wanita beda usia itu saling diam, setelah menyebutkan pesanan pada pelayan. Laksmi menatap Rika yang hanya menunduk.
“Rika.”
“Iya,” jawabnya sambil menatap Laksmi.
“Sejak kapan Eltan dan kamu berhubungan?”
Rika menghela nafasnya, “Aku lupa sejak kapan, tapi belum lama kok Bang Eltan menyatakan perasaannya,” jawab Rika.
“Lalu kamu sendiri bagaimana?”
Rika tidak menjawab karena pelayan mengantarkan minuman pesanan mereka. “Aku minum duluan ya Mih, aku haus baru selesai tryout. Hehe,” ujar Rika.
Setelah menghabiskan sebagian isi gelas dihadapannya dan sedikit mengusir rasa gugup, “Hmm, iya aku juga suka Bang Eltan.”
“Kenapa enggak Bang Eltan yang cari perempuan lain, kenapa harus aku yang diminta cari laki-laki lain. Kesannya seperti aku perempuan enggak bener.”
“Kamu itu bicara enggak ada santunnya sama yang lebih tua, aku ini Ibu dari Eltan. Harusnya kamu menghormati aku.”
Rika bersandar pada kursi yang ia duduki, “Aku pasti akan menghormati Mamih Laksmi, apalagi Mamih kan ibunya Kak Kayla juga, tapi Mamih juga enggak hormati aku,” sahut Rika.
“Kamu ya...”
“Cukup Bu,” ujar Eltan yang entah kapan datangnya yang jelas kini ia berdiri disamping Rika.
Laksmi dan Rika menoleh pada Eltan, “Kamu, ngapain kamu disini, Ibu harus bicara dulu dengan Rika.”
Eltan menarik siku Rika yang membuat gadis itu segera berdiri. “Aku akan antar Rika pulang, kalau Ibu ada hal yang ingin ditanyakan, kita bahas nanti. Ayo,” ajaknya pada Rika.
“Bang Eltan, tunggu,” Rika kesulitan mengikuti langkah Eltan apalagi salah satu tangannya dalam genggaman Eltan.
Eltan membukakan pintu mobil agar Rika masuk, “Bang Eltan, Rika pulang dengan aku.” Ucap Reka berjalan mendekat. “Aku yang antar, kamu boleh ikuti dari belakang,” pinta Eltan. Rika memandang Reka.
“Udah, tenang aja, loe ikutin aja dari belakang. Lagian bang Eltan gua yang suruh kesini, dari pada nanti ada keributan,” jelas Vano.
Rika sudah berada dalam mobil Eltan, “Seat belt,” ucap Eltan sambil menoleh pada Rika lalu membawa mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
“Bang Eltan ngapain ke sini sih, aku juga bisa handle sendiri.”
“Ibu sifatnya keras kamu juga sama, udah kebayang bakalan gimana kelanjutannya. Kemarin aja kamu berani nantangin Ibu,” jawab Eltan.
Rika mencibir, “Itu kan karena Mamih duluan yang hina aku.”
Mobil mereka berhenti karena lampu lalu lintas merah yang menyala, “Aku minta maaf atas nama Ibuku,” lalu meraih tangan kanan Rika dan mengecup punggung tangan itu. “Enggak usah cemberut begitu, nanti aku khilaf.”
Rika langsung menarik kembali tangannya dan menatap keluar jendela di sampingnya, melihat ke arah belakang mobil melalui kaca spion memastikan apakah Reka mengikutinya. “Enggak usah takut, aku cium kamu juga Reka enggak bisa lihat.”
“Apaan sih,” ucap Rika sambil memukul lengan Eltan. Eltan hanya tertawa, kembali fokus pada kemudi.
“Ucapan Mamih benar, kenapa Bang Eltan enggak pilih yang seumuran aja dengan Bang Eltan. Kayak si nanas,” ejek Rika.
“Nana.”
“Kan dia cantik Bang.”
“Cantikan kamu lah,” Sahut Eltan.
“Halahhh, gombal.”
“Aku serius, aku akan atur waktu untuk bertemu orangtua kamu lagi.”
“Ehh, mau ngapain?”
“Pokoknya kamu tetap sekolah seperti biasa, pilih kampus sesuai minat kamu. Aku enggak akan mengganggu pendidikan kamu, yang jelas aku siap menunggu.”
Mobil yang membawa mereka telah berhenti di depan kediaman Kevin, “Aku antar ke dalam!”
“Enggak usah, aku sama Reka bisa menjelaskan, lagian nanti Bang Eltan beneran mau ketemu Papih bukan?”
“Hmm.”
Rika melepaskan seat beltnya saat hendak membuka pintu, Eltan yang sudah terbebas dari seat beltnya menahan tubuh Rika dan mendaratkan bibirnya pada bibir Rika.
“Aku kangen kamu Mut,” ucap Eltan saat melepaskan pagutannya.
Rika hanya diam, “Aku keluar dulu, Abang hati-hati.”
Eltan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Rika.
Reka sudah berada di depan gerbang yang terbuka, ia telah lebih dulu sampai rumah. Saat keduanya masuk, Meera yang berada di ruang tamu bertanya, “Dari mana kamu?” tanyanya pada Rika yang langsung bersembunyi dibelakang tubuh Reka.
______________
Jangan lupa jejaksss yess, bab ini full tentang Eltan dulu yakkkkk
__ADS_1