
Hai, thanks ya untuk yang baru bergabung dan baca maraton dari bab awal, semoga suka dengan kisah Kayla. Jangan lupa lemparin bunga atau kopinya π
______
Kayla melangkah masuk ke dalam rumah Kevin, "Baru pulang, kamu Kay," ucap Meera saat melihat Kayla.
"Iya Bun," jawab Kayla.
Melihat putrinya masih mengenakan dress kemarin saat berangkat, "Kamu ganti baju dulu, setelah itu kemari. Ada yang mau bunda sampaikan."
Menuju walk in closet dalam kamarnya lalu berganti pakaian disana. Kayla memilih menggunakan baby doll terusan berbahan kaus dengan panjang selutut.
Sebelum kembali menemui Bunda, Kayla membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada Elang mengatakan kalau ia sudah sampai rumah.
Duduk di samping Bunda, "Bun, kok aku jenuh ya tidak ada aktifitas begini. Bunda kok betah sih jadi ibu rumah tangga?"
"Bunda dari dulu bukan wanita karir, lulus kuliah langsung menikah dengan Ayah kamu. Jadi, tidak pernah merasakan bekerja. Lagian sekarang enggak ada waktu untuk Bunda aktivitas macam-macam. Rumah dan keluarga sudah menyita perhatian Bunda."
Kayla mengangguk, mendengarkan penjelasan Bunda. "Nanti juga kamu terbiasa, isi waktu luang kamu dengan kegiatan positif. Menata taman dengan tanaman hias yang lavi viral, mencoba resep baru atau sesekali manjakan diri di salon dan shopping, enggak masalah."
Bunda menggenggam tangan Kayla, "Kamu bisa kembali merancang, tidak ada larangan atau hukum yang mengatur kalau kamu tidak boleh kembali menjadi perancang busana."
"Tapi aku sudah tidak ingin Bun," jawab Kayla.
"Bukan tidak ingin, tapi menahan. Waktu kamu minta ijin pada orang tua akan mengambil jurusan itu saat kuliah, walaupun ditentang oleh Ayah dan Papih kamu, bunda yakin itu keinginan luar biasa yamg ingin kamu raih. Jangan putus asa!"
"Tapi__"
"Kay, ada masanya kamu akan kembali dipercaya. Waktu yang akan membuktikan. Bunda dengar Elang sudah menyiapkan rumah untuk kalian tempati. Minta satu ruangan untuk kamu gunakan, berkreasi kembali."
Kayla terlihat sedah berfikir, tatapan matanya menatap nanar ke depan. "Bunda ijinkan kamu ikut Elang suamimu, toh kamu sudah sehat. Tapi ingat, jangan menjadi wanita lemah. Hadapi masalah dengan menunjukan siapa kamu."
Kayla merangkul Meera, "Terima kasih Bunda," ucapnya sambil mendaratkan kecupan di pipi Meera.
Kayla kembali ke kamarnya, mengeluarkan koper dan mengisi dengan pakaian serta kebutuhan lainnya. "Nanti sore kita kasih kejutan untuk ayah kamu," ujar Kayla sambil mengelus perutnya.
Jam empat sore Kayla terbangun dari tidurnya, mencari keberadaan Bundanya. "Bun," panggil Kayla, "aku susul Om Elang ke hotel ya, sekalian pulang ke apartement."
"Iya, hati-hati kamu."
"Hmm," jawab Kayla sambil menyuap cake yang sedang di atur di piring oleh Meera.
__ADS_1
"Bunda, makin TOP aja hasil kreasinya," puji Kayla.
"Tapi anehnya, kedua putri Bunda enggak ada yang bisa masak."
"Hehe, mungkin nanti Rika mau kuliah tata boga biar jadi chef," jawab Kayla.
"Enak aja, enggak ya. Aku mau ambil hukum, kan keren kalau jadi pengacara," ujar Rika yang tiba-tiba hadir di antara Kayla dan Meera.
"Atau aku lulus SMA langsung nikah aja ya Bun, pusing juga sih sekolah mulu."
Meera dan Kayla saling bertatapan mendengar ucapan Rika. "Ngomong apa kamu?" tanya Meera sambil menjewer Rika. "Aduh Bun, sakit," teriak Rika sambil memegangi telinga yang dijjewer Meera.
"Reka bantuin aku dong!"
"Ada apa sih?" tanya Reka pada Kayla yang baru keluar dari dapur.
"Enggak ada apa-apa."
"Kayak suara Rika minta tolong."
"Hoax, dia lagi bercanda sama Bunda. Mending kamu balik ke kamar," ajak Kayla.
"KAK KAYLA," jerit Rika.
.
.
.
Berada dalam mobil yang ia kendarai sendiri, bahkan koper yang sudah disiapkan Kayla sudah dimasukan ke mobil oleh ART yang bekerja di rumah Kevin.
Tinnnn
Kayla membunyikan klakson saat keluar dari gerbang rumahnya, penjaga rumah menutup kembali gerbang ketika mobil yang dikemudikan oleh Kayla sudah berada di jalan.
Berada di padatnya lalu lintas, akhirnya Kayla sampai di Two Season. Memakai sling bagnya menuju ruang kerja Elang. Saat melewati meja sekretaris Elang, tidak ada siapapun disana.
Akhirnya Kayla memutuskan langsung masuk ke ruangan Elang. Setelah mengetuk tapi tidak ada sahutan ia pun membuka pintu menuju sofa berniat menunggu Elang disana.
"Om Elang kemana ya?" batin Kayla. Ia teringat ucapan Meera tadi pagi untuk memikirkan kembali agar ia bisa melanjutkan mimpinya sebagai perancang busana. Kayla menghela nafas pelan, lalu menuju meja kerja Elang.
__ADS_1
Duduk pada kursi kebesaran pemimpin Two Season, mengambil kertas kosong dan pena yang ada dimeja itu. Perlahan Kayla membuat guratan, garis dan coretan yang semakin lama menjadi sebuah sketsa design.
Mengambil sebuah kertas lagi kembali mengulangi hal yang sama, beberapa waktu kemudian kembali menghasilkan sebuah sketsa.
Kayla masih asyik dengan penanya saat pintu terbuka.
Bruk, "Iya, aku bersiap dulu." Elang mengakhiri panggilan telpon dan terkejut melihat Kayla di meja kerjanya.
"Kayla," panggilnya.
Kayla hanya tersenyum lalu berdiri dan menghampiri Elang. "Kejutan...." ucapnya.
"Kamu kesini dengan siapa ? kenapa enggak ngabarin aku."
"Sendiri, aku bawa mobil, kan namanya kejutan," ucap Kayla sambil tersenyum.
"Aku lebih terkejut kamu menyetir dibanding ada disini tanpa memberitahu," sahut Elang.
Kayla mencibir, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Elang. "Kata Bunda aku sudah boleh ikut Om Elang, jadi kita bisa pulang ke apartemen Om."
Elang meraih pinggang Kayla, "Tapi malam ini aku harus ke Surabaya. Ada insiden di dapur Two Season cabang Surabaya. Bahkan ada korban jiwa. Kak Ema panik dia tidak bisa handle, pengacara keluarga sudah lebih dulu berangkat," tutur Elang. Ema adalah Kakak Elang, adik dari Ayahnya Eltan yang memimpin Two Season Surabaya.
Kayla melepas tangannya dari tubuh Elang, "Ada yang bisa aku bantu siapkan? Pakaian Om Elang atau..."
"Tidak perlu, sudah disiapkan oleh Mega." Elang menunjuk sebuah koper tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Raut wajah Kayla berubah, kedua tangannya mengepal, sungguh ia sangat ingin marah tapi ia coba meredakan dengan menghela nafas.
"Oke," ucap Kayla lalu menyentuh dasi Elang yang sedikit miring dan memperbaikinya, "tapi lain kali kalau ada hal seperti ini baiknya Om kasih tau aku. Sepertinya aku tidak rela kalau kebutuhan pribadi Om harus diurus oleh sek-re-ta-ris perusahaan." Lalu menepuk jas Elang seakan menghilangkan debu yang menempel.
Elang menelan ludahnya, ia tidak dapat berkata-kata dengan ucapan Kayla barusan. Kalimat yang disampaian biasa namun berarti luar biasa, ada unsur penekanan di kalimatnya. Pernyataan kepemilikan terhadap dirinya.
"Maaf pak," ujar Mega masuk ke ruangan Elang, "berkasnya sudah ditunggu."
Elang menoleh pada map di atas mejanya lalu beralih menatap Kayla dihadapannya.
"Oke, aku pulang. Om hati-hati," ujar Kayla lalu mengecup singkat bibir Elang lalu meninggalkan ruangan Elang melewati Mega yang mengangguk hormat padanya. Kayla tidak menoleh atau tersenyum pada Mega.
Elang meraih map berkas yang harus ia tandatangan, namun perhatiannya tertuju pada dua lembar sketsa yang ada di meja kerjanya.
_______________
__ADS_1
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ππ