Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Kejutan Eltan


__ADS_3

Beberapa Part menuju tamat


Saat pintu kamar terbuka, Eltan membiarkan Rika masuk lebih dulu. Menatap istrinya yang duduk bersandar di sofa. Eltan memindai tubuh Rika, yang terlihat semakin berisi, lalu duduk disamping wanita yang akan melahirkan anaknya, keturunan Sanjaya. "Aku kangen Bang El," ujar Rika sambil bersandar pada bahu Eltan. 


"Aku pun sama. Sayang, kamu istirahat ya. Setelah selesai aku langsung kemari." Rika mengangguk, "Cium dulu," rengek Rika dengan manja saat Eltan akan pergi. Eltan hanya terkekeh lalu memagut singkat bibir Rika. 


Setelah Eltan pergi, Rika membuka kopernya, mencari pakaian yang nyaman ditubuhnya. Mengenakan babydoll dress berwarna biru langit selutut, setelah membersihkan dirinya. Rika lalu merebahkan diri di ranjang, dengan memainkan remote TV mencari channel yang disukainya.


Sore harinya, Eltan yang memang sudah selesai dengan agenda rapatnya langsung menyusul Rika. Menemukan Rika yang terlelap di ranjangnya, membuatnya lega karena ia khawatir Rika akan bosan ketika menunggunya datang.


“Sayang,” panggil Eltan saat ia sudah membersihkan dirinya. Rika hanya membalas dengan gumaman. Eltan yang begitu merindukan Rika, menjatuhkan kecupan bibirnya di hampir seluruh permukaan wajah Rika membuat wanita itu terbangun.


“Bang El, ihhhh.”


“Bangun sayang, kamu tidur dari siang?  Sudah waktunya makan malam, kasihan bayi kita yang juga butuh asupan makanan.” Rika hanya menggeser posisi tidurnya. Eltan yang mendekatkan wajahnya di depan perut Rika, mengusap pelan dan meletakan tangannya di atas perut Rika.


“Sayang,” ucap Eltan saat tangannya merasakan getaran, “dia tendang aku.” Lalu menggeser posisi tangannya yang kembali merasakan getaran, “Loh, dia tau ya kalau tanganku bergeser. Getarannya lumayan ya, kamu merasakannya gimana? Sakit?”


“Hmm.”


“Hai, Nak. Ayah di sini, baik-baik kamu di sana ya. Jangan nakal sampai buat Bundamu sakit,” ucap Eltan masih berada di perut Rika.


Melihat Rika yang masih asyik di peraduannya, Eltan pun mendekati wajah Rika. Melummat bibir yang sangat dirindukannya. Meskipun tidak dibalas karena Rika yang sedang tidur, Eltan tidak perduli. Ia menyesap bergantian atas dan bawah bibir tersebut sampai si pemilik bibir itu membuka kedua matanya karena merasakan sesuatu yang basah dan dingin di wajahnya.


“Bang El,” panggil Rika, yang dijawab hanya dengan Eltan berdeham karena kini asyik menciumi leher jenjang Rika. “Abang,” panggilnya lagi.


Sore itu akhirnya digunakan oleh Eltan melakukan kegiatan olahraga yang menyenangkan. Aktivitas penyatuan diri yang sudah lama terjeda karena terpisah jarak. Ternyata bukan hanya Eltan yang merindu dan membutuhkan kegiatan menyenangkan dan memabukkan itu, Rika yang pasrah dengan apa yang Eltan lakukan pada tubuhnya karena ia pun merindukan sentuhan Eltan.

__ADS_1


Dessahan dan lenguhan yang keluar dari bibir keduanya terasa meramaikan kamar yang menjadi saksi akan pertemuan dua insan yang dilanda rindu. Dengan kondisi Rika dengan perut yang sudah membesar, Eltan tidak melakukan gerakan yang aneh apalagi ekstrim. Ketika keduanya telah mencapai pelepasan, ia mengurungkan niat awal yang akan menggempur Rika hingga lelah.


“Sayang, setelah ini aku enggak sanggup kalau harus tinggal terpisah begini. Apalagi nanti ada anak diantara kita, harus cari solusi terkait aktifitas aku,” ujar Eltan yang bersandar pada head board. Sedangkan Rika, menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Eltan.


“Bang El, enggak mau tau jenis kelamin calon anak kita?”


Eltan mengusap kepala Rika, “Apapun Mut, yang penting kalian sehat. Itu sudah cukup bagiku.”  Ia teringat kejadian beberapa waktu yang lalu, saat mengetahui Kayla hamil. Hamil anaknya, dan Kayla menolak pertanggung jawabannya bahkan ia harus mengikhlaskan calon bayinya itu pergi karena Kayla kecelakaan. Eltan mengusap wajahnya kasar, mengingat hal tersebut.


“Kalau perempuan, gimana Bang?” tanya Rika lagi. “Ya enggak apa-apa, artinya aku harus ekstra menjaga dua ratu yang akan mewarnai hidup seorang Eltan. “Bang El mau punya anak berapa?”


“Harus aku jawab?” tanya Eltan masih mengusap pelan rambut Rika dan menatap wajah yang sedang menghadap ke perutnya. Rika mengangguk pelan, “Aku ingin punya anak sebanyaknya, agar masa tua kita ramai dan hangat dengan keberadaan mereka. Tapi melihat perbedaan umur kita, sepertinya cukup dengan dua anak pun akan tetap membahagiakan aku.”


“Bang.”


“Hmmm.”


Rika bangun dari posisinya, “Nanyanya satu-satu dong, emang kenapa kalau aku bertemu Mamih. Kita bertemu di resto sambil makan siang, Cuma aku sama Mamih.”


“Kamu enggak bertengkar dengan Ibu kan?”


Rika pun berdecak, “Ya enggak lah. Mamih memang belum berubah, kalimatnya masih pedas. Ya dimaklum aja, mungkin memang begitu bentuk kasih sayang beliau ke aku.”


Eltan terkekeh, lalu mencubit hidung Rika. “Istri siapa sih ini, sekarang makin dewasa dan bijak, makin cinta deh,” goda Eltan.


.


.

__ADS_1


.


Berada di Jogya menemani Eltan selama libur semester kuliahnya membuat Rika sangat bahagia. Hampir sebulan ia meninggalkan Jakarta, akhirnya harus kembali lagi ke aktiftas kuliahnya. Ditemani Eltan saat menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya, Rika tidak lepas dari rangkulan Eltan. Terus bersandar di dada Eltan, akhirnya kegiatan itu terhenti ketika mendengar informasi jadwal penerbangannya.


“Hati-hati ya, jangan capek-capek. Aku udah begah lihat perut kamu ini,” nasihat Eltan. “Suruh siapa, Bang El hamilin aku.” Jawaban Rika membuat Eltan terkekeh. Eltan mencium kening Rika lama, “minggu depan aku pulang, sekitar tiga hari. Lumayan kita melepas rindu.” Rika hanya mengangguk, Eltan tau Rika tidak bersuara karena menahan tangisnya.


Sampai di Jakarta, Rika dijemput oleh Reka dan supir keluarga Kevin. Melihat wajah kembarannya yang sembab, sudah pasti selama di pesawat ibu hamil yang satu ini hanya bisa menangis.


“Udah sih enggak usah nangis, kasihan bayi kamu. Punya ibu cengeng,” ucap Reka sambil mengusap punggung Rika yang berada dalam pelukannya. “Aku kan kangen Bang El lagi,” sahut Rika.


“Udah, nanti aja lanjut di rumah melownya.”


Rika tidak sabar untuk kembali bertemu Eltan, jadwal kuliahnya sudah mulai padat lagi. Seperti hari ini, ia pulang menjelang sore. “Ka, capek banget ya?” tanya Kayla saat melihat Rika datang. Kakaknya itu sejak kemarin menginap karena Elang menyusul Eltan, mengevaluasi pembangunan yang sudah mencapai 50%.


“Banget, badan aku rasanya pada pegel.”


“Mandi, lalu istirahat. Mau Bunda antar ke kamar makan malamnya?” Rika menggelengkan kepalanya. “Nanti aja Bun,” jawab Rika.


“Bun, bayi Rika cowok atau cewek sih?” tanya Kayla pada Meera saat Rika sudah meninggalkan mereka. “Cewek,” jawab Meera sambil asyik mendampingi Kenan yang sedang memainkan Lego.


Tanpa Rika ketahui, Elang yang pergi ke Jogya adalah menggantikan Eltan yang akan pulang ke Jakarta. Eltan pun tiba di kediaman mertuanya tidak lama setelah Rika sampai di rumah. Setelah menyapa Meera dan Kayla, Eltan langsung menuju kamar Rika. Tidak menemukan istrinya di kamar namun mendengar gemericik shower dan aroma sabun yang menguar dari kamar mandi.


Rika yang merilekskan tubuhnya berada di guyuran air hangat, tidak menyadari kehadiran Eltan yang ikut masuk ke kamar mandi setelah melepas pakaiannya. Melingkarkan tangannya di perut Rika, “Aarghhhhhh ... loh. Bang Eltan.”


 


 ______

__ADS_1


Haiiii, jejak yesss


__ADS_2