
"Tapi saya punya rekomendasi loh," ucap Meta.
"Rekomendasi apa? Ini kompetisi terbuka bukan ajang nepotisme. Saya jadi tidak yakin pemberitaan kemarin itu benar kalau Kayla meniru hasil karyamu." Elang melipat kedua tangannya di dada, "Melihat usaha kamu untuk menang dengan cari seperti ini," ujar Elang
"Maksud Pak Elang, apa ya? Kan sudah jelas Kayla itu plagiat."
Elang mengedikkan bahunya.
"Kayla ikut lelang juga? Wah, curang juga dong," ujar Meta.
"Tidak, Kayla tidak ikut. Dia tidak perlu pengakuan dunia untuk Karyanya, hanya memberikan yang terbaik untuk setiap rancangan yang ia ciptakan, itu yang bisa saya baca dari hasil karyanya."
"Sebaiknya kamu dengarkan apa yang saya sanpaikan tadi, agar tidak didiskuaifiasi," tambah Elang lalu meninggalkan Sena dan Meta.
Setelah Elang menjauh, "Kayla itu istri Mas Elang? Dia plagiat? tanya Sena pada Meta.
"Begitulah," jawab Meta.
"Jadi dia perancang busana, sehebat apa istri Mas Elang?"
"Enggak ada hebatnya, jelas gue yang lebih hebat," ucap Meta emosi.
Meta dan Sena memang sudah kenal sejak awal, karena Paman Meta adalah rekan bisnis Elang, jadi dia sudah mengenal Sena sejak sebelumnya saat masih menjadi istri dari Elang.
"Kamu ngapain sih masih betah kerja disini, kalau aku sih ogah. Tiap hari bertemu mantan, enggak bisa move on ya?"
"Hmm, gimana ya? Aku tuh masih berharap Mas Elang kembali ke aku. Apalagi lihat Kayla, dia siapa sih kok merasa hebat banget."
"Kalau gitu kita rival, ngapain gue baik sama lo," batin Meta.
"Kamu belum tau siapa Kayla?"
Sena menggelengkan kepala, "Selain plagiat yang kamu bilang barusan aku enggak terlalu kenal dengan Kayla."
"Kalau dilihat dari status sosial, kamu kalah jauh sama Kayla. Cukup itu aja dulu yang perlu kamu tau," ujar Meta sambil meninggalkan Sena.
Sementara, di kediaman Kevin.
"Bun, nanti aku porsinya harus lebih besar dari yang lain ya," pinta Kayla pada Meera. Mereka sedang berada di dapur menemani Meera membuat chocolate mousse.
"Enggak ada ya Kak, lihat perut kakak itu sudah buncit masih aja mau makan banyak," ledek Rika.
"Perut aku gendut bukan karena kebanyakan makan tapi ... "
"Nona Kayla, Tuan Elang sudah pulang, barusan langsung ke kamar," info Mbak Lula.
__ADS_1
Kayla menuju kamarnya menyusul Elang, terdengar gemericik air shower dari kamar mandi. Sambil menunggu Elang selesai mandi, Kayla menyiapkan pakaian ganti dan meletakan di atas bed.
"Mas El sudah makan?" tanya Kayla saat Elang selesai mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan.
"Belum."
"Aku siapkan dulu ya," ujar Kayla. "Tidak usah Kay, nanti saja. Kemarilah, aku butuh cemilan dulu."
"Cemilan? Mau cemilan apa?" tanya Kayla sambil mendekat pada Elang. "Kamu," lalu meraih tengkuk Kayla dan menyatukan bibir mereka.
"Terima kasih," ucap Elang saat melepaskan pagutannya dan menempelkan dahinya pada dahi Kayla.
"Untuk?"
"Untuk memberikan karya terbaik kamu untuk aku, aku senang kamu mau kembali berkarya."
Kayla tersenyum, "Mas El, suka dengan rancangan yang aku buat?"
"Suka dong," jawab Elang sambil mengarahkan Kayla untuk duduk disebelahnya pada pinggir Bed.
"Aku akan gunakan nanti saat acara yang spesial."
Kayla masih mendengarkan Elang bicara sambil menatapnya.
"Sayang," ucap Elang yang kini duduk menghadap Kayla, "apa kamu tidak ingin mencari pembuktian bahwa kamu tidak melakukan plagiat. Aku bisa membantumu."
"Lalu."
"Hasil rekaman tanpa ijin tidak valid dimata hukum, aku sudah tidak perduli dengan hal itu. Aku hanya ingin berkarya dari awal lagi."
"Baiklah, aku akan dukung apapun pilihanmu," tutur Elang lalu menunduk mencium perut Kayla. "Hey, buddy... kau rindu daddymu."
"Loh, kemarin kan aku bilang panggilannya Bapak dan Ibu, anti mainstream tau enggak sih."
"Ya udah daddy dan Ibu aja."
"Enggak cocoklah," ujar Kayla.
"Orang tua kamu juga panggilannya menyilang. Di sini Bunda dan Papih, di sana Ayah dan Mamih."
"Itu beda cerita dong."
Elang merebahkan tubuhnya, "Kemarilah," ajak Elang pada Kayla. Posisinya saat ini berbaring saling berhadapan, "Mas El sudah ngantuk ya?"
"Hmm," jawab Elang sambil terpejam dan memeluk Kayla.
__ADS_1
Kayla menyentuh wajah Elang, sedangkan pemilik tubuhnya telah lelap dengan tarikan halus nafasnya. Menelusuri garis rahang pahatan sempurna seorang Elang Sanjaya. Dengan umur dewasanya namun tetap terlihat berwibawa, gagah dan hmmm tampan maksimal.
"Mas El," ucap Kayla sudah pasti tidak didengar oleh yang disebut namanya, "terima kasih sudah mau menerima Kayla." Matanya kini berkaca-kaca, mengingat kilasan bagaimana Eltan mengikat tangannya saat... Kayla menutup mulut dengan tangannya agar tangisannya tidak terdengar.
...~ *** ~...
Elang menggandeng tangan Kayla saat mereka melangkahkan kaki di Juanda International Airport, menuju mobil yang sudah menunggu untuk mengantarkan ke Two Season.
"Kamu nanti istirahat di kamar, termasuk makan siang kalau jenuh boleh keliling nanti ada Rena yang temani. Aku harus segera urus semua urusan mewakili Kak Ema, besok pagi kita jenguk Kak Ema."
"Hmm," balas Kayla.
Kayla dan Elang berpisah di lobi hotel, Elang mencium kening Kayla sebelum berlalu. Sedangkan Kayla, ikut bersama Rena dan seorang laki-laki yang membawakan koper Kayla dan Elang.
Sampai di kamar Kayla memilih istirahat, meregangkan tubuhnya. Setelah membersihkan diri ia berbaring diranjang. Saat Kayla terbangun sudah lewat dari jam makan siang, "Bu, makan siangnya sudah dingin apa mau saya pesankan lagi?" Rena ternyata menunggu di living room selama ia tidur.
"Tidak usah Mbak, biar ini saja."
Kayla ingin ke luar kamar untuk keliling, namun tubuhnya tidak nyaman. Kakinya agak bengkak, efek kehamilan. Ia akhirnya duduk kembali di kursi meja makan dengan beberapa lembar kertas serta pena.
Membuat guratan dan titik garis, entah sketsa apa yang ia buat. Sesekali ia terdiam memandang kertas dibadapannya lalu kembali fokus dengan penanya. Tak terasa sudah sore bahkan Kayla diingatkan oleh Rena, "Bapak tadi minta ibu membuka ponsel" ujar Rena. "Owh, ponsel aku di kamar."
Bersandar pada head board lalu mengecek ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Elang.
Kayla mengajak Rena keliling hotel, "Mbak, kalau ke luar boleh enggak? Keliling daerah sini saja, wisata kuliner," ajak Kayla saat mereka sudah berada di lift.
"Maaf Bu, tadi Bapak pesan hanya antar ibu di area Two Season saja."
"Lalu, kamu mau ajak aku ke mana?"
"Execitive lounge, ibu ada menu tertentu yang ingin dinikmati?"
"Aku mau cemilan yang manis Mbak, sama minuman yang segar."
Memasuki area Executive Lounge, Kayla dan Rena berbapasan dengan dua orang wanita paruh baya yang akan meninggalkan tempat itu.
"Kayla Farraz," ucap salah satu wanita dihadapan Kayla. Kayla terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu Yolanda pemilik Luxurius dan Mery Pimpinan Daily Fashion.
"Kamu sedang apa di sini? Jangan bilang kamu mau hadir di fashion show untuk mencontek kembali rancangan milik orang lain."
Kayla menghela nafas mendengar tuduhan Mery, kasus sebelumnya memang melibatkan katalog dari Daily Fashion milik Mery.
"Bu Yolanda, sepertinya kita harus sampaikan ke panitia acara agar benar-benar selektif menerima penonton. Jangan sampai ada yang punya niat jahat," ucap Mery.
to be continue
__ADS_1
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖