Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Ele, Queen Of The Dance Floor


__ADS_3

"Sekarang aku tanya? Sebenarnya siapa yang benar, antara kamu dan Kayla?"


"Aku enggak ngerti Bu, ini terkait apa?"


"Meta, sebaiknya kamu tidak usah berkilah, aku sudah dengar pengakuan kamu bahwa rancangan itu milik Kayla yang kamu curi"


"Apa? Ini pasti salah Bu, enggak mungkin Kayla punya bukti seperti itu. Bu Mery harus percaya aku."


Mery mengalihkan pandangannya karena emosi, berkali-kali ia menghela nafas. "Aku percaya, sangat percaya sama kamu Meta. Tapi itu dulu, berdasarkan fakta rancangan kamu lebih dulu terbit dibanding Kayla yang baru up rancangan yang sama. Tapi setelah aku mendengar sendiri pengakuan kamu bahwa kamu memang mencuri rancangan Kayla, aku sudah tidak percaya lagi," ungkap Mery.


Meta sudah salah tingkah, "Bu Mery, ini pasti salah. Kayla mungkin merekayasa, dia ..."


"Cukup Meta, karena ulah kamu aku hampir terlibat dengan masalah hukum. Aku sampai berkata kasar dan fitnah pada Kayla."


Setelah dengan berbagai alasan untuk mengamankan posisinya, Meta akhirnya menelan pil pahit karena Mery tetap pada keputusannya.


"Daily Fashion boleh tidak berpihak padaku, tapi lelang harus aku menangkan. Aku tidak boleh hancur, ini semua pasti ulah Kayla," batin Meta.


Di tempat berbeda, sore itu Elang benar-benar mengajak Kayla berkeliling. Mendatangi taman prestasi sampai makan lontong balap pak gend*t dan beberapa tempat lainnya.


Hanya dengan menghabiskan waktu bersamanya, bagi Kayla itu sudah membahagiakan. Tangan Kayla tidak pernah lepas dari genggaman Elang.


"Mas, masalah di hotel sudah aman?"


"Sudah kondusif, mudah-mudahan minggu depan kita sudah bisa kembali ke Jakarta." Kayla bersandar pada bahu Elang, mereka kini berada dalam mobil untuk kembali ke hotel. Setelah berkeliling sejak tadi sore.


Berbeda dengan Kayla dan Elang yang sedang menikmati kebahagiaan dan kehangatan rasa cinta di antara mereka, Eltan yang pernikahannya semakin dekat tampak semakin tidak bersemangat.


Laksmi, ibunya seakan memiliki tautan hati yang kuat. Mengunjungi putranya untuk mengetahui sejauh mana persiapan pernikahan. Eltan putra Laksmi dari salah satu keluarga Sanjaya yang kini bertanggung jawab terhadap Two Season Singapore.


"Eltan, gimana? Ada kendala?" tanya Laksmi saat masuk ke dalam ruang kerja Eltan.


Eltan diam, mereka kini duduk berhadapan, Eltan berniat menyampaikan sesuatu tapi dia ragu. Laksmi membaca aura yang aneh pada Eltan.


"Kamu kenapa nak?"


Eltan menghela nafas panjang sebelum ia bicara, "Sebenarnya aku berat untuk meneruskan rencana pernikahan ini."


"Eltan, kamu tau apa konsekuensi ucapanmu barusan," ucap Laksmi.


Eltan tertawa, "Kenapa semua malah menyampaikan hal yang sama, tapi tidak bertanya bagaimana perasaanku, bagaimana keinginanku. Aku malah merasa dijadikan tumbal untuk kebahagian semua orang sedangkan aku sendiri hancur," jawab Eltan.


"Apa yang membuat kamu begini?"

__ADS_1


Eltan mengusap wajahnya kasar, "Karena aku tidak mencintai wanita yang akan aku nikahi."


"Kayla, ini karena Kayla kan?" tanya Laksmi.


Eltan berdecak, "Ini karena aku tidak mencintai Michele, jangan bawa Kayla di sini. Harusnya ibu malu karena anak ibu ini sudah merusak masa depan dia, putri sambung ibu. Bukan malah ibu menyalahkan Kayla, aku yang salah disini."


"Tapi semua terjadi juga karena dia, kamu hanya kasihan dan merasa bersalah bukan karena cinta." Eltan memilih diam, baginya percuma membicarakan hal ini.


Malam harinya, Eltan masih berada di ruang kerja karena baru saja mengakhiri pertemuan kerjasama hotel dengan pihak lain. Ia membuka ponselnya dan melakukan panggilan.


Lama tidak dijawab, sampai akhirnya, "Halo."


Ia memejamkan matanya mendengar suara yang sangat ingin ia dengar. "Halo." Ucapnya lagi di sebrang sana.


"Halo, Kayla."


"Iya, ini siapa?"


Lama Eltan tidak menjawab.


"Halo."


"Eltan."


Eltan menarik nafasnya, "Hanya..."


"Kay, sayang...."


Tersengar suara seseorang memanggil Kayla, lalu panggilan terputus.


Eltan meregangkan ikatan dasinya, lalu melepas jas termasuk dasi yang ia kenakan. Lengan kemeja sudah ia gulung sampai siku.


Eltan keluar meninggalkan ruang kerjanya, berada di mobilnya ia melaju meninggalkan area Two Season menuju wilayah di mana terdapat banyak klub malam.


Memasuki salah satunya, ia berniat melepaskan penat dan melupakan semua dengan minum. Hingar bingar musik terasa memekakan telinga, lalu lalang wanita dengan pakaian seakan kurang bahan juga menggoda, bahkan di tengah area para pria dan wanita tengah menggerakan tubuh mengikuti irama musik.


"One shoot, as usually," ucap Eltan pada bartender.


Mengangkat gelas dihadapannya yang disodorkan oleh bartender dan meneguk habis isinya. "Akhhh." Terasa panas dan pekat ditenggorokan namun tidak membuat Eltan berhenti. Sepertinya ia sudah biasa datang ke tempat itu untuk minum.


Eltan mendorong gelasnya agar diisi kembali, lalu kembali meneguk habis isi gelas kedua. Ia menoleh ke sekeliling saat akan membakar rokoknya, perhatian Eltan tertuju pada wanita yang sedang menari pada sebuah tiang. Bahkan sempat beberapa kali ia potret walaupun hasilnya tidak terlalu jelas tapi dapat dikenali siapa pemilik wajah itu.


Lalu Eltan bertanya pada bartender, "Who is she?" baftender menoleh pada arah yang ditunjuk Eltan.

__ADS_1


"Ele, queen of the dance floor. She's always come almost every night."


Eltan mengangguk, tidak lama wanita yang dimaksud menghampiri seorang pria, mengalungkan lengan pada leher pria itu lalu menuju tangga untuk pindah ke lantai yang berbeda.


Eltan menyerahkan beebrapa lembar uang pada bartender lalu bergegas mengikuti wanita tadi. Agak sulit karena ramai pengunjung, agak terkejut karena lantai yang ia tuju memiliki banyak kamar layaknya hotel. Sudah jelas untuk apa fungsi kamar-kamar ini.


Terrdengar suara tertawa, suara yang sangat ia kenal dari salah satu ruangan itu, bruk pintunya tertutup.


Eltan perlahan menekan handle pintu dan ternyata tidak dikunci, pelan-pelan ia membuka pintu tersebut kembali memotret kejadian dalam kamar itu. Lalu, brakkk, ia menendang pintu membuat pasangan itu terkejut.


"Hey, are you crazy? What are you doing here?" Pasangan yang sedang menyatukan diri tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.


"El-Eltan."


"You know him?"


"Can you move," ucap Ele sambil mendorong tubuh pria itu.


Eltan hanya tertawa sambil memperlihatkan ponsel miliknya dan menggoyangkannya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Eltan menghidupkan sensor membuka pintu mobilnya saat seseorang memanggilnya.


"Eltan."


"Eltan, aku bisa jelaskan."


"Oke, jelaskan!" ucap Eltan, ia bersandar pada mobilnya dengan kedua tangan dilipat di dada. Menunggu penjelasan wanita dihadapannya, dengan mengenakan pakaian minim sedikit berantakan karena ia pasti terburu-buru memakainya setelah Eltan menyaksikan apa yang sudah ia lakukan.


"Kenapa diam? Michele atau Ele, Queen of the dance floor. Yang setiap malam selalu datang menguasai area dansa. Apa setiap malam kamu juga akan tidur dengan pria random seperti tadi?"


Michele tertawa, "So what? it's my life."


"iya, itu hidupmu tapi aku tidak bisa menerima ini menjadi bagian hidupku. Pilihan mu hanya dua, akui sendiri pada orangtuamu dan batalkan pernikahan kita atau aku yang menyampaikan ini semua." Eltan lalu membuka pintu mobil, "Eltan, please." Michele memegang lengan Eltan.


"Singkirkan tanganmu," ucap Eltan.


to be continue


Haiiiiii, hari senin nih, jangan lupa jejaknya voucher votenya juga boleh, โ˜บ


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

__ADS_1


__ADS_2