
"Sebentar aja, kita harus bicara."
"Maaf Bang, enggak bisa," Rika meninggalkan Eltan.
"Rikaaa," panggil Eltan namun diacuhkan oleh Rika yang bergegas meninggalkan area parkiran.
"Dari mana lo?" tanya Reka. Namun tidak dijawab oleh Rika. Sampai dengan jam pelajaran terakhir, Rika tidak konsen mengikuti pembelajaran, ia khawatir Eltan nekat dan masih menunggu di luar.
Di tempat berbeda, Elang mengajak Kayla untuk memeriksakan kehamilannya. Hari perkiraan kelahiran bayinya sudah dekat, ia ingin memastikan kesiapan dan hal apa saja yang harus dilakukan sebagai calon Ayah.
"Berat dan ukurannya normal, tali pusat dan air ketuban juga masih dalam kondisi baik. Tinggal tunggu terbukanya jalan lahir lalu pembukaan dan bayi siap dilahirkan," terang Dokter sambil melepaskan alat usg dari perut Kayla.
"Bapak bisa loh, bantu istrinya untuk membuka jalan lahir," ucap dokter.
"Caranya gimana dok?"
"Yah seperti saat Bapak melakukan hal sampai menyebabkan istri Bapak hamil!"
"Sayang," panggil Elang saat mereka berada di farmasi menunggu pengambilan vitamin yang direkomendasikan dokter.
"Hmm."
"Kata dokter, kamu harus sering dijenguk untuk membuka jalan lahir," bisik Elang. "Terus," sahut Kayla sambil memandang layar yang menampilkan nomor urut pengambilan obat.
"Kita pulang ke apartement ya, aku mau jenguk kamu, kalau di rumah Bunda enggak bebas, kamu kan berisik," bisiknya lagi.
"Mas Elang, itu ambil di loket," titah Kayla saat nomor antriannya sudah tertera di layar.
Merangkul pinggang Kayla, berjalan di koridor rumah sakit menuju mobil mereka berada. "Kamu mau makan apa? Kita cari sekalian, mumpung lagi di luar," ajak Elang, mereka sudah berada dalam mobil.
"Mas Elang mau makan apa?" tanya Kayla sambil menyesuaikan duduknya yang tidak nyaman. Elang mulai menjalankan mobil meninggalkan rumah sakit, "Makan kamu, sayang."
"Mau makan di resto hotel?" tanyanya lagi. "Enggak Mas," tolak Kayla, "Terus mau makan apa?" tanya Elang lagi saat mereka berhenti di lampu merah.
"Terserah Mas Elang," jawab Kayla yang membuat Elang menoleh dan menghela nafasnya.
__ADS_1
Setelah melewati drama saat perjalanan pulang dari rumah sakit dan memaksa Kayla untuk makan siang ksrena sudah lewat dari jam makan, mobil yang dikendarai Elang sudah terparkir di basement apartement.
"Pak Elang," panggil security, "tadi ada yang titip surat di resepsionis. "Oke terima kasih," Elang berjalan dengan merangkul Kayla.
Saat di lift ia membolak balik amplop yang tidak ada keterangan pengirim surat, "Dari siapa Mas?"
Elang menggelengkan kepalanya, "Tidak jelas."
Elang langsung memeluk Kayla dari belakang saat mereka telah masuk ke apartement. "Sayang," bisik Elang lirih di telinga Kayla.
Membuat kulit Kayla bergidik dan hatinya berdesir, sudah dua minggu terpisah dengan Elang. Ia paham maksud dari suaminya ini dan hanya pasrah saat Elang membawanya ke ranjang dan melucuti semua penutup tubuhnya.
"Mas Elang, jangan diliatin. Aku malu," rengek Kayla. "Malu kenapa, kamu seksih sayang. Pokoknya wowww," ujar Elang sambil tersenyum.
Selanjutnya, kamar itu menjadi saksi penyatuan Elang dan Kayla yang mendessah dan meracau seakan bersahutan. Elang yang seperti kelaparan menyentuh Kayla, "Mas El-lang, pelan-pelan," pinta Kayla.
"Hmm."
"Mas ... ahhhhhh," dessah Kayla yang telah sampai pada puncaknya. Elang kembali menggerakan tubuhnya, dengan posisi paling aman untuk tubuh Kayla. Lalu, Elang mengerang panjang dan mencapai pelepasannya.
Elang masih terbaring dengan mengatur deru nafasnya, sedangkan Kayla sudah terlelap masih dalam posisinya tadi. Elang menyelimuti tubuh polos istrinya lalu memakai boxer dan meninggalkan kamar.
Dahinya mengernyit membaca isi surat yang sangat singkat.
*Mas Elang, temui aku atau aku up informasi dibalik pernikahan kalian.
Aku terpaksa mengancam karena Mas Elang menutup komunikasi denganku. (Sena, yang selalu mencintaimu*).
Elang menenggak isi botol air mineralnya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo."
"Edo, kerahkan orangmu untuk cari Sena. Pilihannya cuma dua, ke Bali dengan tenang atau jadi pengangguran. Ia mengancam ku, lakukan sesuatu untuk kembali mengancamnya."
"Oke, bikin ribut aja pengen ketemu sama Mas Elang katanya." Terdengar Edo terbahak.
__ADS_1
Sedangkan Elang hanya berdecak dan mengakhiri panggilan.
.
.
.
"Ayo cepetan, aku udah capek nih," ucap Reka. Sore ini mereka baru selesai kelas tambahan menjelang tryout Ujian Sekolah.
Kekhawatiran Rika ternyata menjadi kenyataan, Eltan ada di sana, "Rika," panggilnya membuat Reka juga menoleh.
"Reka, aku perlu bicara sebentar dengan Rika," pinta Eltan. Sedangkan adik dan kakak itu saling menatap. "15 menit Bang, kita enggak mungkin pulang terpisah," ujar Reka lalu menuju kursi tidak jauh dari mereka berdiri dan membuka ponselnya.
Sedangkan Eltan kembali mengajak Rika ke mobilnya untuk bicara. "Ka, dengarkan aku. Kita bisa tetap lanjutkan, aku tidak akan hentikan aktifitas kamu untuk lanjut pendidikan dan ..."
"Udah deh, Bang Eltan lanjutkan hidup Abang begitu juga dengan aku. Tidak ada satupun dari keluarga aku yang menganggap hubungan Bang Eltan dan aku normal. Perlu aku sebutkan alasannya?" tanya Rika.
"Come on Rika, kalaupun kita menikah tidak ada larangan karena kamu bukan termasuk perempuan yang tidak boleh aku nikahi."
"Bang Eltan jangan buat posisi aku sulit, aku baru pertama kali jatuh cinta tapi salah," ujar Rika dengan mata berkaca-kaca, "Please Bang, lebih baik Bang Eltan cari perempuan lain yang lebih baik dan bisa diterima oleh keluarga."
Eltan tidak menatap Rika, wajahnya terlihat menahan emosi, bahkan kedua tangannya mengepal, berada di atas stir mobilnya.
"Aku harus pulang," Rika akan membuka pintu namun ditahan Eltan. Tubuh Eltan posisinya saat ini sangat dekat dengan Rika, "Aku berusaha untuk menahan dan tidak menjadi pria breng_sek, tapi karena masa lalu aku dengan kakakmu yang jelas-jelas di luar kesadaran aku ... kalian melihat aku seolah aku benar-benar penjahat wanita."
Rika sangat takut, tatapan mata Eltan tidak bisa terbaca, "Jangan begini Bang, aku tidak kenal abang yang ..."
"Tetap di sini dan ikut aku, kita berjuang atau kamu bisa keluar. Kita akhiri, setelah itu anggaplah kita tidak pernah dekat." Eltan kembali menatap ke depan.
Kalimat janji yang diucapkan Rika pada orangtuanya seakan diputar kembali di kepalanya berganti dengan ingatan keakrabannya dengan Eltan.
Belum lama kedekatannya, namun memiliki bagian tersendiri dalam hatinya karena ia jatuh cinta. Cinta pada pria dengan beda usia hampir sepuluh tahun mungkin lebih, yang mana memiliki garis keruwetan pada keluarga mereka. Rika memejamkan mata karena air matamya yang tidak bisa ditahan untuk menetes. Lalu membuang nafas pelan sebelum memilih pilihan yang disampaikan Eltan.
Rika sudah jatuh cinta, pada orang yang salah. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil Eltan, diiringi kembali dengan tetesan air mata. Saat ia berjalan menjauh, mobil Eltan pun perlahan menjauh meninggalkannya.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Haiiiiii, ☺☺, jangan lupa jejakkksss. Maapkeun kalau belum memenuhi keinginan yang pro dan kontra, kita nikmati dulu dunia halu dicerita ini. love you pull para readerss.