Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Drama Keluarga


__ADS_3

"Bunda enggak usah khawatir, Bang Eltan sudah dijodohkan lagi, sudah pasti enggak bakal bisa menolak. Jadi enggak akan dia milih Rika," ungkap Kayla menenangkan Meera.


"Kenapa enggak akan milih Rika, dia cantik kok. Bunda jadi penasaran seperti apa wajah perempuan yang dijodohkan dengan Eltan," ujar Meera.


"Hahh," ucap Rika dan Kayla serempak kemudian mereka saling tatap.


"Ini maksudnya gimana Bun? Kenapa juga Bunda penasaran sama calonnya Bang Eltan," ucap Kayla, "apa Bunda mulai merelakan Rika dekat dengan Eltan?"


"Enggak, enggak ada ya. Kamu masih kecil, pikirkan ujian kamu lalu kuliah yang benar. Kalaupun nanti kamu berjodoh dengan Eltan kamu harus bisa meluluhkan Laksmi agar tidak merendahkan kalian," ungkap Meera.


Meera mendekat pada box bayi, "Oma pulang dulu ya, udah enggak sabar bawa kamu pulang. Ayo Rika," ajak Meera. "Kamu jangan banyak gerak dulu, Kay. Luka kamu masih basah."


"Iya, Bun."


Meera dan Rika keluar dari kamar rawat Kayla "Pih, kita pulang. Biar Kayla istirahat," ajak Meera sambil menggandeng tangan Rika seakan takut ada yang akan merebutnya.


Eltan menoleh pada Rika dan kebetulan mereka beradu tatapan. "Kita bicarakan lagi nanti," ucap Kevin. Elang hanya mengangguk.


Elang memandang bayinya yang sedang meng_hisap sumber kehidupannya. Duduk disamping Kayla sambil memegangi tubuh rapuh nan mungil keturunan Sanjaya. Khawatir karena Kayla masih sering meringis menahan sakit pasca operasi, jadi Elang siaga membantu Kayla.


Bayi dengan panjang badan 55 cm dan berat 3,3 kg itu nampak sehat. Sepertinya akan tumbuh tinggi seperti daddynya.


"Mas," panggil Kayla. "Hmm," Elang menjawab namun tatapannya masih asyik pada proses mulut kecil bayinya pada puncak dada yang biasa ia mainkan.


"Mas Elang lihat apa sih?"


"Itu, kesukaan aku. Ck, enggak rela bagi-bagi, tapi mau gimana lagi."


"Ampun, dasar mesum," ejek Kayla. Elang menggendong putranya yang sudah kembali terlelap dan meletakan pada box bayi.


"Kamu istrahat sayang, biar cepat pulih," ujar Elang sambil merapihkan helaian rambut Kayla yang menutupi dahinya.


"Mas Elang, sudah ada nama untuknya?"


"Kenan, Kenan Sanjaya. Putra dari Elang Sanjaya dan Kayla Farraz." Kayla tersenyum mendengar nama lengkap putranya.


"Dia akan menjadi sumber kebahagian kita, sayang."


Pagi ini dikediaman Kevin, karena hari minggu, maka sarapan pun dilakukan agak lambat dari biasanya.


"Bunda, nanti siang aku mau ke mall. Mau cari kado untuk ultah teman aku sekalian untuk bayinya kak Kay," ujar Rika.


"Sama siapa?"

__ADS_1


"Kalau Reka enggak mau nganterin ya aku sendirian aja."


"Kalau begitu Bunda aja yang antar."


Dan disinilah mereka berada, bertempat pada salah satu mall yang ada di Jakarta. Rika dan Meera berkeliling mencari barang untuk dihadiahkan pada putra Elang dan Kayla.


"Ini aja Bun," ucap Rika melihat barang yang terlihat unik. "Ini juga bagus," ucap Meera. "Beli keduanya aja ya," usul Rika.


Setelah cukup lama berkeliling dan menenteng beberapa goody bag, Rika mengajak Meera menuju salah satu resto.


"Loh, Meera," panggil seseorang yang langsung membuat Rika menyesal berbelok ke resto tersebut.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Laksmi, "sekalian aku kenalkan ya dengan calonnya Eltan," ujar Laksmi pada Meera.


"Nana, tante."


"Meera, ini putri tante, Rika."


"Nah, itu Eltan sudah datang," seru Laksmi dengan tersenyum bangga.


Rika menoleh dan mereka saling menatap, "Gimana Meera, serasi bukan Eltan dengan Nana?"


"Serasi, serasi sekali," jawab Meera sambil tertawa. Eltan kamu pasti sangat menyukai Nana, bukan begitu Eltan?" tanya Meera.


"Bunda, kita duduk di sana aja," ajak Rika pada Meera. "Disini saja, kita makan bersama." Tawaran Laksmi berkesan tidak tulus, seakan hanya akan pamer hubungan antara Eltan.


"Enggak apa-apa Mih, kita duduk di sana," jawab Rika lalu menuju meja lainnya. Meera duduk dengan posisi memunggungi pemandangan Laksmi jadi tidak dapat melihat interakai di belakangnya, sialnya Rika yang duduk menghadap Meera malah dapat melihat jelas Eltan dan Nana.


"Mimpi buruk," batin Rika.


Rasa lapar dan haus yang dirasakan sebelumnya entah mengapa seakan hilang, makan pun serasa tidak nikmat. "Kebiasaan makannya tidak habis, gimana badan kamu bisa tumbuh makannya begitu," tegur Meera.


"Apaan sih Bun, tubuh aku ya segini-gini aja enggak akan lebih tinggi. Justru kalau kebanyakan makan malah tumbuh ke samping bukan ke atas, aku ke toilet dulu ya," ucap Meera.


Saat keluar dari toilet, Rika berpapasan dengan Eltan. Karena jalan menuju toilet seperti lorong, Eltan seakan sengaja menggoda Rika, selalu berada dihadapan Rika saat gadis itu ke kiri atau ke kanan.


"Bang Eltan, please deh. Di luar ada Bunda, Mamih Laksmi dan CALON ISTRI Bang Eltan, jadi jangan cari keributan di sini." Rika sengaja menyebut calon istri dengan penekanan.


Eltan mengangkat kedua tangannya dan menempelkan punggungnya ke dinding seakan memberikan jalan untuk Rika.


"Dia bukan calon istriku, Mut," bisik Eltan saat Rika melewatinya, "Bodo amat," ketus Rika sambil terus berjalan meninggalkan Eltan.


"Bunda, kita pulang yuk!" Ajak Rika.

__ADS_1


"Ayo, Bunda juga sudah selesai."


Setelah basa basi pamit pada Laksmi, Meera dan Rika meninggalkan Resto dan menuju parkiran. "Ehhh, Bunda ke toilet dulu, kamu tunggu sini."


"Hmm," Rika menunggu sambil membuka ponselnya, tubuhnya ia sandarkan pada dinding. "Rika."


Rika menengadahkan wajahnya memandang pria yang memanggilnya. "Ck, apa lagi sih Bang," ujar Rika sambil melihat sekeliling, khawatir jika Bunda atau Mamih Laksmi melihat ia dan Eltan saling berhadapan begini.


"Buka blokiran kontak aku, kita perlu bicara."


"Enggak ada ..."


"Eltan!!" Laksmi dan Nana sudah berada tidak jauh dari mereka berdiri. "Mampus deh gue, enggak bakal sekali doang dibahasnya, bakalan panjang urusannya," lirih Rika namun dapat didengar Eltan.


Laksmi menghampiri, Rika dan Eltan lalu memandang sinis Rika, "Kamu bilang ada hal mendesak, ini yang mendesak. Ternyata kecurigaan Nana benar, bahwa ads sesuatu diantara kalian."


Eltan menoleh pada Nana, yang dijawab Nana dengan mengedikkan bahunya.


"Adik dan Kakak sama murahannya."


"Laksmi!! Cukup, cukup kamu menghina putri-putri ku," ujar Meera sambil menghampiri Rika. "Bunda, sudah. Kita pulang," ajak Rika sambil memeluk lengan Meera.


"Memang kenyataannya begitu," sahut Laksmi.


"Cukup Bu, ini salahku, aku yang mulai. Sudahlah, ibu harus terima kalau putra mu ini memang brengsekk," ungkap Eltan.


"Bang Eltan," gumam Rika.


"Asal kamu tau Laksmi, Eltan yang menemui aku dan Kevin mengakui perasaannya pada Rika, dan aku yang memisahkan mereka karena tau kamu akan tetap memandang salah kedua putriku,"


"Ayo Rika," ajak Meera.


"Meera sebaiknya kamu didik dengan benar anak-anakmu," pekik Laksmi.


"Ibu, cukup," ucap Eltan.


"Sebentar Bun," Rika menoleh kembali pada Laksmi dan Eltan, "Mamih Laksmi yang terhormat, kayaknya aku enggak jadi deh benci Bang Eltan. Mamih harus persiapkan hati nerima aku, karena Bang Eltan sudah cinta sama aku dan pasti akan tunggu aku. Oke Mih." Rika melambaikan tanganya sambil tertawa dan pergi dengan Meera.


"Rika, awas kamu ya," geram Laksmi. Eltan hanya terkekeh.


"Daebak, benar-benar drama keluarga," ucap Nana sambil meninggalkan Laksmi.


Haiiii, jangan emosi ya baca nya... sabarr

__ADS_1


πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„,, jangan lupa jejaksnya, yng masih punya sisa voucher bolehlah. Thanks masih menunggu kisah Ini


__ADS_2