Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Persiapan Lamaran


__ADS_3

"Mut, aku ke Bali, ini pesawat sudah mau take off. Setelah beres urusan di Bali aku akan melamar kamu. Tunggu ya." Rika hanya tersenyum membaca pesan dari Eltan. 


Sampai rumah Rika langsung masuk kamar, bahkan perintah Meera untuk makan hanya dijawab, "Nanti Bun."


Setelah berganti pakaian, Rika berbaring di ranjangnya. Menatap plafon kamar sambil memeluk guling, sejak semalam banyak sekali pertanyaan yang seakan bertebaran di pikirannya. 


Umurnya baru 19 tahun, tapi moment semalam saat Eltan menyatakan niat melamar dirinya pada kedua orang tua, sukses membuat perasaannya campur aduk. Senang dan bahagia itu pasti, merasa bangga dipuja seorang pria yang juga ia damba. 


Terkejut, karena apa yang Eltan ucapkan dan ia lakukan benar-benar di luar prediksinya. Sedih, mungkin ini yang dirasakan Reka kembarannya hingga ia pun merasakan emosi yang sama. Seumur hidup mereka kemana pun bersama, kini sebagian hatinya akan dimiliki orang lain.


Yang lebih mengkhawatirkan adalah rasa takut. Takut jika keluarga Eltan belum bisa menerima keberadaannya, juga takut menghadapi pernikahan. Bagaimana menjadi seorang istri yang baik? Apa yang harus dilakukan seorang istri ? Dapatkah ia membahagiakan suaminya dan juga merasa bahagia?


“Aaarghhhh,” Rika berteriak di balik bantal yang menutupi wajahnya.


Tok tok tok


Rika menoleh ke arah pintu kamarnya, “Masuk,” ucapnya.


“Non Rika, ditunggu Ibu di bawah,” ujar asisten rumah tangganya.


Tenyata bukan hanya Bunda yang menunggunya di sofa ruang keluarga, “Kenannn!” teriak Rika melihat Bunda menggendong cucu pertamanya. “Berisik ih,” hardik Kayla. “Bunda aku mau gendong juga,”pinta Rika. “Kamu mending makan siang dulu, biasanya pulang kuliah langsung makan ini malah tidur.”


“Eh, emang kamu udah siap?” tanya Kayla. Rika menoleh pada Kayla, “Siap apa?”


Kayla berdecak, “Siap jadi menantu Mamih Laksmi,” jawab Kayla sambil terkekeh. “Siapkan mental ya, sebenarnya dia baik kok. Tapi enggak tau kenapa sekarang begitu.”


“Tau ah,” sahut Rika lalu menuju ruang makan.


.


.


.


Malam harinya, masih di depan laptop setelah ia menyelesaikan tugas kuliah, membuka web browser dan melakukan pencarian.


Apa yang harus dipersiapkan pengantin wanita?


Membaca beberapa artikel yang berkaitan dengan pencariannya, sesekali ia mengangguk memahami dan mungkin berencana untuk melakukan apa yang direkomendasikan.


Pencarian berikutnya, Apa yang yang harus dilakukan agar diterima oleh calon mertua?


Kembali membuka artikel yang berhubungan dengan pencariannya, seakan diberikan pencerahan terhadap kebimbangannya selama ini. Dirasa cukup, ia mengetik kalimat pencarian berikutnya.

__ADS_1


Apa yang harus dilakukan untuk membahagiakan suami ?


Apa yang dilakukan setelah menikah ?


Apa yang pengantin lakukan saat malam pertama ?


Membaca hal-hal yang terkait dengan pertanyaannya membuat ia bergidik, mengernyitkan dahi, menggelengkan kepala bahkan, “Oh my god.” Bruk, Rika langsung menutup laptop tanpa mematikannya dan berlari ke ranjangnya.


“Mending tidur deh,” batin Rika.


Namun terdengar ponselnya berdering, ia pun beranjak mengambil ponsel yang disimpan di atas nakas. Setelah puas berbicara lewat telpon dengan Eltan, Rika akhirnya terlelap.


...~***~...


Sudah dua hari yang lalu Eltan, kembali ke Jakarta. Ia langsung disibukkan dengan urusan Two Season juga persiapan melamar Rika. Siang ini ia sengaja menunggu Rika, karena akan mengajak gadis itu untuk memilih cincin pernikahan mereka.


Aku tunggu di parkiran.


Pesan yang dikirim Eltan.


Tidak lama kaca jendela mobil Eltan diketuk. “Udah enggak ada kuliah lagi kan?’ tanya Eltan lalu membuka pintu mobilnya untuk Rika. “Enggak ada karena dosennya enggak masuk, Bang El kapan balik ke Jakarta? Kok enggak ngabarin sih.”


Eltan belum menjawab, ia langsung menjalankan mobilnya meninggalkan kampus Rika. “Sudah dua hari yang lalu. Kenapa? kangen ya,” ucap Eltan sambil tertawa namun masih fokus pada kemudi dan jalanan.


“Nanti juga kamu tau,” jawab Eltan.


Berjalan menyusuri store yang ada pada salah satu mall di Jakarta, Eltan tidak melepaskan tangan Rika dari genggamannya. “Perhiasan?” tanya Rika saat Eltan mengajaknya masuk ke salah satu jewerly store merk ternama.


“Tadinya aku mau beli sendiri, tapi enggak tau ukuran jari kamu.”


Rika menatap deretan cincin yang terpajang dalam lemari kaca, “Yang ini bagus,” ujarnya. Eltan baru akan menunjuk pada pelayan toko, “yang ini juga cantik,” ucap Rika. Eltan menoleh pada Rika yang masih menatap pada deretan cincin. “Ini juga, ehh itu lucu deh Bang. Yang mana dong Bang?” tanyanya pada Eltan yang sedang menghela nafas. Ternyata ide mengajak Rika memilih cincin pernikahan mereka malah membuatnya tambah bingung.


“Jadi, mau pilih yang mana?” tanyanya pada Rika.


“Gimana Bang El aja,” jawab Rika.


Eltan meminta rekomendasi dari pelayan toko, cincin yang direkomendasikan untuk pernikahan. Setelah mereka menemukan jenis yang cocok, Eltan segera memutuskan mengambil model tersebut lalu membayar. Menghindari Rika berubah pikiran yang hanya membuat mereka semakin bingung.


“Mau ke mana?  Mumpung lagi di mall, sekalian kencan,” ajak Eltan.


“Kita pulang aja, kata Bunda kalau Bang El sudah kembali ke Jakarta kita enggak boleh sering bertemu.”


Mereka berjalan dengan Eltan merangkul bahu Rika, “Kenapa?”

__ADS_1


“Untuk memantapkan hati,” jawab Rika.


“Eltan.”


Rika dan Eltan serempak menoleh ke arah suara.


“Ibu.”


“Mamih.”


Ucap Rika dan Eltan serempak, “Sedang apa kalian?” tanya Laksmi sambil menatap Eltan dan Rika bergantian. Rika menggerakkan bahunya agar Eltan melepaskan rangkulannya.


“Aku ajak Rika pilih cincin pernikahan,” sahut Eltan.


“Apalagi yang belum lengkap? Kenapa tidak libatkan Ibu untuk persiapan lamaran kamu?”


Eltan dan Rika saling menatap. Mereka bertiga kini berada di cafe yang ada pada Mall tersebut. “Jadi, persiapan apa yang belum lengkap?”


Eltan tampak berfikir, “Kalau yang Paman Elang sampaikan, sepertinya sudah siap semua.”


“Lalu kapan waktunya?”


“Besok,” jawab Eltan.


“Dan kamu enggak kasih kabar ke Ibu?”


Eltan bersandar pada kursi yang ia duduki, “Rencana aku, malam ini mau ke tempat Ibu sambil menyampaikan dan minta Ibu hadir. Tapi udah terlanjur bertemu di sini.”


“Semoga saja pilihan kamu tidak salah, Ibu harap kamu menikah sekali seumur hidup. Kalaupun Ibu harus menikah lagi bukan karena kegagalan tapi karena ditinggalkan oleh Ayahmu. Rika, sebaiknya kamu belajar dari Bunda kamu agar tidak mengalami hal yang sama,” ujar Laksmi.


“Belajar dari Mamih juga enggak masalah dong, mantan suami Bunda itu suaminya Mamih. Jadi sama aja dong aku minta nasihat ke sini atau ke sana,” sahut Rika. Eltan tertawa namun terhenti karena tatapan tajam dari Laksmi.


Mobil yang dikendarai Eltan sudah memasuki halaman rumah Kevin, Eltan melepas seat beltnya. “Bang El mau masuk dulu?” tanya Rika sambil melepas seat beltnya.


“Enggak Mut, gapapa kan kalau aku enggak mampir?”


Rika terdiam, Eltan mengambil kesempatan itu dengan menyatukan bibir mereka. Rika membalasnya, bahkan ia mengalungkan tangannya pada leher Eltan.


 


______


Jangan lupa jejaks yesss, sehat2 untuk kalian para pembaca.

__ADS_1


__ADS_2