
"Nana, tunggu Nak, tante bisa jelaskan masalah ini," ujar Laksmi saat Nana pergi menjauh.
"Bu, udah deh. Kayak aku enggak laku aja sampai harus ngemis-ngemis begitu sama perempuan. Ayo, aku antar ibu pulang," ajak Eltan.
"Pokoknya Bunda mau kamu fokus selesaikan pendidikan, siapapun jodoh kamu nanti selama ia tanggung jawab sama kamu, Bunda enggak masalah," ucap Meera saat berada dalam mobil.
"Hmm," jawab Rika sambil menatap ke luar jendela. "Bodoh banget sih, kenapa tadi sampe bicara begitu. Argggg, yang ada nanti Bang Eltan makin gencar usaha deketin aku lagi. Kan aku belum siap ketemu terus-terusan dengan Bang Eltan," ucap Rika dalam hati. "Takut khilaf," batinnya lagi.
"Eltan pasti akan nemuin kamu, enggak usah terlalu dekat, ingat kamu masih kecil sedangkan Eltan sudah dewasa."
"Iya Bun, iya," sahut Rika.
.
.
.
"Eltan, yang diucapkan putrinya Meera tadi tidak bener kan ?" tanya Laksmi saat mereka telah tiba di kediaman Agha.
Eltan menghela nafasnya, masalah apa pada ibunya dengan mantan istri suaminya sehingga hubungan mereka menjadi buruk.
"Benar Bu," jawab Eltan.
"Astaga Eltan, pikiran kamu dimana sih sampai bocah ingusan kamu dekati."
"Tapi nyatanya Rika lebih baik dari para wanita yang pernah ada," sahut Eltan.
"Ada apa ini," tanya Agha ikut bergabung dengan Laksmi dan Eltan di ruang keluarga rumahnya.
Eltan hanya diam, karena ia tau Ibunya yang akan menjawab. "Aku tidak habis pikir dengan Eltan, aku minta dia segera cari teman hidup malah mendekati adiknya Kayla."
"Adik Kayla? Rika?" tanya Agha.
Laksmi mengangguk.
Agha menatap bergantian Laksmi dan Eltan, "Lalu masalahnya apa?" tanya Agha.
__ADS_1
"Seperti tidak ada perempuan lain aja, Mas. Aku kenalkan putri temanku, eh malah jual mahal pake kurang respon segala," ujar Laksmi.
"Ya harus jual mahal dong Bu, biar enggak dapat yang murahan kayak kemarin." Eltan berdiri, "jadi lapar lagi Bu, bibi udah masak belum ya?" Berlalu meninggalkan Laksmi dan Agha.
"Anak itu kalau diajak bicara serius ya begitu, ada aja alasannya ..."
"Sudahlah Laksmi, Eltan sudah dewasa jangan perlakukan dia seperti anak kecil. Kamu ingat, sejak kita menikah dia tidak dekat dengan kamu, sekarang ini kalian harusnya memperbaiki hubungan, jangan memaksakan kehendak kamu pada Eltan. Apalagi jalan hidupnya," jelas Agha lebih bijak menghadapi persoalan dibandingkan Laksmi.
"Tapi kenapa hsrus Rika?"
"Memang kenapa dengan Rika?" tanya Agha. "Kalau kamu khawatir karena perbedaan usia atau karena Rika adalah adik dari Kayla ya kemukakan. Pakai alasan yang logis dan masuk akal bukan karena emosi atau perasaan."
"Aku tau seburuk apa hubungan kamu dengan Meera dan Kayla, aku tidak ingin terlalu ikut campur. Tapi berhentilah berbicara menyakiti Kayla, dia juga putriku dan kita tau yang dialami Kayla adalah kesalahan Eltan," ungkap Agha masih dengan penyampaian yang tenang.
"Mas, lebih membela Meera, apa karena dia mantan istri Mas Agha."
Agha menghela nafasnya, "Laksmi, jangan seperti remaja. Aku dan Meera adalah masa lalu, kita ada hubungan hanya persoalan Kayla. Keluarga kita dan keluarga Kevin sebelumnya tidak seperti ini, bisa jadi hubungan Eltan dan Rika adalah jalan untuk kamu dan Meera berdamai."
Laksmi terdiam dan menunduk mendengarkan penjelasan Agha. "Aku belum makan, temani aku makan," pinta Agha sambil menuju ruang makan.
Elang pun dalam waktu dekat harus keluar kota, "Papih, sini giliran aku yang gendong Kenan." Rika yang tak sabar ingin merebut Kenan dari gendongan Kevin.
"Jangan, kamu belum bisa gendong bayi," sahut Kevin.
"Bisalah, bikin bayi juga aku bisa," ucap Rika pelan. "Rikaaa," teriak Meera.
__ADS_1
"Bercanda kali Bun, manalah aku ngerti masalah begitu," ucap Rika sambil terkikik.
"Sini Kenannya, aku bawa ke kamar." Meera meraih Kenan dan mengantarkannya ke kamar Kayla. "
"Enggak nangis Bun?" tanya Kayla.
"Enggak, tapi jadi rebutan Papih kamu sama Rika," Meera meletakan cucunya dengan hati-hati pada box bayi.
"Haiii Kenan, ayo main sama Om yang ganteng," Reka datang sambil teriak.
"Reka, berisik. Ayo keluar biarkan cucu Bunda tidur."
Di tempat berbeda, tepatnya di ruang kerja Eltan. Pesawat telpon di mejanya berdering.
"Ya." Ucap Eltan
"Ada Mbak Nana ingin bertemu Bapak, tapi tidak ada di jadwal janji Bapak."
Eltan berdecak, "Suruh masuk."
"Hai," sapa Nana saat masuk ke dalam ruang kerja Eltan. Tanpa menjawab, Eltan hanya menatap sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ada apa?" tanya Eltan.
__ADS_1
Haiii ๐๐
jangan luoa jejaks yesss