
Untuk yang baru baca maraton, terima kasih ya 😍,,, yang masih setia lope lope buat kalian.
__________________
“Bunda tidak setuju?”
“Ya enggak lah, ngaco aja. Mana mungkin Bunda akan biarkan anak Bunda dihujat terus oleh Laksmi.”
“Bunda tidak setuju alasannya apa ?” tanya Kayla
Meera terdiam, "Bun, aku akan ikut apa kata Bunda yang pastinya demi kebaikan semua. Tapi baiknya semua ada dasarnya. Kalau bunda tidak ijinkan Rika dengan Eltan mungkin dengan alasan umur mereka yang beda jauh, Rika masih kecil dan masih sekolah belum waktunya mengenal cinta atau yang lainnya. Tapi jangan dengan alasan karena Eltan anak Mamih Laksmi, walaupun kita semua tau mulut beliau tajam."
"Iya Bunda paham," jawab Meera.
"Rikanya gimana Bun? Apa dia kecewa atau..."
"Nah itu yang mau Bunda diskusikan sama kamu. Tau sendiri Rika jarang bicara serius, seringnya bercanda, melucu tapi tadi pagi seperti bukan Rika."
“Bunda, aku pakai ponsel sebelum kenal Bang Eltan, jadi jangan ambil ponsel aku. Aku salah, aku minta maaf dan aku akan blokir kontak Bang Eltan. Tapi please, belajar pun terkadang aku memanfaatkan ponsel. Aku janji tidak akan menghubungi Bang Eltan. Aku akan serius belajar, ujian dengan baik dan kuliah sesuai dengan kemauan kalian.”
Meera mengingat kalimat yang diucapkan Rika dan menangis, "Sudahlah Bun, Rika hanya perlu waktu. Waktu untuk menyadari bahwa ia mungkin salah dan waktu untuk melupakan Eltan."
"Tapi Bunda takut, Rika akan depresi atau ... kamu tau sendiri kondisi dia dengan Reka berbeda. Kondisi fisiknya lemah."
Kayla menghela nafasnya, "Nanti aku coba bicara dengannya," ujar Kayla. Kemudian terdengar bunyi bel apartemennya, "Kamu menunggu tamu lain?"
"Enggak Bun, Mas Elang sepertinya tidak pernah terima tamu di sini, apalagi aku." Kayla berjalan menuju pintu dengan perlahan, karena perutnya yang sudah semakin berat. Ia melihat siapa yang datang pada lubang intip, "Sena!" Ucap Kayla lalu membukakan pintu.
"Mana Mas Elang, aku ingin bertemu." Sena ingin merangsek masuk namun di tahan oleh Kayla. "Aku belum mengijinkan kamu masuk, itu dasar sopan santun tapi ternyata hal kecil seperti itu saja kamu tidak tau."
"Mas Elang," teriak Sena.
"Keluar kamu!!" usir Kayla.
"Ada apa Kay?" tanya Meera yang menghampiri anaknya karena mendengar keributan. "Aku perlu bertemu Elang," ujar Sena.
"Tapi aku tidak mengijinkan, silahkan pergi sebelum aku panggil security untuk seret kamu ke bawah."
Sena malah mendorong Kayla memaksa masuk hingga Kayla mundur hampir terjerembab untung ada Meera yang menahannya.
"Hey, apa kamu sudah gila. Masuk ke rumah orang seenaknya sampai mendorong anakku seperti ini," maki Meera pada Sena.
"Owh, kamu Ibunya Kayla. Ya, sekalian aku kasih tau, anakmu ini perempuan murahan kan. Enggak pantas dia jadi istri Elang, tidur dengan keponakan lalu menikahi pamannya."
Plakkk
Kayla terkejut, Meera menampar Sena. "Tidak boleh ada yang menghina anak-anakku. Kamu datang memaki, mendorong dan mulutmu kasar. Lihat CCTV, aku bisa tuntut kamu. Jadi lebih baik kamu pergi."
"Sebaiknya kamu sampaikan pada Elang, aku tidak terima di mutasi apalagi diperlakukan seperti ini," ujar Sena.
"Owhhh, sudah dapat surat mutasi? Masih untung dimutasi aku mintanya kamu dipecatttt," ujar Kayla.
"Kamu," Sena mendekat pada Kayla namun Meera mendorong tubuh Sena dan menutup pintu.
"Bereskan pakaian kamu, ikut Bunda. Bunda enggak mau nanti kamu diserang dengan orang gila seperti tadi."
"Tapi Bun," jawab Kayla.
__ADS_1
"Tidak ada tapi, sekarang!!"
Di sekolah, Rika tampak murung. Bahkan saat istirahat ia memilih tetap di kelas. "Ayo makan," ajak Reka.
"Enggak laper."
"Jangan aneh-aneh, lo dari semalam enggak makan mana ada bilang enggak lapar," ujar Reka. "Gue kan udah pernah bilang bakalan begini, kalian tuh kayak romeo and juliet. Bukan romantis tapi tragis."
"Apaan sih," sahut Rika.
Vano masuk ke kelas. "Rika, ponsel kamu kenapa?" tanya Vano.
"Enggak apa-apa," jawab Rika.
"Bang Eltan nelpon aku nanyain keadaan kamu nih. Ngomong sendiri deh, bentar lagi juga dia telpon." Vano menyerahkan ponselnya pada Rika.
"Kantin yuk," ajak Reka.
Ponsel Vano berdering dengan nama Bang Eltan tertera di layar. Rika menggeser icon berwarna hijau.
"Halo Vano."
Rika diam.
"Vano."
"Bang Eltan."
"Rika, akhirnya. Kamu kenapa susah dihubungi sih."
"Kayaknya Bang Eltan enggak usah hubungi aku lagi. Kita kayak dulu lagi, masing-masing. Kalau perlu seakan enggak kenal aja."
Terdengar helaan nafas Eltan.
Rika hanya diam.
"Apa tidak mungkin kita tetap berjuang."
Rika teringat semua kalimat Meera dan janji yang ia ucap tadi pagi.
"Enggak mungkin Bang."
Eltan terdiam.
"Aku tutup telponnya Bang."
"Ka, Rika..."
Rika mendessah kasar, ia memegang dada sebelah kirinya yang kembali terasa sesak dan sakit. Berjalan menuju kantin, menghampiri Reka dan Vano.
"Udah?" tanya Vano saat Rika menyodorkan ponselnya.
Rika mengangguk, lalu melihat sekeliling mencari menu yang menggugah seleranya. Namun ia malah duduk disamping Reka. "Suapin!"
"Manja," ucap Reka lalu menyuapkan apa yang ada di piring makannya.
"Ka, kamu ada apa sih sama bang Eltan?" tanya Vano.
"Berakhir sebelum dimulai," jawab Reka lalu terbahak. Rika memukul lengan Reka.
__ADS_1
.
.
.
Kayla dan Meera sudah sampai di rumah, Bunda meminta salah satu ART untuk membawa koper Kayla ke kamarnya.
Sedangkan Kayla sudah bersandar tidak berdaya pada sofa sambil mengatur nafasnya dan mengelus perutnya.
"Biar nanti Bunda yang hubungi Elang," ucap Meera. Akhirnya Meera menghubungi Elang terkait kedatangan wanita gila yang hampit mencelakai Kayla.
"Coba kalau Bunda enggak ada di sana. Jadi apa Kayla, bergerak aja susah. Bunda enggak mau tau kamu urus perempuan itu."
"Pasti Bun, padahal aku sudah mutasi dia kembali ke Bali."
"Harusnya kamu mutasi ke Mars biar ketemu alien."
.....
Kayla yang mendengar Meera marah-marah malah terbahak.
Kayla berada di kamarnya saat Elang menelpon.
"Halo Kay."
"Hmm."
"Kondisi kamu gimana?" Terdengar suara Elang khawatir.
"Enggak apa-apa, tadi ada Bunda yang menahan tubuh aku waktu Sena dorong aku."
"Aku enggak paham, mau dia itu apa."
"Makanya punya mantan jangan di manja, buang ke tempatnya."
Elang berdecak, "Aku enggak gitu Kay."
"Mas El kapan pulang?"
Elang tertawa, "Aku baru sampai, udah tanya pulang."
"Aku mau melahirkan ditemani Mas Elang."
"Pokoknya beres urusan disini aku langsung ke Jakarta."
"Hmmm."
"Sayang, kamu tau masalah Eltan. Tentang Rika bukan?"
"Mas, pikir Bunda susul aku ke apartement masalah apa kalau bukan tentang Eltan dan Rika."
"Astagaaa!".
bersambung ya
follow ig : dtyas_dtyas
atau facebook : dtyas auliah
__ADS_1
jangan lupa jejak cintanya 😁,,, senin nih boleh dong votenya