Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Tugas Seorang Istri


__ADS_3

Rika terbangun, ia merasa perutnya berBunyi dan terasa sangat lapar. Menghembuskan nafas kasar saat menyadari sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Eltan yang memeluk tubuhnya, dengan tangan berada di atas perut dan salah satu kaki Eltan yang berada di atas pahanya.


“Ish, Bang El berat tau,” ujar Rika sambil menggerakan tubuhnya. “Pantesan aja dingin banget,” ucap Rika saat menyadari dirinya hanya tertutup kain selimut dan pendingin ruangan dalam keadaan hidup.


“Shhh,” bibirnya mendesis pelan merasakan tidak nyaman pada bagian bawah tubuhnya. Perlahan ia bangun dan meraih pakaiannya yang tercecer. Berjalan menuju kamar mandi dengan perlahan, cukup lama ia berada di bawah shower membersihkan sisa percintaannya dengan Eltan.


Rika duduk di pinggir ranjang memandang jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh malam. “Bang El,” panggilnya sambil menggoyangkan lengan Eltan. “Bang El, ihhhh.” Perlahan Eltan mengerjapkan matanya melihat Rika yang duduk membelakanginya. “Udah wangi aja, istriku,” ujar Eltan sambil memeluk Rika dari belakang dan meletakan dagunya pada bahu Rika.


“Aku lapar,” ucap Rika. “Aku mandi dulu, setelah ini kita makan,” ucap Eltan. Memakai boxernya, menyempatkan mencium pipi Rika sebelum bergegas menuju kamar mandi.


Mengenakan celana chinos pendek berwarna krem dan kaos putih dengan rambut yang masih terlihat basah, menghampiri Rika. “Ayo, kamu mau makan di mana?” Rika menggelengkan kepalanya, “Udah malam, aku juga malas jalan. Ini ku sakit,” jawabnya.


Eltan terkekeh, lalu mengusap puncak kepala Rika. “Kita order aja ya,” Eltan mengambil ponselnya. “Mau makan apa?”


“Mie instant,” jawab Rika. Eltan yang sedang membuka aplikasi pesan antar makanan menoleh pada Rika, “Makanan enggak sehat, Sayang. Yang lain aja, lagi pula aku enggak penah stok mie.”


“Tapi aku udah beli di mini market, waktu pulang kuliah,” sahut Rika. Eltan menghela nafasnya, “Untuk kali ini oke, tapi berikutnya enggak ada makan yang seperti itu. Tidak sehat,” ungkap Eltan.


Usai makan malam dengan menu mie instant sesuai permintaan Rika, mereka berada pada sofa ruang tamu. Rika menatap layar TV dengan bersandar pada dada Eltan yang sedang fokus pada ponselnya, “Sayang,  Ibu undang kita makan malam, besok.”


“Hmm, di mana?”  


“Di rumahnya,” jawab Eltan masih fokus pada ponselnya, namun tangan kanannya sudah menelusup ke dalam piyama Rika.


“Tapi enggak nginep kan?”


Eltan terdiam sejenak, di rumah Agha memang ada kamar yang disiapkan untuknya. Kamar yang menjadi saksi ia pernah menyakiti Kayla. “Enggak, setelah selesai kita langsung pulang. Atau aku usulkan kita makan di Resto Two Season.”


“Aku ngikut aja, tapi ini tangan kondisikan,” tukas Rika saat tangan Eltan sudah meraba bagian atas tubuhnya. Eltan terkekeh, “Lagi ya, Mut,” pinta Eltan. “Enggak ada ya, ini aja masih perih, buat jalan juga masih sakit,” Sahut Rika.


“Masa sih,” ujar Eltan. Rika merubah posisinya menghadap Eltan, “Ya iyalah. Udah big size, durasinya lama pula, badan aku rasanya pada remuk tau.”

__ADS_1


Eltan terbahak, “Kalau gitu harus sering-sering dong, biar terbiasa.”


“Tapi enggak sekarang,” sahut Rika.


.


.


.


Eltan dan Rika sudah berada dalam mobil menuju kediaman Agha, memenuhi undangan Laksmi untuk makan malam. Memasuki area rumah Agha dan memarkirkan kendaraan pada car port yang tersedia.


Eltan memeluk Ibunya, begitu pun Rika melakukan hal sama pada Ibu mertuanya. “Pak Agha ke mana?” tanya Eltan tidak melihat Agha. “Tadi sore ada rapat mendadak,” jawab Laksmi lalu mengajak anak dan menantunya menuju ruang makan.


“Ehhh, ada kakak ipar,” ejek Vano yang baru saja bergabung di meja makan.


“Lebay,” ucap Rika. Vano yang akan duduk disamping Rika diusir oleh Eltan, “Pindah sana, duduk di sebelah Ibu,” titah Eltan.  “Dih, posesif. Aku sama Rika udah kenal dari kita SD. Bang El kalau mau tau sifat jeleknya Rika bisa calling aku, harga cincay,” ujar Vano sambil terbahak.


“Enggak ada, pokoknya jangan dekat-dekat. Mau sifat jeleknya seperti apa, Rika udah jadi istri aku jadi aku terima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya,” jawab Eltan. “Owh, so sweet,” sahut Rika sambil memandang Eltan dengan salah satu tangan memangku dagunya.


Setelah makan malam, Vano sudah kembali ke kamarnya. Laksmi mengajak Eltan dan Rika bicara di ruang keluarga. Sepertinya membicarakan pekerjaan Eltan, Rika yang duduk disamping Eltan hanya mendengarkan sambil menggigit apel yang tadi ia ambil dari meja makan dan Rika baru mengetahui bahwa suaminya sempat ingin mengundurkan diri dari Two Season saat hubungannya dengan Rika banyak yang menentang.


“Enggak usah aneh-aneh, sekarang kamu punya tanggung jawab. Istri kamu ini segala sesuatunya sudah kewajiban kamu. Jangan lanjutkan keinginan kamu membuka usaha sendiri yang belum tentu akan berhasil,” nasihat Laksmi. Eltan hanya bersandar pada sofa dengan wajah menengadah pada plafon.


“Lagi pula, Two Season adalah milik ayahmu juga, jadi nikmati saja milikmu,” tambahnya.


Laksmi menoleh pada Rika, “Kamu tetap lanjut kuliah?” tanyanya. Rika menghentikan kunyahannya lalu mengangguk. “Kalian berencana punya anak atau menunda?” Laksmi menoleh pada Eltan yang langsung duduk tegak. Ia baru menyadari belum membahas hal itu dengan Rika.


Eltan dan Rika saling menoleh, “Kita belum bahas itu Bu,” jawab Eltan.


Laksmi menghela nafasnya, “Segala sesuatu itu harus terencana, baiknya kalian putuskan baik-baik akan bagaimana. Kamu ini kepala keluarga, jangan lagi grasak grusuk seperti rencana menikahi Rika.” Setelah banyak petuah yang terkadang membuat Rika harus mengelus dada mendengarnya, akhirnya Eltan dan Rika berada dalam perjalanan pulang ke apartement.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Eltan sambil fokus pada kemudi.


“Hmm,” jawab Rika sambil memainkan ponselnya. “Yang Ibu ucapkan benar, banyak yang harus kita bicarakan.”


Duduk berdampingan pada sofa saat mereka telah tiba di apartemen, “Kalau aku melarang kamu menunda kehamilan, gimana?” Rika terdiam, lalu menoleh pada Eltan yang sedang menatapnya. “Aku enggak ngerti, kan belum pernah hamil. Tapi  ...”


“Kenapa?” Eltan bergeser mendekatkan tubuhnya lalu membelai surai hitam Rika.


“Waktu lihat Kak Kayla hamil, sepertinya sulit. Tapi Bunda bilang tiap kehamilan akan ada gejala yang sama bahkan berbeda,” jelas Rika. “Jadi, kita jangan tunda kehamilan kamu. Punya anak sambil kuliah enggak masalah kok,” ucap Eltan.


“Atau aku off kuliah aja ya, Bang.”


Eltan menoleh pada Rika, “Itu sih maunya kamu, minimal kamu harus lulus sarjana tidak ada tawar menawar. Tugas kamu itu hanya lima, enggak banyak.”


Rika mengedipkan matanya sambil mengernyitkan dahi, “Lima? Apa aja?”


“Yang pertama, layani suamimu ini,” ucap Eltan sambil mengerlingkan matanya, “kedua, fokus kuliah,” lanjutnya. “Berikutnya layani aku, layani aku dan layani aku.” Rika mengambil bantal sofa dan memukulkan pada badan Eltan. “Mana ada tugas rumah tangga seperti itu, Bang Eltan ngaco. Mesum pula,” sahut Rika. “Mesum sama istri sendiri gak apa, Mut.”


“Terus siapa yang urus rumah, masak, cuci ...”


“Ada asisten rumah tangga, kamu itu istri aku bukan pembantu. Sekarang kamu bisa penuhi tugas pertama kamu,” ujar Eltan sambil menggendong Rika.


“Bang Elllll!!!”


 


 


 ________


Haiiiii, masih nungguin Bang El kan? ☺☺,, jangan lupa jejak yesss

__ADS_1


 


 


__ADS_2