
Rika dan wanita itu saling menatap. "Mamih Laksmi," ucap Rika lirih lalu berdiri karena Laksmi berjalan ke arahnya. "Sedang apa kamu di sini? Mending fokus lanjutkan pendidikan kamu dari pada menghampiri laki-laki, kayak udah enggak laku aja."
Rika menghela nafasnya, "Jawab enggak ya," batin Rika, masih dengan menatap pada Laksmi.
"Justru, aku ada disini karena laku, Mih. Bang Eltan yang jemput aku di rumah, minta aku tunggu di sini sampai ia selesai rapat. Bang Eltan itu enggak mau kehilangan aku, kalau enggak percaya tanya aja sama orangnya langsung." Rika kemudian duduk kembali pada sofa, membiarkan Laksmi semakin emosi jiwa.
"Bunda kamu tau kamu pergi dengan Eltan?"
Rika menoleh kembali pada Laksmi, "Pasti taulah, Bunda sendiri yang kasih tau waktu Bang Eltan datang untuk jemput aku."
Laksmi duduk pada sofa bersebrangan dengan Rika yang kembali asyik dengan ponselnya. "Apa yang dilihat Eltan dari gadis ini?" batin Laksmi sambil menatap Rika.
"Sayang, maaf rapatnya ... Ibu!" ucap Eltan saat masuk ke ruangannya, lalu duduk disamping Rika. Ia menoleh pada Rika yang sedang tersenyum kepadanya lalu menatap Laksmi.
"Ibu datang tapi tidak mengabari," kata Eltan. Laksmi berdecak, "Lalu aku harus buat janji untuk bertemu dengan putraku sendiri," sahut Laksmi.
"Ya enggak begitu, khawatirnya aku sedang tidak ada di tempat,” jawab Eltan.
"Tidak ada di tempat karena pergi dengan perempuan ini? Kamu mau ngapain bawa bocah ini, bahkan minta ia menunggu kamu," ucap Laksmi.
Eltan menghela nafasnya, "Seperti yang sudah aku sampaikan ke Ibu, aku berniat serius dengan Rika." Eltan merangkul Rika di depan Laksmi. "Jadi, aku harap Ibu menerima dan merestui sama seperti yang Om Kevin dan Tante Meera lakukan."
“Terserah kamu, Ibu hanya ingin kamu bahagia. Tapi harapan Ibu bukan dengan gadis ini, lagi pula kita tidak tau ke depannya akan seperti apa. Bisa jadi nanti dia tergoda pria lain.”
“Apa Ibu tau, Vano bertepuk sebelah tangan dengan Rika?” tanya Eltan. “Bang El,” ucap Rika mengingatkan agar tidak melanjutkan ucapannya. Laksmi kembali menatap Rika, “Ternyata kamu pintar merayu juga, adik dan kakak masuk perangkap kamu. Sama seperti kakak kamu ya, keponakan dan paman pun akhirnya luluh.”
__ADS_1
“IBU!”
“Kamu bentak Ibu Nak?” tanya Laksmi pada Eltan.
“Iya, karena Ibu sudah keterlaluan. Loh, Rika,” ucap Eltan karena kini Rika sudah dalam posisi berdiri.
Sejak tadi Rika menahan, menahan untuk tidak membalas. Karena rasanya tidak pantas walaupun wanita dihadapannya dengan mulut yang kasar tetap orangtua dan kalau nanti ia berjodoh dengan Eltan wanita ini adalah Ibu Mertuanya. Bagaimana mungkin jika ia memiliki sejarah pertengkaran dengan Laksmi. Tapi sesekali memang wanita ini harus diberi pelajaran.
“Sebenarnya masalah Mamih tuh apa ya? Kenapa ucapannya terasa tidak enak didengar dan menyakiti hati, padahal Mamih juga perempuan. Mamih boleh hina aku tapi jangan Kak Kay. Apa Mamih lupa, apa yang Bang Eltan perbuat pada Kak Kayla?”
“Rika,” tegur Eltan.
“Apa Mamih juga lupa, kalau Mamih melarang Bang Eltan bertanggung jawab hingga Kak Kay harus menikah dengan Paman dari Bang Eltan. Apa ...”
Rika menggerakkan tubuhnya agar sentuhan Eltan dibahunya terlepas, “Kenapa?” tanya Rika menatap Eltan. “Kenapa harus aku berhenti bicara, kenapa Bang Eltan tidak membuat perempuan ini berhenti menghina kami.” Tunjuk Rika pada Laksmi.
Eltan mengusap wajahnya kasar, “Bukan begitu, kalian sama-sama keras kepala, harus ada yang mengalah.”
“Kenapa harus aku yang mengalah?” tanya Rika.
“Belum apa-apa sudah kurang ajar,”sahut Laksmi.
Eltan dan Rika menoleh pada Laksmi. “Sudahlah Bu,” ujar Eltan. Rika mengambil tasnya lalu tanpa mengatakan apapun ia berjalan meninggalkan Eltan dan Laksmi.
“Rika, tunggu,” panggil Eltan sambil mengejar Rika.
__ADS_1
Selama berada dalam lift, ia hanya diam saja. Meskipun Eltan terus bicara dan menggenggam tangannya. Rika masih menghargai Eltan, maka dari itu ia tidak gegabah bertengkar di depan umum karena bisa merusak citra Eltan.
“Oke, kamu mau ke mana?” tanya Eltan, “tapi jangan begini.”
Rika tidak menyahut ia terus berjalan keluar dari lobby Two Season, “Ikut aku,” ajak Eltan sambil menarik siku tangan Rika menuju mobilnya yang terparkir di area khusus pimpinan. Memaksa Rika masuk setelah membuka pintu mobil, bahkan memasangkan juga seat beltnya. “Kita cari tempat yang nyaman untuk bicara.”
“Aku mau pulang!”
Eltan tetap fokus pada kemudi walaupun ia kesal dengan kalimat Rika barusan. “Kita selesaikan dulu masalah yang ada, menghindar hanya membuat masalah semakin pelik,” sahut Eltan.
“Aku mau pulang!”
Eltan menepikan mobilnya, lalu menoleh pada Rika. “Rika, masalah kita di depan akan lebih rumit di bandingkan ini. Jadi, bekerjasamalah”
“Kita tidak ada masalah sebelumnya, tapi kesabaran aku ada batasnya. Belum apa-apa Ibu Bang El berani menghina seperti itu, bagaimana kalau nanti...”
“Aku pastikan nanti beliau tidak akan melakukan hal seperti tadi.”
Rika menghapus air matanya yang jatuh ke pipi, Eltan melepaskan seat beltnya. “Rika, maafkan aku, bukan maksud aku membela Ibu dan mengesampingkan kamu, tapi memang harus ada yang mengalah.”
“Maaf Bang, Ibu Bang Eltan benar, aku masih bocah. Masih labil dan belum dewasa dalam menghadapi persoalan, jadi lebih baik ...”
______
hai, terima kasih masih setia menunggu kisah ini. Jangan lupa jejak.😊
__ADS_1