Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Karena Kamu


__ADS_3

...~~ Enjoy Reading ~~...


Hampir setengah jam mereka menunggu, lalu seorang Dokter keluar. "Keluarga pasien atas nama Kayla?"


Ria, Bara dan Elang melangkah maju menghampiri dokter. "Keluarga Kayla?" tanyanya lagi.


"Saya suaminya, Dok."


"Ikut saya, akan saya jelaskan kondisi pasien."


Elang duduk di depan meja dokter, "Pasien atas nama Kayla harus rawat inap. Kandungannya berusia 22 minggu setelah diobservasi ternyata pendarahan dan tak sadarkan diri ini terjadi karena kelelahan dan stress. Sementara harus bedrest agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Dokter.


Elang hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan dokter. Rasa bersalahnya semakin besar. Mengusap wajahnya, dokter kembali menjelaskan apa saja yang tidak boleh dilakukan Kayla.


Elang kembali ke ruang UGD, "Maaf Pak, Kayla harus dirawat ya?" tanya Ria pada Elang.


"Iya, dia harus bedrest."


"Kalau begitu saya temui perawat untuk tanya kebutuhan Kayla, lalu saya ambilkan dari kostannya."


"Kayla tinggal di rumah kost?" tanya Elang. Ria mengangguk. Elang menarik nafas panjang, keluarga suaminya terkenal sebagai pengusaha hotel mewah tapi Kayla lebih memilih tinggal di rumah kost.


"Ayo, lo anter gue," ajak Ria pada Bara.


"Kayla kita tinggalin sama dia," tunjuk Bara pada Elang.


"Itu suaminya, ngapain kita khawatir," sahut Ria.


"Tapi Kayla bertemu kita karena menghindari dia," ujar Bara.


"Udah Bara, saat ini suaminya harus ada untuk Kayla. Udah lo ikut gue." Ria menarik tangan Bara.


Kini Kayla telah berada di ruang perawatan, demi kenyamanan Kayla, Elang memilih kelas Suite. Elang duduk di kursi samping ranjang Kayla, tangan yang terbebas dari jarum infus ia genggam, sesekali punggung tangan Kayla ia kecup pelan sekedar pengobat rindunya.


Elang juga telah menghubungi Meera dan menjelaskan kondisi Kayla. Ibu mertuanya menangis histeris saat Elang menyampaikan informasi tentang Kayla, sampai digantikan oleh Kevin ketika menerima telpon Elang.


"Sshhhh," rintih Kayla, tubuhnya bergerak pelan.


"Sayang, pelan-pelan. Kamu belum boleh banyak gerak.


Kayla mengerjapkan kedua matanya, memindai ruangan tempatnya berada. Lalu menoleh pada sosok pria di sampingnya. Pria yang selama ini ia hindari, pria yang sudah mengacuhkannya, pria yang tidak memberikan kejelasan tentang keadaan yang membuatnya salah paham juga pria yang sudah mengacaukan perasaannya.


Berusaha bangun dari posisinya berbaring, "Eh, jangan Kay. Kamu butuh apa, atau aku panggil dokter? Kamu harus bedrest."

__ADS_1


Kayla menarik tangan yang sedang digenggam Kayla, "Pergi, aku enggak mau ketemu kamu," ucap Kayla.


"Kay, sayang dengarkan aku," Elang berusaha meraih kembali tangan Kayla.


"Enggak, aku enggak mau dengar apapun. Sebaiknya kamu pergi dan urus saja hotelmu itu. Aku ini cuma sampah, bagi kalian keluarga Sanjaya aku tidak berharga. Saham dan nama baik kalian lebih penting dari pada aku. Pergi...." Kayla menangis, menangis histeris setelah ia meneriakan isi hatinya.


Elang memeluk Kayla dari samping dan membenamkan wajahnya pada leher Kayla.


"Sayang, maafkan aku. Kamu boleh marah, bahkan boleh pukul aku tapi saat ini biarkan aku menjagamu Kay. Kamu harus bedrest, jangan pikirkan apapun cukup pikirkan keaehatanmu dan anak kita," ucap Elang sambil mengelus perut Kayla, ia juga beberapa kali mencium perut yang membola karena ada calon bayi keturunan Sanjaya.


"Dia anakku, kamu tidak berhak."


Elang mengusap air mata Kayla, "Aku sudah hubungi Bunda, dia sangat khawatir denganmu Kay."


"Memang hanya Bunda yang peduli denganku, yang lainnya enggak ada."


"Aku, Kay. Aku peduli sama kamu. Aku sudah kerahkan banyak orang untuk cari kamu. Kamu tega tinggalin aku Kay."


Kayla menatap Elang, ia menarik kembali tangannya yang digenggam Elang. "Om Elang enggak sayang aku, kalau sayang enggak akan nyakitin aku. Justru Om Elang yang tega mengacuhkan aku berhari-hari. Padahal aku sedang hamil, aku hamil anak Om Elang," teriak Kayla sambil terisak.


Elang kembali memeluk Kayla, "Sudah Kay, ia aku salah. Jangan bebani pikiranmu dengan kebodohan aku, pikirkan kesehatanmu sayang."


"Sshhh, sakitttt," ucap Kayla lirih.


"Perutmu sakit lagi?" Elang segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat atau dokter.


Kayla menggelengkan kepalanya, "Tapi kemarin,"


"Kemarin kenapa Bu?"


Kayla menoleh pada Elang, "Aku sempat berlari, Dok," jawab Kayla.


"Harusnya tidak boleh, ibu rehat total ya. Kalau ada pendarahan atau keluhan lain panggil kami lagi."


Elang menatap Kayla dengan rasa bersalah, ia tau Kayla berlari karena menghindarinya.


"Hmm, panggilkan perawat," titah Kayla.


"Kenapa, apa lagi yang sakit?" tanya Elang panik.


"Aku mau ke toilet," ucap Kayla. Elang mendessah lega karena bukan ada keluhan lain.


"Oke, aku bantu," ucap Elang hendak meraih tubuh Kayla. "Enggak mau, aku mau dianter suster aja."

__ADS_1


"Kelamaan sayang, sama aku aja ya atau mau pakai pispot."


"Enggak mau, aku maunya ke toilet," bentak Kayla.


"Iya kita ke toilet, kamu jangan marah ya. Ingat enggak boleh stress."


"Gimana aku enggak stress, orang yang bikin aku stress ada di depan aku."


"Iya, aku yang bikin kamu stress, nanti aku cuma bikin kamu enak aja. Enggak bakal ada lagi tuh yang namanya stress," jawab Elang.


"Dasar mesum," ejek Kayla.


"Ya udah, aku bantu turun ya." Tangan kanan Elang merangkul pinggang Kayla sedangkan tangan kirinya mendorong tiang infusan.


Kayla menggunakan baju pasien yang berbentuk seperti kimono, jelas di dalamnya hanya menggunakan bra dan panties.


Saat Kayla ingin menurunkan pantiesnya ia menoleh pada Elang, "Ngalain masih disini sih, keluar dulu," ujar Kayla.


"Aku temani Kay, takut kamu butuh bantuan."


"Enggak, nanti aku panggil kalau aku butuh bantuan."


"Ya udah aku berbalik nih," Elang membalikkan tubuhnya memunggungi Kayla, "padahal aku udah lihat semuanya Kay."


"Berisik."


Kayla sudah berbaring kembali. Saat Elang menarik selimut terlihat kaki dan paha Kayla yang putih menggoda, apalagi baju pasien yang Kayla pakai tersingkap membangkitkan sesuatu yang sudah lama tertidur.


"Ingat, aku masih marah sama Om Elang. Jangan harap aku akan baik-baik sama Om."


"Kay, kamu enggak niat ganti panggilan aku."


"Enggak ada."


"What, Kayla panggil suaminya Om," bisik Ria pada Bara. Terpaksa menunggu diluar karena sempat mendengar perdebatan Kayla dan suaminya, bukan ranah Ria dan Bara untuk mencampuri urusan pasangan itu.


"Harusnya, kita usir laki-laki itu," ujar Bara.


"Bara dengar ya, laki-laki itu suaminya kita engak ada hak usir dia."


"Kayla enggak akan bertemu kita, kalau dia dan suaminya baik-baik aja."


"Bara, please. Kalau lo ada rasa sama Kayla ini saatnya lo berhenti, gue yakin lo bukan tipenya Kayla jadi cari aja cinta lain."

__ADS_1


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–


__ADS_2