Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 10. Ucapan kejam Noah


__ADS_3

“Dasar wanita pembohong!” Tuding Noah pada Sea.


“Pembohong? Apa maksud kamu, Mas?” tanya Sea yang tak menyangka akan disambut dengan tudingan yang tak ia pahami.


“Kau ... alasan saja ingin ke kampus, rupanya kau pergi dengan pria lain!” Ucap Noah. “Tak tahu diri!” hinaan Noah terasa menghunjam jantung Sea. Sayangnya Sea hanya bisa menelan salivanya menerima semua penghinaan Noah.


“Aku tak berbohong, Mas.” Sea berusaha mengejar suaminya yang berlalu meninggalkannya setelah puas melayangkan hinaan.


“Mas! Dengar dulu penjelasanku, kumohon.” Pinta Sea dengan memelas. Tangannya terulur untuk meraih lengan suaminya, berharap Noah akan menghentikan langkah lebar kakinya.


Sea sadar jika di dalam rumah kini sudah ramai oleh para tamu, itulah sebabnya dia ingin menjelaskannya saat mereka masih berada di halaman rumah.


“Mas, berhenti dulu!” Tak menyerah Sea berusaha menghentikan langkah Noah.


Namun apalah daya kekuatan tubuh Sea yang mungil, hanya dengan sekali sentakan Noah berhasil melepaskan genggaman tangan Sea pada lengannya.


“Aaakkhh,” Sea meringis.


Kerasnya sentakan Noah membuat gadis itu terperenyak, terduduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis. Untuk pertama kalinya ia menerima perlakuan kasar dari seseorang. Mirisnya seseorang itu adalah pria yang berstatus suaminya, pria yang ia cintai.


Awalnya Noah tak peduli dan terus berlalu, namun saat mengingat bagaimana ia dan Sea bersandiwara selama ini membuatnya mau tak mau harus menoleh memeriksa keadaan Sea. Dilihatnya gadis itu yang kesulitan berdiri, apa kakinya terkilir? Tanyanya dalam hati.


Dengan mengentak-entakkan kakinya Noah kembali menghampiri Sea.


Dengan enggan Noah membantu Sea berdiri. Sea berusaha keras menahan ringisnya, jangan sampai Noah tahu jika kini salah satu lengannya yang dicengkeram pria itu terasa sakit.


Dengan kasar Noah menarik lengan Sea agar gadis itu berjalan lebih cepat tanpa peduli dengan kondisi pergelangan kaki istrinya. “Kau jangan manja, jangan terlalu banyak drama. Aku tak akan pernah tertipu dengan kepolosanmu yang dibuat-buat!”


Lagi, ucapan Noah lagi-lagi menyakiti hati Sea. Apa salahku sebenarnya, Mas. Tak pernah kau ingin mendengar penjelasanku, batin Sea.


Saat tiba di depan pintu, segera Noah melepaskan cengkeramannya di lengan Sea lalu mengganti dengan merangkul istrinya mesra. Semua orang yang sudah siap hendak memulai pengajian tersenyum menatap kemesraan pasangan suami istri baru itu. Banyak dari mereka yang bersyukur sebab Noah lah pria yang akhirnya menikahi Sea. Mereka yakin jika Noah pasti dapat menjaga gadis malang itu dengan baik.


Pengajian pun akhirnya dimulai setelah Sea dan Noah bergabung. Sepanjang pengajian berlangsung, Noah terus saja menggerutu dalam hati.


Rupanya rasa sesalku menikah dengannya tak salah, aku semakin membencinya! Tak ada rasa bersalah di hatinya meski beberapa saat yang lalu dirinya sempat memperlakukan istrinya dengan kasar.


Sementara Sea, gadis cantik itu terus saja menunduk berusaha menghusyukkan dirinya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya, kenangan bersama orang tuanya terputar bagai sebuah rekaman dalam bayangannya.


Dalam hati ia mendoakan semoga kedua orang tuanya mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Namun di sisi lain hatinya, ia berandai bagaimana jika dirinya menyusul saja kedua orang tuanya. Jika aku menyusul kalian, apa tak akan kurasakan lagi sakitnya hati ini? Batin Sea.


Air matanya semakin deras membasahi pipinya, semua yang hadir di sana tahu bagaimana Sea bisa berakhir menjadi gadis yatim piatu. Sekali lagi orang lain kembali tertipu dengan air mata Sea, dipikirnya gadis itu tengah menangisi malangnya nasib dirinya yang ditinggal oleh kedua orang tua saat usianya masih muda. Tak tahu saja mereka jika gadis ini kini sesekali meringis menahan sakit di lengan dan pergelangan kakinya.


Tak pernah Sea duga jika Noah, suaminya itu begitu murka sebab dirinya hampir saja terlambat menghadiri pengajian untuk mendiang orang tuanya. Bukan inginnya untuk pulang terlambat, kondisi jalanan yang sangat padat oleh kendaraan menyebabkan Sea dan Alfio terjebak kemacetan yang luar biasa. Ditambah ponselnya kehabisan daya hingga ia tak bisa mengabari siapa pun.


......................


Meski mentari masih malu-malu menampakkan dirinya, Sea yang terbangun dari tidurnya harus kembali menelan kekecewaan saat melihat sisi ranjang di sampingnya masih kosong tak berpenghuni. Sama seperti semalam ketika ia tinggalkan tertidur.


Semalam Sea dan Noah melanjutkan lagi pertengkaran yang sempat tertunda. Sebenarnya baik Sea maupun Noah tak ingin lagi membahas masalah yang sama, namun saat pengajian semalam usai Mami Joanna dan Ayah Peter menyadari jika pergelangan kaki Sea terkilir.

__ADS_1


Sea menjadikan hal itu sebagai alasan dirinya pulang terlambat, niatnya adalah agar kedua mertuanya tak tahu pertengkarannya dengan Noah. Rencana Sea memang berhasil, hanya saja Ayah Peter akhirnya menegur putranya.


Pria paruh baya itu menasihati putranya agar lebih perhatian pada istrinya, misalnya dengan mengantar dan menjemput Sea ke kampus. Tujuan Ayah Peter selain semakin mendekatkan Sea dan Noah, beliau juga ingin agar putranya mulai belajar bertanggung jawab akan keselamatan istrinya.


Rupanya Noah yang hanya diam saat mendengar nasihat orang tuanya terus merutuk Sea dalam hati. Begitu tiba di dalam kamar, Noah segera melampiaskan semua kekesalannya.


“Puas kamu!” Bentaknya.


“Kau benar-benar licik Sea!” Ucap Noah.


“Aku sudah cukup lelah harus bersandiwara mengenai pernikahan ini, jangan menambah lagi bebanku,” lanjutnya.


Betapa sakit hati Sea, rupanya ikatan suci mereka diartikan sebagai beban oleh Noah. “Jika kemarahan Mas karena perintah yang Ayah berikan, jangan khawatir Mas. Aku pun tak pernah mengharapkan hal itu. Aku tak ingin semakin membebanimu, Mas.”


Noah tertawa terbahak-bahak, “Bukankah hal itu yang memang kau inginkan?”


“Bukankah kau senang jika aku terus acuh padamu? Kau bisa bebas pergi bersama pria lain kan?” tuding Noah tanpa alasan.


“Mas, kamu salah. Aku tak pernah pergi bersama pria lain,” elak Sea.


“Lalu apa itu tadi? Kau kira aku buta tak bisa melihat pria yang mengantarmu dan membukakan pintu mobil untukmu?”


“Wow ... romantis sekali kalian! Harusnya kau menikah dengannya,” imbuh Noah. “Mengapa kau malah memaksakan perjodohan bodoh ini.”


“Kamu salah sangka, Mas.” Sea terus berusaha membela dirinya. “Pria tadi hanya temanku, Mas.”


Noah terus saja menyalahkan Sea, tak peduli dengan kondisi istrinya itu yang terus saja menangis.


“Kau yang menciptakan sandiwara ini, maka kau juga harus berperan dengan baik. Jangan bertingkah seperti wanita murahan yang pergi berduaan dengan pria yang bukan suamimu!” Peringatan Noah sungguh melukai hati Sea.


Braaakkk.


Bunyi pintu kamar ditutup dengan kasar oleh Noah. Setelah puas menghina Sea, pria itu pergi begitu saja meninggalkan Sea yang terus berderai air mata.


“Lalu bagaimana dengan dirimu, Mas? Kau tak tahu bagaimana hancurnya hatiku saat melihat kau disuapi dengan mesra oleh wanita lain,” gumam Sea lirih.


Entah siapa yang akan mendengarnya, namun di sela-sela isakannya Sea terus mengungkapkan isi hatinya. “Kau menuduhku sebagai pembunuh kekasihmu tanpa tahu kejadian yang sebenarnya,” ucap Sea.


“Lalu tanpa tahu kebenarannya, sekarang kau menudingku sebagai wanita murahan.”


Entah kapan Sea tertidur semalam ia tak ingat lagi, yang pasti pagi ini dirinya yakin jika semalam Noah tak pulang setelah pertengkaran mereka. Paginya suram tak secerah sinar sang mentari.


Sembari merias dirinya di depan cermin meja riasnya Sea terus bermonolog. “Apa sebaiknya aku mengalah saja?”


“Salahku karena pulang terlambat dan tak memberi kabar,” gumam Sea. Kedua tangannya sibuk menata rambutnya yang ia buat bergelombang di bagian ujungnya saja.


Dengan melapangkan hatinya, Sea memutuskan untuk mengalah. Siang ini gadis itu sudah memantapkan hati untuk menemui Noah di rumah sakit dan meminta maaf padanya. “Anggap saja ini adalah pembelajaran untukku menjadi istri yang penyabar,” gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


......................

__ADS_1


Dengan senyum yang terus mengembang di wajah cantiknya. Sea melangkah dengan riang, dalam hati ia sudah berjanji untuk melapangkan hatinya jika Noah kembali melontarkan kata-kata mutiara untuknya.


“Aku harus berhasil makan siang bersama Mas Noah,” gumam Sea bertekad.


Tanpa mengetuk Sea membuka pintu ruangan praktik Noah. “Ma-as," serunya.


Bukannya berhasil mengejutkan Noah, malah gadis itu yang dibuat terkejut oleh kehadiran wanita yang tak asing baginya. Dia, dokter wanita yang ia lihat menyuapi suaminya beberapa hari yang lalu di kantin rumah sakit, kini duduk dengan santai di kursi yang biasa diduduki oleh suaminya.


“Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter wanita itu ramah.


“Saya ingin bertemu Mas Noah,” jawab Sea.


“Mas? Maksud Anda ... Dokter Noah?” tanyanya lagi.


“Iya, saya ingin bertemu dengan Mas Noah,” ulang Sea. “Saya ingin menemui suami saya, Mas Noah.” Sekali lagi Sea mengulang ucapannya.


“Sayangnya Noah sedang tak bisa Anda temui,” ujar Dokter wanita yang bernama Alesandra. “Dia sedang membersihkan tubuhnya,” imbuhnya dengan menyeringai penuh arti.


Sea kembali mengingat bayangan saat suaminya disuapi dengan mesra oleh dokter wanita yang kini berdiri di hadapannya. Lalu apa lagi sekarang? Jika Mas Noah sedang membersihkan tubuhnya, lantas apa yang dilakukan wanita ini di ruangan Mas Noah? Atau apa yang telah mereka lakukan berdua hingga Mas Noah harus membersihkan tubuhnya segala?


Pikiran-pikiran buruk mengenai suaminya kini bersemayam di benak Sea. Penampilan sang dokter wanita yang begitu menggoda, memancing Sea untuk berpikiran yang tidak-tidak. Kini senyum yang tadi terus mengembang di wajah cantik Sea telah sirna berganti dengan raut wajah datarnya.


“Sebaiknya Anda tak perlu menunggu, sebab setelah ini Noah dan aku memiliki pekerjaan yang harus kami selesaikan segera.” Ucap Alesandra mengusir Sea secara halus.


“Kuharap Anda mengerti,” imbuhnya.


Sea tersenyum tipis, ia letakkan kotak bekal di atas meja kerja Noah. “Baiklah, saya juga tak punya banyak waktu,” balas Sea. “Katakan pada suamiku untuk menikmati hidangan makan siang yang dibuatkan oleh istri tercintanya.”


Sengaja Sea berbohong, biarkan saja dokter wanita itu berpikir jika rumah tangganya bersama Noah berjalan sangat harmonis, pikir Sea.


Selepas mengatakan bualannya, Sea bergegas pergi dari ruangan Noah meninggalkan banyak kecurigaan pada sang suami.


“Semalam dia terus menerus mengatakan aku wanita murahan, semalam dia memintaku untuk sadar diri. Lalu bagaimana dengannya?” gerutu Sea sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Sementara itu Noah yang baru selesai membersihkan dirinya setelah melaksanakan operasi, keningnya mengernyit saat melihat Alesandra ada di ruangannya. Ditambah ada kotak bekal yang tak asing di atas mejanya.


“Sejak kapan kau di sini?” tanya Noah.


“Baru saja,” jawab Alesandra.


“Siapa yang membawa kotak bekal ini?” tanya Noah lagi.


Alesandra mengedikkan bahunya. “Tadi ada kurir yang mengantarnya. Karena dia menyebutkan namamu sebagai penerimanya jadi aku terima saja.” Jelas Alesandra berbohong.


“Lain kali ... jika aku tak berada di ruanganku, jangan masuk ke mari. Kau bisa datang lagi nanti!” Peringat Noah.


“Ke mana semua perawat yang berjaga, kenapa orang lain bisa seenaknya saja masuk ke ruanganku,” gerutu Noah berhasil menyinggung Alesandra.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2