Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 18. Kemarahan Noah


__ADS_3

Padat merayap kendaraan sore itu rupanya tak menyurutkan niat Noah untuk menjemput Sea di kampusnya. Dengan sabar, dokter tampan, muda, dan kompeten itu turut berjibaku di keramaian jalan raya bersama ratusan pengendara lainnya agar bisa sampai ditujuannya.


Sejak pertama kali melajukan mobilnya, kening Noah tak pernah berhenti mengerut. Pria itu memikirkan alasan terbaik yang akan dikatakannya pada Sea kalau-kalau istrinya itu bertanya mengapa ia tiba-tiba melakukan hal ini.


“Bagaimana ya, reaksi Sea saat aku tiba-tiba datang dan menjemputnya?” Noah terus saja bermonolog.


Pandangannya tetap fokus pada jalan di depannya. “Apa Sea akan senang? Bagaimana jika dia menolak ku?”


“Ah aku tahu, Mami dan Ayah!” serunya. “Sea tak akan menolak jika kukatakan Mami dan Ayah mengajak makan malam bersama.”


Akhirnya kerutan di keningnya sirna seiring dengan tertariknya dua sudut bibirnya kesamping. Hampir lelah memikirkan berpuluh-puluh alasan, akhirnya Noah berhasil temukan satu alasan paling masuk akal mengapa dirinya tiba-tiba hendak menjemput istrinya.


Begitu tingginya tembok tak kasat mata yang memisahkan sepasang suami istri itu, hingga untuk menemui istri sendiri Noah harus memiliki alasan. Memikirkan fakta ini membuat senyuman bahagia Noah berubah menjadi senyuman getir.


Banyaknya permasalahan yang harus ia pikirkan, Noah jadikan teman untuk melewati detik demi detik sore itu. Hingga akhirnya mobil yang ia kemudikan tiba di depan Universitas Cipta Bangsa.


Noah pun segera menghubungi ponsel Sea untuk memberitahukan kedatangannya. Sayangnya, sepuluh menit telah berlalu namun belum ada panggilannya yang dijawab oleh Sea. Apa jangan-jangan Sea sudah pulang ya? Timbul tanya dalam benaknya.


Salahnya juga yang tidak menghubungi Sea lebih dulu, memastikan keberadaan istrinya di mana.


Noah tak ingin perjalanannya yang penuh dengan perang batin berakhir sia-sia. Jika tetap menunggu tanpa ada usaha lain, maka besar kemungkinan malam ini dirinya akan berakhir makan malam seorang diri, begitu pikirnya.


Akhirnya dokter tampan itu kembali melajukan mobilnya, kali ini ia lajukan dengan perlahan. Noah memutuskan untuk mengitari lahan parkir yang sangat luas.


Saat itu, tak lama lagi sore akan berganti menjadi malam hingga kampus sudah tak seramai biasanya. Hal yang sama juga berlaku di parkiran kampus. Hanya ada beberapa kendaraan roda empat yang terparkir di sana. Setelah mengamati dengan saksama, tak ia temukan mobil milik istrinya terparkir di sana.


Kecewa? Noah tak ingin mengakui hal itu. Namun, senyum getir dari bibirnya menyiratkan jika rasa kecewa itu benar adanya.


“Lebih baik aku pulang dan menikmati makan malam bersama Ayah dan Mami,” gumam Noah.


Namun, saat ia melintasi sebuah kafe yang berada di seberang jalan kampus Sea, tanpa sengaja ia melihat mobil yang ia cari terparkir di sana. Bagai dikomando, tangannya yang berada di kemudi segera berbalik arah menuju kafe tersebut.


“Kafe Venus,” ucap Noah lirih saat membaca nama tempat yang sebentar lagi ia kunjungi. “Apa yang dilakukan Sea di sini ya?” tanyanya pada diri sendiri yang sedetik kemudian ia jawab dengan gelengan kepalanya.


“Pertanyaan bodoh, Noah!” gerutunya. “Apalagi yang dilakukan Sea di kafe selain makan dan minum,” imbuhnya.


Belum juga Noah mendorong atau menarik pintu untuk membukanya, salah satu pelayan kafe sudah lebih dulu melakukannya. “Selamat datang,” sapanya ramah.


Harusnya saat itu Noah membalas sapaan yang ditujukan padanya. Meski hanya dengan senyum atau mengucapkan terima kasih karena telah di sambut dengan ramah.

__ADS_1


Namun, yang terjadi adalah Noah yang seketika berdiri kaku, kedua tangannya mengepal, dengan tatapan tajam yang tertuju pada satu meja yang dihuni oleh seorang pria dan seorang wanita yang duduk berhadapan.


Itukan Sea dan pria itu?! Jadi, dugaanku memang benar, Sea dan pria itu memang memiliki hubungan, batin Noah.


“Selamat malam Tuan, selamat datang di Kafe Venus.” Karyawan tadi mengulang sapaannya dengan intonasi suara yang lebih tinggi.


“Eh … iya, terima kasih,” jawab Noah akhirnya.


“Apa Tuan sudah memesan tempat sebelumnya?” tanya karyawan bernama Anita. Sedangkan Noah hanya menggeleng sebagai jawabannya.


Apa yang sedang mereka tertawakan? Kehadiranku pun tak mereka sadari, batin Noah. Apa yang dilihatnya kini benar-benar sudah memantik api cemburu dalam diri Noah.


“Baiklah Tuan. Mari saya antar ke meja yang kosong,” ucap Anita lalu melangkah mendahului Noah.


Beruntungnya Noah, Anita mengarahkan dirinya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Sea. Setelah berterima kasih dan memesan hidangan yang ia tunjuk secara asal, akhirnya Anita pergi meninggalkan Noah.


Noah tak paham dengan dirinya, apa yang sebenarnya ia harapkan dengan melakukan hal ini. Diam-diam mengamati interaksi Sea bersama seorang pria, entah apa tujuan Noah melakukan hal ini.


“Harusnya aku tidak melakukan hal ini,” gumamnya. “Mengapa aku harus peduli?”


.......................


“Kamu pasti bohong. Mana mungkin pria narsis sepertimu dahulu adalah seorang murid yang culun,” ujar Sea diikuti tawa renyah gadis itu saat menanggapi cerita Alfio mengenai kisah masa sekolahnya dahulu.


Ya, pria itu adalah Alfio. Pria yang dilihat Noah sedang tertawa bersama istrinya adalah Alfio. Pria yang menjadi penyebab renggangnya kembali hubungan Sea dan Noah yang sempat membaik.


“Aku tak berbohong, Sea.” Alfio membentuk huruf V dengan dua jarinya. “Kamu yang tak pernah berpacaran sepertinya lebih beruntung dibanding diriku yang cintanya selalu ditolak oleh gadis yang kusuka.” Alih-alih mengundang rasa iba Sea, wajah menyedihkan Alfio malah semakin mengundang tawa gadis cantik itu.


Tanpa keduanya tahu, semakin lama canda tawa Sea dan Alfio maka semakin berkobar pula api cemburu di hati Noah. Dan puncaknya saat Alfio dengan penuh percaya diri naik ke atas panggung hingga mengundang riuh tepuk tangan dari para pengunjung kafe.


“Malam ini adalah salah satu malam spesial untukku,” ucap Alfio. Pandangannya selalu bermula dan berakhir di satu titik di mana Sea berada.


“Sebab malam ini aku akan menjadi pria paling br*ngs*k yang telah berani mencintai seorang wanita," ujar Alfio.


Sorak sorai dari para pengunjung terutama yang wanita terdengar memekikkan telinga. Karyawan Kafe Venus juga tak mau kalah, mereka bersorak memberi dukungan semangat untuk sang bos.


Meski curiga namun Sea mencoba untuk bersikap biasa saja, ia pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan bergabung bersama kerumunan rekan kerjanya. Namun, tatapan Alfio seakan melekat pada gadis itu, mengikuti kemanapun ia beranjak.


Satu fakta yang baru Sea ketahui, rupanya suara Alfio sungguh indah. Nyanyiannya sukses memukau orang-orang yang mendengarkan. Lirik lagu romantis yang dinyanyikannya, seperti mampu menyihir para wanita di sana. Apalagi ketika Alfio melangkah turun dari panggung. Tatapan semua orang mengikuti kemana kaki Alfio melangkah hingga berhenti di hadapan seorang gadis cantik.

__ADS_1


“Sea... maafkan aku.” Alfio menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


“Sea... aku-“ ucapan Alfio terjeda karena suara teriakan seorang pria.


“Seanna!”


Kedua manik mata Sea membola saat tahu jika pria yang meneriakkan namanya adalah Noah, suaminya.


“Ma-as Noah,” ucap Sea terbata-bata.


Tanpa berkata apa-apa, Noah menghampiri Sea lalu menarik salah satu tangan istrinya. “Ayo pulang!”


Perlakuan Noah pada Sea dinilai kasar oleh Alfio. Pria itu pun menghalangi langkah Noah dan Sea. “Stop! Jangan kira kau bisa membawanya seperti ini.” Tangan Alfio menahan satu tangan Sea.


“Lepaskan!” Perintah Noah namun diabaikan oleh Alfio.


Bugh.


Untuk kedua kalinya Alfio menerima pukulan dari Noah.


“Kuperingatkan kau! Jauhkan tanganmu dari istriku!” Setelah mengatakan itu, Noah kembali menggenggam tangan Sea lalu membawa gadisnya menjauh dari sana.


.....................


Tak ada perbincangan selama di perjalanan pulang ke kediaman keluarga Myles. Berbeda saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


“Mas, bisakah kita bicara?” pinta Sea.


“Apa yang perlu dibicarakan, huh?” tanya Noah. “Semuanya sudah jelas.”


“Kau bertingkah seperti seorang istri yang polos, rupanya ....”


“Istri? Apa sekarang Mas Noah sudah mau mengakui aku sebagai istri?” tanya Sea.


“Lalu bagaimana saat Mas Noah pergi keluar kota bersama dokter wanita itu? Apa saat itu Mas memikirkan perasaanku sebagai istrimu?” ungkap Sea dengan air mata yang mengalir.


Betapa terkejutnya Sea saat lengannya tiba-tiba ditarik dengan kasar oleh Noah. Tak hanya itu, pria itu juga menghempaskan tubuh Sea ke atas tempat tidur lalu mengungkungnya.


“Istri? Sedari tadi kamu terus menyebut dirimu istriku,” balas Noah. “Sekarang aku akan tunjukkan padamu, apa yang seharusnya seorang istri lakukan!”

__ADS_1


...-----------------...


__ADS_2