
Suatu malam, di sebuah rumah mewah dengan berbagai mobil sport keluaran terbaru yang berjejer rapi di garasinya. Seorang pria tampak sedang berusaha masuk dengan mengendap-ngendap. Sebisa mungkin pria itu menghindari kamera CCTV yang bisa saja merekam aksinya kala itu.
Melakukan hal ini bukanlah pekerjaan yang sulit bagi pria yang akrab disapa Roy. Seorang pria bertubuh kekar dan atletis, pria yang dengan mudahnya dapat menghilangkan nyawa seseorang bila telah menjadi targetnya.
Setelah masuk dengan memanjat tembok halaman belakang rumah, Roy menyelinap melalui salah satu kamar pembantu rumah tangga yang berada tak jauh dari sana. Semua pria itu lakukan dengan mudah, apalagi ini bukan kali pertamanya ia masuk ke dalam rumah tersebut.
Roy sudah sangat hafal dengan seluk beluk rumah itu. Beberapa bulan terakhir, Roy cukup sering datang berkunjung ke sana. Bukan kunjungan biasa, melainkan pria itu sudah bercinta dengan si empunya rumah di berbagai sudut rumah ini.
Mengingat itu Roy semakin geram. Ia kesal, mengapa dirinya begitu lalai hingga tak mengetahui gerakan kecil yang dilakukan kucing kesayangannya itu.
“Awas saja dia berani main-main denganku,” ucapnya menahan geram.
Setelah berhasil masuk dengan aman, dalam hati Roy tertawa. Wanita bodoh! Untuk apa menambah banyak pengamanan jika dapat kutembus dengan mudah, serunya dalam hati.
Dengan santainya Roy melangkahkan kakinya menuju lantai 2 rumah mewah tersebut. Sesekali ia akan bersembunyi di balik pilar atau di belakang pintu ruangan jika hendak berpapasan dengan penjaga yang lewat.
Roy merogoh sebuah alat yang menyerupai kunci kecil dari saku celana denimnya. Dengan mudah ia membuka pintu yang dikira oleh pemiliknya tak dapat dibuka oleh siapa pun.
Roy menghela napasnya. “Kuatkan hatimu, Roy! Jangan lemah pada wanita ini,” gumamnya.
Melihat sosok wanita yang beberapa bulan terakhir menjadi pemuas n*fsunya sedang berbaring dengan gaun malam yang sungguh menggoda iman. Roy hampir saja khilaf.
Sejak pertama kali berjumpa, pria itu sudah tergila-gila dengan wanita di hadapannya. Wajah cantiknya, tubuh sintal dan menggodanya, juga permainannya di atas ranjang, yang mampu membuat Roy sampai lalai dengan tugasnya.
Sabar-sabar, kita bekerja dulu baru bersenang-senang, ungkap Roy dalam hati seraya mengelus gundukan di bawah resleting celananya.
Dengan cekatan Roy melakukan keahliannya. Dalam keheningan malam, ia memasang beberapa kamera untuk merekam aksinya malam itu.
“Aku harus berhasil. Kasihan juga Si Bos, bakal membusuk di penjara jika aku gagal malam ini,” ucapnya seperti berbisik.
Setelah semua peralatan siap, Roy membuka baju kaosnya hingga otot-otot di lengan juga kotak-kotak di perutnya tampak jelas. Roy membiarkan saja celananya, hanya ikat pinggangnya yang telah ia lepaskan kaitannya tanpa menanggalkan dari tempatnya.
Bruukk.
Roy menarik dengan kuat selimut yang masih menutupi sebagian tubuh seksi wanitanya. Apa yang dilakukannya membuat wanita itu terperanjat dan segera terbangun dari tidur lelapnya.
“Ka-kau!” Bentaknya.
“Alesandra, sayangku, ssssttttt ….” Roy meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, meminta wanita itu untuk diam.
“Pergi kau! Jika tidak aku akan berteriak agar semua pengawalku datang kemari dan menghajarmu!” ucap Alesandra dengan nada tinggi.
Roy tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali kucing kecilnya ini, pikirnya.
“Alesandra sayang, padahal baru beberapa hari yang lalu kau menjerit saat merasakan kenikmatan di kamar ini. Apa kau lupa, sekeras apa pun teriakanmu, tak akan ada yang bisa mendengarmu, sayangku.” Roy kembali tertawa. Pria itu semakin tergelak.
Wajah Alesandra mendadak menjadi pucat pasi. Dengan bantal ia mencoba menutupi dadanya, sebab selimut miliknya sudah teronggok di lantai karena perbuatan Roy.
“Apa yang kau mau, hah?” teriak Alesandra.
Roy masih dengan tawanya. “Kau terlalu banyak bertanya,” jawab Roy.
Tanpa aba-aba, Roy meremat dada Alesandra dengan kuat membuat wanita itu memekik. Gerakan tangannya yang hendak menampar Roy, segera dihalau.
__ADS_1
Tangan Roy menggenggam erat pergelangan tangan Alesandra. Saking eratnya, wanita itu meringis menahan sakit. “A-apa maumu, hah?”
“Kerja sama,” jawab Roy singkat.
“Ke-kerja sama?” Kening Alesandra mengernyit.
“Semua bukti CCTV tentang keterlibatan dirimu dalam kecelakaan Bos Alfio dan Nona Sea ada padaku,” ucap Roy santai.
Pria itu turun dari tempat tidur, berjalan menuju sofa. Duduk melipat kaki lalu menepuk-nepuk pangkuannya.
Bukan tanpa alasan pria itu melakukannya, menurutnya tempat ini adalah tempat terbaik untuk merekam segala pembicaraannya bersama Alesandra. Aksinya malam ini akan terekam dengan jelas dari sudut itu, pikirnya.
Jika biasanya Alesandra akan menurut dan segera berlari ke pangkuan Roy, kali ini wanita itu bergeming di tempatnya dengan kening yang mengernyit. Roy merogoh sebuah diska lepas berukuran kecil dari saku celananya. “Semua bukti perbuatan jahatmu ada di sini.”
Melihat barang yang cukup penting bagi kelangsungan hidupnya, Alesandra segera berlari menghampiri Roy. Tanpa tahu malu ia merangkak naik duduk ke atas pangkuan Roy.
Tangannya terulur hendak meraih diska lepas itu dari genggaman Roy. Sayangnya usahanya gagal. Roy kembali tertawa terbahak-bahak sedangkan Alesandra memalingkan wajahnya.
“Bagaimana tawaranku, kucing kecil?” Dengan memegang dagu Aleandra, Roy membuat wanita itu menatap kembali padanya.
“Harusnya kau cukup pintar kucing kecil. Jika ini kuserahkan pada pihak kepolisian maka pernyataan orang suruhanmu mengenai bos Alfio akan diragukan,” ujar Roy.
“Kau harusnya berpikir sebelum bertindak. Menjebak bos Alfio itu tak ada apa-apanya. Yang kau lakukan hanya akan menahannya saja, bukan menghentikannya.”
Alesandra terlihat berpikir. Beberapa garis kerutan halus muncul di dahinya tanda ia sedang mencerna semua yang dikatakan Roy.
“Tapi … jika kau mau bekerja sama, ceritanya akan berbeda. Selama diska ini masih ada padaku, bos Alfio akan selalu lebih unggul darimu,” jelas Roy.
Dalam hati Alesandra murka. Ia merutuki kebodohannya yang sempat melupakan fakta bahwa bukti kejahatannya yang dulu masih berada di tangan Alfio.
Jika permintaan Roy merugikan, maka dia akan memikirkan cara untuk melenyapkan pria kekar ini, pikirnya.
“Mudah saja.” Roy mengusap lembut pipi Alesandra dengan buku-buku jarinya. Usapan yang begitu lembut perlahan turun menyentuh leher putih mulus dan jenjang miliknya.
Alesandra tak bisa menolak, sentuhan itu dengan cepat menjalar ke dalam dirinya. Membangkitkan gejolak hasrat yang ia pendam. Napasnya perlahan mulai memburu.
Melihat gelagat Alesandra, Roy pikir ini adalah waktu yang tepat. “Pria itu, benar kau yang sudah membayarnya untuk menyerang Nona Sea?”
Alesandra sontak berhenti menggeliat. Ia menatap Roy dengan kedua mata yang memicing.
“Apa urusannya denganmu?” Alesandra menatapnya curiga.
“Kita bekerja sama. Kita harus saling terbuka,” elak Roy.
Alesandra sempat bungkam untuk beberapa saat. “Ya, aku sudah muak pada wanita itu. Semua orang melindunginya.”
Roy melanjutkan usapannya pada lengan Alesandra. Wanita itu menutup kedua netranya seraya mendongak menikmati sentuhan Roy.
“Lihat, aku bisa kan mencelakainya,” ucap Alesandra disusul tawanya.
“Kalian tidak bisa terus-terusan melindunginya. Bosmu yang bodoh itu, lihat di mana dia berakhir sekarang?” tawanya semakin melengking, menggema di seluruh ruangan.
Roy menyeringai semakin lebar. Dapat! serunya dalam hati.
__ADS_1
“Kau sangat cerdik kucing kecil. Menjebak orang lain untuk menutupi keributan yang kau buat.” Roy menjawil puncak hidung Alesandra. Wanita itu tak menepis tangannya.
“Sekarang kalian tak akan bisa lagi meremehkan aku,” ucap Alesandra dengan pongahnya.
“Ya … ya … kucing kecil yang hebat. Sekarang lebih baik kau puaskan aku.” Roy kembali meremat dada Alesandra.
“Semakin aku puas, maka kau akan semakin cepat mendapatkan diska ini.”
Alesandra menyeringai. “Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik.”
“Malam ini kita akan merayakan awal kerja sama kita berdua,” ucapnya sebelum ia memulai aksinya.
...……………...
Keesokan harinya, Alesandra bangun cukup siang. Pertempurannya semalam bersama Roy berlangsung cukup lama. Pagi ini ia bangun dengan hati yang begitu riang ketika mendapati secarik kertas dengan diska lepas di atasnya.
Senyumnya mengembang ketika membaca tulisan tangan Roy. “Sampai bertemu lagi?” gumamnya.
”Hemm … akan kupertimbangkan,” serunya merespon apa yang ia baca.
“Masa bodoh dengan kerja sama,” gumam Alesandra.
“Aku akan memanfaatkan pria kekar itu saat kubutuhkan,” imbuhnya.
Alesandra beranjak dari tempat tidurnya. Menuju kamar mandi untuk berendam di bathtub. Tiga jam waktu yang ia punya untuk menyegarkan dirinya juga bersiap, sebelum ia harus berangkat ke Rumah Sakit Pelita Harapan untuk bekerja.
Seperti hari-hari kemarin, sebelum ke ruangannya Alesandra akan mampir sebentar ke ruang praktek Noah. Ia kembali kecewa sebab pria pujaannya itu belum juga kembali bekerja.
“Dasar wanita manja!” gerutunya. “Bisanya cuma bisa menyusahkan Noah saja,” imbuhnya.
Alesandra melihat keramaian di depan ruang prakteknya. Ia menghela napas panjang, berpikir jika hal itu terjadi sebab antrian panjang pasien menantinya.
“Permisi, dokter Alesandra.” Seruan dari seorang perawat wanita menghentikan langkahnya.
“Ada apa, Sus?” Alesandra menatap tajam pada sang perawat.
“Bisakah aku bersiap sebentar sebelum kita mulai praktek hari ini?” jawab Alesandra.
Sang perawat beranjak dari balik meja tempatnya melakukan registrasi pendaftaran pasien. Disusul empat orang pria dengan jaket kulit hitam yang mengikuti langkah sang perawat.
“Dok, pria-pria ini sejak tadi ingin menemui Anda,” bisik perawat itu pada Alesandra.
Alesandra memicing saat memperhatikan keempat pria yang berjalan mendekat padanya. Alesandra memasang wajah dinginnya, “Kalian ingin bertemu denganku?”
“Siapa kalian? Dan ada perlu apa?” tanya Alesandra dengan percaya diri.
“Kami dari pihak kepolisian. Kami kemari ingin meminta Anda, Nona Alesandra, untuk ikut bersama kami ke kantor polisi.”
”Anda ditangkap atas tuduhan keterlibatan Anda dalam kasus kecelakaan dan penyerangan terhadap Nyonya Seanna Filia,” jelas salah seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang aparat polisi.
“A-a-apa?!” Pekik Alesandra.
“Bu-bukan aku! Kalian salah orang!”
__ADS_1
“Tuduhan itu salah! Aku tak terlibat!”
...——————————...