
Seiring waktu berjalan, satu per satu yang sebelumnya berubah mulai kembali seperti sediakala.
Tessa dan Phila sudah kembali rutin berkuliah sejak sebulan yang lalu. Kini ketiga mahasiswi itu sedang menikmati libur setelah berhasil menyelesaikan satu semester lagi.
Hubungan yang sempat renggang antara Noah dan Owen pun kini mulai erat kembali. Persahabatan ketiga dokter yang menjadi idola di Rumah Sakit Pelita Harapan sudah seperti sediakala.
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu. Hari libur kali ini, digunakan Sea, Tessa, dan Phila untuk quality time bersama. Hal yang sudah jarang mereka lakukan semenjak Sea mulai berumah tangga.
Setelah mendapat izin dari suaminya, Sea juga kedua sahabatnya bergegas menuju ke salah satu Mall. Tak ada rasa lelah sama sekali yang dirasakan oleh ketiganya, meski telah berjalan berjam-jam mengitari Mall. Berpindah dari satu toko ke toko lainnya.
“Gue lapar,” keluh Sea.
“Lapar? Lagi?” Phila menggeleng tak percaya.
“Sea… lu baru aja habisin cemilan lu 5 menit yang lalu,” Phila menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan sekarang lu udah lapar lagi?”
Sea mengangguk dengan cepat. Tak ada yang salah menurutnya sebab dirinya memang benar-benar lapar. “Gue emang lapar. Pengen banget makan ramen,” ucap Sea.
“Ramen, ya? Ide bagus tuh, Se. Gue juga kok tiba-tiba jadi pengen,” celetuk Tessa.
“Akh, gue udah bayangin gimana lezatnya kuah ramen yang pedas dan panas,” imbuh Tessa yang disambut anggukan setuju oleh Sea.
Phila hanya menggeleng-geleng saja. Hari ini kedua sahabatnya itu sangat kompak jika menyangkut makanan.
Phila bisa apa jika dari jumlah suara saja ia telah kalah. Meski wanita itu tak begitu menyukai ramen, namun dengan langkah berat ia tetap mengikuti ke mana kedua sahabatnya berjalan dengan riang.
__ADS_1
Setelah membolak-balikkan buku menu, dengan raman Sea memesan beberapa varian ramen yang menggugah seleranya. “Aku pesan Shio Ramen, Shoyu Ramen, dan Miso Ramen ya, Mbak.”
Tak mau kalah dengan Sea, Tessa pun melakukan hal yang sama. Tak hanya satu, selebgram cantik itu juga turut memesan tiga varian menu ramen yang berbeda. “Aku pesan Tokyo Ramen dan Kurume Ramen,” ucap Tessa menambahkan pesanan makanan mereka siang ini.
Berbeda dengan kedua sahabatnya. Phila hanya memesan satu menu ramen saja. “Lu pada yakin bisa menghabiskan semuanya,” tanya Phila. Sea dan Tessa kompak menjawab dengan anggukan penuh semangat.
“Lagian kalian berdua aneh… tiba-tiba aja jadi doyan makan. Apa gak takut badan jadi melar ke samping?” Tanya Phila asal.
Benar juga yang dikatakan, Phila. Pikir Sea. Ia pun menunduk mengamati bentuk tubuhnya. “Apa gue terlihat gendutan?” Tanya Sea cemas.
Benaknya seketika mengingat bagimana banyaknya perawat wanita juga pasien wanita yang bertemu dengan suaminya setiap hari. Jika aku gendut, apa Mas Noah akan berpaling, ya?” Batin Sea gelisah.
...…………………...
Malam harinya, Sea berdiri di depan cermin meja riasnya. Setelah memoleskan rangkaian produk perawatan wajahnya, Sea teringat kembali pada komentar Phila yang mengatakan jika berat badannya terlihat bertambah.
“Sepertinya memang benar jika berat badanku bertambah,” gumam Sea lirih.
Saking asiknya mengamati perubahan bentuk tubuhnya, Sea tak menyadari jika sang suami turut mengamati segala gerak-geriknya. Noah menyunggingkan senyum penuh arti di bibirnya. Buku kedokteran yang sedang ia baca, telah ia letakkan di atas nakas. Perlahan ia menghampiri istrinya yang masih saja berpose di depan cermin.
Ia rangkul pinggangnya dari belakang. Noah bisa merasa jika istrinya itu terlonjak akibat perbuatannya. “Kamu terkejut?” tanya Noah.
Sea mengangguk. “Aku pikir kamu masih membaca bukumu,” jawab Sea.
“Bagaimana bisa aku fokus membaca buku, saat apa yang kamu lakukan di depan cermin ini lebih menarik perhatianku.” Noah menjawab jujur, yang dilakukan istrinya itu sungguh menarik perhatiannya.
__ADS_1
Tubuh Sea menggeliat saat Noah mulai mengecupi tengkuknya. Kecupan Noah mulai turun ke pundak Sea. Perlahan Noah menurunkan tali gaun tidur yang tersampir di pundak istrinya. Hingga gaun tidur yang baru dipakai Sea beberapa jam yang lalu sudah tergeletak di lantai.
Noah menghirup dalam aroma tubuh istrinya yang selalu membuatnya candu. “Hari ini kamu meninggalkanku sendiri sangat lama,” ucap Noah di sela-sela lenguhan Sea.
“Kepalaku rasanya akan pecah seandainya kamu pulang lebih lama,” lanjutnya.
Sea tergelak. “Aku bahkan tak pergi lebih dari 8 jam.”
“Tapi tetap saja aku merasa sangat merindukanmu.” Perlahan Noah menuntun tubuh polos istrinya untuk berbaring di ranjang. Hingga tubuh polos itu kini berada dalam kungkungannya.
Dua pasang netra saling menatap. Memancarkan cinta dan kerinduan yang begitu besar. “Aku mencintaimu, Mhiu sayang.”
“Aku pun begitu. Aku sangat mencintaimu, Phiu sayang,” balas Sea. Sebelum akhirnya Noah memulai perjalanan mereka menuju puncak nirwana.
...…………...
Sang fajar mulai menampakkan sinarnya. Pancaran sinarnya tak hanya menerangi tapi juga menghangatkan, membuat sepasang suami istri semakin lelap dalam tidurnya.
Dengan tubuh polos keduanya masih bergelung di bawah selimut tebal. Sea merasa sangat nyaman saat ia menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Detak jantung Noah bagai sebuah melodi yang sangat indah. Bukannya mengganggu, namun bunyi detak jantung itu semakin menenangkannya, membuat Sea semakin nyaman.
Sayangnya kenyamanan itu tak berlangsung lama. Noah tiba-tiba saja merasakan mual yang luar biasa. Perutnya tiba-tiba saja seperti diaduk-aduk. Dengan tergesa-gesa Noah segera bangun. Melepaskan pelukan pada tubuh istrinya dan berlari menuju kamar mandi tanpa peduli dengan tubuh polosnya.
”Sayang… ada apa?” tanya Sea dengan suara seraknya.
Noah tak menjawab. Pria itu terus melangkah ke kamar mandi seraya menutup mulutnya dengan satu tangan.
__ADS_1
“Sayang, kau tak apa?”
...---------...