
Pecah sudah tangisan pertama Noah untuk Sea, istrinya. “Maafkan aku… lagi-lagi aku telah bersalah padamu.” Tak henti-hentinya Noah mengecup punggung tangan Sea di sela-sela isak tangisnya yang menggema.
Dinginnya suhu ruangan pemulihan pasca operasi, tak mengusik Noah sama sekali. Hatinya lebih dingin dari pada apa pun saat ini.
Sulit sekali untuk mengikhlaskannya. Ya Tuhan, bantu aku, ampuni aku, aku mohon. Batin Noah terus berdoa, mengeluh pada tempat yang ia rasa paling tepat saat ini.
Para dokter dan perawat dibuat terpaku melihat sisi lain dari dokter tampan idola mereka. Kembali orang lain tertipu dengan adegan penuh haru Noah dan Sea. Tak tahu saja mereka, jika air mata yang berlinang di wajah tampan Noah adalah air mata penyesalan.
Aku iri! Dokter Noah tampak begitu menyayangi dan mencintai istrinya. Batin salah seorang perawat.
Bagai sebuah drama bergenre sedih yang sukses menguras air mata para penontonnya, perlahan tangan Noah yang bergetar menyentuh bagian perut istrinya. Tubuh tegap nan gagah itu tampak membeku dengan kepala menunduk.
“Ampuni aku, Ya Tuhan.” Gumam Noah dengan punggung yang bergetar.
Pria itu menangis! Semua tahu alasannya mengapa. Kehilangan yang paling menyesakkan di sepanjang sejarah hidup Noah. “Kau telah tiada, bahkan sebelum aku tahu keberadaanmu, anakku…” ungkapnya.
“Ayah macam apa aku ini!” Gerutunya menyalahkan diri sendiri.
Sandy yang baru tiba di ruangan itu melihat Owen yang bersandar di sudut ruangan dengan kepala menunduk. Dokter dan perawat juga berkumpul di sana, namun hanya bisa diam di tempat mereka.
Sandy segera mendekat pada Noah. Ditepuknya pundak sahabatnya, “Tuhan lebih menyayanginya, bro. Ikhlaskan!”
Noah mengangguk dengan isak tangis yang semakin keras. Tak ada rasa malu meski bisa saja ia akan dianggap sebagai pria cengeng.
Rasanya sulit sekali. Berkata ikhlas, sementara hatiku sedikit pun merasa tak rela, batin Noah.
Melihat kesedihan sahabatnya, Sandy sungguh merasa iba. Meski Noah tak pernah mengatakannya, sudah sejak lama Sandy bisa menebak di mana posisi Sea dalam hati sahabatnya itu.
“Jaga dia! Jangan sampai lu kehilangan dia juga!” Sandy turut membelai surai hitam legam milik Sea.
Sea, wanita malang itu akan kembali merasakan sakitnya kehilangan.
....................................
Orang lain yang ikut menjadi korban dalam kecelakaan yang berakibat pada Sea yang harus kehilangan kesempatannya menjadi seorang ibu adalah Alfio. Alfio yang pada saat itu bertindak sebagai pengemudi mobil, cukup beruntung. Pasalnya mobil yang menabrak mereka datang dari arah kiri. Itulah sebabnya, Sea lah yang menderita luka cukup parah.
Kondisi Alfio sudah lebih baik, sehari setelah kejadian naas yang menimpanya. Orang pertama yang dihubunginya adalah Roy. Orang kepercayaannya itu segera datang setelah tuannya memanggil.
“Aku ingin kau cari tahu siapa dalang di balik kecelakaanku!” Perintah Alfio yang segera diangguki oleh Roy.
__ADS_1
“Apa bos mencurigai seseorang?” tanya Roy.
Jika bisa mendapatkan informasi yang memudahkan pekerjaannya, bukankah itu lebih baik, pikir Roy.
Tatapan tajam Alfio mampu membuat bulu kuduk yang melihatnya menjadi meremang. Tatapannya bagai seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Salah satu tangannya yang tidak terpasang infus, dengan cekatan segera mengutak atik gawainya. “Dia! Selidiki wanita itu!” Titahnya.
Roy mengamati dengan lekat foto wanita yang selanjutnya akan menjadi targetnya. “Seorang dokter?” gumamnya.
“Ya, kau benar,” sahut Alfio. “Kau bisa memulai menyelidiki saat ini juga, di tempat ini.” Seringai terbit di wajah tampan Alfio yang berhiaskan warna biru keunguan di sekitar dahinya.
Roy mengangguk. Pria yang tetap tampan meski dengan aura kelam itu, sudah beranjak dari tempatnya duduk. “Jika sudah kutemukan kebenarannya, apa yang harus kulakukan pada wanita itu?” Roy bertanya seraya membenarkan posisi jaket kulit warna hitam yang membalut tubuh kekarnya.
“Laporkan dulu padaku,” jawab Alfio. “Akan kuputuskan nanti, hukuman apa yang pantas bagi orang yang telah berani menyakiti wanitaku!”
Roy tampak menahan senyumnya. Beruntung sebab pria yang ia panggil bos tak melihatnya melakukan hal itu. Apa dia lupa, jika dulu dia sangat ingin melenyapkan nyawa wanita itu. Sekarang, dia seperti bias memakan hidup-hidup orang yang telah menyakiti wanita itu, batin Roy sungguh puas menertawakan Alfio.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan bosnya sendiri, Roy menghentikan gerakan tangannya yang hendak menarik pegangan pintu. “Kudengar wanita yang bersama Anda saat kecelakaan sudah sadar,” ujar Roy.
Nyeri di sekitar punggung bagian kanan tubuh Alfio lenyap seketika saat mendengar berita dari Roy. Bersyukur, lega, khawatir, dan merasa bersalah, semua perasaan itu kini campur aduk.
“Brengs*k! Mengapa baru mengatakannya sekarang?!” gerutunya. “Kau pasti sengaja kan?”
Langkah Alfio terhenti tepat di hadapan Roy. “Antarkan aku menemui Sea!” Alfio lalu berjalan lebih dulu melewati pintu ruang perawatannya.
Roy terperangah. “Harusnya dia memikirkan kondisinya. Cinta benar-benar luar biasa,” gumamnya.
Merasa tak ada pergerakan dari Roy, Alfio menoleh kebelakang. “Kenapa kau diam? Ayo dorong tiang insfusnya!”
Terdengar decakan dari bibir Roy, sebelum pria bertubuh kekar itu mengikuti perintah bosnya.
...………...........................
“Mau apa, kau?” meski tak ramah, namun Noah tetap menjaga intonasi suaranya. Seandainya mereka sedang tak berada di rumah sakit, sudah pasti Noah akan membuat perhitungan dengan pria di hadapannya.
“Minggir! Saya ingin menemui Sea,” jawab Alfio.
Noah berkacak pinggang. “Pergilah! Jangan harap kau bisa menemui istriku lagi,” peringat Noah.
“Dari awal, aku tak pernah menyukai kau yang selalu mendekati istriku,” ucap Noah jujur. “Lihat! Kau hanya membawa celaka untuknya.”
__ADS_1
Alfio tergelak hingga mengundang perhatian beberapa orang yang berlalu lalang di depan salah satu ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Pelita Harapan.
“Aku… membawa celaka untuk Sea?” Alfio mengulang ucapan Noah sebagai pertanyaan. “Kau seorang dokter tapi bodoh!” Cibirnya.
“Pikirkan… antara aku dan kau, siapa yang paling menyakiti Sea?” tanya Alfio.
“Kau pikir musibah ini semuanya berawal dari mana, huh?” Meski belum benar-benar pulih, Alfio tak takut jika saat ini ia harus menantang Noah.
“Andai kau sebagai suami sedikit saja peduli pada istrimu, tak mungkin wanita yang mengandung benihmu memeriksakan kehamilannya ke dokter bersama pria lain!” ujar Alfio dengan lantang.
Tak terima dengan apa yang dituduhkan Alfio, sontak Noah mencengkeram kerah baju pasien pria itu. “Kau jangan pernah sok tahu dengan urusan rumah tanggaku!”
Roy yang hendak membantu bosnya, segera dicegah oleh Alfio. Belum sempat Alfio membalas, nama Noah menggema di sekitar mereka. “Noah!”
“Ayah… Mami….” Cengkeraman tangan Noah mulai mengendur. Kesempatan itu digunakan Alfio untuk menepis tangan Noah.
“Jaga sikap kalian! Ingat, ini rumah sakit,” peringat Ayah Peter. “Kalian berdua tak ada bedanya. Kalian sibuk saling menyalahkan dan melupakan jika di dalam sana Sea sedang berjuang melawan sakit!” imbuhnya.
Alfio terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang perawatannya diikuti oleh Roy yang setia mendorong tiang infusnya.
Sementara Noah, meminta kedua orang tuanya menunggu di dalam ruang perawatan Sea. Dirinya masih harus menemui pihak keamanan rumah sakit untuk tak membiarkan Alfio mendekati ruangan istrinya.
Begitu kembali ke ruang perawatan Sea, pria itu disambut oleh tatapan penuh tanya oleh kedua orang tuanya.
“Katakan Noah, apa benar jika Sea hamil?” tanya Mami Joanna.
Noah mengangguk dan terduduk lemas di atas sebuah kursi yang berada tepat di samping hospital bed. Noah mengangguk lemah disertai tarikan napas yang begitu panjang dan berat.
“Syukurlah. Terima kasih, Ya Tuhan…” seru kedua orang tuanya.
“Tapi… anak kami… janin yang dikandung Sea… “ pria itu kembali menitikkan air matanya. Kedua orang tuanya masih sabar menunggu.
“Sayangnya, Tuhan lebih menyayangi anak kami,” ungkapnya.
“Apa? Tidaaaaaaakkkkk!” Jeritan itu tak lagi bisa dicegah. Meronta-ronta tubuhnya saat Noah berusaha memeluknya.
“Anakku? Mana anakku, Mas?”
“Jawab!” Pekiknya
__ADS_1
...-------------------...