
Dari tempatnya kini duduk, Sea bisa membayangkan jika suatu saat nanti apa yang menjadi pandangannya kini akan kembali terulang. Suatu saat nanti, dirinya akan menjadi wanita terbahagia ketika berperan menjadi penonton Noah dan anak-anak mereka yang sedang berlarian. Suatu saat nanti, tawa renyah Noah dan anak-anak mereka saat bermain juga akan menjadi penghibur hari-harinya.
Seperti saat ini, Sea sedang duduk di atas sebuah bangku kayu yang berada di tepi lapangan. Sesekali tawanya juga akan terdengar, kala melihat tingkah lucu suaminya dan salah seorang anak-anak kurang beruntung di depan sana.
Bertempat di sebuah panti asuhan yang lokasinya cukup jauh dari kota, di sinilah sepasang suami istri itu menghabiskan hari libur terakhir mereka.
“Hari ini, Phiu akan menemani Mhiu sayang ke mana pun,” seru Noah sesaat sebelum mobilnya mulai ia lajukan. Hari ini tujuan Noah hanya satu, ke mana pun tempat yang akan menghibur hati istrinya, Mhiu kesayangannya.
“Terima kasih,” jawab Sea singkat. Rindu pada kedua mendiang orang tuanya teramat besar. Hal itu yang membuat Sea tak dapat menyembunyikan wajah murungnya.
“Tak apa, Phiu Sayang.” Sea tahu suaminya itu sedang berusaha menyenangkan hatinya. “Besok kamu sudah mulai bekerja kembali, pulang dan beristirahat di rumah juga ide yang bagus,” imbuh Sea.
“No…! Mhiu sayang, kita harus memanfaatkan hari libur yang ada dengan baik,” tolak Noah.
“Banyak hal yang bisa kita lakukan, kita bisa ke Mall dan kamu bisa berbelanja apa pun,” usul Noah.
“Atau, Mhiu-ku sayang yang cantik ini mau ke salon kecantikan, melakukan perawatan seluruh tubuh. Aku bersedia menunggu,” lanjutnya. Sedangkan Sea kini berusaha menahan tawanya.
“Yang pasti jangan pulang ke rumah, Mhiu sayang.” Putus Noah.
“Mengapa?” tanya Sea penasaran.
“Karena sudah pasti aku akan mengurungmu di kamar seharian ini. Kita akan mencoba banyak gaya, Mhiu sayang. Hem… bisa saja besok kamu akan kesulitan berjalan,” ungkapnya.
“Bagaimana, kamu mau?” Pertanyaan Noah ini mengundang gelak tawa dirinya. Lucu sekali saat melihat istrinya menggeleng dengan wajah horor yang menggemaskan.
Sungguh polos, batin Noah.
“Mas!” Pekik Sea yang mendapat pelototan dari suaminya.
“Eh, maksudku… Phiu, kamu jangan aneh-aneh, deh!” Dengan tangan lembutnya, Sea mencubiti pinggang suaminya karena gemas.
“Kok aku serem ya, Phiu…” ucap Sea dengan wajah polosnya. “Gaya seperti apa lagi yang belum, hah?” Bayangan berbagai macam gaya yang sudah keduanya praktekkan pun sontak terlintas di benak Sea, wajahnya sampai merona dibuatnya.
“Hayo, lagi mikirin apa? Kok ini bisa memerah gini, sih. Kan jadinya pengen cium,” ucap Noah dan dengan lincahnya. Kedua tangannya menangkup wajah mungil istrinya. Mengecup rona merah muda di kedua pipi Sea.
“Ish, Phiu!” Sea cemberut, suaminya kini selalu saja pandai memanfaatkan situasi.
Bukannya berhenti, Noah malah menarik dan menahan tengkuk istrinya. Mendaratkan kecupan di bibir Sea yang berlapis lip tint rasa buah berry.
Karena candu, hasrat menggebu yang selalu timbul saat berdekatan dengan istri cantiknya membuat Noah terus memperdalam ciuman keduanya. Tak peduli jika kini mereka masih berada dalam mobil di parkiran sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU).
__ADS_1
Cukup lama bibir keduanya saling menyatu. Lidah yang bertaut, saling beradu ingin menjadi pemenang. Berlomba-lomba menyampaikan rasa cinta lewat ciuman yang membara. Napas yang tersengal-sengal saat kedua bibir yang menyatu akhirnya terpisah.
Sea dan Noah saling pandang, sebelum tawa keduanya pecah di dalam mobil. “Kamu yah, Phiu!” Celetuk Sea.
Sea berusaha menampilkan wajah menyeramkannya, seraya tangannya membenarkan kembali posisi br* dan kancing bajunya yang berantakan akibat perbuatan suaminya.
”Ayo… jalan! Aku sudah memiliki tempat berikutnya yang akan menjadi tujuan kita hari ini,” ucap Sea.
“Baguslah, ke mana?” tanya Noah penasaran.
“Ada deh!” Senyum Sea terukir di kedua sudut bibirnya. “Yang pasti bukan pulang ke rumah,” imbuh Sea dengan wajah horornya yang menggemaskan di mata Noah.
Mobil pun mulai melaju membelah kembali jalanan kota itu. Sudah bukan rahasia, jika hari semakin siang maka jalanan pun akan semakin dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang. Meski begitu, Noah dengan sabar mengikuti arahan istrinya. Hingga saat istrinya mengatakan berhenti, mobilnya pun ia tepikan di depan sebuah swalayan besar.
“Kamu ingin berbelanja?” tanya Noah dan segera dijawab anggukan oleh Sea.
“Kita bisa ke Mall, Mhiu sayang. Lebih banyak pilihan… bagaimana?” tawar Noah.
Sea menggeleng. “Tak perlu, Phiu. Apa yang ingin kubeli semuanya ada di sini,” jawab Sea.
Mengikuti titah sang istri, Noah mendorong troli belanjaan mengikuti arahan Sea. Keningnya sempat mengernyit saat istrinya membeli begitu banyak bahan makanan, susu, hingga cemilan untuk anak-anak.
Alat tulis, sepatu, hingga tas sekolah rupanya masuk juga dalam daftar barang yang dibeli Sea. Sempat Noah bertanya mengapa membeli barang-barang itu, “Kamu akan tahu jawabannya di tempat tujuan kita berikutnya, Phiu sayang,” jawab Sea.
“Apa pun untukmu, Mhiu sayang.” Begitulah jawaban Noah saat istrinya meminta izin membeli sesuatu.
...………...
Tanda tanya di benak Noah terjawab sudah. Setelah berbelanja banyak barang hingga bagasi mobilnya penuh sesak dengan kantongan belanja, Sea mengarahkan suaminya menuju sebuah panti asuhan di pinggiran kota.
“Kak Seanna….” Seru anak-anak kecil saat melihat sosok cantik istri Noah berdiri merentanhkan tangah di depan pintu.
Anak-anak itu tampak senang sekali. Mereka semua kompak berlari, berhambur menghampiri Sea. Memeluk dengan erat sosok wanita cantik yang kehadirannya sudah cukup lama mereka nantikan.
Noah sampai harus mundur beberapa langkah dari sisi Sea. Meski begitu, senyuman tetap menghiasi wajah tampan Noah. Kekaguman jelas sekali terlihat dari sorot matanya saat menatap sang istri. Kamu memang wanita yang tepat untukku, batinnya.
“Seanna memang begitu disayangi oleh adik-adiknya di sini, kuharap kau tak keberatan berjauhan sebentar darinya.” Seorang wanita menginterupsi lamunan Noah.
Wanita paruh baya itu sudah sejak tadi memerhatikan kehadiran sosok pria yang datang bersama Sea. “Dia gadis yang sangat baik dan penyayang.” Ungkapnya setelah melihat respon Noah yang mengangguk.
Kini pandangan Noah sepenuhnya telah berpaling menatap wanita paruh baya yang menyebut istrinya gadis.
__ADS_1
“Perkenalkan, aku Umma Aisyah. Aku adalah Umma dari anak-anak yang sudah menculik Seanna,” kata Umma Aisyah seraya tertawa menatap anak-anak telah membawa Sea ke dalam ruang belajar mereka.
Noah menyambut dengan ramah perkenalan Umma Aisyah. “Saya Noah Myles, suami Sea.” Ada kebanggaan saat Noah mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan wanita paruh baya bernama Aisyah tersebut.
Terlihat raut wajah terkejut dari Umma Aisyah. “Syukurlah… Umma ikut berbahagia dengan kebahagiaan kalian.” Ungkapnya.
“Terima kasih, Umma.”
Sea sedang membacakan buku cerita dengan anak-anak yang duduk mengelilinginya. Raut wajahnya terus berubah-ubah mengikuti alur cerita yang ia bacakan. Anak-anak pun ikut terhanyut dibuatnya.
Sementara di sudut lain ruangan itu, Noah menunggu istrinya dengan tenang. Rupanya selain anak-anak, pria itu juga tak kalah terpukaunya saat menatap Sea. Hingga siapa saja bisa melihat bagaimana tatapan memuji Noah terhadap istrinya.
Dari ambang pintu, Umma Aisyah tersenyum saat memerhatikan Noah. “Syukurlah, jika Sea sudah menemukan pria yang benar-benar mencintainya,” gumamnya.
...……….....
Noah melihat kilatan semangat yang terpancar dari sorot mata istrinya, saat menceritakan awal mula dirinya mengenal panti asuhan milik Umma Aisyah. “Kamu sangat menyukai anak kecil, ya?”
“Tentu saja aku suka,” jawab Sea dengan mata yang berbinar. “Apakah ada yang tidak menyukai anak-anak? Mereka sungguh menggemaskan. Polos, asli, tidak palsu.”
Noah tergelak dengan pemilihan kata yang digunakan istrinya. “Kamu ini… memangnya ada anak-anak yang dipalsukan?” Sea merespon hanya dengan mengedikkan bahunya saja.
“Phiu, bolehkan aku berkunjung lagi ke sana?” Pinta Sea.
“Tidak,” jawab Noah singkat. “Tidak boleh jika kamu pergi sendiri. Kita harus ke sana bersama,” lanjut Noah.
“Tentu saja. Aku semakin senang jika kamu pun juga menyukai tempat itu.” Sea bergelayut manja di lengan suaminya. Bahagia sekali rasanya jika sesuatu yang kamu lakukan mendapat dukungan dari orang yang kamu cintai, begitu juga yang dirasakan Sea.
Hari mulai gelap saat perjalanan pulang ke kediaman keluarga Myles baru ditempuh setengahnya oleh Noah dan Sea. Berbeda dengan saat pergi, perjalanan kali ini jauh lebih hening. Noah membiarkan Sea beristirahat dengan bersandar di lengannya.
Masih dalam keheningan, tiba-tiba saja Sea teringat sesuatu. “Phiu, kapan kamu mulai bekerja lagi?”
“Besok,” jawab Noah. “Kamu tak apa kan aku tinggal bekerja?”
Sea menggeleng meski kepalanya masih tetap bersandar di lengan suaminya. “Aku tak masalah. Pekerjaanmu itu sangat penting. Aku yakin sudah banyak pasien yang menanti kehadiranmu,” ujar Sea.
Tak berniat sombong, namun Noah membenarkan ucapan istrinya. Sudah berkali-kali ia dihubungi oleh perawat saat ada pasien yang mencarinya.
“Besok aku juga akan mulai kuliah lagi,” celetuk Sea.
“Apa? Kuliah lagi? Maaf Mhiu, tapi aku tak mengizinkanmu!” Dengan tegas Noah menolak untuk memberi izin.
__ADS_1
...————————...