
“Keluar atau gue teriak nih!” Pekik Tessa pada Alfio.
Alfio berdiri dengan tenang di hadapannya, ia bersandar pada pintu. Saat tangan pria itu hendak mengaitkan kunci pada pintu, di saat yang sama alarm tanda bahaya aktif di benak Tessa.
“Lu gila, ya?! Mau apa lu?” Refleks tangan Tessa mengarahkan hanger baju yang terbuat dari kayu ke arah Alfio.
“Awas lu, ya… jangan berani deket-deket gue!” Tessa sedang berusaha membela dirinya.
“Tess… tenang dulu, kumohon.” Tanpa sadar Alfio telah memohon sesuatu pada Tessa.
“Gue gak bakal se-nekat ini, andai saja lu mau bertemu saat gue minta. Gue gak ada niat untuk jahatin lu,” jelasnya.
“Bertemu? Untuk apa? Memangnya apa yang begitu penting hingga kita harus bertemu?” Tessa berpura-pura tak mengerti dengan maksud Alfio.
Hal itu ia lakukan bukan karena Alfio atau perjanjian yang telah keduanya sepakati sebelumnya. Melainkan karena Alfio bukanlah pria yang diinginkan oleh hatinya. Apalagi Tessa tahu jika hati Alfio sudah tertaut pada sahabatnya, Sea.
“Mengenai kejadian malam itu, hemm….” Alfio mengantungkan lama ucapannya.
“Malam itu? Malam yang mana?” celetuk Tessa.
Fitting room yang cukup luas dengan 3 cermin besar di setiap sisinya membuat Tessa mudah mengawasi gerak gerik Alfio. Tessa bertingkah seolah sedang mengabaikan pria itu.
Tessa meneruskan kegiatannya, ia kini mencoba gaun berwarna hitam dengan model satu tali di pundaknya. Ia melakukan semuanya dengan santai, seolah tak ada Alfio di ruangan itu.
Bagai seorang model ia berpose di depan cermin. Kedua tangannya bertolak di pinggang. Ia berputar ke kiri dan ke kanan hingga belahan bagian bawah gaunnya ikut tersibak karena gerakannya. Paha putih mulusnya dengan mudah bisa terlihat oleh Alfio.
Pria itu menelan salivanya berkali-kali. Si*l! Apa dia sengaja?! Gerutu Alfio dalam hati.
“Malam saat lu dan gue bercinta dengan liar,” jawab Alfio tanpa memelankan suaranya. Masa bodoh jika ada orang lain di luar ruangan ini yang mendengarnya, pikir Alfio.
“Bercinta? Lu salah! Malam itu kita sama-sama dalam pengaruh alkohol.”
”Semua yang terjadi bukan karena keinginan kita,” ucap Tessa berkilah.
Alfio pikir dirinya benar-benar sudah gila. Jika perbincangan ini terjadi berbulan-bulan lalu, maka tentu ia akan sangat menyetujuinya. Tapi mengapa saat ini ia sangat ingin menyangkal ucapan Tessa.
“Terserah lu bilang apa!” Berkilah menjadi pilihan terbaik Alfio.
Sejak tadi Tessa tak pernah berbalik menatap Alfio langsung. Wanita itu berdiri menghadap cermin hingga keduanya berpandangan melalui pantulan cermin.
“Gue nemuin lu bukan untuk berdebat,” ungkapnya. “Gue ingin membuktikan sesuatu!”
Tessa berdecak. Sebelum berbalik badan menghadap Alfio, terdengar ia mendengus kesal.
”Lu mau buktiin ap-“ Tessa tak dapat menyelesaikan ucapannya. Alfio lagi-lagi bergerak lincah membungkam bibir Tessa dengan bibirnya.
Lega… itu yang dirasakan Alfio pertama kali. Akhirnya aku menemukan rasa ini, ungkapnya dalam hati.
__ADS_1
Kekuatan Tessa tak ada apa-apanya untuk menolak semua perlakuan seenaknya dari Alfio. Pria itu semakin membuatnya tak berdaya setelah ia menggigit bibir bawah Tessa dan berhasil menguasai wanita itu dengan ciuman memabukkan miliknya.
Kini tubuh Tessa sudah terhimpit ke cermin. Semua rasa yang timbul dalam diri Alfio adalah rasa yang ia cari selama berbulan-bulan.
Akan sulit untuk menghentikan ini, batin Alfio.
Satu tangannya semakin erat memeluk pinggang ramping Tessa. Sedang yang satu lagi turun, membelai paha putih mulus Tessa melalui belahan gaunnya. Alfio merasa jika Tessa mulai menikmati ciuman mereka. Tessa membalas setiap pagutan Alfio dengan lembut.
Sepertinya baru sesaat Tessa mulai menikmati pergulatan bibir keduanya. Baru sebentar ia kembali dibuat nyaman oleh pagutan bibir, dari pria yang beberapa bulan lalu membawanya ke puncak nirwana. Tiba-tiba saja ada yang terasa tak nyaman di perut Tessa.
Apa karena aku belum sarapan? Batin Tessa.
Perut Tessa terasa seperti diaduk-aduk. Wanita itu masih berusaha menahannya. Semakin lama, semakin ia tahan, sesuatu dalam perutnya semakin bergejolak.
Aku ingin muntah! teriaknya dalam hati.
Tak bisa bertahan lebih lama lagi, sekuat tenaga Tessa mendorong tubuh Alfio menjauh darinya. Pria itu mundur beberapa langkah.
“Hei!” Alfio memekik.
Tessa tak memberikan jawaban. Dengan satu tangan yang menutup mulutnya, ia berjalan keluar dari fitting room dengan langkah dipercepat.
“Tessa! Mau ke mana lu?” Teriak Alfio. Wanita itu tak menoleh dan terus berjalan cepat entah ke mana.
“Si*l!” Maki Alfio. Sebelum keluar dari fitting room guna menyusul Tessa, pria itu meraih tas juga pakaian yang ditinggalkan wanita itu.
“Tessa! Tessa!” Teriak Alfio
Alfio mengikuti ke mana arah Tessa pergi. Sayangnya langkahnya terhenti saat seorang staf butik berdiri di hadapannya dan menghalangi jalannya. “Maaf Tuan, apa Anda bersama dengan Nona Tessa?” tanyanya.
“Hemm, ada apa?” Alfio tak menjawab dengan ramah
Pengganggu, pikirnya.
Staf butik mengangguk. “Bisakah Anda menyelesaikan pembayaran gaun yang dikenakan oleh Nona Tessa?”
Kening Alfio mengernyit sebelum ia akhirnya mengerti. “Tentu, saya akan membayarnya.”
Alfio menghela napas perlahan lalu mengikuti staf tadi menuju kasir. Meski begitu pandangannya terus mengamati ke mana arah wanita itu pergi.
Lihat saja! Aku akan menemukanmu, batin Alfio.
...……………....
Sementara di rumah sakit, Sea yang baru saja tiba disambut ramah oleh perawat yang bertugas bersama Noah.
“Dokter Noah berpesan agar Anda menunggunya di ruangan saja. Beliau sedang berkeliling, memeriksa beberapa pasiennya.” Jelas si perawat dengan sopan.
__ADS_1
Sea mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan suaminya. Sea berkali-kali menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi kegelisahannya.
Awalnya ia masih bisa duduk tenang di sofa menanti Noah kembali. Namun setelah sepuluh menit menanti, Noah tak kunjung kembali.
Mulai tak sabar, akhirnya Sea beranjak dari duduknya. Berdiri menghadap jendela, mengamati keadaan taman yang ramai.
Mengapa jarum jam bergerak begitu lambat? rutuk Sea dalam hatinya. Tiap detiknya terasa begitu menyiksa.
Mendengar bunyi derit pintu, Sea segera berbalik dan mendapati suaminya baru saja masuk. Senyuman manis Sea menyambut Noah. Segera ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan sang suami.
Cup.
Noah mengecup puncak kepala Sea, “Kamu siap?”
Sea pun menganggukkan kepalanya yang sedang bersandar di dada bidang Noah.
“Tak perlu menjadikannya beban. Tuhan tahu apa yang terbaik dan kapan waktu yang tepat untuk kita memiliki buah hati lagi,” ucap Noah.
Sea mengangguk lagi, “Semoga sekaranglah saatnya, aku sungguh menantikan kehadirannya.”
“Aku pun begitu.” Noah tersenyum menatap Sea yang menengadahkan kepalanya. Kedua netra sepasang suami istri itu bertemu sebelum akhirnya bibir mereka saling bertaut.
“Ayo, kita periksakan sekarang.”
...…………………...
Di ruangan dokter Frisha… dokter spesialis obgyn Rumah Sakit Pelita Harapan, sepasang pasangan suami istri terlihat tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Mereka tak lain adalah Sea dan Noah.
“Jangan tegang… santai saja.” Dokter Frisha mengelus lembut lengan Sea.
Sea sudah berbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter Frisha melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan perawat. Pertama-tama ia mengoleskan gel di perut Sea. Setelah itu, Dokter Frisha meletakkan transduser di atas perut Sea. Perlahan ia menggerakkan alat tersebut beberapa saat guna mendapatkan visualisasi yang terbaik.
Sea yang tak paham dengan apa yang ditampilkan pada monitor berlayar hitam putih di hadapannya, hanya bisa menatap ke arah Dokter Frisha dan suaminya secara bergantian. Sea berusaha menebak hasilnya melalui ekspresi yang ditampilkan suami dan Dokter Frisha.
Dokter Frisha menatap ke arah Noah, dan dibalas senyuman oleh rekannya itu. “Selamat ya, Sea… saat ini kamu sedang mengandung,” ungkapnya.
Kedua Netra Noah berbinar saat menatap istrinya. Satu tangannya terulur mengelus lembut puncak kepala Sea. Ia bisa merasa genggaman tangan Sea semakin erat.
Sea masih tetap bungkam. Dalam dadanya kini sedang bergemuruh, semua perasaan campur aduk di dalam sana. “Be-benarkah?”
Dokter Frisha mengangguk seraya tersenyum, “Benar , selamat ya….”
Kedua netranya kini telah digenangi oleh air mata. Sea beralih menatap suaminya, “Ma-as… a-aku….”
Noah mengangguk, Noah tahu jika saat ini Sea pasti sangat bahagia. Segera ia melanjutkan ucapan istrinya yang terbata-bata.
“Iya Mhiu sayang. Kamu hamil, kita akan memiliki bayi lagi,” ungkap Noah sebelum membawa Sea ke dalam dekapannya.
__ADS_1
...—————————...