
“Surpriseeeee….” Sea memekik dengan senyum yang tampak sangat bahagia.
Benar jika dirinya ingin memberikan kejutan pada kedua sahabatnya dengan berita kehamilannya. Namun alat tes kehamilan dengan dua garis merah, tak pernah ada dalam rencananya.
Saat Phila muncul dengan membawa testpack, Sea pikir kedua sahabatnya sedang bersandiwara. Bisa saja kan, mereka sudah tahu berita ini dari Mas Noah dan berbalik ingin memberiku kejutan? Pikirnya.
Namun saat melihat kegugupan di wajah Tessa, ia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja Sea ikut mencecar sahabatnya itu dengan pertanyaan, seperti yang dilakukan Phila. Tapi Sea yakin, Tessa punya alasan mengapa menyimpan hal itu seorang diri.
“Surprise?” Alis Phila sampai berkerut, ia semakin tak paham apa yang terjadi sebenarnya.
“Ya, surprise. Aku tadinya ingin memberi kejutan pada kalian.” Sea menyengir.
“Maksud lu? Ni testpack punya lu?” selidik Phila.
Sea segera beranjak dari posisi duduknya. Dengan cekatan ia meraih alat tes kehamilan itu dari tangan Phila dan memasukkan ke dalam tasnya.
“Hemm… punya gue!” Celetuk Sea.
“Kalian berdua gak ada yang mau ngucapin selamat ke gue nih?” Imbuhnya dengan wajah yang sengaja dibuat cemberut.
“Jadi lu hamil lagi, Sea?” tanya Phila dan dijawab anggukan oleh Sea.
“Wah… selamat, Sea!” gantian kini Phila yang memekik, kemudian berhambur memeluk sahabatnya.
“Gila! Bener-bener punya Mas Dokter hebat, ya….” Kekaguman tampak di wajah Phila.
Sejujurnya gadis itu bukannya curiga pada hal lain. Melainkan ia dibuat takjub dengan berita kehamilan Sea. Begitulah Phila, yang selalu berpikir sederhana.
Padahal baru beberapa bulan yang lalu, sahabatnya itu mengalami keguguran. Syukurnya, Tuhan kembali mempercayakannya untuk mengandung. Begitu pikirnya.
“Sea, lu dan Mas Dokter bisa aja buat klub sepak bola,” celetuk Phila asal.
“Nyetak, hamil, lahiran, dapat lagi deh satu anggota baru,” imbuhnya seraya terkekeh. Phila menertawakan apa yang terlintas di benaknya.
“Nyetak?” Sejak kapan gue dan Mas Noah buka usaha percetakan? Mana yang dicetak anak lagi,” balas Sea dengan tawa. Karena ucapan asal Phila, suasana canggung yang sempat tercipta akhirnya sirna.
Sedangkan di atas tempat tidur, Tessa masih saja bergeming. Syukurlah ia selamat dari interogasi Phila, begitu pikirnya.
Namun, bagaimana dengan Sea. Bagaimana jika Sea memberitahu pada suaminya? Jika Owen tahu, harapannya untuk bisa mendapatkan cinta dokter itu akan benar-benar sirna.
Semua kekhawatirannya tersebut berujung pada satu pertanyaan. Apakah aku harus bertahan dengan kehamilan ini? Pertanyaan yang bergejolak dalam lubuk hati Tessa.
...………...
Lamunan Tessa buyar saat ia merasakan tubuhnya berguncang. Rupanya Sea dan Phila ikut bergabung dengannya duduk di atas ranjang.
“Bengong aja, lu! Kesambet… baru tau rasa,” celetuk Phila.
“Hah? Ehm, gi-gimana? Tadi lu nanya apa?” Tessa tampak gugup. Tingkahnya ini seolah membenarkan dugaan Sea dalam benaknya.
“Tau, nih! Lu mikirin apa?” tanya Sea. Wanita itu masih punya harapan besar pada sahabatnya, agar mau jujur pada dirinya juga Phila.
“Gak ada. Gue gak mikirin apa-apa,” jawabnya segera.
“Selamat ya, Sea.” Ucapnya terdengar ragu. “Kalian memang pantas untuk mendapatkannya.” Imbuhnya.
Berbeda dengan Phila yang menyambut berita kehamilan Sea dengan riang, Tessa tampak menitikkan air matanya. Phila sampai ikut berkaca-kaca. Gadis itu dibuat terharu dengan pemandangan di depan matanya. Tessa… sahabatnya, sampai menitikkan air mata karena ikut merasakan kebahagiaan Sea.
__ADS_1
Tessa lantas memeluk Sea. Cukup lama keduanya berpelukan. “Selamat, Sea…Semoga lu dan Mas Dokter selalu bahagia,” ungkapnya.
“Hemm… gue akan semakin bahagia seandainya lu dan Phila juga nemuin kebahagiaan kalian. Seperti gue yang dipertemukan dengan Mas Noah.”
“Siapa pun pria itu, lu gak akan pernah tahu dialah orang yang tepat atau bukan sebelum lu coba jalaninnya,” ucap Sea.
Sea melerai pelukannya, kemudian ia genggam erat kedua tangan Tessa. “Tapi jika lu tetap ragu, ingatlah ada gue dan Phila yang akan selalu ngedukung lu.”
Di bibir Tessa kini tersimpul senyum, dia tahu jika kedua sahabatnya akan selalu menjadi penolong dan pendukung setianya. Namun untuk berkata jujur pada keduanya, Tessa belum siap.
Hari itu, ketiganya menghabiskan waktu bersama. Terasa sangat menyenangkan, seperti tak ada beban yang mereka pikul saat itu.
Mengobrol, tertawa, menikmati banyak macam makanan, maraton drama Korea, membeli barang-barang couple secara online, telah ketiganya lakukan. Ketiga sahabat itu bisa saja lupa waktu, seandainya Noah tak menjemput istrinya.
Kebersamaan mereka hari itu akhirnya harus berakhir. Saat berpamitan, dengan sembunyi-sembunyi Sea mengembalikan testpack milik Tessa yang sebelumnya ia simpan di dalam tasnya.
“Nih gue balikin,” ucapnya. Sea meletakkan alat tes kehamilan tersebut di telapak tangan Tessa.
“Jika kamu ingin bercerita, kapanpun akan kudengarkan.”
Sea menjeda sebentar ucapannya. Ia tatap kedua netra Tessa. Ia ingin melihat kejujuran di sana.
“Tess, kamu tahu kan benda ini harus kamu bawa ke mana? Kamu tahu kan siapa orang yang harus mengetahui hal ini?”
“Jangan menanggungnya sendiri. Dia harus bertanggung jawab!”
“Pemilik benda ini berhak menerima pertanggung jawaban dari pria itu. “Lu paham kan maksud gue?” Sea berusaha meyakinkan sahabatnya untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Sea memeluk Tessa sekali lagi sebelum masuk ke dalam mobil suaminya. Berat sekali rasanya meninggalkan Tessa dengan kondisi seperti saat ini. Namun sebagai seorang istri, Sea paham jika dirinya juga memiliki kewajiban yang harus ia penuhi terhadap suaminya.
...……………...
”Aku sudah tak sabar ingin melihat perutmu membuncit.” Tangan Noah tak henti mengelus perut rata istriya.
“Hemm….” Sea yang sedang menikmati potongan buah apel yang segar, hanya bisa berdeham untuk membalas ucapan suaminya.
“Aku sudah tak sabar menanti gerakan-gerakan anak kita di dalam perutmu,” sambungnya.
“Hemm….” Balas Sea lagi, hanya dengan dehamannya saja.
“Aku sudah tak sabar-“
“Hemm….” Belum selesai ucapan Noah, Sea sudah menyela dengan dehemannya.
Kening pria itu mengernyit. Segera Noah bangun dan duduk berhadapan dengan istrinya.
“Mhiu, bagaimana harimu?” Ia genggam kedua tangan istrinya lalu dikecupnya dengan lembut punggung tangan itu.
Kecupan itu membawa kembali Sea dari lamunannya. “Ehm… ka-kamu nanya apa?”
Noah menghela napasnya kemudian ia mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas. “Kepala sekecil ini, mikirin apa sih?”
Sea meringis, “Aaauhh… Phiu, hentikan. Sakit!” keluhnya dengan bibir yang mengerucut.
Noah tergelak, istrinya tampak makin menggemaskan. Hal itu membuatnya tak kuasa untuk tak mengecupi pipi yang sebentar lagi akan semakin chubby dalam bayangannya.
“Phiu, apa besok pagi kamu masih akan mual-mual?” tanya Sea.
__ADS_1
Noah mengangguk. “Mungkin, ibu hamil biasa mengalaminya di semester pertama kehamilan. Di tiga bulan pertama,” jawab Noah.
Raut wajah Sea berubah sendu. “Kasihan sekali kamu, Phiu.” Helaan napas beratnya terdengar.
“Hei… tak apa. Awalnya aku memang merasa pusing dan mual ini sungguh menyiksa,” aku Noah.
“Namun saat tahu jika semua itu karena kehamilanmu, aku bahagia. Aku akan menikmati masa-masa ngidam ini,” ungkapnya.
Noah membawa Sea ke dalam dekapannya. “Kamu ada-ada aja! Pusing dan mual itu mana bisa dinikmati,” ucap Sea seraya menepuk lembut dada bidang suaminya.
Sengaja atau tidak, yang pasti tepukan lembut itu berhasil mengirim sinyal ke sesuatu di bawah sana. Membuat adik besar Noah ikut bangun.
“Kamu benar, Mhiu sayang. Pusing dan mual mana bisa dinikmati.” Noah mulai melancarkan serangan balasannya.
“Tapi ada sesuatu yang bisa dilakukan agar mengurangi pusing dan mualku besok,” lanjutnya dengan wajah memelas.
“Apa itu?” tanya Sea.
Noah menyengir, “Menikmati kamu….” Ungkapnya sebelum membawa Sea dalam gendongannya.
Noah tak pedulikan lagi pekikan istrinya yang timbul karena terkejut. Ia baringkan dengan perlahan istrinya di ranjang. Noah mengecupi hampir seluruh wajah istrinya. Cukup lama bermain di bibir yang telah menjadi candunya dan berakhir dengan memberi jejak-jejak kemerahan di ceruk leher istirnya.
“Ma-mas, tunggu sebentar!” Pekik Sea dengan napas memburu saat Noah hendak memulai penyatuan keduanya.
“Aku belum mengunci pintunya,” ucap Sea.
Noah menghentikan aksinya dan menoleh ke arah pintu. Segera ia turun dari atas tubuh istrinya dan berlari untuk mengunci pintu kamarnya.
Setelah kembali mengungkung istrinya, sekali lagi Sea memekik. “ Ma-mas… sebentar!” Noah harus menunda sebentar penyatuannya untuk kedua kalinya.
“Apa lagi, sayang?”
“Pelan-pelan ya, Mas….” Peringatnya.
Noah tersenyum lalu mengangguk. Untung saja istrinya mengingatkannya, pikir Noah.
“Aku mulai sekarang, ya?” tanyanya. Jangan sampai adik besarnya gagal masuk untuk yang ketiga kalinya.
Sea mengangguk. “Iya Mas. Mulailah….”
“Tapi… jangan lama ya, Mas.” Pinta Sea.
Meski tak yakin bisa memenuhi permintaan istrinya, Noah mengangguk saja agar adik besar bisa memulai aksinya.
“Dan-“ Sea menggantungkan ucapannya.
“Dan?” tanya Noah. Cobaan apalagi ini, batinnya.
“Setelah selesai… pergilah belikan aku kue cucur,” pinta Sea.
“Tiba-tiba saja aku sangat ingin makan kue itu. Mungkin ini salah satu ngidamku,” imbuhnya.
Noah sampai melongo mendengar permintaan istrinya. Kue cucur di malam hari, ke mana dia akan mencarinya, pikirnya.
Noah Menghela napas panjang kemudian mengangguk lemah. Ia melirik ke adik besarnya yang berdiri kokoh. Bisa apa lagi selain menyetujui permintaan istrinya.
“Baiklah, ayo kita selesaikan ini dulu. Dan kamu bisa lebih cepat mendapatkan kue cucurmu,” ucap Noah.
__ADS_1
...——————————...