Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 42. Dua pria yang patah hati


__ADS_3

“Sea!” Terdengar suara seorang pria menyerukan nama Seanna.


Seanna dan dua pria yang berjalan bersamanya, menoleh secara bersamaan ke asal suara. Terlihat dari kejauhan seorang pria berjalan cepat atau tak salah jika dikatakan pria itu berlari menghampiri ketiganya.


“Non Sea…” sapanya dengan napas yang tersengal-sengal. Punggungnya membungkuk dengan tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.


“Mereka siapa, Non?” Jelas sekali jika pria itu sangat memaksakan dirinya. Bukannya mengatur napas lebih dulu, pria itu malah susah payah bertanya pada Sea.


“Abang… atur napas dulu Bang!” Sea refleks membuka botol minumnya dan menyodorkan pada pria itu karena khawatir pada kondisi pria itu yang seperti akan kehabisan napas.


“Nih! Minum dulu, Bang,” ucapnya.


Pria itu mengangguk dan menjulurkan tangannya hendak meraih botol minum berwarna pelangi milik Sea. Namun sayang, dua tangan pria lain di sisi Sea masih lebih cepat darinya.


“Jangan!” Pekik kedua pria itu bersamaan.


Sea dibuat melongo, ada apa ini? batinnya.


“Kamu gak boleh sembarangan memberi botol minummu pada orang lain! Apa lagi pada orang tak dikenal,” Cegah Owen. Tatapan matanya tertuju pada sosok pria yang ingin ditolong Sea.


“Ta-pi di-“ ucapan terbata-bata Sea disela oleh pria itu.


“Orang lain?” merasa tak terima disangka orang lain untuk Non Seanna pujaan hatinya selama bertahun-tahun, sontak saja seluruh kekuatannya seperti kembali pulih.


“Jangan sok tahu dong! Kenalin, saya ini Fatih. Fatih Nur Rohman.” Ungkapnya penuh percaya diri.


“Putra dari Bapak Haji Nur Rohman, pedagang hasil laut terbesar di pulau ini sejak tahun 1970,” imbuhnya. Alisnya naik turun saat mengenalkan siapa ayahnya.


Sea menghela napas panjang. Sudah ia duga, mantra andalan Fatih akan terucap. Fatih selalu saja seperti itu jika ada yang bertanya siapa dirinya.


“Dan saya bukan orang lain, saya ini abangnya Non Seanna,” jelas Fatih tanpa diminta.


Noah dan Owen kini berbalik menatap Sea. Tatapan keduanya seolah meminta validasi pada wanita kesayangan mereka atas kebenaran pernyataan pria aneh di hadapan mereka. Sedangkan Sea hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


“Yee… gak percaya,” celetuk Fatih. “Kalau Non Sea udah nerima saya, status abang itu akan berubah jadi ayang.” Senyum mengembang dengan sempurna di wajah pria bernama Fatih.


“Apa?” Tanpa peringatan Noah melepas genggaman tangannya pada botol minum Sea, lalu beralih merangkul pinggang istrinya secara posesif.


“Jangan asal ngomong, Anda!” Peringat Noah.


Jika Sea sudah terbiasa dengan ocehan Fatih dan menganggap hal itu sebagai bahan candaan, berbeda dengan suaminya yang terpancing emosi.


Enak saja menyebut ‘ayang’ pada istri orang! Gerutunya dalam hati.


“Sea ini istri saya dan saya adalah suami Sea! Jadi jangan asal ngomong ya, Anda!” Tanpa diminta, Noah menjelaskan siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Sea.


Melihat ada ketegangan di wajah suaminya, Sea akhirnya bertindak. “Astaga… kok jadi tegang gini sih!”


“Abang Fatih, kenalin ini Mas Noah. Suami aku,” ucapnya. “Dan yang ini, Kak Owen. Sahabat kami,” imbuhnya.


Fatih benar-benar terkejut. Mulutnya sontak ternganga setelah mendengar pengakuan langsung dari Sea.


Berita mengenai Sea yang telah dipersunting oleh pria di kota, memang sempat terdengar olehnya. Namun tak ingin patah hati terlalu cepat, Fatih memutuskan untuk tak percaya pada berita yang beredar dan menganggap jika semuanya hanya gosip.


“Mas, ini Abang Fatih. Beliau ini sudah kuanggap seperti abang aku,” ungkap Sea. “Bang Fatih memang hobi bercanda, tapi dia baik banget sama aku. Suka nolongin juga dari dulu.”


Rasa percaya diri Fatih jika suatu saat cintanya akan bersambut seketika menciut. Dirinya bisa melihat, tatapan wanita muda yang selalu ia puja sangat berbeda ketika menatap pada pria yang merangkul mesra pinggangnya.

__ADS_1


“Hem,” jawab Noah. Senyumnya terlihat ia paksakan.


“Ayo jalan lagi,” ajak Noah kemudian.


Sea mengangguk. “Bang Fatih, kita bertiga lanjut jalan lagi, ya. “


Sea mengambil alih botol air minumnya dari tangan Owen. Menutup rapat botol itu lalu memberikannya pada Fatih. “Minum dulu, Bang. Abang pasti capek tadi setelah lari-lari kemari,” ucapnya.


“Kami duluan ya, Bang.” Sea masih sempat melambai pada Fatih, sebelum dirinya dan kedua pria di sampingnya berjarak cukup jauh dari Fatih.


Sementara Fatih, putra semata wayang Bapak Nur Rohman menatap nanar kepergian wanita yang ia cintai sejak bertahun-tahun lamanya. Wanita yang membuatnya rela disebut bujang lapuk berkualitas tinggi oleh seluruh warga pulau.


“Akhirnya cintaku benar-benar kandas,” ucapnya seraya memeluk botol air minum pemberian Sea. Kedua netranya mulai berkaca-kaca.


“Sepertinya aku benar-benar harus mulai menghapus perasaan ini untuk Sea,” gumam Fatih.


“Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus ikut pergi melaut, kali aja aku bertemu dengan putri duyung.”


Sepanjang berjalan kembali ke motor roda tiga miliknya yang terparkir cukup jauh, Fatih tak berhenti bermonolog mengenai hal apa saja yang mungkin bisa ia lakukan untuk melupakan Sea.


Cinta Fatih mungkin begitu besar pada Sea, hingga ia rela menjadi bujang lapuk demi menanti cintanya pada wanita itu berbalas. Meski begitu, Fatih pantang untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseorang.


“Meskipun aku bujang lapuk, tapi aku bukan sembarang bujang lapuk!” Celotehnya dari atas motor roda tiganya yang suaranya sangat bising.


“Tak masalah cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku bujang lapuk berkualitas tinggi, jadi akan banyak wanita mengantri,” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Beberapa detik kemudian, tangisan yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. “Pak Haji Nur Rohman… anakmu patah hati,” adu Fatih di sela-sela tangisannya.


...…………………....


Meninggalkan Fatih yang sedang patah hati, Sea, Noah, dan Owen memutuskan untuk mampir sejenak ke pantai sebelum kembali ke rumah. Sama seperti yang selalu Sea lakukan setiap harinya.


Sejuknya angin yang berembus dan hangatnya matahari pagi, terasa bagai sebuah hadiah. Hal yang tak bisa mereka temukan di kota.


Sea mengamati wajah suaminya yang tampak berbeda. “Mas, kenapa cemberut? Capek, ya?” tanya Sea yang penasaran saat melihat air muka suaminya berubah menjadi datar.


Noah tak menjawab. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi memijat kaki istrinya yang putih mulus tanpa noda. Setelahnya, Noah beranjak dan berjalan semakin mendekat ke pinggiran pantai.


Kening Sea mengernyit. “Kak Owen, apa aku melakukan kesalahan” tanya Sea.


Owen mengedikkan bahunya. “Kenapa tak bertanya langsung padanya?”


Sebenarnya di lubuk hatinya, ia juga kesal saat melihat kedekatan Sea dengan pria asing tadi. Namun, otak warasnya masih bekerja dengan baik, dirinya tak ada hak untuk marah pada Sea.


“Sudah,” jawab Sea. “Tapi lihatlah sahabatmu itu, Kak. Bukannya menjawab, malah menjauh!” Ucap Sea sebal.


Owen tak bisa menahan senyumnya, saat melihat wajah Sea yang mencebik. Menggemaskan sekali wanita ini, batin Owen.


“Susul aja, tanyakan lagi padanya.” Saran Owen. “Pria yang sedang kasmaran, biasanya dua kali lebih labil dari biasanya.”


Sea bungkam, apa maksud Owen mengatakan jika suaminya sedang kasmaran.


“Aku sudah tahu semuanya, Sea.” Owen seperti bisa menebak isi kepala Sea.


“Tak masalah jika hanya gagal sekali. Coba lagi saja, kamu tak pernah tahu, dipercobaan keberapa kamu akan berhasil.”


“Sana… temui Noah! Tanyakan padanya langsung. Aku akan pergi membeli minuman untuk kita bertiga,” kata Owen.

__ADS_1


Sea lantas berlari menyusul suaminya. Sepatunya telah ia buka, Sea menyukai sensasi yang timbul saat kakinya menyentuh pasir putih, terasa hangat. Ide untuk menjahili suaminya kini sudah memenuhi otaknya.


“Mas Noah!” Sea menepuk punggung suaminya dengan tujuan mengejutkan pria itu.


“Ck,” Noah membalas dengan berdecak. Pikirannya dipenuhi banyak hal. Salah satunya bagaimana cara dirinya bisa secepatnya mengajak Sea kembali ke kota.


Noah merasa was-was jika Sea lebih lama tinggal di pulau itu. Bisa saja pria yang tadi mereka temui adalah satu dari banyak pria lain yang juga menaruh hati pada istrinya.


Merasa Noah mengacuhkannya, Sea semakin yakin untuk menjahili pria itu. Tanpa alas kaki, Sea berjalan semakin mendekat ke arah pantai. Hingga kakinya sesekali tersapu oleh ombak, bahkan ia sempat limbung dibuatnya.


“Sea, kembali ke mari!” Noah memperingatkan wanita cantik itu agar tak berjalan semakin jauh. Dari tempatnya berdiri saja, ia bisa melihat jika gulungan ombak pagi itu cukup besar.


Belum lama Noah memperingati istrinya, pekikan wanita itu terdengar. “Aaauuuhhh… kakiku!”


Sontak Noah berlari ke arah istrinya yang kini sedang berdiri dengan satu kaki. Noah melihat wanita itu meringis sambil memegangi satu kakinya yang lain.


“Hei… Hei… ada apa?” tanyanya. “Yang mana yang sakit.”


Saking paniknya, Noah tak peduli lagi pada celananya yang menjadi basah sebab ia kini berdiri dengan lututnya di hadapan istrinya.


Perlahan ia membawa kaki Sea agar bertumpu di pahanya. “Mana yang sakit?” Tanyanya lagi.


Sea tertegun, tak menyangka jika Noah akan sekhawatir ini. Wanita itu bahkan tak menyadari jika kini Noah sedang menengadah, menatap padanya.


“Sea…” panggilnya sekali lagi.


“Ya, Mas…” jawab Sea.


“Yang mana yang sakit?” Tanya Noah menuntut.


“Ma-maaf Mas. Aku cuma bercanda,” jawab Sea. Wanita itu menjadi tak enak hati pada suaminya.


Sea segera kembali berdiri seperti biasa. Sementara Noah menatapnya dengan tatapan tak percaya. Noah pun ikut berdiri berkacak pinggang di depan istrinya.


“Jadi, kamu hanya menjahili aku?” tanya Noah memastikan.


Sea mengangguk ragu lalu menunduk karena merasa bersalah. Noah semakin dibuat gemas pada istrinya. Segera ia rengkuh pinggang istrinya dari belakang lalu mendekap erat tubuh Sea dalam pelukannya.


Tawa Sea menggema di penjuru pantai yang sunyi, saat Noah melancarkan aksi balasan dengan menggelitiki tubuh istrinya. Tanpa keduanya sadari, kini tak ada lagi jarak di antara keduanya.


Sea berbalik, memutar tubuhnya hingga kini keduanya saling berhadapan. Kedua netra sepasang suami istri itu saling menatap. Sama-sama merasakan ada cinta yang terpancar dari sana.


Noah menelan salivanya sebelum ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Tujuannya sudah terkunci pada bibir merah muda istrinya yang begitu menggoda.


Pertemuan dua bibir itu akhirnya terjadi. Cukup lama bibir keduanya hanya saling bersentuhan. Hingga Noah melihat Sea memejamkan kedua netranya. Barulah pria itu berani bertindak lebih.


Berawal dari sebuah kecupan, kini Sea dan Noah telah melebur dalam ciuman yang semakin dalam dan menuntut. Keduanya saling menyelami perasaan masing-masing. Hingga tautan bibir itu terlepas, dan berakhir dengan senyuman puas Sea dan Noah.


“Terima kasih. Aku mencintaimu,” ucap Noah lalu kembali mendekap Sea erat.


Sea mengangguk tanpa membalas ungkapan cinta Noah. Wanita itu lebih memilih untuk membenamkan wajahnya yang merah merona di dada bidang suaminya.


Sementara Sea dan Noah sedang berbagi kehangatan, tanpa keduanya sadari dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat kemesraan pasangan itu.


Owen, pria yang menenteng tiga botol air mineral di tangannya memilih untuk pulang lebih dulu. Dengan senyum getir, pria itu berjalan menjauh.


“Waktunya untuk menyerah,” ucapnya disertai helaan napas yang berat.

__ADS_1


Pagi itu, di saat langit sedang cerah-cerahnya, ada dua hati yang sedang kelabu. Dua orang pria telah menyatakan dirinya patah hati.


...—————-...


__ADS_2