
“Assalamualaikum….”
Mendengar salam yang diserukan oleh putranya, Mami Joanna bergegas menyambut kedatangan dua orang yang paling ia rindukan saat ini. Apalagi saat mendapat kabar jika Sea dan Noah akan kembali hari ini, Mami Joanna sudah menyiapkan banyak hidangan lezat kesukaan putra dan menantunya itu.
“Sayang…” Mami Joanna merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut putra dan menantunya dengan sebuah pelukan hangat.
Melihat sambutan sang Ibu, Noah pun tak ingin kalah. Dengan tangan kanan yang terus menggenggam tangan kiri istrinya, satu tangannya yang lain juga ikut ia rentangkan, menyambut pelukan hangat Ibunda.
Hap….
Noah tercengang dan sedetik kemudian hanya bisa menggeleng tak percaya. Rupanya ia telah salah sangka, sambutan hangat sang Ibu ditujukan bukan padanya, melainkan pada istrinya.
“Sea… bagaimana keadaan kamu, Nak?” Sea bisa melihat raut wajah khawatir ibu mertuanya.
“Keadaanku sudah jauh lebih baik, Mi.” Senyuman terbaik telah ia berikan, berharap agar Mami Joanna tak risau lagi.
“Semua ini juga karena Mas Noah,” imbuhnya seraya tersenyum pada sang suami.
Mami Joanna ikut tersenyum, “Syukurlah, Mami bisa tenang sekarang.”
Tatapan Mami Joanna teralihkan pada tangan putranya yang masih menggenggam erat tangan Sea. “Ya udah lepasin aja genggaman tangannya. Yang lagi nyebrang di jalan juga gak segitunya,” celetuk Mami Joanna.
Tak peduli pada tatapan tak setuju dari Putranya, Mami Joanna kini mengapit lengan kiri Sea. Menuntun menantu kesayangannya menuju meja makan. “Ayo, kita makan dulu!” Ajaknya.
“Mami udah masakin semua makanan kesukaan kamu,” ucapnya bangga.
Kedua netra Sea berkaca-kaca menahan gejolak air mata yang hendak tumpah. Ya, wanita itu terharu. Betapa ia kini merasa sangat dicintai. Rasanya hidupnya sedikit lagi hampir terasa sempurna, andai saja calon bayinya juga masih ada bersamanya.
“Hei, kamu melamun lagi!” tegur Noah.
Sea hanya tersenyum kecut dan mendaratkan dirinya di salah satu kursi yang selalu ia duduki dahulu.
“Ada apa lagi, hum?” Tanya Noah seraya membelai lembut surai istrinya. Tak peduli pada dua penonton di hadapannya.
Sejak pertama kali bertemu Sea bertahun-tahun silam, pria itu juga sering mendapati istrinya melamun. Sebenarnya, sebanyak apa pikiran yang ada dalam kepalanya yang kecil itu? Aku khawatir hal itu akan berdampak buruk baginya, batin Noah.
“Kamu lupa janjimu untuk selalu jujur padaku!” Kata Noah.
Wajah Noah tertekuk, melihat itu Sea hanya menggeleng. “Aku hanya sedang membayangkan, mungkin keluarga kita akan semakin lengkap andai saja aku tidak kehilangan anakku.” Jawab Sea jujur dan apa adanya.
“Ish… anak kita!” Sanggah Noah tak terima.
“Sabar… nanti kita buat baru yang banyak, ya.” Goda Noah.
Uhuukk…
Ayah Peter dan Mami Joanna yang setia jadi penonton sampai tersedak saat mendengar ucapan nakal putra semata wayangnya.
“Ish… kan jadi malu, Mas!” Kata Sea. Wanita itu menunduk malu, menyembunyikan rona merah muda di pipinya.
Bagaimana bisa aku melupakan kehadiran Ayah dan Mami, gerutu Sea dalam hati.
“Tak perlu malu, semua pasangan suami istri pasti menginginkan keturunan, bukan? Jadi, Ayah pikir ucapan Noah ada benarnya.” Komentar Ayah mendukung argumen putranya.
“Jika ingin segera punya momongan, ya… harus sering-sering buatnya,” ucap Ayah Peter tanpa filter.
Kini Sea yang dibuat tersedak. Saat ia menoleh pada suaminya, dilihatnya ekspresi wajah Noah yang membuatnya menelan salivanya. Dokter tampan itu terlihat mengangguk-angguk tanda ia setuju disertai senyum yang selebar senyum model iklan pasta gigi.
__ADS_1
“Mami senang melihat kalian berdua akur seperti ini,” celetuk Mami.
Syukurlah Mami mengalihkan pembicaraan, pikir Sea.
“Teruslah seperti ini, jangan pernah lagi menjadikan pernikahan sebagai mainan. Sebisa mungkin jika ada masalah dalam rumah tangga kalian, bicarakanlah dulu baik-baik,” nasihat Mami Joanna.
Ibu Mertua Sea tampak mengusap air mata yang bertumpuk di sudut matanya. “Untung saja kemarin Mami setuju mengikuti rencana kamu ya, Sea.” Tanpa sadar Mami Joanna membocorkan rahasianya dengan sang menantu.
Kini bergantian Noah yang menoleh menatap istrinya penuh tanya. “Rencana kamu yang mana?”
“Memangnya apa yang telah kalian rencanakan?” tanya Noah menatap istrinya.
...….....
“Mas Noah, ampun….”
“Geli ini, Mas….”
“Astaga, Mas… berhenti, akh!”
Tawa Sea terdengar di sela-sela ocehannya. Setelah makan siang, Noah segera memboyong istrinya masuk ke dalam kamar dengan dalih jika Sea kelelahan dan butuh istirahat.
Berbeda dengan yang ia katakan, sesampainya di kamar Noah segera mencecar istrinya dengan pertanyaan yang sama. Karena belum berhasil mendapat jawaban, kini pria itu terus menggelitiki pinggang ramping dan perut rata istrinya.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, begitu yang terlintas di pikiran nakal Noah saat ini. Tubuh istrinya kini menjadi candu untuknya. Apalagi saat ini, Sea masih berada dalam kungkungannya di atas ranjang.
Sesekali Noah akan mencuri-curi mengecup puncak dada istrinya, mengantarkan semacam aliran listrik yang menyengat tubuh Sea. “Mas, kamu nakal banget, sih!” Oceh Sea.
“Biarin aja,” jawab Noah tak acuh. “Suami nakal pada istrinya tak akan jadi masalah, malah akan jadi pahala.”
Sea berdecak. Jika membahas mengenai pahala di atas ranjang, ujung-ujungnya Noah pasti akan memintanya untuk berkeringat bersama.
“Sama, aku pun juga lelah,” kata Noah setuju.
“Kita memang harus beristirahat. Tapi sebelumnya jelaskan dulu padaku apa rencana yang dimaksud oleh Mami,” pinta Noah.
Sea menggeleng. Suaminya ini begitu gigih, pikir Sea.
“Aku tak akan mengulanginya, karena aku malu. Jadi Mas dengarkan baik-baik, ya!”
“Sebenarnya rencana untuk pulang ke rumahku itu sudah pernah kubicarakan bersama Mami,” aku Sea.
“Melihat Mas Noah yang begitu terpukul karena kehilangan Aneesa. Aku sempat berpikir, mungkin saja jika aku juga pergi maka Mas Noah akan bisa merasa kehilangan.” Jelas Sea.
“Tapi saat itu, Mami Joannna mati-matian tak menyetujui usulanku,” ungkapnya.
“Tak pernah kusangka, jika takdir benar-benar memaksaku harus melakukan hal itu. Dan… inilah hasilnya.” Sea mengedikkan bahunya saat mengakhiri ucapannya.
Noah berguling ke samping. Yang tadinya ia di posisi menindih istrinya, kini pria itu berbaring di samping Sea. Membiarkan Sea menjadikan salah satu lengannya sebagai bantal.
Ia kecupi puncak kepala istrinya, hal yang tak akan pernah bosan Noah lakukan. “Mulai detik ini, aku mohon kamu hapus rencana-rencana ajaib yang mengisi kepalamu yang kecil ini,” kata Noah.
“Jangan lagi berpikir untuk pergi meninggalkanku,” peringat Noah.
“Meski aku akan tetap menemukanmu dan membawamu kembali, aku tetap berharap hal itu tak akan pernah terjadi lagi.”
Sea mengangguk setuju. Kepalanya telah bersandar di dada bidang suaminya, tempat yang dahulu selalu menjadi bahan khayalannya. Rasanya sangat menenangkan, degupan jantung suaminya seperti melodi di kotak musik yang membuatnya merasa sangat nyaman dan akhirnya mengantuk.
__ADS_1
“Hoaaammm….”
“Aku mengantuk, Mas.” Aku Sea.
“Tidurlah, aku akan per-“ ucapan Noah disela oleh Noah.
“Tapi aku ingin tidur seperti ini, Mas. Sangat menenangkan,” pintanya manja.
Noah mengalah. “Oke… oke… tidurlah. Aku tak akan ke mana-mana.”
Sea benar-benar tidur dengan sangat nyenyak dalam dekapan sang suami. Jika bukan karena sebentar lagi memasuki waktu Shalat Maghrib, rasanya Noah tak tega membangunkan istri cantiknya itu.
“Sea… Sea… ayo bangun! Sebentar lagi waktunya Shalat Maghrib,” ucap Noah.
Tak butuh waktu lama untuk membangunkan istrinya. Noah sudah menemukan cara ampuh untuk mengusik tidur istrinya. Cukup dengan mengecup seluruh wajah istrinya dan akhiri dengan bermain di bibir andai saja ia belum juga terbangun.
“Apa? Yang benar, Mas?” Tanya Sea tak percaya dan Noah hanya menaik turunkan alisnya sebagai jawaban.
Sea segera beranjak bangun, merenggangkan otot-otot tubuhnya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan serta menyegarkan tubuhnya. Melihat kelakuan istrinya itu Noah hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Setelah menjadikan lenganku bantal, bagaimana bisa dia melupakan aku?” Monolog Noah seraya meregangkan otot salah satu lengannya.
...……....
Tak terasa, mentari telah kembali ke peraduannya. Langit cerah berwarna biru, kini sudah berganti langit malam yang gelap berhiaskan kerlap kerlip cahaya bintang.
Tak ada agenda khusus yang direncanakan oleh pasangan Sea dan Noah malam ini. Karena besok sudah ada rencana yang akan mereka lakukan, malam ini keduanya memutuskan untuk menghabiskan malam dengan menonton serial drama Korea pilihan Sea.
Meski tak melakukan sesuatu yang istimewa, hanya duduk berdua di sofa dan bisa memeluk Sea dari belakang dengan posesif. Bahkan sesekali tangannya yang sekarang sudah cukup nakal dan berani untuk bermain di puncak dada sang istri.
Semua hal sederhana itu menjadikan malam ini lebih menyenangkan dan lebih berkesan dari malam-malam sebelumnya. Bahkan tak pernah terbayangkan seorang Noah, bisa betah duduk berjam-jam untuk menonton sebuah film yang bahkan ia tak mengerti jalan ceritanya.
“Sea, mengapa dia memanggil suaminya dengan nama lain?” Pertanyaan random dari Noah yang berhasil membuat kening Sea mengerut.
“Maksudnya?”
“Itu loh, coba dengarkan. Dia memanggil suaminya dengan nama yobo. Nama suaminya kan bukan itu,” jelas Noah dengan sok tahunya.
Sontak saja Sea tergelak. “Untung Mas sok tahunya pas sama aku aja, bagaimana jika orang lain mendengar pertanyaan Mas,” ucap Sea lalu kembali tertawa.
“Apanya yang lucu?” Noah sudah mencebik, kesal karena ditertawakan oleh sang istri padahal ia hanya bertanya saja.
“Yang diucapkan wanita itu Ye-o-bo.” Sea menjelaskan perlahan.
“Yeobo itu semacam kata ganti untuk menyebut suami atau istri,” imbuhnya.
Noah manggut-manggut. “Oh… jadi semacam panggilan sayang.”
“Yes, benar sekali.” Sea tampak bersemangat karena penjelasannya mudah dimengerti oleh suaminya.
“Sea….” Noah memanggil istrinya lagi setelah bungkam beberapa saat.
“Lalu bagaimana dengan kita?” tanyanya.
“Kita?” Sea tampak bingung. “Ada apa dengan kita?”
“Apa panggilan sayang yang cocok untuk kita berdua?” tanya Noah dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
“Hah?!” Sea tak bisa berkata-kata lagi.
...————————...