Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 74. Firasat Bumil


__ADS_3

Sea menghela napasnya seraya melambai pada suaminya. Senyumnya terkesan ia paksakan, semuanya ia lakukan agar tak membuat suaminya khawatir. Sebelum melangkah masuk ke dalam kafe yang berkonsep minimalis, ia menyempatkan diri untuk mengamati kafe di depannya.


Ini adalah pertama kalinya Sea mengunjungi kafe ini. Jika bukan karena Tessa yang selalu menemukan tempat-tempat baru yang keren, maka sudah dipastikan jika kafe yang Sea tahu hanya beberapa saja, termasuk kafe Venus milik Alfio.


Kafe yang cukup unik menurut Sea. Kafe berlantai 2 dengan dinding sekelilingnya terbuat dari kaca, tampak sangat eye cathing dan pastinya akan menarik minat pengunjung. “Dasar Tessa, emang paling jago jika soal menemukan tempat-tempat keren seperti ini,” gumamnya.


Sebelum masuk Sea mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir kafe, tak ia temukan mobil milik Tessa di sana. Seketika kembali terbersit perasaan aneh dalam benaknya. Katanya dia sudah sampai lebih dulu, apa Tessa sedang mengerjainya lagi?! ucapnya dalam hati.


Bukan karena tak ingin menjadi yang pertama tiba di sana dan menunggu kedua sahabatnya, tapi Sea hanya tak ingin berbohong pada suaminya. Noah pasti tak akan mengizinkan dirinya menunggu seorang diri di sana. Sedangkan sebelum pergi, Sea dengan percaya diri meyakinkan suaminya jika Tessa telah menunggunya di kafe, hingga Noah tak perlu khawatir.


Jika boleh berkata jujur, sejak menerima panggilan telepon dari Tessa siang tadi, terbersit perasaan tak nyaman dalam benak Sea. Saat akan keluar rumah pun rasanya ia ragu. Entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak dan ia merasa sulit untuk bernapas.


Gelisah, cemas, was-was, perasaan semacam itu yang membayangi benaknya. Sayangnya, ibu hamil itu tak tahu hal apa yang telah membuatnya merasa seperti itu.


Sayangnya, ucapan Tessa yang mengatakan jika ia ingin menyampaikan suatu hal yang penting. Tessa ingin mengakui suatu hal yang selama ini ia tutup-tutupi dari kedua sahabatnya, dan yang paling utama adalah ucapan Tessa yang mengatakan jika wanita itu saat ini sangat, sangat, membutuhkan kehadiran kedua sahabatnya.


Sea yang sebenarnya sudah menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Tessa akhirnya memutuskan untuk pergi menemui kedua sahabatnya. Meski awalnya Noah tak mengizinkan dan menentang idenya. Beruntung saja ia berhasil meyakinkan suami protektifnya.


Sea mencari nama Tessa di daftar kontak pada ponselnya, kemudian ia lakukan panggilan telepon untuk memastikan keberadaan sahabatnya itu. “Awas saja ya jika ia menjahiliku lagi dan membuatku menunggu,” gumam Sea saat nada tunggu panggilan masih terdengar.


Tak butuh waktu lama, panggilan Sea dijawab oleh Tessa. “Ya, Sea ….” Jawab Tessa dari seberang telepon.


“Gue udah nyampe nih … lu di mana? Gue gak lihat mobil lu di parkiran,” ucap Sea.


“Gue udah nyampe kok, Sea. Gue di lantai 2, ya …” jawab Tessa.


“Hem, awas aja kalau lu bohong. Kualat lu, bohong sama bumil dan buat dia nunggu,” canda Sea yang segera disambut Tessa dengan tawa.

__ADS_1


“Enggak … gue enggak bohong. Ayo, masuk. Langsung naik aja, ya!” Sea mengangguk meski tahu Tessa tak mungkin melihat apa yang ia lakukan.


Perasaannya kini sudah cukup tenang, bergegas ia memutuskan sambungan telepon dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kafe. Sea tak menyadari jika sejak tadi, seorang pria mengawasi gerak-geriknya dari dalam kafe.


Ting Tong, Welcome ….


Bunyi bel terdengar saat Sea mendorong pintu. Meski sempat dibuat terkejut, bunyi bel itu jugalah yang akhirnya menimbulkan senyum di wajah Sea. Sebuah hal baru, pikirnya.


Wow …. Sea bergumam dalam hati.


Kafe pilihan Tessa ini sungguh memiliki desain interior yang sangat bagus. Didominasi dengan warna putih dan perabot yang sebagian besar terbuat dari kayu, tak salah jika pengunjung akan merasa seperti sedang mengunjungi kafe-kafe yang berada di Negeri Gingseng.


Seraya mengagumi kafe tersebut, Sea mengedarkan pandangannya untuk mencari di mana letak tangga yang akan membawanya ke lantai 2 kafe itu.


Itu dia! serunya dalam hati saat menemukan apa yang ia cari.


...………...


Tanpa Sea duga, seorang pria yang sejak tadi duduk di depan meja bar terus mengamati gerakannya. Tadi … saat Sea melangkah masuk ke dalam kafe, seringai licik sudah tampak di wajahnya.


Sebentar lagi tugas pertamaku akan selesai, gumamnya dalam hati kala itu.


Bunyi bel terdengar ketika Sea mendorong pintu. Di saat yang bersamaan, pria yang mengenakan topi hitam itu mengeluarkan pisau lipat dari saku bagian dalam jaketnya. Tampak ia genggam erat benda tajam dan berbahaya tersebut dengan satu tangan, sedang tangan yang lainnya menenggak habis minumannya yang masih tersisa.


Seringai di wajah menyeramkan pria misterius itu semakin lebar tatkala Sea mulai melangkah menuju tangga. Pria itu sempat menoleh ke arah tangga, memastikan seseorang yang ingin ditemui targetnya itu tak ada di sana. Meski telah berulang kali melakukan pekerjaan seperti ini, ia akan tetap waspada saat menjalankan aksinya.


Jarak Sea dengannya semakin berkurang. Gelasnya yang berisi Orange Mojito juga telah tandas. Pria itu lantas beranjak dari kursi bar. Menarik turun bagian depan topinya agar semakin menutupi wajah menyeramkannya.

__ADS_1


Awalnya ia melangkah perlahan, menyesuaikan dengan langkah wanita yang menjadi targetnya. Saat jarak keduanya semakin dekat, pria misterius itu mempercepat langkahnya.


Dan … tttsssskkkk.


“Aaaaacchhh!” Pria itu bisa mendengar suara pekikan dari targetnya.


Sekilas ia menoleh pada wanita malang itu. Memastikan jika posisi tusukan dari pisaunya sudah benar, yaitu di perut wanita cantik itu. Sudah sesuai dengan perintah majikannya.


Pria itu sempat melihat kedua netra targetnya membelalak padanya. Ia membalas tatapan itu dengan seringai khas miliknya. Seringai yang bagi banyak orang dianggap mengerikan.


Pria itu tertegun untuk sekian detik, ketika netranya mencoba membaca gerakan bibir dari wanita itu. ia mencoba memahami apa yang diucapkan oleh targetnya yang sedang menahan rasa sakit.


A-nakku?! batinnya.


Sesungguhnya ia cukup terkejut saat itu. Namun, jika ia sampai terbawa perasaan maka pekerjaannya kala itu berantakan. Juga, tiga hari yang ia habiskan untuk mengawasi wanita yang menjadi targetnya itu akan sia-sia jika mengikuti rasa iba dalam batinnya.


Secepat kilat, pria itu mengambil langkah seribu. Dengan pisau berlumur darah yang langsung ia masukkan ke dalam sakunya, segera ia berlari menuju motornya kemudian melajukannya secepat yang ia bisa.


Apa wanita tadi sedang mengandung? Apa itu alasan majikannya terus berulang-ulang mengingatkan untuk mencelakai tepat di bagian perutnya? batin pria itu.


“Akh, masa bodoh!” Pekiknya seraya terus memacu laju sepeda motornya, sesuai dengan rute yang sudah ia pikirkan sebelumnya.


“Ini memang sudah menjadi pekerjaanmu. Kau sudah tahu jika akan selalu ada nyawa yang jadi korbannya. Jangan lemah! Tugas pertamamu telah selesai,” gumamnya untuk mengembalikan fokusnya.


Sekarang yang perlu ia lakukan adalah menunggu di tempat persembunyiannya. Pekerjaannya kali ini cukup berbeda dari biasanya. Beruntung, bayaran yang akan ia terima jumlahnya tak sedikit. Setidaknya hal itu sepadan dengan apa yang terjadi berikutnya.


“Apa mungkin yang nona muda itu ingin lenyapkan adalah janin yang dikandung wanita cantik itu?” Monolognya saat ia tiba di tempat persembunyiannya.

__ADS_1


...———————...


__ADS_2