Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 80. Kekecewaan Sea


__ADS_3

Lima hari telah berlalu pasca peristiwa penyerangan Sea. Hari ini wanita itu akan bersiap kembali ke rumah.


“Apa kamu sudah siap?” Noah memeluk tubuh Sea dari belakang. Keduanya sedang menatap jalanan yang begitu padat dengan kendaraan dari jendela di ruang perawatan Sea.


“Kan sejak tadi kamu yang berkemas, Mas. Harusnya aku yang bertanya, apa kamu sudah selesai siap-siapnya?” balas Sea bertanya pada suaminya.


Noah tertawa, ia mengambil kesempatan mengecupi pipi istrinya. “Bukan itu maksudku,” jawab Noah.


Sea berbalik, kini keduanya saling berhadapan. Ia mendapatkan satu kecupan pada keningnya. “Lalu?” tanya Sea.


“Kamu … apa kamu sudah baik-baik saja?”


“Tentu saja. Lihatlah, aku sudah sangat sehat.” Sea mencoba meyakinkan suaminya dengan senyum terbaik yang ia bisa.


“Ya, tapi aku meragukannya.” Kening Noah mengernyit.


“Ragu? Kamu selalu saja begitu.” Wanita itu mencebik, membuat Noah akhirnya mencubit gemas kedua pipinya.


“Yang sebelumnya juga begitu. Kamu tak percaya jika aku sudah benar-benar pulih,” sambung Sea. Ia membalas cubitan di pipinya dengan mencubit perut kotak-kotak suaminya.


Noah mengaduh disusul dengan tawanya. “Tentu saja, aku harus memastikannya sendiri.”


“Maka dari itu aku sudah mengambil cuti,” ujar Noah dengan santainya.


“Cuti? Lagi? Apa boleh?”


“Tentu saja, mengapa tidak!” jawab Noah. “Semua tentangmu adalah prioritas utamaku saat ini, aku tak ingin lagi lalai dalam menjagamu.”


Noah membawa tubuh Sea semakin rapat padanya. Dipeluknya istrinya lama seraya sesekali mengecupi puncak kepalanya.


Aku hanya tak ingin kamu sendiri saat kamu kecewa. Aku ingin ada di sisimu, gumam Noah dalam hati.


...………...


Benar dugaan Noah. Hanya berselang dua hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Sea mendapat panggilan dari pihak kepolisian.


Sejak pagi Sea tampak uring-uringan. Wanita itu lebih banyak melamun dan menjadi kurang fokus. Nafsu makannya berkurang, membuat Noah jadi khawatir.


Semua karena surat panggilan tersebut. Sea rasanya takut untuk memenuhinya. Ia takut seandainya dipertemukan dengan pelaku penyerangannya. Ia takut seandainya di luar sana masih ada yang menyimpan dendam padanya, dan berniat untuk mencelakainya lagi.


Gangguan kecemasan itu datang lagi. Bayangan saat seorang pria berjalan ke arahnya lalu menusuk perutnya dengan pisau kembali menghantui benaknya. Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai gemetar. Peluh pun perlahan mulai membasahi wajah cantiknya.


Sea dan Noah kini sedang berada di ruang keluarga, menonton serial drama dari Negeri Gingseng yang menjadi kegemaran Sea. Namun Sea tetap tak bisa mengenyahkan bayangan-bayangan itu setelah ia membaca surat panggilan polisi untuknya.

__ADS_1


Noah masih tak menyadari jika suatu hal yang buruk sedang terjadi pada istrinya. Hingga bunyi bel pintu mengejutkan Sea dan membuat wanita itu menjerit. Noah yang duduk tak jauh dari Sea, bergegas menghampiri istrinya.


Ia dekap erat tubuh istrinya, “Hei … hei … tenanglah. Yang tadi hanya suara bel pintu,” bisik Noah lembut.


Sea mengangguk. Merasa nyaman dan aman tiap kali Noah memeluknya. Meski meminta istrinya tenang, jauh di dalam lubuk hatinya, kini dialah yang paling merasa tak tenang.


Seburuk inikah dampak dari kejadian itu? Batin Noah.


Detik demi detik terus berganti. Malam pun akhirnya tiba. Sea yang lebih dulu membersihkan tubuhnya, kini duduk bersandar di atas tempat tidur menanti Noah yang sedang berganti pakaian.


“Apa harus, Mas?” Kedua tangan Sea saling merem*t di pangkuannya.


“Jika kamu belum siap, aku akan coba bicarakan dengan tim kuasa hukum kita. Mereka akan berusaha meminta waktu.” Noah yang baru saja selesai mengenakan piyamanya, ikut bergabung bersama Sea di atas tempat tidur.


“Kondisi kesehatanmu bisa jadi alasan, Sayang. Tak apa,” imbuhnya.


Noah merebahkan tubuhnya lebih dulu. Ia lalu berbaring miring dan menepuk-nepuk bagian tempat tidur di sisinya, meminta Sea yang masih duduk agar segera ikut berbaring bersamanya.


Sea yang sudah paham maksud suaminya segera merebahkan tubuhnya. Bersandar pada dada bidang suaminya, mendengar irama detak jantung Noah adalah tempat ternyaman bagi Sea.


“Aku akan baik-baik saja selama kamu di sisiku,” ucap Sea.


“Aku akan memenuhi panggilan itu, hanya jika kamu menemaniku.”


“Bukan hanya ke kantor polisi, ke bulan pun aku mau,” imbuh Noah seraya terkekeh karena gombalan recehnya.


Sea sontak tertawa, “Gombalanmu payah, Mas!”


“Benarkah?” tanya Noah dengan wajah yang ia buat serius.


Sea mengangguk.


“Baiklah. Aku akan belajar menggombal lebih giat lagi,” imbuhnya seraya terkekeh.


“Mas!” pekik Sea saat Noah tanpa permisi merem*t dadanya. “Kamu tuh, ya ….”


Keduanya menghabiskan malam ini dengan tawa. Pillow talk semacam ini adalah obat mujarab bagi Sea untuk mengurangi segala kecemasan yang bisa tiba-tiba saja timbul di benaknya. Dalam hati Sea tak pernah berhenti bersyukur.


Tuhan begitu baik. Meski memberiku ujian, namun Ia memberiku Mas Noah yang bisa menguatkanku untuk melewati ujian dari-Nya.


...……….....


Keesokan harinya, sepanjang perjalanan ke kantor polisi Noah terus mengemudi dengan satu tangannya. Sementara satu tangannya yang lain tetap menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


“Tak perlu khawatir, ada aku di sisimu.” Noah mengecup punggung tangan istrinya sesaat sebelum keduanya keluar dari dalam mobil.


Di depan kantor polisi, sudah ada Ayah Peter dan empat orang pria yang menjadi tim kuasa hukum Sea. Mereka berjabat tangan sebentar, memperkenalkan diri pada satu-satunya pewaris Sea Industries.


Ayah Peter dan keempat pengacara tersebut berjalan lebih dulu. Mereka menuntun Sea untuk bertemu dengan aparat kepolisian yang akan bertugas untuk melakukan pemeriksaan.


Noah dengan setia terus berada di sisi Sea. Satu per satu pertanyaan oleh aparat polisi itu dijawab Sea dengan sangat baik. Meski tangannya menggenggam erat tangan suaminya dan buliran peluh mulai berlinang dari dahinya, Sea tetap berusaha yang terbaik untuk memberikan keterangan.


Sea akui jika dirinya kini gugup juga takut secara bersamaan. Setiap pertanyaan yang ia terima, memaksa otaknya mengingat kejadian mengerikan itu. Sampai ada satu pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup kencang.


“Apa Anda mengenal Tuan Alfio?” tanya sang aparat polisi.


“Ka-kak Al-Alfio?” ulang Sea dengan ragu.


“Tentu saja aku mengenalnya,” jawab Sea.


“Bisa Anda ceritakan bagaimana Anda mengenalnya?”


Sea menoleh sekilas pada Noah. Ketika melihat anggukan kepala Noah akhirnya mengalirlah cerita Sea. Bagaimana dan di mana pertama kali ia bertemu Alfio. Bagaimana sampai mereka menjadi teman baik, hingga bagaimana kronologis kejadian saat kecelakaan menimpa keduanya.


Selama hampir 4 jam Sea menjalani pemeriksaan. Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang harus dijawab Sea, seandainya tim kuasa hukum Sea tidak meminta penundaan. Hal itu mereka lakukan mengingat kondisi kesehatan kliennya yang baru saja pulih dari sakitnya.


“Bolehkah aku tahu, keterlibatan Alfio dalam kasus ini?” akhirnya pertanyaan yang sejak tadi menyesakkan napasnya terlontar juga.


“Tuan Alfio diduga adalah otak dari penyerangan yang menimpa Anda,” jawab sang aparat.


”Karena pelakunya adalah orang yang sama yang terlibat dalam kecelakaan yang pernah Anda alami, kini kami juga tengah mengusut keterlibatan Tuan Alfio pada kecelakaan tersebut.”


Sea termangu. Tak ada satu hal pun yang bisa ia pikirkan saat ini. Tak ada satu alasan pun yang bisa membenarkan mengapa Alfio berniat mencelakainya.


Bukannya marah, Sea lebih kepada kecewa. Terlampau kecewa memikirkan orang yang ia percaya rupanya yang telah membuatnya celaka. Bagaimana caranya ia akan percaya pada orang lain lagi, jika kepercayaannya begitu mudah ternoda.


Melihat istrinya yang bergeming serta ada air mata yang berlinang di pipinya, Noah segera membawa Sea ke dalam dekapnya. “Menangislah, sayang. Tak apa, aku mengerti.”


Pecahlah tangisan Sea setelah mendengar ucapan suaminya. Apa aku terlalu bodoh saat menilai ketulusan orang lain? batin Sea mengeluh.


Momen-momen kebersamaannya dengan Alfio terputar bagai sebuah rekaman film dalam benaknya. Apa semua kebaikan pria itu padaku hanyalah semu belaka? Pertanyaan itu membuat Sea semakin kecewa.


Merasa cukup dengan tangisannya, Sea kembali duduk tegak. Pelukan suaminya memang yang terbaik untuk menenangkannya. Dibantu oleh Noah, Sea mengusap sisa-sisa air mata di wajah cantiknya.


“Apa aku boleh bertemu dengannya?”


“Bertemu dengan Kak Alfio?”

__ADS_1


...——————————...


__ADS_2