Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 22. Dua garis merah


__ADS_3

“Huhhh! Kenapa lagi ini!” Noah terus saja menggerutu. saat merasakan kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut-denyut.


Para perawat yang mendampinginya bertugas pagi ini dibuat bingung karena sikap aneh dokter tampan idola mereka.


“Kenapa pusingnya harus sekarang, sih!” Lagi-lagi dokter muda itu menggerutu, satu tangannya memijat keningnya berharap sakit di kepalanya bisa mereda.


Jam praktek Noah akan dimulai satu jam lagi, Noah enggan minum obat sebab khawatir akan rasa kantuk yang bisa saja timbul karena efek dari obat tersebut.


Akan lebih baik jika satu jam yang tersisa ia manfaatkan untuk berbaring, syukur-syukur jika dia bisa tertidur meski hanya sebentar, pikirnya.


Saat berbaring, bayangan Sea kembali menari-nari di pikirannya. Sempat melihat istrinya yang juga tampak pucat dan lemas, menimbulkan tanya di benak Noah.


Apa dia juga sedang sakit? Aku yakin anak itu kelelahan!


Siapa juga yang menyuruhnya bekerja setelah kuliah? Cih, apa dia sengaja bekerja di sana karena ingin bertemu dengan pria brengs*k itu!


Sangat aneh menurut Noah, “Aku sudah selalu menjaga pola makanku, meski sibuk aku selalu menyempatkan diri untuk istirahat,” monolognya dengan kedua mata tetap terpejam.


“Aku juga sudah rutin mengonsumsi vitamin penunjang daya tahan tubuh,” lanjutnya. “Namun, mengapa akhir-akhir ini aku mudah lelah,ya?”


“Sebenarnya ada apa denganku? Apa sebaiknya aku pemeriksaan kesehatan lengkap saja, ya?” gumam Noah.


“Apa mungkin karena aku masih kurang berolah raga?” Noah membuka kedua matanya, memeriksa jadwalnya akhir-akhir ini pada gawainya.


Sebenarnya tidak cukup padat dan harusnya ia memiliki waktu untuk berolah raga rutin seperti dulu. Sayangnya, setelah menikah dengan Sea, Noah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menghindari istrinya. Menyibukkan diri dengan pekerjaan hanya agar waktu temu mereka berkurang.


Setelahnya, Noah akhirnya meyadari, “Rupanya lagi-lagi karena Sea.” Noah menghela napas perlahan.


“Apa semua sikapku salah, selama ini? Tanpa sadar aku turut menyakiti diriku sendiri.”


“Mengapa semakin logikaku ingin menghindarinya sedangkan, hatiku semakin ingin menemuinya?” Noah mengusap wajahnya dengan tangannya.


“Argghh! Aneesa, kenapa kamu harus memilih untuk mengakhiri hidupmu? Membuatku harus menjalani ini semua!”


Kini Noah tak tahu harus menyalahkan apa dan siapa lagi. Jika dulu kematian Aneesa, dengan mudah ia limpahkan kesalahan itu pada Sea. Namun, mengenai pergulatan batinnya saat ini, pada siapa Noah harus menyalahkannya?


Rupanya rencana Noah untuk beristirahat sejenak akan berakhir gagal. Bukannya mengistirahatkan pikirannya, selama berbaring tak sedetik pun ia berhenti memikirkan banyak hal. Dan didaftar teratas dari semua hal yang mengusik pikiran dokter tampan itu adalah Sea, istrinya.


Apa yang dilakukannya sekarang? Apa Sea masih kuliah? Atau dia sedang bersama dengan pria si*l*n itu? Batin Noah.


Semua hal yang dipikirkan Noah akhirnya buyar saat samar-samar ia mendengar keributan di depan ruangan prakteknya. “Huh! Keributan apa lagi kali ini!” gerutunya.


Dengan enggan Noah beringsut menghampiri pintu. Semakin dekat, semakin jelas pula suara dua orang wanita yang sedang berdebat.


Klik.

__ADS_1


Hanya bunyi dari kunci pintu yang dibuka Noah, sudah berhasil menghentikan perdebatan dua wanita tersebut.


“Ada apa ini?” tanya Noah. Meski intonasi suaranya datar, namun raut wajah dingin dan tatapan tajam Noah mampu membuat dua wanita yang terlibat perdebatan sontak terdiam.


“I-i-ini, dokter Alesandra memaksa ingin menemui Anda,” adu si perawat. “Padahal sudah saya beritahu jika, Anda sedang beristirahat,” imbuhnya.


Noah menggeleng. Hanya masalah sepele, dan keduanya membuat keributan hingga menarik perhatian para pasien yang sedang menunggu antrian, pikir Noah.


Ingin rasanya Noah mengusir saja Alesandra, sayangnya hal itu tak mungkin ia lakukan mengingat di mana mereka saat ini. Noah juga tak sejahat itu, mengusir Alesandra tentu akan mempermalukan wanita itu.


“Ada apa dokter Alesandra? Mengapa Anda ingin menemuiku?” Noah tak lagi menyapa dengan panggilan Sandra seperti yang wanita itu pinta ketika pertama kali mereka berkenalan. Perbuatan Alesandra yang terakhir kali sudah sangat keterlaluan, Noah masih menyimpan kekesalan padanya.


“Aku ingin membicarakan hal yang penting,” jawabnya. “Kumohon, hanya sebentar!” Kedua tangannya ia satukan di depan dadanya, memelas demi kesediaan Noah bicara dengannya.


Jika menolak, bisa saja Noah akan di cap sebagai dokter arogan oleh para pasien yang menjadi penonton drama mereka saat ini. Maka, dengan terpaksa Noah akhirnya menyetujui permintaan Alesandra.


Alesandra tersenyum sumringah, akhirnya Noah bersedia menemuinya. Alesandra memiliki niat untuk memperbaiki hubungannya dengan Noah. Menjadi teman pria itu merupakan langkah awal bagi Alesandra untuk mencapai tujuannya yaitu memiliki Noah.


Setelah kemarin menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Alfio, Alesandra merasa dirinya sudah tertinggal jauh. Pasalnya Alfio mengabarkan padanya jika, istri Noah kemungkinan sedang mengandung. Dan jika itu benar terjadi maka kemungkinan untuk memiliki Noah semakin kecil.


Aku harus berhasil menjadi temannya. Akan lebih baik jika dia mempercayaiku, hingga aku dengan mudah menghasutnya untuk meninggalkan istrinya itu! Batin Alesandra.


Noah mengetuk-ngetuk meja di hadapannya yang menjadi pemisah antara dia dan Alesandra. “Anda bilang ada sesuatu yang penting. Mengapa hanya diam saja?”


Alesandra tersadar dari lamunannya. “Aku ingin minta maaf, Noah.” Tuturnya. “Kuakui, aku sudah keterlaluan.”


“Tentu saja, aku berjanji.” Air muka bahagia tak dapat Alesandra tutupi. Tak ia duga semudah itu mendapatkan maaf dari pria pujaannya.


“Dan tolong ingat batasanmu, dokter!” Lanjut Noah dengan intonasi suara yang datar. “Kita hanya rekan sejawat, tolong jaga sikapmu.”


“Tolong ingatlah jika, aku adalah pria beristri. Bukan hanya karir dan pekerjaan, namun, aku memiliki tanggung jawab menjaga keutuhan rumah tanggaku,” jelas Noah.


Bukan hanya Alesandra yang tercenang dengan ucapan Noah. Pria itu pun juga tak menyangka dengan apa yang barusan ia ucapkan.


Dari mana datangnya pemikiran itu? Padahal aku hanya ingin menegaskan pada Alesandra mengenai batasannya, namun, mengapa aku malah membahas rumah tanggaku, batin Noah.


Setelah Alesandra pergi, Noah tertawa. Mengejek pada ucapannya sendiri, “Keutuhan rumah tangga?” ulangnya diikuti tawa.


“Apa yang aku jalani bersama Sea ini bisa disebut rumah tangga?” tanya Noah pada dirinya sendiri.


Sebuah kesalahan karena Noah membahas rumah tangga dan berakhir kini ia kembali memikirkan Sea. Pusing dan mual kembali lagi menderanya, “Arrggghh, ada apa denganku! Mengapa hanya memikirkan Sea membuatku menderita seperti ini!”


..............................


... ...

__ADS_1


Selama dua jam perkuliahan, Sea tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Pikirannya dipenuhi dengan banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Semakin Sea pikirkan, semakin ia mencari tahu, hasilnya tetap berujung pada kemungkinan jika kini dirinya tengah berbadan dua.


Kedua telapak tangannya terasa dingin, peluh membasahi keningnya. Sea gugup dan takut. Sebenarnya tak ada yang salah jika benar dia hamil. Pria yang telah menanam benih di rahimnya adalah pria yang sah dan halal baginya. Bahkan, kehamilannya pun sangat dinanti oleh kedua mertuanya.


“Tak ada yang harus kamu takutkan, Sea.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Sea kini berada di dalam mobil yang ia parkirkan cukup jauh darisebuah apotek. Kaca mata hitam, masker yang hampir menutupi seluruh wajahnya, tak lupa jaket berbahan parasut telah ia gunakan untuk menutupi pakaiannya.


Sea tak ingin ada orang yang mengenalinya, itulah mengapa ia berdandan seperti itu hanya untuk ke apotek dan membeli atas tes kehamilan. Sea masih belum yakin dengan dugaannya.


Rencana Sea berhasil. Meski tak ada yang berhasil mengenalinya, namun beberapa ibu-ibu sok tahu malah menghakiminya.


“Dasar anak zaman sekarang, ya…” ucap salah satu Ibu. “Pergaulannya sangat bebas. Hamil di luar nikah, apa tak malu dan kasihan pada orang tuanya.”


Sea tentu sadar jika yang jadi bahan pergunjingan itu adalah dirinya. Jika tak mengingat misinya untuk menyembunyikan identitasnya, ingin sekali Sea mengatakan pada kedua wanita paruh baya itu, jikalau memang benar dirinya hamil, yang menghamilinya itu adalah suaminya sendiri.


Tak ingin berlama-lama menjadi bahan gunjingan, Sea bergegas pulang ke rumah dengan membawa 5 alat tes kehamilan dengan merek yang berbeda-beda. Degup jantungnya dua kali lebih cepat, tangannya bergetar tatkala ia menggunakan alat tes itu satu per satu.


Menunggu selama 5- 15 detik mengapa terasa sangat lama bagi Sea. Tatapannya tak pernah berpindah dari 5 benda pipih yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya.


Bernapas pun terasa sulit saat air mata setetes demi setetes jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah. Dua garis merah di kelima alat tes kehamilan itu, telah menjawab semua tanya Sea mengenai kondisinya akhir-akhir ini.


“Aku… ha-mil?” Sea masih tak percaya, ia akan segera menjadi seorang ibu.


Bagi Sea, tak ada sedikit pun penyesalan akan hadirnya janin ini di rahimnya. Sea mencintai Noah dan Noah adalah suaminya, maka tak ada yang salah dengan kehamilannya, pikirnya.


Tapi, saat mengingat kata khilaf yang terucap dari bibir Noah membuat Sea ragu untuk menyampaikan berita kehamilannya pada Noah. “Jika malam itu adalah sebuah kesalahan bagi Mas Noah, mungkinkah ia akan menerima kehadiran anak ini?”


Memikirkan itu seketika kaki Sea terasa lemas, wanita malang itu berakhir dengan duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Kedua netranya seakan tak lelah menumpahkan air mata terus menerus.


“Mengapa tak aku saja yang tersakiti? Haruskah anak ini juga menanggung kesedihan jika ayahnya tak mau menerima kehadirannya?”


...………………………...


... ...


Menjelang jam istirahat makan siang, telepon di ruang IGD Rumah Sakit Pelita Harapan berdering. Salah seorang perawat yang menerima panggilan tersebut menyampaikan jika dalam beberapa menit ambulans akan tiba dengan seorang pasien pria yang pingsan setelah mengeluh merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya.


Noah yang bertugas sebagai dokter jaga siang itu terpaksa harus menunda jam makan siangnya. Benar saja, tak lama setelah itu bunyi sirine ambulans terdengar.


Dua orang perawat segera menghampiri petugas ambulans, lalu membantunya memindahkan pasien ke brankar yang tersedia di IGD. Dengan pengalaman yang mereka punya, kedua perawat tersebut tanpa menunggu perintah segera melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien.


Tak ingin membuang waktu, dengan stetoskop yang menggantung di lehernya Noah sudah siap untuk memberikan pertolongan pada pasien pria itu.


Begitu ia menyingkap tirai, betapa terkejutnya Noah saat mengetahui siapa pria yang sedang terbaring tak berdaya di atas brankar.

__ADS_1


“Di-dia…. “


...--------------------...


__ADS_2