
Haruskah kini Sea merasa bahagia?
Bukankah impiannya untuk menjadi seorang istri seutuhnya bagi sang suami kini telah terwujud.
Namun, mengapa hatinya terasa begitu sakit? Bahkan tak hanya hatinya, tetapi seluruh tubuhnya terasa seakan remuk setelah pergulatan yang terjadi antara dirinya dan Noah.
Ingin rasanya Sea menangis. Jika boleh ia ingin berteriak, meraung-raung mengasihani betapa malang nasibnya. Namun, nasi telah menjadi bubur, tak ada yang bisa mencegah apa yang telah terjadi dua jam yang lalu.
“Mas… maafkan aku, Mas. Aku mohon,” ucap Sea kala itu. “Jangan seperti ini, Mas! Kita masih bisa membicarakan semuanya baik-baik.”
Begitulah, dua jam yang lalu Sea memohon kepada suaminya. Memohon agar akal sehat Noah kembali dan suaminya itu batal melakukan niatnya. Namun, bukannya berhenti, Noah malah semakin geram dibuatnya. Cemburu telah membutakan mata dan menulikan telinga Noah. Tanpa ia sadari dan seperti tak ingin peduli jika istri yang berada dalam kungkungannya ini akan merasa sakit lahir dan batin.
“Sekarang kau memohon-mohon maaf, tetapi tadi kau bahkan lupa siapa dirimu!” ucap Noah menolak permohonan Sea.
Dengan kasar Noah lalu memaksa untuk membuka kemeja yang masih menutupi tubuh Sea hingga semua kancingnya terlepas dan kemeja itu berakhir teronggok di lantai.
Dalam hati ia sempat memuji keindahan tubuh istrinya. Kau begitu indah, Sea. Haruskah aku berbangga dan merasa beruntung karena menjadi suamimu, menjadi pemilik yang halal atas tubuh ini?
Namun, ego mencegah pujian itu terlontar dari bibir Noah. Bahkan, buliran air mata yang mulai mengaliri pipi mulus Sea kala itu dan juga isak tangis yang tak tertahankan lagi, seolah tak mampu mempengaruhi Noah.
Ada apa dengan dirinya?
Noah turut mempertanyakan hal itu dalam batinnya. Harusnya kini ia merasa iba melihat tangis dari gadis yang kedua tangannya ia cengkeram dengan kuat agar tak menghalanginya melakukan niatnya.
Namun, mengapa ia malah merasa takut? Takut jika sesuatu terjadi dan ia tak berhasil menyelesaikan semua yang telah ia mulai.
Maka, tanpa pikir panjang lagi, bergegas Noah menanggalkan celana panjang hitam dan seluruh kain yang masih menutupi tubuh sang istri. Setelahnya ia juga bergegas melakukan hal yang sama pada dirinya, hingga bukti keperkasaannya yang sudah siap kini dapat dilihat jelas oleh Sea.
Dalam hati, Sea menjerit. Apakah Mas Noah benar-benar akan mengambil haknya malam ini? Bukannya tak rela, namun aku masih berharap semuanya terjadi tidak dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
Selain karena rasa takut, hawa dingin dari penyejuk ruangan yang menyambut tubuh polosnya, membuat tubuh Sea bergetar hebat.
Menyadari ketakutan Sea, bayangan akan gadis itu yang tertawa lepas bersama pria lain tiba-tiba saja terlintas dan berhasil memancing emosi Noah kembali. Mengapa kau bisa tertawa bersama pria lain sedang denganku kau gemetar ketakutan?! Pikirnya.
Terlebih saat Noah berusaha mendekatkan wajahnya ke ceruk leher sang istri dan respons yang ia terima adalah Sea yang menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghindar.
“Jangan, Mas! Tak seharusnya kita melakukan ini dalam kondisi seperti ini, kamu dibutakan oleh amarahmu, Mas,” lirih Sea lagi-lagi memohon pada suaminya.
Sea masih percaya jika suaminya tak akan melakukan hal buruk padanya. Di matanya Noah masih seorang suami yang akan menjaganya dan tak akan mungkin menyakitinya.
Penolakan Sea membuat Noah bertambah geram. “Cih!” ia berdecih, “Bukannya kau yang sangat ingin menjadi istriku, huh?!” ucapnya.
“Kau sendiri yang memaksakan pernikahan ini, Sea. Jadi, sekarang terimalah saat kau akan benar-benar kujadikan istriku!”
Dan hanya sedetik setelah itu, tanpa peduli dengan permohonan dan tangisan istrinya, Noah melakukan penyatuan itu dengan sangat kasar. Meski terasa sulit, namun dengan kekuatan yang ia punya, akhirnya Noah berhasil menjadi pria pertama yang menyatu dengan sang istri.
Matanya terpejam dan lenguhan itu lolos dengan sendirinya dari bibir Noah tanpa bisa ia cegah. Nikmat… hanya itu yang bisa ia rasakan.
Ada perasaan yang tak dapat ia lukiskan dengan kata-kata, seperti ada sesuatu yang ingin Noah untuk capai. Tak ada rasa lelah meski peluh telah membanjiri kening dan sekujur tubuhnya. Semakin lama, hawa panas tubuhnya jelas terasa dan telah berhasil mengalahkan dinginnya penyejuk ruangan. Setelah cukup lama ia dibuai oleh kenikmatan itu, tiba saatnya ia sampai pada puncaknya. Saat itulah ia memahami arti surga dunia yang sering dibicarakan orang lain.
Semua kenikmatan yang dirasakan oleh Noah sungguh berbanding terbalik dengan yang dirasakan Sea. Tak cukup dengan luka hati yang ditorehkan oleh Noah lewat ucapannya, kini pria yang berstatus suaminya itu juga menyakiti fisiknya.
Tak ada malam pertama yang seperti dibayangannya. Tak ada rasa nikmat seperti yang sering ia dengar. Meski tak menjerit atau memekik kesakitan, namun ringisan dan air mata Sea yang tumpah sudah menunjukkan betapa besar sakit yang ia rasakan.
Sepanjang pergumulan keduanya, tak sedetik pun Sea mau menatap Noah. Awalnya, Sea beberapa kali melakukan perlawanan dan penolakan atas apa yang dilakukan Noah. Namun, merasa usahanya sia-sia akhrinya ia menyerah. Dengan air mata yang terus tumpah dari kedua netranya, wanita itu biarkan suaminya melakukan apa pun yang ia mau atas tubuhnya.
Waktu berlalu hingga akhirnya Noah mengakhiri semuanya. Dan apa yang terjadi saat itu, Sea rekam dengan baik dalam ingatannya. Sungguh akan menjadi pengalaman malam pertama yang tak ingin dia ulang, pikirnya.
Ini memang inginku, Mas. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya, aku ingin melaksanakan ibadah ini hanya bersamamu, Mas. Sejak pertama bertemu denganmu, sejak pertama kali menyadari cinta ini untukmu, hingga terucap kata sah dan aku menjadi halal bagimu, hanya dirimu satu-satunya yang aku inginkan, Mas.
__ADS_1
Nyatanya semua yang terjadi, sangat berbeda dari apa yang kuharapkan. Namun, aku tetap berharap tiap detik yang berlalu malam ini akan bernilai ibadah dan mendapat ridha-Nya.
....................... ...
Malam kelam itu akhirnya berhasil Sea lalui seorang diri. Ya, seorang diri… sebab pria yang harusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi, tak lagi menampakkan batang hidungnya setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sebelum menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, Sea menyucikan kembali dirinya. Di dalam kamar mandi, ia melirik tubuh polosnya di cermin.
Kedua matanya sembab, tak hanya jejak air mata yang tampak jelas di pipinya, namun, jejak-jejak yang dibuat suaminya di banyak tempat juga bisa Sea lihat dari pantulan cermin. Tak ada yang bisa Sea lakukan, semua telah terjadi dan tak bisa diubah lagi, waktu telah berlalu dan semuanya tak lagi bisa dicegah.
Betapa Sea terkejut saat ia keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya di sana. Sea berdiri mematung di tempatnya. Meski bibirnya telah berucap jika ikhlas menerima segala yang telah terjadi, namun hatinya tak bisa berdusta. Ada rasa takut saat ia harus bertemu suaminya lagi. Dan hal itu yang kini menahan langkahnya.
“Shalat subuh lah dulu, aku akan menunggu,” ucap Noah. “Ada yang ingin kubicarakan.”
Sea hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah selesai, masih dengan mukena yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, Sea kini ikut duduk di sofa tepat di hadapan Noah. Hanya duduk, sebab tak ada sepatah kata pun yang dapat terucap dari bibirnya.
Cukup lama saling diam, hingga Noah memulai pembicaraan lebih dulu. “Sea, yang terjadi semalam... aku minta maaf,” ucap Noah.
“Ehhm... a-aku a-aku,” balas Sea terbata-bata. Sejak semalam, sesungguhnya Sea menanti kata maaf dari suaminya. Bahkan beberapa saat yang lalu, nama Noah masih terucap dalam doanya.
Sea tak melanjutkan ucapannya saat melihat Noah hendak bicara. Suaminya itu tampak menghela napasnya perlahan.
“Sea, yang terjadi semalam... aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf,” ucapnya.
Deg!
Luruh sudah air mata Sea yang semalam sempat mengering. Harusnya aku sadar, tak ada sedikit pun yang benar dari hubungan ini. Lantas apa yang aku harapkan lagi?
__ADS_1
...———————...