Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 47. Panggilan sayang


__ADS_3

Pagi ini Sea dan Noah sedang dalam perjalanan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) di mana kedua orang tua Sea dimakamkan. Keduanya sengaja berangkat sejak pagi, karena hari ini ada beberapa tempat yang menjadi tujuan sepasang suami istri itu.


Banyak hal yang keduanya bicarakan selama perjalanan. Sebagian besar mengenai rencana keduanya mengenai rumah tangga mereka nantinya seperti apa. Keduanya sudah sepakat untuk selalu mengambil keputusan bersama, apa pun itu.


Rasanya obrolan Sea dan Noah seperti tak akan ada habisnya. Ada-ada saja bahan perbincangan yang menjadi topik menarik untuk mereka bahas. Mulai dari hal yang sangat serius, hingga hal-hal random seperti yang sedang keduanya perdebatkan saat ini.


“Mas! Jangan bercanda deh.” Sea mencebik ke arah suaminya.


Bukannya merasa bersalah, Noah malah semakin tergelak melihat wajah Sea yang menurutnya tampak semakin menggemaskan. “Siapa yang bercanda sih, ini aku serius loh,” elak Noah kemudian kembali melanjutkan tawanya.


“Aku sampai tidur larut karena mencari panggilan sayang yang unik,” ungkap Noah menyombongkan diri.


“Tapi Mas, aku kok aneh kalau harus manggil kamu dengan sebutan itu.” Jujur saja, bukannya Sea tak menghargai usaha suaminya. Namun sejak ia diberi tahu, sudah berkali-kali ia mencoba dan tetap saja terasa aneh saat diucapkan atau didengarkan.


“Panggil Mas aja seperti biasa, itu sudah bagus. Jika Mas memang ingin, panggil sayang juga cukup bagus,” usul Sea. “Terdengar lebih akrab di telinga, Mas.”


“Ish… kamu ini! Aku gak mau panggilan yang biasa-biasa aja,” ucap Noah. “Aku mau panggilan sayang yang berbeda, yang unik, yang gak biasa,” celoteh Noah panjang lebar.


“Hufff…” Sea mendengkus. “Ta-ta-tapi kalau harus panggil Pi-Pi-Phiu itu gimana ya, Mas…”


Noah menyengir. Mendengar Sea akhirnya memanggil dengan panggilan sayang yang ia inginkan, membuat hatinya seperti kebun yang dipenuhi bunga bermekaran.


“Nah, itu bagus!” Seru Noah.


“Phiu dari kata Papi dan Mhiu dari kata Mami,” ungkapnya.


“Aku suka, Mhiu…” balas Noah semakin menggoda Sea.


Sea menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Malu sekali rasanya melihat tingkah Noah. Sea akui dirinya merasa lebih bahagia dengan sikap hangat Noah saat ini, dibanding dulu saat rumah tangganya serasa 11-12 dengan neraka.


“Mhiu sayang, jangan ngambek dong. Cemberut gitu, nanti cantiknya berkurang loh.…” Goda Noah membuat istrinya semakin merajuk.


“Mas, udah dong. Malu aku tuh, Mas.” Sea merajuk agar bisa menghentikan tingkah usil suaminya. Dan syukurnya, Noah akhirnya berhenti menggoda Sea dan kembali fokus pada jalan di depan mereka.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba saja Sea merasa tidak nyaman. Wanita itu merasa jika dirinya harus segera ke toilet. Sea menoleh pada suaminya yang sedang fokus mengemudi.


“Mas, apa di sekitar sini ada toilet umum? Atau mungkin kita bisa mampir sebentar di Masjid?” tanya Sea.


Noah ikut menoleh menatap istrinya, seolah bertanya apa yang ingin dilakukan Sea.


“Aku ingin buang air kecil,” jawab Sea sementara Noah hanya mengangguk.


Sea memicingkan kedua sudut matanya. Sepertinya kini suaminya sedang merencanakan sesuatu, dengan sengaja bersikap acuh tak acuh atas permintaannya. Bahkan, Noah sengaja berpura-pura tidak mendengar ucapan Sea.


Tahu jika Noah sengaja mengabaikannya, Sea semakin merajuk. Sebagai bentuk protesnya, Sea melipat kedua tangannya di depan dada. “Mas… Mas Noah!” Panggilnya meski tetap diabaikan.


“Kalau aku buang air kecilnya di sini, jangan salahkan aku, ya…” ancam Sea dengan percaya diri.


Di luar dugaan Sea, suaminya malah terlihat sedang menahan tawanya. “Mas Noah, aku udah gak tahan,” keluh Sea.


“Silakan saja kalau mau melepaskannya di sini. Ini kan mobil kamu, Mhiu sayang,” jawab Noah datar.


“Kenapa juga Mas Noah tiba-tiba aja merajuk!” Ucap Sea bersungut-sungut.


“Astaga, Mas… jadi masih soal panggilan Phiu Mhiu itu?” Sea menepuk jidatnya. Rupanya suaminya masih gigih mewujudkan keinginannya.


“Mhiu sayang… beberapa meter lagi, di depan itu ada sebuah masjid. Jika ingin aku berhenti di sana, Mhiu harus sepakat dengan panggilan sayang yang aku usulkan.” Sea menggeleng tak percaya. Perkara panggilan sayang saja, Noah jabarkan bagai sedang bernegosiasi bisnis.


“Ish… Mas Noah, kamu curang!” Karena kesal Sea mencubit perut dan pinggang suaminya.


“Tuh… padahal baru saja sepakat. Masa kamu udah lupa lagi sih perjanjian kita barusan,” gantian kini Noah yang protes pada istrinya.


“Huff…” Sea menghela napasnya. “Iya.. iya, Phiu.” Akhirnya panggilan sayang itu terucap dari bibir Sea.


Di saat yang bersamaan Sea juga mengagumi ketampanan Noah saat pria itu tersenyum penuh kemenangan.


“Sekali lagi dong, Mhiu… tambahin sayang, biar makin komplit,” pinta Noah.

__ADS_1


Daripada harus mengompol di celana berujung malu atau menahan berujung penyakit, lebih baik jika Sea menuruti keinginan ajaib Noah.


“Oke, Phiu sayang… tolong hentikan mobilnya sebentar, ya.” Ucap Sea dengan gaya bicara yang dilebih-lebihkan.


Tawa Noah akhirnya pecah. Selain memuji kecantikan istrinya, menggodanya seperti sekarang mungkin akan menjadi hobi baru Noah. Melihat wajah menggemaskan Sea yang cemberut atau mencebik padanya, menjadi sesuatu yang baru bagi Noah. Sea membawa warna baru dalam hidupnya.


...………………....


Setelah perdebatan panjang yang dimenangkan Noah, kini keduanya sudah tiba di tempat yang menjadi tujuan pertama mereka. Sebuah lokasi Tempat Pemakaman Umum, yang baru beberapa kali Sea kunjungi. Meski jarang mengunjungi makam kedua orang tuanya, doa yang ia panjatkan untuk dua orang paling ia sayangi di dunia ini tak pernah putus.


Bagi Sea, dirinya beruntung sebab telah berhasil membuka hati Noah. Pria itu sungguh tahu cara bersikap yang benar. Kapan ia harus bercanda dan kapan harus bersikap serius.


Saat ini, Noah berjalan lebih dulu disusul Sea di belakangnya. Menyusuri jalan berbatu dengan hati-hati juga jemari yang saling bertaut.


Saat tiba di depan pusara kedua orang tuanya, tangisan Sea tak dapat ia bendung lagi. “Ayah… Bunda… aku telah gagal,” adunya.


“Aku gagal menjaga calon buah hatiku,” ungkap Sea.


Noah mensejajarkan dirinya dengan Sea yang duduk di tepi pusara kedua orang tuanya. “Hei… kamu tak gagal. Hanya belum waktunya bagi kita untuk menjaga titipan Tuhan,” ucap Noah menenangkan Sea.


“Ayah, Bunda, aku akan berusaha lebih baik lagi dalam menjaga Sea. Maafkan aku karena butuh waktu lama untuk menyadari jika aku adalah pria paling beruntung sebab dicintai oleh putri kalian,” ucap Noah.


“Aku akan berusaha untuk bertanggung jawab atas Sea. Meski aku tak bisa menjanjikan bahagia sepanjang waktu, namun aku akan berusaha untuk selalu bersamanya di saat-saat terburuk dalam hidupnya kelak.”


Mendengar ucapan manis suaminya, Sea tak kuasa membendung air matanya. “Phiu…” panggilan sayang yang tadinya terasa asing, kini dengan mudah terucap dari bibirnya.


Noah membelai puncak kepala istrinya, merapikan helaian rambut Sea yang berantakan setelah tertiup angin. “Tak apa, kan? Aku tak yakin jalan kita akan mulus. Tapi selama kita jalan bersama, kurasa aku akan mampu.”


Sea hanya bisa mengangguk. Tak ada satu kata pun yang terlintas di benaknya saat ini.


“Phiu…” hanya satu kata itu. Panggilan sayang yang dibuat oleh suaminya. Panggilan sayang hanya untuk suaminya.


“Tak apa, selama ada kamu. Phiu sayang… aku mencintaimu.”

__ADS_1


“Aku pun juga mencintaimu, Mhiu.”


...-------------------...


__ADS_2