Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 14. Cemburu Tanda Cinta?


__ADS_3

“Akh ... aku merindukan dia!” pekik Alesandra.


Sudah 3 hari ini dokter cantik itu tampak uring-uringan dan tak henti mengeluh jika dirinya sedang merindukan seseorang. Hal itu tentunya membuat banyak tanda tanya muncul di benak para perawat yang bertugas bersamanya saat jam praktik.


“Rindu pacar ya, Dok?” tanya perawat yang bernama Ana. Dirinya bukanlah perawat pertama yang ingin mengetahui siapa pria yang dirindukan dokter cantik itu.


Alesandra menggeleng. “Untuk saat ini masih calon pacar.” Wajahnya bersemu merah muda saat mengatakan hal itu.


“Sus Ana ... menurutmu apa apa yang harus aku lakukan, ya? Baru kali ini aku merindukan seseorang seperti ini,” akunya.


“Ya temuin lah, Dok.” Jawab Ana. “Ibarat kata, rindu itu seperti obat, Dok. Pahitnya minta ampun jika tak tersampaikan.” Jelas Ana tanpa memedulikan Alesandra yang kini tersenyum getir. Bagaimana bisa aku dengan gamblang mengakui rasa rindu pada pria beristri, batin Alesandra.


Alesandra juga tahu jika perasaannya ini salah. Namun tak pernah ia duga, jika jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Acuhnya Noah itu menjadi daya tarik tersendiri. Bagai sebuah medan magnet kuat yang terus saja menarik Alesandra untuk mendekat.


Bagi seorang putri tunggal dari pemilik saham terbesar di Rumah Sakit Pelita Harapan, tak ada apa pun yang tak bisa ia dapatkan. Termasuk dokter tampan idaman banyak perawat wanita, Noah. Meski itu berarti dirinya harus melukai hati wanita lain. Keegoisan Alesandra membuatnya tak peduli dan membenarkan hal itu.


“Dok ... Dokter Sandra,” seru Ana. Satu tangannya melambai di depan wajah dokter cantik yang kini sedang terbuai dalam lamunannya.


“Dok ... Dokter Sandra!” Sekali lagi Ana coba membawa dokter itu kembali pada kenyataan. Setelah menaikkan sedikit intonasi suaranya, barulah usahanya berhasil.


“Ah, Sus Ana kau mengagetkanku!”


“Dokter, sepertinya kadar rindu Anda sudah di ambang batas. Sudah memasuki level bahaya,” komentar Ana tanpa diminta. “Saran saya sebaiknya Anda bergegas menemui pria itu, katakan padanya Anda merindukannya, dan habiskan waktu bersamanya.”


Alesandra mendengarkan dengan baik saran Suster Ana. Bagaimana caranya aku menemuinya? Tahu keberadaannya saja, tidak! Keluhnya dalam hati.


Sepeninggal Suster Ana dari ruangannya, Alesandra pun melanjutkan pekerjaannya. Memeriksa kembali rekam medik pasien, hingga tatapannya jatuh pada sebuah amplop putih. Tanganya terulur meraih amplop itu, di bacanya dengan saksama. Rupanya surat itu adalah undangan untuk menghadiri seminar kesehatan di luar kota.


"Huh, seminar lagi.” Gumamnya lirih. Kali ini ia akan melewatkan undangan seminar tersebut, pikirnya.


Noah yang cuti mendadak, turut berpengaruh pada jadwal praktiknya. Padatnya aktivitas Alesandra akhir-akhir ini membuat tubuhnya cukup lelah. Namun tiba-tiba dokter itu terlonjak mana kala sebuah ide terlintas di benaknya.


Kedua sudut bibirnya membentuk seringai saat ia menghubungi direktur Rumah Sakit. Dengan latar belakang yang ia miliki dengan mudah Alesandra mendapatkan keinginannya.


“Akh .... akhirnya rindu ini akan terobati.”


......................


Hari ini adalah hari pertama Noah akan kembali bekerja setelah liburan 4 hari yang berakhir buruk. Rencana Mami Joanna dan Ayah Peter yang awalnya hampir berhasil, akhirnya berantakan karena kehadiran Alfio secara tiba-tiba.


Sejak perdebatannya dengan Sea di pulau itu, kini Noah tak lagi segan memojokkan Sea meski itu di depan kedua orang tuanya. Semua karena kekesalan Noah pada Sea. Meski Sea telah mengatakan jika dirinya tak tahu menahu mengapa Alfio bisa berada di pulau yang sama dengan mereka, namun Noah tetap tak percaya.


Brak!

__ADS_1


Lagi-lagi pintu kamar yang menjadi sasaran kekesalan Noah. Hal itu terjadi tatkala tanpa sengaja Noah membaca pesan masuk di ponsel istrinya.


Bagai ada api yang membara dalam hati Noah, ketika pria itu melihat isi pesan yang di kirim oleh Alfio.


“Br*ngs*k!” Geramnya.


Melihat isi pesan dari Alfio yang berupa foto-foto candid Sea dari berbagai sudut, membuat dirinya semakin yakin jika kehadiran Alfio di sana memang suatu yang sudah direncanakan.


Sea yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut ketika Noah melempar ponselnya ke atas tempat tidur sambil menatapnya tajam. Lalu tanpa menjelaskan apa yang salah, suaminya pergi begitu saja.


Bunyi keras suara pintu yang ditutup dengan kasar oleh Noah adalah bukti jika pria itu kini sedang marah. "Apa lagi kali ini?" Monolog Sea dengan lesu.


......................


Seperti kebiasaannya setiap pagi, setibanya di rumah sakit Noah tak langsung menuju ruangan tempatnya praktik. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk mampir di kedai kopi yang lokasinya berada di salah satu sudut lobi rumah sakit.


Berkali-kali Noah menarik napas panjang. Pria itu mulai tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. “Mengapa aku harus semarah itu pada Sea?" Pertanyaan dalam hati Noah yang sulit sekali ia temukan jawabannya.


Tak ingin pikirannya semakin kacau dan membawa dampak buruk bagi pekerjaannya, Noah memutuskan untuk menceritakan hal ini pada sahabatnya. Setelah membeli 3 cup kopi, bergegas Noah menuju IGD untuk menemui Owen dan Sandy yang sejak semalam bertugas di sana.


Tawa Sandy menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Pria itu tak bisa menahan gelak tawanya saat melihat bagaimana raut wajah sahabatnya yang berubah-ubah. Awalnya Noah menceritakan betapa menyenangkan liburan dirinya dan sang istri dengan raut yang berseri-seri, kemudian ia berubah cemberut saat bercerita jika seorang pria datang dan mengacaukan keadaan.


“Lu gak sadar kalau yang mengacau itu bukannya pria lain, tapi lu sendiri." Komentar Sandy di sela tawanya.


“Gue yang salah? Bagaimana bisa jadi gue yang salah?” Protes Noah.


“Seandainya lu bisa menahan emosi lu. Seandainya lu mau mendengar penjelasan dedek Sea. Seandainya lu mau percaya ucapan istri lu, apa akhirnya akan sama seperti ini?” Bagai seorang pakar cinta, panjang lebar Sandy mencoba membuat Noah mengerti.


Noah bungkam, memikirkan ucapan Sandy yang ada benarnya atau bisa saja ucapan sahabatnya itu benar semua.


Melihat bungkamnya Noah, owen yang sejak tadi hanya menjadi pendengar mau tak mau ikut berkomentar. “Akui saja jika sekarang lu cemburu!”


Ucapan Owen singkat, padat, dan menusuk tepat sasaran ke hati Noah. Noah yang semakin mematung, tak bisa memikirkan satu kata pun yang bisa menyanggah ucapan Owen.


Owen dan Sandy sudah akan beranjak pergi setelah menerima panggilan dari perawat IGD. “Jika cemburu itu benar adanya, tunggu saja waktunya sampai lu akhirnya mengakui jika cinta itu juga ada untuk Sea.” Nasihat Owen ia akhiri dengan tepukan di salah satu bahu sahabatnya kemudian berlalu dengan senyum getir di wajahnya.


Dan jika cinta itu benar adanya, kuharap Noah tak seperti diriku yang menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki Sea, batin Owen.


......................


Rupanya bertemu dengan kedua sahabatnya bukanlah keputusan yang baik. Bukannya mengurangi, yang terjadi adalah ucapan dari kedua pria itu malah semakin menambah beban pikirannya.


“Ngaco! Mana mungkin aku mulai mencintai Sea.” Gumam Noah saat melepas jas yang ia pakai dan menggantinya dengan sneli kebanggaannya.

__ADS_1


Sementara Noah masih bersiap untuk mulai memeriksa pasien, pintu ruangannya diketuk. "Masuk,” ucap Noah.


Tak lama pintu terbuka lalu tampaklah Dokter Stevan, Direktur Rumah Sakit disusul sekretarisnya memasuki ruangan Noah.


“Dokter Stevan,” sapa Noah ramah menyambut senior juga dokter yang menjadi panutannya selama ini. “Silakan duduk, Dok.” Imbuhnya.


“Bagaimana liburanmu?” tanya Dokter Stevan.


Noah memaksakan senyumnya. “Menyenangkan, Dok.”


“Meski cukup melelahkan, tapi cukup efektif untuk sedikit melepas penat.”


Dokter Stevan menjawab dengan angggukan kepala dan senyumnya sebagai tanda jika ia juga setuju dengan ucapan Noah.


“Baguslah, saya turut senang mendengarnya.” Ujar Dokter Stevan.


“Maksud saya menemuimu kali ini untuk menugaskanmu menghadiri seminar kedokteran di Kota S yang akan diadakan besok,” ungkap Dokter Stevan.


“Maaf jika terkesan mendadak. Sebenarnya saya ingin memberitahu sejak kemarin, hanya saja saya tak ingin mengganggu waktumu bersama isri,” lanjutnya.


Noah memaksakan senyumnya. Mengapa semua orang yang ia temui pagi ini terus membahas Sea! Gerutunya dalam hati.


“Bukan masalah, Dok. Saya siap untuk melaksanakan tugas yang Anda berikan.” Noah pikir lebih baik jika dirinya menerima tugas itu, menjauh dari Sea meski hanya sebentar sepertinya pilihan yang terbaik saat ini.


......................


Di hari yang sama, Noah berangkat ke Kota S. Dengan sengaja, pria itu pergi saat Sea masih berada di kampusnya. Pada kedua orang tuanya pun, Noah hanya meminta izin melalui pesan singkat.


Betapa terkejut Noah saat Alesandra juga berada di dalam mobil yang ditugaskan oleh rumah sakit untuk mengantarnya ke bandara.


“Dokter Alesandra, apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Noah.


“Apa Dokter Stevan tidak memberi tahu jika aku juga ditugaskan untuk mengikuti seminar itu?” jawab Alesandra.


Noah menggeleng lalu berdeham. Dalam perjalanan menuju bandara, sedikit pun Noah tak berniat untuk memulai pembicaraan dengan Alesandra. Berbeda dengan wanita itu yang terus bercerita mengenai dirinya tanpa di minta.


Sampai ketika Alesandra mulai merekam video untuk diunggah di sosial medianya. Awalnya Noah tak ingin ambil pusing, namun lama kelamaan Noah merasa terusik sebab kini posisi duduk wanita itu semakin mendekat padanya hingga wajahnya juga ikut terekam dalam video yang direkam Alesandra.


“Dokter Sandra!” tegur Noah. “ Tolong berhenti merekam video di dekatku, juga hapus semua foto dan video yang menampilkan wajah saya,” titah Noah.


Rupanya peringatan Noah tak diindahkan oleh Alesandra. Tanpa izin wanita itu bahkan mengunggah semua foto dan video ke sosial medianya. Alesandra merasa sangat senang dan bangga dengan dirinya saat melihat ada satu foto yang tampak seolah-olah dirinya sedang bersandar di bahu Noah.


Mana mungkin aku menyia-nyiakan foto berharga seperti ini. Batin Alesandra.

__ADS_1


Tak tahu saja wanita itu jika beberapa menit setelah unggahannya berhasil, di dua tempat berbeda sedang terjadi kehebohan. Tempat itu adalah Rumah Sakit Pelita Harapan, dan satunya lagi kantin Universitas Cipta Bangsa.


...----------------...


__ADS_2