
“Please, Sea… kumohon. Hanya sebentar, biarkan seperti ini.” Pinta Alfio dengan lirih.
“Maaf Kak Al, tapi kamu membuatku tak nyaman,” aku Sea.
Saat Sea rasa pelukan Alfio tak seerat sebelumnya, ia mengambil kesempatan itu untuk melerai pelukannya. “Maaf,” kata Alfio penuh sesal.
“Sudahlah, tapi kumohon jangan lakukan lagi.” Sea bisa melihat ada kekecewaan dari sorot mata Alfio.
“Kak Al, bagaimana keadaanmu?” tanya Sea. “Maaf… sebab baru bisa menanyakannya sekarang.”
Alfio menggeleng. “Jangan meminta maaf, kamu tak bersalah apa pun.”
“Harusnya aku yang memohon maaf darimu. Kecelakaan itu membuatmu harus kehilangan calon buah hatimu,” ucap Alfio.
Air muka Sea mendadak sendu, mengingat calon buah hatinya yang hanya hitungan minggu berada dalam rahimnya. “Bisakah kita tak membahasnya lagi? Aku masih belajar untuk sepenuhnya ikhlas.” Sea tak menatap Alfio saat mengatakan permintaannya itu.
Kadang Sea ingin seperti suaminya, menjadikan Alfio sebagai salah satu penyebab ia kehilangan calon buah hatinya. Namun mengingat kondisi Alfio yang ikut menjadi korban saat kecelakaan itu terjadi, keinginan itu segera Sea tepis.
“Baiklah, maafkan aku.” Permintaan Sea begitu mudah bagi Alfio. “Aku hanya ingin kamu tahu, jika aku turut berduka atas kehilanganmu.”
Kedua netra Sea mulai berkaca-kaca. Untuk sepenuhnya ikhlas begitu sulit, meski ia telah mencoba berkali-kali. “Terima kasih,” jawab Sea lirih.
“Sea, bisakah aku meminta waktumu? Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan,” pinta Alfio dengan memelas.
Wanita itu bungkam sejenak. Sea ragu untuk menerima ajakan Alfio. Sea teringat jika suaminya pasti akan murka bila tahu dirinya bertemu dengan pria itu. Bukannya Sea tak paham jika alasan Noah tak mengizinkan dirinya kembali bekerja, salah satunya karena tak ingin ia bertemu dengan Alfio.
“Sea… Sea….” Seruan Alfio membawa Sea kembali dari lamunannya.
Setelah memikirkan beberapa hal, akhirnya Sea bisa memutuskan.
“Baiklah, aku akan menemuimu di kafe. Aku juga memiliki sesuatu yang ingin kusampaikan padamu dan teman-teman di kafe.”
Jika pada akhirnya dia harus berhenti bekerja, maka dia akan pamit pada teman-teman yang telah mewarnai hari-harinya dahulu, begitu pikirnya.
“Ta-tapi aku ingin bicara berdua denganmu,” pinta Alfio.
Saat melihat kening Sea mengernyit, Alfio khawatir jika Sea berubah pikiran. “Baiklah, aku akan menunggumu di kafe.”
__ADS_1
“Ya, aku akan ke sana siang ini, setelah jam kuliahku berakhir,” ucap Sea sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kuliahnya.
...…………...
Jam pertama perkuliahan telah selesai, Sea dan Tessa berjalan beriringan menuju kantin kampus. “Gue kangen Phila,” gumam Tessa.
“Apa Phila bilang kapan dia akan kembali?” Tanya Sea.
Tessa menggeleng. Sejak kembali dari kampung halaman Sea, Phila mendadak menghilang tanpa kabar. Saat Tessa menyambangi ke rumahnya, asisten rumah tangga mereka mengatakan jika Phila dan kedua orang tuanya sedang mengunjungi salah satu keluarga mereka yang tinggal di luar Negeri.
“Sudah coba hubungin Phila?” tanya Sea.
Kali ini Tessa menjawab dengan anggukan lemah. “Nomor ponselnya gak aktif. Semua sosial medianya juga sama, tak ada aktivitas apa pun. Entah sudah berapa banyak email yang gue kirim, saking banyaknya mungkin email gue udah dianggap spam,” keluh Tessa.
Pembicaraan dua sahabat itu terhenti ketika pesanan makanan mereka sudah tiba. “Huh, kenapa juga gue pesan mie ayam?!” gerutu Tessa.
Kening Sea mengerut, “Memangnya kenapa? Bukannya itu makanan kesukaan lu.” Sea bisa melihat Tessa yang begitu tak bersemangat.
“Ini kan juga makanan kesukaan Phila,” ucap Tessa.
Sea hanya bisa menghela napasnya. Bukan Tessa namanya, jika tak bisa menarik perhatian orang-orang disekitarnya.
Berita mengenai Phila yang sudah beberapa hari terakhir tak ada kabar, baru Sea ketahui hari ini. Tessa beralibi tak ingin mengganggu kebersamaan Sea dan Noah, hingga ia akhirnya memutuskan untuk menyimpannya seorang diri.
“Sudahlah… habiskan makananmu. Gue juga akan membantu mencari keberadaan Phila,” ucap Sea menenangkan.
“Sebaiknya kita bergegas. Aku masih harus ke kafe setelah jam kuliah usai,” celetuk Sea.
“Lu ingin menemui Bang Alfio?” Tanya Tessa tak percaya.
“Bukan cuma Kak Al, tapi juga pada semua teman- temanku di kafe. Aku ingin berpamitan pada mereka,” tutur Sea.
Sea tampak menghela napas yang kemudian diartikan oleh Tessa sebagai jawaban. “Sepertinya tanpa gue omongin lu udah tahu,” kata Tessa.
“Cintanya besar banget untuk lu, Sea.” Ungkap Tessa.
“Lu patahin hatinya sekarang jauh lebih baik. Dibandingkan jika lu biarkan dia memupuk harapan, dan nantinya harapan itu yang akan mematahkan hatinya,” tutur Tessa.
__ADS_1
Sea hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan sahabatnya. Sea semakin yakin jika keputusannya untuk menuruti keinginan suaminya adalah pilihan terbaik.
Meski merasa tak pernah memberi harapan pada Alfio, namun siapa yang bisa menduga hati seseorang. Kepada siapa hati ingin bertaut, rasanya akan sulit dicegah jika selalu ada kebersamaan. Kini, Sea sudah semakin yakin dengan keputusannya untuk berhenti bekerja dan mulai menjaga jarak dari Alfio.
...…………....
Seperti janjinya… tepat setelah semua jadwal kuliahnya selesai, Sea bergegas pergi ke kafe Venus. Sama seperti sebelumnya, wanita itu tetap mendapatkan sambutan hangat dari para rekannya di sana.
Sea mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, namun sosok pria yang ia cari tak ia temukan. Bahkan saat semua karyawan berkumpul untuk menyambut Sea, sosok Alfio belum juga muncul.
“Sea, kami sangat merindukan kamu,” ujar salah seorang rekan kerjanya yang bertugas sebagai pelayan.
“Kami mendengar berita kecelakaan yang menimpamu dan si Bos. Sungguh kami sangat khawatir saat itu,” imbuh salah seorang lagi yang bertugas di bagian dapur.
“Terima kasih ya, teman-teman… aku merasa sangat bersyukur mendapatkan doa dan perhatian dari kalian semua,” ucap Sea.
“Sebenarnya sangat sulit untukku mengambil keputusan ini, setiap waktu yang kuhabiskan di sini terasa begitu berkesan,” ungkapnya.
“Mungkin kalian sudah tahu, saat kecelakaan aku harus kehilangan janin yang sedang aku kandung.” Lagi-lagi raut wajah sedih, bersalah, dan penuh penyesalan tampak dari wajah Sea.
“Sebenarnya tujuanku ke mari, selain untuk melepas rinduku pada kalian, aku juga ingin pamit,” ungkap Sea.
“Maafkan aku, tapi aku memutuskan untuk berhenti bekerja,” lanjutnya.
Suasana seketika menjadi hening. Kebersamaan Sea dan karyawan kafe lainnya terjalin cukup erat. Tak ada komentar apa pun dari rekan-rekannya. Hingga salah seorang pelayan wanita berhambur memeluk Sea, yang kemudian diikuti karyawan lainnya.
Entah Sea pantas bersyukur atau tidak karena keberadaannya cukup berarti di hati para rekannya. Wanita itu mulai dilanda dilema. Namun keputusannya sudah final. Mulai saat ini dia akan lebih fokus pada kuliah dan rumah tangganya saja.
“Ka-mi pasti akan sangat merindukanmu,” ucap salah seorang di antara mereka.
“Tapi kami pun juga mendukung keputusanmu untuk berhenti bekerja demi keluarga. Kami mendoakan kebahagiaanmu.” Ucap salah seorang lainnya.
Tanpa mereka duga, adegan penuh haru itu disaksikan oleh Alfio. “Ekhemm… adakah yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini?” Pekik Alfio.
Pria itu sudah menduga jika hal ini akan terjadi, namun ia tak bisa semudah itu membiarkan Sea menjauh darinya. Tak akan kubiarkan, pada akhirnya Sea harus tetap menjadi milikkku. Batin Alfio.
...-----------------...
__ADS_1