Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 78. Penangkapan Alfio


__ADS_3

Ceklek.


Pintu ruangan tempat Sea dirawat terbuka. Kemudian disusul dengan Noah yang keluar dari dalam sana.


Kesedihan juga duka jelas terlihat sedang menyelimuti pria itu. Meski sekilas terlihat ia melempar senyum pada sahabat-sahabat terdekatnya, namun hal itu jelas tak mampu menutupi besarnya kesedihan juga beratnya beban yang kini pria itu pikul.


“Kalian semua masih di sini,” ujarnya dengan senyum yang ia paksakan.


“Kami semua menanti kabar baik mengenai Sea,” celetuk Mami Joanna.


Noah pun mengalihkan pandangannya pada kedua orang tuanya. Rahangnya mengeras saat melihat ada Alfio, pria yang tak ia harapkan kehadirannya turut berada di sana.


“Tentu saja keadaan Sea sudah jauh lebih baik, Mami.” Noah menjawab ucapan sang ibu, namun tatapan tajamnya tak berpindah dari sosok Alfio.


“Ada apa ini? Ada keperluan apa kau datang kemari?” tanya Noah dengan tak ramah pada Alfio.


“Gue mendengar kabar mengenai musibah yang menimpa Sea,” jawab Alfio. “Tentu saja gue ke mari untuk melihat bagaimana kondisi Sea saat ini.”


“Gue ingin tahu kondisinya. Dia baik-baik saja, kan?” imbuhnya.


Noah tak menjawab pertanyaan Alfio. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya seraya berdecak. Ia merasa tak ada keharusan untuknya memberitahu mengenai kondisi terkini istrinya. Perhatian dari Alfio kepada Sea, membuat Noah kesal juga muak dengan sikap pria itu.


“Maaf Tuan, apa benar Anda adalah Tuan Noah Myles? Suami dari korban yang bernama Seanna Filia?” tanya salah seorang polisi menyela.


“Ya, benar. Ada apa? Ada keperluan apa?” Noah menatap keempat pria dengan postur tubuh tinggi, tegap, dan kekar di hadapannya.


“Kami dari pihak kepolisian, tepatnya yang menangani penyelidikan kasus penyerangan yang menimpa istri Anda,” jelas seorang polisi yang sejak tadi menjadi juru bicara.


“Kami ingin menyampaikan hasil penyelidikan terbaru kami. Pelaku penyerangan telah tertangkap dan saat ini kami juga akan meminta keterangan dari Tuan Alfio,” jelasnya.


Seorang polisi yang sejak tadi berbicara kemudian menjelaskan kembali semua hal penting mengenai kasus yang sedang mereka tangani. Saat polisi tersebut menyebutkan nama Alfio, baik Noah maupun Alfio memberikan respon yang berbeda.


“B*ngs*t!” Noah memaki Alfio dengan geram.


Seandainya tak dicegah oleh Owen, sudah pasti satu pukulan dari Noah sudah mengenai wajah tampan Alfio. Keterangan polisi yang menyebutkan jika Alfio disebut oleh pelaku sebagai orang yang menjadi otak atas kejadian ini, telah berhasil menyulut emosi Noah.


Seandainya membunuh bukanlah suatu dosa, maka Noah tak akan segan-segan melakukannya pada Alfio saat itu juga. Calon buah hati yang ia dan Sea sangat nantikan harus kembali ke pangkuan Sang Ilahi, maka tak salah jika Alfio pun kembali ke neraka. Begitu pikir Noah.


Alfio pun merespon tak kalah geramnya. “Fitnah! Gue difitnah!”


“Gue gak peduli! Lu mau maki gue seperti apa, tapi gue berani bersumpah gak akan mungkin menyakiti Sea,” bantah Alfio membela diri.


“Mana mungkin gue menyakiti wanita yang gue cintai!” sambung Alfio tanpa tahu malu. Hal itu semakin menyulut kemarahan Noah.

__ADS_1


“Dasar brengs*k! Pria gila!” Teriak Noah.


Pria itu memberontak, ia ingin melepaskan kedua tangannya yang kini dipegangi oleh Owen dan Sandy.


Situasi di rumah sakit yang mulai tidak kondusif membuat keempat aparat kepolisian itu segera bertindak.


“Tenanglah, Tuan Noah. Kami akan menyelidiki dengan baik kasus ini. Jika terbukti bersalah, pelaku juga dalang dari penyerangan ini akan menerima hukuman yang setimpal.”


Dua orang aparat kepolisian, terlihat berdiri tepat di belakang punggung Alfio.


“Tuan Alfio, berdasarkan keterangan pelaku … Anda kami minta untuk ikut ke kantor polisi guna memberi keterangan dan pemeriksaan lebih lanjut.”


“Anda bisa mendapatkan penjelasan juga memberikan keterangan dan pembelaan Anda di kantor polisi, Tuan.”


“A-apa?!” pekik Alfio. “Tapi semua tuduhan itu tidak benar!” sanggah Alfio.


“Ikut dengan kami! Anda bisa memberi pernyataan di kantor polisi.” Kata salah seorang polisi lainnya dengan tegas.


Ia juga turut memberi instruksi dengan menggunakan gerakan bola matanya pada kedua rekannya yang sudah siap berdiri di balik punggung Alfio, agar segera mengambil tindakan.


Alfio terus berkilah. Pria itu dengan lantang terus menolak tuduhan yang dilayangkan padanya. Namun semua seakan sia-sia.


Dua orang polisi terus menggiring langkahnya untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit. Bahkan Roy tak bisa berbuat banyak. Ia hanya mengatakan akan segera menyusul bosnya ke kantor polisi bersama seorang pengacara.


Apa dia menangis? Batin Alfio resah melihat itu semua.


Suasana di depan ruang perawatan pasca operasi mendadak hening. Suasana haru seakan sirna, digantikan dengan ketegangan yang dapat dirasakan oleh semua orang.


Tanpa ada yang menyadari kehadirannya, seorang wanita dengan snelli yang melekat di tubuhnya terlihat menyunggingkan senyum dari kejauhan. Tak ada yang menyadari kehadiran wanita itu di sana. Tak ada pula yang tahu jika, dalam hati kini ia sedang bersorak gembira.


Sekali tepuk dua lalat, soraknya dalam hati.


...……………....


Noah baru saja selesai bertemu dengan salah seorang dari tim kuasa hukum kepercayaan keluarga Myles. Pengacara itu yang nanti akan membantunya melakukan penuntutan kepada pelaku dan juga kepada otak dari kejadian naas yang telah menimpa istrinya.


“Ayah akan membantumu. Orang-orang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” ucap Ayah Peter saat memberi dukungan moril pada putranya.


“Terima kasih, Ayah. Tentu saja akan kupastikan mereka semua menerima ganjaran yang setimpal.”


Di saat yang bersamaan, pintu ruangan tempat Sea mendapat perawatan kembali terbuka. Dokter Frisha yang keluar dari sana kini menjadi pusat perhatian dari semua orang yang tak kenal lelah menanti Sea kembali membuka mata.


“Noah! Cepat kemari, Sea sudah sadar!” seru dokter cantik itu disusul dengan seruan penuh syukur dari semua orang yang bahagia mendengar kabar baik mengenai Sea.

__ADS_1


“Oh Tuhan … syukurlah,” ucap Noah.


“Terima kasih, Tuhan,” imbuhnya seraya berlari untuk menemui istrinya.


“Fris, maaf jika saya pergi cukup lama. Terima kasih sudah bersedia menjaga istriku,” ucap Noah saat menyadari kehadiran Frisha yang turut berjalan di belakangnya.


“Hei, jangan bicara seperti itu. Semua itu bukan masalah besar,” jawab dokter Frisha.


“Kita ini dokter Noah, tugas utama kita berusaha yang terbaik untuk kesembuhan pasien,” ucap Dokter Frisha dengan berbisik.


Tersisa beberapa langkah lagi dan Noah akhirnya bisa menemui istrinya. Namun sebelum ia berhasil melakukannya, dokter Frisha mencegahnya.


“Sebentar,” ucapnya masih berbisik.


“Maafkan aku. Saat sadar, yang pertama ia tanyakan adalah anak kalian di kandungannya.”


Frisha tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Maaf karena Sea telah mengetahui yang terjadi padanya. Aku sudah menenangkannya, namun kutahu itu tak akan cukup,” aku Frisha.


“Aku percaya kau mampu menenangkannya. Aku percaya cinta kalian adalah obatnya.” Frisha menepuk pundak Noah sebagai bentuk dukungannya sebelum ia beranjak meninggalkan sejoli yang kini sedang diselimuti duka.


Noah hanya mengangguk, ia bahkan tak menoleh untuk melihat rekannya pergi berjalan menjauh meninggalkannya. Tatapannya telah terkunci pada tubuh istrinya yang bergetar karena sedang menangis.


Hanya butuh empat langkah lebarnya, kini ia berdiri sangat dekat dengan istrinya. “Mhiu, sayangku. Kamu sudah bangun, syukurlah.”


Meski telah berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar di hadapan istrinya. Namun, suara bergetar miliknya tak bisa menutupi fakta jika kini hatinya remuk setelah kehilangan calon buah hatinya.


Ditambah dengan melihat kondisi tubuh istrinya yang begitu lemah. Juga kesedihan istrinya yang begitu besar, tampak jelas dari derai air matanya saat ini. Semua hal itu membuat hati Noah terasa semakin hancur.


Sea menoleh ke arah suaminya. Wajah pucatnya sudah basah oleh air mata. Denyut jantungnya tak normal. Cenderung berdetak lebih cepat. Air mata yang baru saja berhenti, kini kembali tumpah.


“Mas … a-anak ki-kita,” ucap Sea dengan lirih. Ucapannya bagai tercekat di tenggorokan.


Pedihnya kehilangan untuk kedua kalinya membuat Sea rasanya kehilangan kemampuan untuk bicara. Menangis, hanya itu yang biasa ia lakukan saat ini.


Noah menunduk untuk memeluk Sea. Dikecupnya kening istrinya. “Sssttt … aku juga sama sepertimu. Aku juga sedih, aku juga kehilangan, Mhiu sayang.”


“Cukup kehilangan calon buah hati kita, aku tak ingin kehilanganmu.”


Di ruangan itu … sepi juga dinginnya suhu ruangan tersebut, tak mampu mengusik Sea dan Noah. Tangisan keduanya terdengar begitu memilukan. Sekali lagi, mereka telah kehilangan satu hal berharga dalam hidup.


“Aku tak sanggup kehilangan lagi. Kamu mau kan berjanji untuk terus bersamaku?” Pinta Noah setelah ia mendekap erat istrinya.


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2