
Seminggu terakhir benar-benar dimanfaatkan Sea untuk bedrest. Beruntung sekali dirinya, memiliki suami seorang dokter yang selalu berusaha perhatian di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa.
Seperti yang terjadi siang ini. Satu jam yang lalu, tepat sebelum waktu istirahat jam makan siang tiba. Noah yang sedang memeriksa pasiennya di poliklinik Rumah Sakit Pelita Harapan menerima sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
Setelah membaca pesan tersebut, sontak saja senyum terlihat di wajahnya. Dokter tampan itu sedang berusaha menahan tawanya. Perawat yang bertugas mendampinginya saat ini, sampai dibuat penasaran akan pesan apa yang telah dibaca oleh sang dokter.
“Sus, apakah pasien yang menunggu masih banyak?” tanya Noah.
“Dua pasien lagi, Dok.”
“Hem … baiklah. Ayo, semangat! Dua lagi dan kita bisa beristirahat,” ungkap Noah.
...………....
Tepat saat jam istirahat tiba, setelah semua pekerjaannya di poliklinik telah selesai, Noah bergegas untuk pulang ke rumahnya. Bukannya tanpa alasan, pria itu harus bergerak lebih cepat. Memanjatkan doa dalam hati agar sepanjang perjalanan menuju tujuannya, ia tak akan mendapati kemacetan.
Pesan singkat dari sang istri tercinta adalah penyebab semua ini. Sea yang harus bedrest di rumah, kerap kali meminta hal yang cukup aneh. Seperti suatu waktu, Sea pernah meminta suaminya mengenakan setelan kemeja berwarna merah muda saat bekerja.
Seingat Noah tak hanya itu, istrinya juga pernah memintanya untuk membeli banyak sekali boneka barbie lengkap dengan rumah, pakaian, juga aksesoris untuk bonekanya. Noah hanya bisa menggeleng saat mengingat-ingat segala permintaan istrinya seminggu terakhir.
Entahlah, apakah semua permintaan itulah yang biasa disebut sebagai ngidam. Atau bisa jadi semua itu hanya karena istrinya merasa begitu bosan. Berhari-hari berada di atas tempat tidur, tanpa boleh melakukan pekerjaan apa pun yang bisa membuatnya lelah.
Berbeda dengan siang ini. Selain permintaan istrinya untuk dibawakan sebungkus nasi padang, yang membuat Noah begitu bersemangat adalah iming-iming hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Frisha pagi ini. Ada kabar baik yang Noah nantikan selama seminggu terakhir.
“Semoga hasilnya sesuai harapanku,” gumamnya seraya terus melajukan mobilnya untuk menemui sang pujaan hati.
...…………....
“Phiu, aku akan makan sendiri saja. Kamu makanlah dulu makan siangmu,” Sea hendak mengambil alih sendok dari tangan suaminya.
“No, No, No,” Noah menggelengkan kepalanya. “Biarkan aku yang menyuapimu.”
Sea menggeleng dengan tingkah suaminya siang ini. Sejak ia beritahu jika kondisinya sudah jauh lebih baik, maka senyum Noah tak pernah lagi surut dari wajahnya.
__ADS_1
Bagaimana pria itu tidak bahagia, setelah seminggu menahan hasrat untuk tak menyentuh istrinya, hari ini kebebasannya pun akhirnya kembali.
“Mhiu sayang … walaupun kata dokter Frisha kondisimu sudah jauh lebih baik, namun tolong tetap jaga kesehatanmu,” nasihat Noah dan segera direspon dengan anggukan oleh Sea.
“Bagus. Yang perlu kamu ingat, jangan mengerjakan hal yang berat-berat. Jangan sampai kamu kelelahan ya, sayang,” imbuhnya.
Dengan mulut yang masih dipenuhi makanan dan dengan menirukan gaya seseorang yang sedang hormat, Sea menjawab ucapan suaminya. “Siap laksanakan, Phiu sayang!”
Rupanya benar jika bukan soal restoran mewah atau makanan mewah apa yang akan kamu makan. Namun dengan siapa kamu makan, maka kamu akan bisa lebih menikmati makanan tersebut, batin Noah.
Senyumnya semakin merekah melihat istrinya begitu lincah mondar-mandir di dapur saat sedang membereskan bekas makan mereka. Makan siang mereka kala itu terasa lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Meski sederhana, hanya dengan dua bungkus nasi padang tetap saja terasa begitu istimewa.
“Sayang, aku dan Mami akan membuat puding susu kesukaanmu sore nanti,” ucap Sea. Tangannya menuangkan satu sendok gula pada cangkir. Ia hendak membuatkan secangkir teh untuk suaminya.
“Puding susu kesukaanku?” Noah tampak berpikir sesaat sebelum seringai tipis terlihat pada wajah tampannya.
“Siapa yang memberi tahumu jika aku menyukai puding susu?” tanya Noah. Seringainya semakin melebar tatkala melihat Sea berjalan ke arahnya dengan secangkir teh di tangannya.
“Mami,” jawab Sea singkat setelah mendudukkan dirinya di samping Noah.
“Bahkan sampai sekarang pun masih. Tapi … aku sedang tak ingin puding yang itu,” ungkapnya.
Ada sedikit kekecewaan yang dirasakan Sea. Padahal aku sudah menyiapkan semua bahannya, gumamnya dalam hati.
Sea terlonjak manakala Noah tiba-tiba memeluknya dari samping. Pria itu menyandarkan kepalanya pada pundaknya. “Kamu tak ingin tahu, puding apa yang paling aku inginkan saat ini?”
Sea mengangguk, “Katakan padaku, aku akan berusaha membuatnya. Spesial untukmu,” jawabnya.
Bukannya menjawab, tangan Noah yang sebelumnya memeluk erat pinggang Sea dari samping, tiba-tiba saja merambat naik hingga mencapai dua buah kenyal di dada istrinya. “Ini … aku ingin ini,” ungkapnya.
“Akh!” Sea memekik. Tentunya bukan karena sakit, tapi lebih karena terkejut atas apa yang dilakukan suaminya.
“Sa-sayang! Apa yang kamu lakukan?” Sea membelalak pada Noah dan hal itu dianggap lucu oleh pria itu. Lucu sekali melihat istrinya membelalak sementara bibirnya ia lipat ke dalam, berusaha agar tak mengeluarkan suara-suara yang meresahkan.
__ADS_1
“Aku menjawab pertanyaanmu, Mhiu sayang.” Tangannya sudah berpindah dari buah di sebelah kanan ke buah yang sebelah kiri.
“Hentikan, sayang! Bagaimana jika ada yang melihat?” ucap Sea berbisik disusul netranya yang mengawasi ke sekelilingnya.
“Paling cuma si Mbok,” jawab Noah santai membuat Sea menaikkan alisnya.
“Atau Mami. Ayah juga mungkin akan melihatnya dari CCTV,” ujar Noah terdengar tanpa beban.
Bahkan pria itu tak menghentikan aktivitas tangannya. Sulit untuk berhenti setelah seminggu tak menyapa dua benda kesayangannya.
Mendengar itu, sontak saja Sea ingin menjauhkan tubuhnya dari pelukan sang suami. Namun, salah satu tangan Noah masih memeluknya dan menahan pergerakannya.
“Tenanglah sayang, dulu mereka juga pernah muda. Mereka pasti mengerti.” Noah berusaha menenangkan istrinya, ia kecup pipi istrinya yang mulai tampak lebih tembem.
Sedangkan Sea hanya bisa pasrah. Ibu hamil itu mencebik saat Noah mengerlingkan sebelah mata untuk menggodanya.
...…………...
Sebelum Noah berangkat kembali ke rumah sakit, pria itu menyempatkan untuk mengantar istrinya ke sebuah kafe. Sejujurnya, Noah kurang setuju dengan keinginan istrinya untuk menemui dua sahabatnya di kafe. Namun, puppy eyes milik istrinya itu melemahkannya.
“Jangan capek-capek, makan jangan yang pedas, kabarin aku jika ada yang terasa tak nyaman.” Tak henti-henti Noah mengulang-ulang nasihatnya pada istrinya.
Sea akhirnya hanya bisa mengangguk dengan senyum di bibirnya. Saat Noah mengecup keningnya, Sea tahu jika suaminya sungguh khawatir padanya. Khawatir pada kesehatan dirinya dan janin dalam kandungannya.
“Selalu berhati-hati ya, Mhiu sayang. Selalu kabari aku, oke.” Dengan membalas lambaian tangan istrinya, Noah mulai melajukan mobilnya secara perlahan.
Dari pantulan kaca spion mobilnya, Noah akhirnya bisa bernapas lega saat dilihatnya Sea sudah memasuki kafe. Sepasang suami istri itu tak tahu, jika interaksi keduanya sejak tadi diawasi oleh seorang pria dari dalam kafe.
Saat melihat Sea masuk melewati pintu kafe, pria itu menyeringai. Dilihatnya Sea sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya, menurutnya ini adalah saat yang paling tepat. Perlahan ia mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket kulit hitamnya. Pria itu berjalan berlawanan arah dengan Sea.
Saat keduanya berpapasan, “Aaaaacchhh!” Sea memekik dan kedua matanya terbelalak. Ia menoleh ke arah pria di sampingnya yang menatapnya tajam dengan seringai mengerikan dari wajahnya.
Hanya dalam hitungan detik, pria itu berlari secepat kilat. Sedangkan Sea, wanita itu bisa merasakan pandangannya mulai mengabur. Hanya suara tapak kaki dari berbagai sisi yang bisa ia dengar, disusul suara jerit seorang wanita yang sangat ia kenali.
__ADS_1
“Sea!!!”
...----------------------...