Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 53. Bertemu Alfio


__ADS_3

Jauh sebelum pancaran sinar mentari mulai menghangatkan bumi, Sea sudah terjaga dari tidurnya. Sea begitu menantikan datangnya hari ini. Dalam pandangannya, pagi ini begitu cerah. Pancaran fajar secerah pancaran semangatnya untuk menjalani hari ini.


“Semangat baru, di hari yang baru!” Serunya di depan cermin saat menata surai panjangnya menjadi sedikit bergelombang di bagian ujungnya.


“Semangatnya istriku…” Komentar Noah yang baru saja keluar dari walk-in closet.


Melihat penampilan suaminya yang masih belum siap, Sea sudah paham apa yang diinginkan pria itu. Setelah siap dengan tatanan rambutnya, wanita itu beranjak untuk membantu mengancingkan kemeja putih yang dikenakan suaminya.


Cup.


Sebuah kecupan penuh cinta mendarat di kening istrinya. Tepat saat Sea sedang melakukan tugasnya, mengancingkan satu per satu kancing kemeja Noah. “Makasih ya, Mhiu sayang,” ucap Noah setelah tugas istrinya selesai.


Tak berhenti sampai di situ, Noah juga mengecup di tempat lain hingga hampir seluruh wajah istrinya tak ada yang ia lewatkan. Bibir dengan riasan lipstik ombre berwarna merah muda menjadi tempat pelabuhan terakhir bibir sang dokter.


Tak ada penolakan dari Sea, hal yang paling disyukuri Noah. Istrinya itu selalu siap menerima serangan apa saja darinya tanpa mengeluh. Sea benar-benar membuktikan ucapannya jika dirinya telah menerima Noah, telah membuka hati untuk suaminya.


Pasangan suami istri itu saling berpelukan erat, seolah akan berpisah untuk waktu yang sangat lama. “Phiu sayang, makasih ya atas keromantisan pagi ini,” ucap Sea saat kepalanya sudah bersandar di dada bidang sang suami.


Sea menyukai saat-saat seperti ini. Saat ia bisa mendengar dan merasakan degupan jantung suaminya.


“Aku pasti akan sangat merindukanmu,” ungkap Noah seraya mengecup puncak kepala istrinya. Semerbak aroma campuran bunga dan buah yang lembut dari surai sang istri semakin menambah kebimbangan Noah untuk berpisah dari istrinya.


“Phiu sayang, aku bukannya pergi untuk berperang… aku hanya akan pergi ke kampus seperti biasanya.” Komentar Sea atas ungkapan berlebihan suaminya.


“Saat malam tiba, kita akan bertemu lagi,” imbuh Sea.


Noah menggeleng, “Menanti malam tiba akan terasa sangat lama dan melelahkan. Apa kamu tega membiarkan suamimu merasakan hal itu?” Keluh Noah.


“Phiu, kita sudah membahasnya berulang kali,” jawab Sea. “Kita sudah sepakat, bukan?”


“Hemm….” Jawaban Noah hanya berupa dehaman.


“Phiu, aku tak akan tenang jika kamu seperti ini. Kamu tega membuatku risau seharian?” Dengan wajah memelas, Sea bertanya hal yang sama pada suaminya.


Mendapat pertanyaan yang sama seperti yang ia tanyakan sebelumnya, membuat Noah bingung harus menjawab apa. Kini pria itu paham, maksud pertanyaan Sea. Istrinya ingin agar Noah tahu bagaimana ia kesulitan menjawab pertanyaan darinya.


Sontak Noah menjawil puncak hidung istrinya. “Istri siapa sih ini, kok pintar banget?” tanyanya menggoda.


“Istrinya dokter Noah Myles dong,” jawab Sea dengan bersemangat disusul tawa keduanya bersamaan.


...……………...


Kemacetan yang terjadi di pagi hari bukanlah hal yang baru di Kota besar. Terjebak macet adalah satu dari sekian banyak rutinitas yang wajib diperhitungkan jika seseorang sedang mengatur jadwal aktivitas harian.


Di antara sekian banyaknya mobil dan motor yang terjebak, salah satunya di sana ada mobil milik Noah dan Sea.

__ADS_1


“Iya, Sus… tolong diundur selama 1-2 jam. Terima kasih, ya.” Ucap Noah sebelum mengakhiri panggilan telepon dengan perawat yang bertugas mendampinginya selama jam praktek di Rumah Sakit.


Mengetahui jika suaminya terlambat karena harus mengantarkannya lebih dulu ke kampus, membuat Sea merasa tak enak hati. “Maafin aku ya, Phiu….” Ucap Sea.


Kening suaminya mengernyit. “Maaf? Untuk?”


“Karena harus mengantarku ke kampus, kamu jadi terlambat,” jawab Sea tak bersemangat.


“Ssttt… berhenti berpikir seperti itu. Kamu istriku, kamu prioritasku, kamu yang terpenting untukku.” Ungkap Noah.


“Hemm, baiklah. Aku tak akan menyalahkan diriku. Tapi besok izinkan aku berangkat ke kampus sendiri,” ucap Sea.


“Kamu tahu jawabannya, Mhiu sayang.” Noah menolak usulan Sea.


Hal ini telah mereka bahas semalam. Sea dan Noah bahkan sempat berdebat dan sedikit bersitegang. Hingga pada akhirnya penyatuan berlandaskan cinta menjadi jalan keluar paling ampuh untuk menyelesaikan perdebatan dan mencairkan suasana canggung sepasang suami istri itu.


Sea menghela napasnya, sadar jika bagaimana pun ia berusaha membujuk Noah, suaminya tak akan mengizinkan dirinya bepergian seorang diri kemana pun. Terlebih jika tujuannya itu adalah kampus.


Noah dengan tegas sudah melarang Sea untuk kembali bekerja di kafe milik Alfio. Seandainya istrinya sangat ingin bekerja, Noah akan lebih setuju jika Sea mulai bekerja di perusahaannya sendiri, Seas Industries.


Sementara Sea dan Noah sedang melatih kesabarannya saat terjebak kemacetan yang luar biasa, di kampusnya ada seorang pria yang menanti dengan tak sabar.


Pria itu adalah Alfio. Semalam setelah mendapat kabar dari Tessa jika hari ini Sea akan kembali berkuliah, pria itu sudah tak sabar menanti datangnya pagi. Berbulan-bulan tak bertemu dengan wanita pujaannya, membuat Alfio terpaksa menumpuk rindu yang tingginya telah menyerupai gunung Himalaya.


“Tessa… hai,” sapanya.


“Jangan bilang lu sengaja berdiri di depan gerbang karena menunggu Sea?” Tebak Tessa. Sedangkan Alfio mengangguk dengan tak tahu malunya.


“Gila lu, ya!” Celetuk Tessa. “Yang lu tungguin itu bini orang. Woi… sadar diri dong, Kak Al!” Seperti biasa, tanpa menyaring ucapannya Tessa berkomentar.


“Gue gak peduli!” jawab Alfio tak acuh.


Saat Tessa akan kembali membalas ucapan Alfio, sebuah mobil yang tak asing bagi keduanya berjalan mendekat. Karena peduli pada kebahagiaan sahabatnya, dengan sigap Tessa menarik tangan Alfio untuk ikut masuk ke dalam kampus.


“Hei… lepasin gak!” Pekik Alfio.


“Gak akan, sebelum kita berdua bicara!” Balas Tessa.


Kini keduanya sudah berdiri di balik pohon besar yang tak jauh dari gerbang kampus. Dari tempat mereka berdiri, keduanya masih bisa melihat dengan jelas ke arah mobil yang baru saja menepi.


Tak berapa lama, tampak Noah turun lebih dulu. Kemudian pria itu berlari mengitari mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya. Terlihat keduanya mengobrol sesaat, sebelum akhirnya saling berpelukan erat.


Dengan mesra Noah mengecup kening istrinya lalu Sea membalas dengan mengecup punggung tangan suaminya. Jelas sekali terlihat jika keduanya enggan saling melepaskan pelukan, seperti tak rela untuk berjauhan. Yang dilakukan pasangan suami istri itu sungguh membuat kaum jomblo merasa semakin tersiksa.


Apa yang terjadi di sana, juga tak luput dari pandangan Tessa dan Alfio. “Tuh, lu lihat sendiri kan. Sea dan Noah sekarang sudah akur.” Celetuk Tessa saat menyadari jika kedua tangan Alfio telah mengepal.

__ADS_1


“Jadi, saran gue mending lu berhenti,” ucap Tessa.


“Gue gak butuh saran dari lu!” Balas Alfio.


“Calon pebinor yang keras kepala seperti lu, ujung-ujungnya akan sakit hati. Percaya deh sama gue.” Tessa masih membujuk Alfio agar berhenti untuk mengusik rumah tangga sahabatnya.


Alfio mendelik, menatap tajam Tessa. “Lu salah! Gue gak sama seperti orang yang lu sebutkan itu!” Elak Alfio. “Gue bukannya keras kepala, tapi gue adalah pejuang tangguh. Tak akan gue berhenti sebelum mendapatkan apa yang gue mau!”


“Ck… dasar egois. Awalnya gue kagum akan besarnya cinta lu pada Sea. Gue berniat mendukung lu jika memang cinta dari lu yang bisa bahagiakan Sea,” ujar Tessa.


“Tapi sekarang, bagi gue cinta lu ke Sea itu tak lebih dari hanya sebuah obsesi!” Lanjut Tessa.


“Jika lu benar-benar cinta, maka lu gak akan rela merusak kebahagiaan wanita yang lu cintai. That’s the real love!”


“Lihat! Buka mata, hati, dan pikiran lu! Sea bahagia dengan rumah tangganya. Sea bahagia dengan hidupnya.” Tessa terus berceloteh tanpa peduli jika Alfio akan mendengarkan atau tidak.


“Dan di kebahagiaan Sea itu gak ada lu. Satu-satunya pria yang menjadi alasan Sea bahagia adalah suaminya. Paham lu?” Ucap Tessa sebelum pergi tanpa pamit, meninggalkan Alfio berdiri mematung di tempatnya.


Sebelum pergi, Tessa bisa melihat bagaimana perubahan raut wajah Alfio. Pria itu tampak tak suka dengan setiap kata yang terucap dari bibirnya.


Meski ada kekhawatiran jika Alfio bisa saja marah bahkan murka padanya, namun Tessa juga tak ingin pria itu mengacaukan kebahagiaan sahabatnya.


...………...


Melihat mobil suaminya yang mulai melaju Sea melambaikan tangannya sebelum berjalan masuk ke dalam kampus.


Sepanjang jalan, banyak mahasiswa yang terpukau dengan cerahnya senyuman Sea. Senyumnya seolah bersaing dengan cerahnya sinar mentari.


Sudah lama aku tak ke kampus, rasanya sedikit asing. Batin Sea.


Langkah Sea menuju ruang kelasnya terhenti tatkala ia mendengar namanya diserukan oleh seorang pria.


“Sea….”


Wanita itu menoleh, mengedarkan pandangan ke sekitar. Sea tak menyangka jika secepat ini ia akan bertemu dengan salah satu orang yang paling ingin ia temui akhir-akhir ini.


“Kak Alfio….” Sea balas melambai pada pria yang berjalan mendekat padanya.


Alfio mempercepat langkahnya. Tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang tak pernah hilang dari pikirannya walau sedetik. Begitu besar rindu yang telah ia pupuk, hingga pria itu tak memedulikan apa pun.


Ketika jarak mereka sudah begitu dekat, tanpa meminta persetujuan Sea, Alfio memeluk wanita itu. Untuk beberapa detik awal, Sea dibuat mematung sesaat. Lalu akhirnya wanita itu pun bergerak, berusaha melepas pelukan Alfio pada tubuhnya.


“Please, Sea… kumohon. Hanya sebentar, biarkan seperti ini.” Pinta Alfio dengan lirih.


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2