Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 15. Sumber masalah


__ADS_3

Sementara Noah dalam perjalanan menuju Kota S bersama Alesandra, di Universitas Cipta Bangsa kini Sea dan kedua sahabatnya sedang menikmati makan siang setelah kelas perkuliahan selesai.


“Ciye ... yang baru aja liburan bareng suami.” Telunjuk Tessa menekan-nekan pipi Sea. “Lesu banget sih,” imbuhnya menggoda sahabatnya.


Merasa tak ada respons dari yang digoda, Tessa pantang untuk menyerah. “Apa Mas Dokter kuat banget ya? Kamu sepertinya kewalahan.” Tawa Tessa terdengar nyaring hingga cukup menarik perhatian mahasiswa lain.


“Hussstt ... apaan sih, Tes!” Salah satu tangan Sea sudah membekap mulut Tessa. Kini tawa Phila yang terdengar puas saat melihat apa yang dilakukan Sea pada Tessa.


Merasa tawa Tessa sudah reda, Sea melepaskan bekapan tangannya dari mulut Tessa. “Please, Jangan bahas apa pun perihal Mas Noah!"


“Kenapa? Kalian berantem?” cecar Tessa. Sementara Sea hanya membalas dengan memutar bola matanya dengan malas. Tak ingin mendapat pertanyaan lebih jauh dari kedua sahabatnya, Sea memilih untuk meneruskan makannya. Sea bahkan tak menyadari jika kini Tessa dan Phila saling pandang dengan alis naik turun. Akhirnya kedua sahabat itu hanya menghela napas perlahan. Mereka masih percaya jika suatu saat Sea akan jujur mengenai masalah yang selama ini ia pendam sendiri.


Sayangnya kedamaian seolah enggan bertahan lama di sisi Sea. Saat ketiganya sedang menikmati makan siang masing-masing, Tessa yang memiliki hobi berselancar di dunia Maya tiba-tiba saja terlonjak.


“Sumpah! Demi apa!” Pekiknya.


Tanpa peduli tatapan bingung dan terkejut dari Sea, Phila, dan mahasiswa lain, Tessa balik menatap Sea dengan tatapan penuh curiga.


“Jujur sama kita, bagaimana hubungan kamu dengan Mas Dokter?”


Kening Sea mengernyit. “Hubunganku sama Mas Noah?” tanya Sea. Masih belum siap menjelaskan banyak hal yang ia pendam, Sea masih berusaha berkilah. “Hubungan kami baik-baik aja kok,” imbuhnya.


“Sea, mungkin selama ini aku dan Phila diam. Tapi bukan berarti kami gak peka sama perubahan kamu setelah menikah,” jelas Tessa.


“Gak ada lagi Sea kami yang ceria dan selalu bersemangat seperti dulu.” Phila ikut menimpali ucapan Tessa. “Bukan kami ingin ikut campur, tapi kami peduli sama kamu, Sea. Kamu itu sahabat yang kami sayangi,” lanjut Phila.


Kedua manik mata Sea sudah berkaca-kaca menahan air mata. Rasanya sulit menentukan mulai dari mana ia harus bercerita pada kedua sahabatnya. Mengingat detik demi detik waktu yang ia lewati sebagai istri Noah, mengapa yang terpikirkan hanya torehan luka saja dari pria itu? Akhirnya Sea memutuskan untuk tetap bungkam.


Diamnya Sea membuat Tessa makin curiga. Phila yang masih tak paham memandangi Sea dan Tessa bergantian. “Apa Mas Dokter benar selingkuh?” selidik Tessa.


“Apa? Selingkuh?” kening Sea sampai mengernyit karena tak percaya dengan kecurigaan Tessa yang ia rasa berlebihan.


Sea menggeleng. Meski tahu jika hati Noah bukan untuknya, ia percaya jika suaminya tak akan melakukan perbuatan hina seperti itu.


“Lalu siapa wanita ini? Apa kamu mengenalnya?” Tessa menunjukkan sebuah foto yang beredar di sosial media dengan caption yang tertulis “Calon Imamku”.


Kedua netra Sea terbelalak. Dia tahu siapa dua orang yang ada dalam foto itu, suaminya bersama seorang wanita. Wanita yang ia lihat menyuapi suaminya dengan mesra. Wanita yang ia temui di dalam ruang kerja suaminya.


“Dia hanya rekan kerja Mas Noah." Meski batinnya teriris namun Sea tetap membela suaminya.


“Sea!” seru Tessa. “Kamu masih membela dia? Foto ini sudah cukup menjelaskan alasan kenapa kamu akhir-akhir ini selalu murung.” Tessa yang tak puas dengan jawaban Sea akhirnya mengungkap kecurigaannya selama ini.


Berbeda dengan Tessa yang berapi-api, Phila lebih tenang menyikapi apa yang terjadi saat ini. Gadis itu berpindah duduk ke sisi Sea. Dirangkulnya pundak sahabatnya seraya sesekali tangannya mengelus lembut lengan Sea.

__ADS_1


“Sea ... diamnya kami bukan berarti kami tak peduli padamu. Tapi sebagai sahabatmu, kami percaya jika suatu saat kamu akan membagi kegundahan hatimu pada kami,” tutur Phila lembut. “Kamu percaya pada kami, kan?”


Sea mengangguk, ia menggenggam tangan Phila dan Tessa dengan masing-masing tangannya. “Tak sedikit pun aku ragu pada kalian berdua. Aku tahu kalian begini karena peduli dan sayang padaku. Tapi aku hanya menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai seorang istri. Mungkin sekarang kalian tak mengerti, tapi suatu saat kalian akan paham mengapa aku memilih untuk tetap diam.”


Bukankah sudah tugas seorang istri untuk menjaga nama baik suaminya? Menutup dengan rapat aib rumah tangganya? Batin Sea menghibur diri.


Sea hanya bisa menatap nanar layar ponsel Tessa yang berada di atas meja. Dilihat dari senyumnya sepertinya wanita itu bahagia sekali. Apa Mas Noah juga sama bahagianya? batin Sea.


Ketiga sahabat itu larut dalam pikiran masing-masing hingga tak menyadari jika di hadapan mereka telah berdiri sosok pria tampan. Meski ada tiga orang wanita cantik di hadapannya, entah mengapa tatapan pria itu hanya tertuju pada satu sosok dengan manik mata yang mengisyaratkan kekecewaan dan kesedihan.


Alfio, pria itu adalah Alfio. Tak sabar hingga uring-uringan menanti Sea yang tak kunjung datang ke kafe miliknya, Alfio memutuskan untuk menemui Sea di kampusnya. Meski sebelumnya sudah mengirimkan foto-foto Sea melalui ponsel, namun Alfio merasa belum cukup jika tak memberikan hasil cetakan foto itu pada pemiliknya.


Mencari ke beberapa ruang kelas, bertanya pada banyak mahasiswa dan mahasiswi, hingga langkah kakinya membawa ia ke area kantin. Beruntungnya ia karena bisa menemukan sosok yang ia cari-cari di sana.


Netra Alfio ikut menatap ke mana arah pandangan Sea tertuju. Apa itu foto si brengs*k? Batin Alfio tiba-tiba memanas. Emosinya bagai tersulut api.


Apa tak cukup jika hanya Aneesa yang harus kehilangan nyawanya karena kelakuan pria itu, pikir Alfio. Tanpa sadar tangannya ingin mengepal, beruntung ia disadarkan dengan kehadiran foto-foto Sea dalam genggamannya.


“Ekhem ....” Deheman Alfio diikuti tangannya yang mengetuk-ketuk meja. “Tok ... tok ....” Seru Alfio mengikuti suara ketukan meja.


“Eh ... si tampan,” celetuk Tessa yang lebih dulu menyadarinya kehadiran Alfio.


“Si tampan? Kamu berlebihan, tapi aku tetap berterima kasih,” ujar Alfio.


“Hai, Sea ....” Sapa Alfio. Sayangnya yang disapa tetap memalingkan wajahnya.


Kening Alfio mengernyit. Pria itu bertanya pada Tessa dan Phila melalui tatapan matanya dan dijawab oleh keduanya hanya dengan gelengan kepala. “Sea, maaf jika aku menemuimu tanpa mengabari lebih dulu,” ucap Alfio. Pria itu menduga jika kedatangannya yang tiba-tiba lah yang menjadi penyebab sikap dingin Sea.


Detik demi detik berlalu, namun Sea masih bungkam. Hening .... Kecanggungan antara Alfio dan Sea turut disadari oleh Tessa dan Phila.


“Akh ... perutku kok mules ya,” keluh Tessa. Kedua matanya berkedip kedip dengan cepat pada Phila. Phila yang paham dengan kode itu segera menanggapi ucapan Tessa. “Ayo, aku akan mengantarmu ke toilet.” Keduanya memutuskan untuk beranjak dari sana, ia pikir ada hal penting yang harus dibicarakan oleh keduanya.


“Sea ....” Seru Alfio sekali lagi.


Menghela napas terlebih dahulu, setelah itu barulah Sea akhirnya mau menatap Alfio. “Ada apa Kak Alfio menemuiku?”


“Aku ingin memberimu ini.” Alfio meletakkan beberapa lembar foto di atas meja.


Sea melirik ke arah foto-foto itu, ia mendengkus saat ingatannya akan kemarahan suaminya pagi setelah melihat foto-foto yang sama dikirimkan oleh Alfio ke ponselnya.


“Kak ... pertemuan kita di pulau saat itu, apakah memang hanya kebetulan?”


“Jangan katakan jika kamu berpikir aku sengaja mengikutimu? Aku bahkan tak tahu jika kamu juga berada di sana, Sea.” Entah apa yang dicarinya namun kini Alfio terlihat seperti sedang mencari sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


“Lihatlah!” Alfio menyodorkan ponselnya di atas meja. Pada ponsel Alfio, Sea bisa melihat riwayat pesan pria itu dengan seseorang yang ingin menggunakan jasa Alfio untuk foto prewedding.


“Maafkan aku, Kak,” ucap Sea.


“Aku tak apa-apa, Sea. Tapi bagaimana denganmu? Apa pertemuan kita menjadi masalah untukmu?”


Meski tak menjawab namun Sea yang menunduk guna menghindar dari pertanyaannya, membuat Alfio yakin jika dugaannya benar. “Lalu bagaimana sekarang? Aku tak peduli pada yang lain Sea, aku pun tak akan memaksamu untuk menjelaskan apa pun. Aku hanya peduli pada dirimu,” ujar Alfio.


Sea terus saja bungkam. Sebenarnya banyak hal yang ingin dia ungkapkan. Dirinya sangat ingin mengungkapkan jika dia adalah istri dari pria yang telah melayangkan pukulan pada wajah Alfio malam itu, namun bibirnya terasa keluh saat foto Noah dan dokter wanita bernama Alesandra itu terbayang di benaknya.


Bolehkah dia mengakui hal itu? Sedangkan si pria menganggap menganggapnya sebagai istri, batin Sea.


“Apa yang kamu pikirkan, Sea?” tanya Alfio. “Sepertinya kamu terlalu banyak membebani dirimu sendiri.”


“Sea, untuk mengalihkan semua pikiran yang mengganggu itu bagaimana jika kamu bekerja saja di kafeku?” usul Alfio. Tentunya selain tujuan mulia yang baru saja ia ungkapkan, ada tujuan lain di balik tawarannya itu.


“Aku? Bekerja?” Sea menggeleng. “Maaf, Kak. Aku tak punya pengalaman dalam hal itu,” tolaknya.


“Tak masalah. Mungkin ini saatnya kamu membuat pengalaman itu, bagaimana?” balas Alfio. Pria itu punya banyak rencana dan alasan untuk membujuk Sea. “Kuharap kamu punya waktu untuk memikirkan dirimu sendiri, Sea.”


......................


Meninggalkan Sea yang dilema dengan tawaran Alfio, dua orang dokter utusan Rumah Sakit Pelita Harapan kini baru saja menapakkan kakinya di Kota S setelah menempuh perjalanan udara selama 2 jam.


Noah merogoh sakunya untuk mengaktifkan ponselnya. “Ada apa ya? Kenapa Sandy menghubungiku berkali-kali?” gumamnya.


Baru saja Noah hendak menghubungi Sandy, namun pria itu sudah lebih dulu menghubunginya. “Halo,” sapa Noah menjawab panggilan Sandy. Pria itu sudah mengambil jarak dari Alesandra.


“Gila lu ya!” balas Sandy. “Lu ada affair sama dokter baru itu?” Pertanyaan Sandy membuat kening Noah mengernyit.


“Gue dan Alesandra?” tanya Noah memastikan.


“Nah ... itu lu paham!”


“Lu yang gila!” balas Noah. “Gue gak ada hubungan apa pun dengan wanita itu!” Tegas Noah.


“Santai bro,” celetuk Sandy. “Gue sebagai sahabat lu pastinya akan percaya. Masalahnya saat ini adalah bagaimana lu mengatasi semua orang di rumah sakit. Mereka semua sudah heboh membicarakan berita mengenai lu yang terlibat affair.”


Tak mendapat jawaban dari Noah, Sandy paham jika pria itu saat ini pasti sedang bingung. “Sebaiknya lu sekarang periksa foto yang gue kirim. Lu akan paham setelah itu,” ujar Sandy.


Manik mata Noah membola sempurna, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. “Kurang ajar! Dasar wanita gila!” makinya menatap Alesandra yang melangkah mendekat padanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2