
Rasanya sangat sulit bagi Sea untuk memandang pada suaminya. Ia hanya bisa menunduk, merasa bersalah sebab telah bertindak gegabah.
“Sudah, jangan dipikirkan lagi.” Satu tangan Noah ia gunakan untuk membelai surai lembut istrinya. Sedang yang satu lagi tetap fokus pada kemudi.
“Maafkan aku,” lirih Sea penuh penyesalan.
“Ya, jadikan pembelajaran. Jangan diulang lagi ya, Sayang.” Merasa gemas melihat wajah istrinya yang bersedih, Noah pun mencubit pipi Sea.
“Udahan dong sedih-sedihnya. Aku, kamu, sekarang udah jadi kita. Kamu sedih, aku juga akan sedih,” lanjut Noah mencoba menghibur Sea.
Benar saja, Sea akhirnya tertawa meski masih tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya. “Mas, gombalan kamu garing!” celetuk Sea.
“Bukannya kamu suka yang garing-garing?” tanya Noah diikuti tawanya.
Menggoda Sea adalah hiburan tersendiri bagi Noah. Pria itu semakin tertawa terbahak-bahak saat istrinya malah memukul lengannya.
“Mas!” Pekik Sea “Udahan ih … usil banget,” imbuhnya seraya tertawa.
“Aku jadi tak enak hati pada Dokter Frisha,” ungkap Sea.
“Tak masalah. Itu semua sudah menjadi tugasnya. Tapi untuk permintaan maaf karena telah merepotkannya, mungkin kita bisa mengajaknya makan malam bersama,” usul Noah.
“Ya!” Sea kembali bersemangat. “Aku akan menghubunginya. Bagaimana jika makan siang bersama?”
“Tidak, Sayang. Tidak untuk siang ini.” Noah menghentikan gerakan tangan Sea yang sedang menekan-nekan layar ponsel pintarnya.
“Hah? Kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu bertemu seseorang. Kita akan makan siang dengannya,” jelas Noah.
Sea mengangguk lantas menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya. Mobil Noah terus membelah jalanan kota yang pagi itu cukup lengang.
Seperti semesta mendukung apa yang dilakukannya. Walau tanpa aplikasi penunjuk arah, Noah berhasil tiba di tempat tujuannya tanpa mengalami kesulitan. Padahal ini kali pertama ia berkunjung ke sana.
Kening Sea mengernyit, ketika suaminya membukakan pintu untuknya. “Ayo, Sayang.”
Sea turun dengan hati-hati. Dilihatnya papan penanda di depan sebuah bangunan besar bercat putih. “Dinas Sosial?” gumam Sea lirih membaca keterangan nama tempatnya yang akan ia kunjungi.
“Mas,” panggil Sea. “Tempat apa ini? Dinas Sosial? Mas ada urusan apa di sini?”
“Kita akan bertemu dengan seorang teman,” jawab Noah. Ia meraih tangan Sea, menautkan di lengannya hingga kini tampak Sea seperti sedang menggandengnya.
Kedatangan keduanya di sambut ramah oleh seorang petugas. Wanita paruh baya bernama Arumi itu, menjelaskan jika tempat tersebut adalah tempat khusus untuk pembinaan dari Dinas Sosial.
Sea mendengar Noah menyebutkan nama seseorang. Nama yang cukup asing baginya.
“Maaf Pak, sebagian besar mereka baru tiba semalam. Saya belum hafal semua nama-nama mereka,” jelas Bu Arumi.
Beliau terlihat membolak-balikkan lembaran kertas di atas mejanya. “Nama Izzan tak ada di daftar, Pak.”
Noah terlihat kecewa. Helaan napasnya pun terdengar oleh Sea. “Bu, apa kami boleh berkeliling? Mungkin kami bisa menemukan orang yang suami saya maksud,” pinta Sea.
“Tentu saja boleh. Silakan!” jawab Bu Arumi.
Setelah mengucapkan terima kasih, sepasang suami istri itu beranjak mengelilingi tempat para anak jalan mendapatkan bimbingan sosial, fisik, maupun mental. Tujuannya tak lain agar dapat merubah sikap dan perilaku atau fungsi sosial mereka ke arah yang lebih baik.
__ADS_1
Noah terus mengamati setiap ruangan yang dihuni oleh banyak anak-anak. “Mas, sebenarnya kamu mencari siapa?” Tanya Sea.
Kata suaminya ingin bertemu dengan seorang teman, namun mengapa sejak tadi Noah terus mencari ke kerumunan anak-anak, pikir Sea.
“Aku ingin mengenalkanmu dengan temanku,” jawab Noah.
“Ya, kamu sudah mengatakan hal itu sebelumnya.”
“Dari mana kamu yakin dia ada di sini. Lihatlah, terlalu banyak orang di sini. Bahkan namanya tak ada di daftar tadi,” ujar Sea.
“Seseorang yang mengenalnya yang memberitahuku. Katanya Izzan dibawa oleh petugas ke sini,” jelas Noah.
Rupanya pembicaraan Sea dan Noah menarik perhatian seorang anak laki-laki yang duduk bersandar di balik pilar.
“Uhhuuk,” sengaja anak itu berpura-pura batuk agar dua orang yang sejak tadi menyebut namanya berhenti berbincang.
Benar saja, Sea dan Noah menoleh bersamaan.
“Izzan!” Seru Noah tampak sangat antusias. Sementara anak laki-laki itu membalas dengan tatapan bingung.
Noah berlutut dengan satu kakinya. Ada rasa iba terpancar dari sorot matanya. Ia belai dengan lembut puncak kepala anak laki-laki lusuh di hadapannya. Semua pemandangan ini tak luput dari perhatian Sea.
“Apa kamu telah melupakan aku?” Tanya Noah lembut.
Anak laki-laki yang bernama Izzan itu terseyum kecut seraya menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali.
“Maaf ya, Bang. Dalam satu hari itu aku bertemu dengan banyak orang,” ungkapnya.
“Jujur saja, aku sedikit melupakan Abang,” imbuhnya sembari tertawa memperlihatkan deretan gigi kecilnya.
“Aku yang beberapa bulan lalu pernah membeli minuman darimu.” Noah berusaha membuat Izzan mengingat-ingat pertemuan mereka.
“Beberapa bulan lalu ya, Bang?” Ulang Izzan.
Anak itu melipat kedua tangannya di depan dada. Kedua alisnya mengerut tanda ia sedang berpikir keras.
“Ah ….” Seru Izzan bersemangat hingga Noah pun akhirnya tersenyum.
“Alhamdulillah, Bang … dalam sehari itu banyak banget yang membeli minuman padaku,” ungkapnya.
“Jadinya aku masih sulit mengingat siapa abang,” imbuhnya.
Ungkapan jujur Izzan kali ini membuat Sea tak dapat lagi menahan tawanya. Noah sempat menoleh pada istrinya, lalu ia hanya bisa menggeleng. Pria itu terus menghela napas ketika melihat Sea yang menertawainya.
Noah kembali berdiri. Melihat kekecewaan di wajah Noah membuat Izzan tertawa. “Jujur … aku memang tak ingat wajah Abang, tapi aku ingat hanya ada satu orang yang kuberi tahu soal nama Izzan,” ujarnya.
Harapan itu kembali terpancar dari wajah Noah. Dalam lubuk hati terdalamnya, ia semakin yakin dengan niatnya.
“Hanya ada satu Abang yang kuberi tahu mengenai nama baruku dan alasan aku memilih nama itu,” ujar Izzan.
“Abang yang tak merokok juga tak minum minuman yang menggelitik tenggorokan. Abang yang memborong habis daganganku,” lanjutnya.
“Apakah Abang adalah Abang yang saat itu bertemu denganku?” Tanyanya.
Noah mengangguk. “Tuh kan … aku yakin kamu akan mengingatku,” ujar Noah bangga seraya membelai puncak kepala Izzan lagi.
__ADS_1
“Jadi Izzan, kenalkan … Nama Abang Noah. Kamu boleh memanggilku, Paman Noah.” Noah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Izzan.
Izzan menyambut tangan Noah. Ia cium punggung tangan pria itu lalu beralih menatap Sea. Dilihatnya wanita cantik yang sejak tadi berdiri di belakang Noah.
“Oh iya, kenalkan … wanita cantik ini adalah Istri Abang,” ujar Noah seraya merangkul pinggang ramping Sea.
“Hai, Izzan … nama Bibi, Seanna.” Sea sedikit membungkuk lalu merentangkan tangannya. Entah mengapa ia sangat ingin memeluk anak laki-laki bertubuh kurus dengan pakaian lusuh di hadapannya.
Awalnya Izzan ragu-ragu, tetapi saat melihat Sea yang mengangguk dengan senyum yang begitu ramah membuat Izzan akhirnya berani melangkah maju untuk memeluk Sea.
Izzan menahan isak tangisnya yang hendak menyeruak. Rasanya begitu nyaman, begitu aman dalam dekapan wanita yang baru beberapa menit lalu ia temui.
“Senang bisa bertemu denganmu, Izzan,” ucap Sea.
“Aku juga senang bisa bertemu denganmu, Bibi.”
“Bagaimana keadaan Bibi, apa sudah sehat?” Tanya Izzan yang masih tak rela melepaskan dirinya dari dekapan Sea.
“Ya, Bibi sehat. Sangat sehat,” jawab Sea melerai pelukannya.
“Syukurlah. Aku turut senang,” ucap Izzan.
“Yang aku ingat saat itu, Paman begitu sedih karena istrinya sedang sakit.”
“Ya, saat itu Bibi memang sedang sakit. Tapi sekarang sudah sembuh. Apalagi setelah bertemu dengan anak pintar sepertimu, Bibi merasa makin sehat.”
Perbincangan ketiganya harus terhenti saat Bu Arumi menghampiri mereka. “Kamu di sini, teman-temanmu yang lain sudah menunggu,” ucap Bu Arumi.
“Maaf Bu,” ucap Izzan sopan pada Bu Arumi.
“Paman, Bibi, aku pamit. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian,” lanjut Izzan seraya menatap Sea dan Noah.
Sea dan Noah bisa melihat kedua netra anak itu yang berkaca-kaca.
“Maaf, Bu Arumi … tapi Izzan mau pergi ke mana, ya?” Tanya Noah.
“Izzan? Maksud Anda, Maman?”
Noah mengangguk sebagai jawaban.
“Maman ini terdata sebagai anak yatim piatu. Jadi, dia dan beberapa anak lainnya akan dibawa ke sebuah panti asuhan,” jawab Bu Arumi.
“Lebih baik bagi mereka berada di sana jika dibandingkan dengan berkeliaran di jalanan. Tanpa pengawasan, di luar sana akan membawa dampak buruk bagi anak-anak seusia Maman,” lanjut Bu Arumi.
Noah dan Sea mengangguk setuju dengan ucapan Bu Arumi. Tapi mengapa keduanya merasa tak rela jika Izzan harus ke panti asuhan.
“Ayo Man, teman-temanmu sudah menunggu,” ucap Bu Arumi.
Tanpa diduga, Izzan kembali memeluk Sea. “Sampai jumpa lagi, Bibi,” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Ya, ya, kita pasti akan berjumpa lagi.” Sea mempererat pelukannya.
“Benar ‘kan, Mas?” Sea menatap suaminya dengan tatapan penuh harap.
Noah mengangguk, ia paham apa yang diinginkan istri kesayangannya.
__ADS_1
...————————...