
Sebuah pulau yang menawarkan eksotisme dari alam merupakan tujuan liburan keluarga Myles. Tak cukup menempuh perjalanan dengan mobil, mereka juga harus menaiki speed boat untuk tiba di tujuan.
Setibanya di pulau tersebut, dua pasangan beda generasi ini memutuskan untuk beristirahat di resor sejenak sembari menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk hiking. Ya ... tak cukup dengan berlayar menggunakan speed boat, tak lama lagi mereka akan menjajal sebuah bukit.
Di salah satu kamar resor, Sea terlihat sibuk bolak balik mengecek barang apa saja yang telah ia masukkan ke dalam tas punggung miliknya. Setelah merasa lengkap, kini Sea mengeluarkan pakaiannya yang sekiranya pas untuk hiking disusul dengan pakaian untuk suaminya Noah.
Antusiasme Sea untuk mengeksplorasi pulau yang terkenal dengan banyak keindahan alamnya, membuat gadis itu sejenak melupakan pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan suami. Walaupun selama perjalanan yang menghabiskan waktu hampir 7 jam, tak satu pun dari keduanya yang berniat memulai pembicaraan lebih dulu.
Di sela-sela kesibukannya, sesekali terdengar Sea bersenandung lirih. Dan hal itu tak luput dari pendengaran Noah. Entah sadar atau tidak, bibirnya membentuk sebuah senyuman kala ia melihat wajah bingung Sea saat memilah barang-barang yang akan ia bawa.
“Apa masih ada yang kurang, yah?” gumam Sea lirih. Gadis itu berkacak pinggang di depan tas ranselnya.
“Sebenarnya apa saja yang kau lakukan selama perjalanan tadi?” tanya Noah tiba-tiba membuat Sea terlonjak.
Sebelum menjawab, ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Hasilnya tak ada orang lain yang ia lihat kecuali suaminya yang kini menatapnya dengan kening mengernyit.
Apa Mas Noah bertanya padaku? Batin Sea ragu.
“Aku?” tanya Sea menatap Noah.
“Memangnya ada siapa lagi di kamar ini selain kita berdua,” jawab Noah ketus.
Apa itu artinya kali ini dia yang memulai pembicaraan lebih dulu? Yeeaayyy .... Jerit Sea dalam hati.
“Benar juga ya, Mas.” Sea menyengir, setelah itu ia berusaha mengingat apa yang ia lakukan tadi untuk menjawab pertanyaan sang suami.
Seingatnya sejak berangkat hingga berlabuh di pulau yang dilakukannya hanya berselancar di dunia maya, mencari tahu segala hal tentang pulau tujuan mereka. Berdasar pada peribahasa tak kenal maka tak sayang, Sea berusaha mengenal pulau itu sebelum ia mulai menjelajahinya.
Hanya itu bukan? Apa aku sudah melakukan kesalahan yang tak kusadari? Batinnya merasa cemas.
Kesal karena lawan bicaranya malah melamun, Noah berdecak. “Bukankah berjam-jam kau habiskan untuk membaca artikel tentang pulau ini? Sudah berapa banyak artikel yang kau baca? Dan sudah seberapa banyak yang kau tahu?”
“Mas mengetahui apa yang kulakukan, apa itu artinya Mas memperhatikanku?” tanya Sea.
Sontak saja Noah menjadi salah tingkah. “Jangan berpikir hal yang tak mungkin, untuk apa aku memperhatikanmu!” Elaknya. “Cukup jawab pertanyaanku dan jangan membalas dengan tanya lagi!” Imbuh Noah.
Bukannya menjawab, Sea menghampiri Noah yang duduk di sofa. Bibirnya mencebik namun tangannya menunjukkan foto pulau yang ia dapat dari hasil pencariannya di internet.
Sedetik kemudian senyuman terukir di wajah tampan Noah yang tampak kelelahan. Sebuah senyum yang terbit karena pria itu melihat foto pernikahan mereka lah yang dijadikan wallpaper oleh sang istri.
“Mas!” Tegur Sea. “Sudah lihat kan?” tanya Sea. Tangannya menggoyangkan ponselnya ke kiri dan kanan. “Tebakan Mas benar. Selama perjalanan tadi aku mencari tahu semua hal tentang pulau ini,” ungkapnya bangga.
“Lantas apa kau tetap akan mendaki dengan menggunakan sepatumu itu?” dagunya menunjuk ke arah sepatu yang Sea letakkan tak jauh dari pintu.
Sea mengangguk. “Memangnya kenapa Mas?” Tanyanya.
“Jika membaca dengan benar harusnya kamu tahu jika kita akan mendaki sebuah bukit selama kurang lebih 30 menit. Mendaki dengan sepatu seperti itu, aku yakin kakimu akan sakit setelahnya,” jelas Noah panjang lebar.
Sea bungkam. Bukannya tak tahu jika akan mendaki selama itu, namun yang menjadi pertimbangannya memilih sepatu itu karena bobot sepatu yang cukup ringan.
“Aku memilih sepatu itu karena bobotnya yang ringan. Dengan begitu aku tak akan mudah kelelahan saat mendaki.” Jelas Sea.
Noah menggeleng. “Minggir,” serunya.
__ADS_1
Netra Sea mengamati setiap gerakan Noah. Pria itu kini membuka koper kecil miliknya. Dikeluarkannya sepasang sepatu lalu ia kembali ke sofa, bergabung bersama Sea.
“Cobalah! Entah akan pas atau tidak untukmu,” ujar Noah.
Dengan mata berbinar dan tangan yang sedikit bergetar, Sea menerima pemberian Noah. “Apa ini untukku?”
“Hmmm .... Jika kau cukup maka kau boleh memilikinya!”
Bergegas Sea mencoba sepatu pemberian Noah. Setelah mengikat talinya asal, gadis itu berdiri lalu berjalan cepat ke depan lemari yang memiliki cermin besar pada pintunya.
“Bagus sekali,” akunya. “Sangat pas dan sangat nyaman,” imbuhnya setelah menoleh pada Noah.
“Tentu saja nyaman. Sepatu itu memang dikhususkan untuk trekking jarak pendek. Celah-celah pada sepatu dapat mengurangi uap dalam sepatu, akan mengurangi rasa gerah di dalam sepatu. Alasnya yang keras dan kuat akan melindungi kakimu, sedang solnya yang empuk dan lembut membuat pemula sepertimu akan lebih nyaman,” jelas Noah panjang lebar.
Sea mematung, tak berkedip saat mendengar suaminya sedang menjelaskan. Tapi ini adalah ucapan terpanjang Noah semenjak mereka resmi menikah. Ada apa dengannya? Apa dia salah makan atau salah minum? Mengapa tiba-tiba peduli padaku? Batin Sea.
“Hei! Kau terlalu sering melamun,” tegur Noah. Pria itu lalu melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Cepatlah bersiap! Jangan sampai orang lain menunggu karenamu.”
Meski diakhiri dengan sindiran, Sea tetap bersyukur sebab Noah telah memiliki sedikit kepedulian untuknya. Kecanggungan karena pertengkaran semalam sepertinya telah sirna. Sikap Noah yang mulai peduli pada dirinya membuat hati Sea menghangat.
......................
Semua yang dikatakan Noah benar. Untuk melihat pemandangan yang indah mereka harus mendaki ke puncak bukit. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk menyelesaikan pendakian bukit dengan kemiringan sudut 45 derajat.
Mami Joanna sempat mengeluh kelelahan dan ingin menyerah saja. Namun beruntungnya dia memiliki suami seperti Ayah Peter yang sabar dan siap sedia membantu istrinya.
Iri rasanya, sebab dalam hati Sea juga ingin menyampaikan keluhannya pada suaminya. Meski bukan masalah penting, misalnya mengeluh saat dahaga atau mengeluh saat kepanasan. Sayangnya, hal sekecil apa pun itu rasanya Sea tak akan berani mengeluh pada Noah.
Kini setelah semua semangat, usaha, dan kerja keras mereka, dua pasangan suami istri beda generasi ini dibuat terpukau dengan apa yang ditawarkan di atas sana. Pemandangan yang sangat menakjubkan menyambut saat pertama kali mereka tiba di puncak. Dari atas sana mereka bisa menikmati eksotisme alam.
Dari puncak bukit ini, Sea dan yang lainnya bisa melihat indahnya warna biru dan hijau yang memancar dari air laut dengan pasir putih di tepi pantai. Semua hal itu seperti memanggil-manggil dirinya untuk mencari tahu keindahan apa yang ada di bawahnya.
Menyelam atau snorkeling sepertinya ide yang bagus. Akan kulakukan besok pagi saja, batin Sea.
Mami Joanna dan Ayah Peter sudah disibukkan mengambil foto di beberapa spot dengan latar belakang langit dan laut yang begitu indah. Hal yang hampir sama juga dilakukan Noah dan Sea. Bedanya mereka melakukannya sendiri-sendiri.
Alih-alih mengambil foto dirinya, Noah fokus untuk mengabadikan keindahan alam sebagai bagian kecil dari nikmat yang Tuhan berikan untuk umat-Nya. Sedangkan Sea tak ingin kalah, ia juga mengabaikan beberapa potret dirinya dengan menggunakan ponsel miliknya.
Kegiatan mereka terus berlanjut. Membidik dari satu spot ke spot yang lain, pergerakan kamera Noah akhirnya berhenti saat ia mendapatkan pemandangan yang begitu indah. Seorang gadis yang sedang membenarkan ikatan rambutnya. Sayangnya ikat rambut yang ia gunakan putus hingga rambutnya kembali tergerai. Angin kencang yang meniup rambutnya membuat gadis itu tertawa.
Cantik. Istriku rupanya sangat cantik! Jerit batin Noah memuji Sea.
Waktu terus berlalu, entah sudah berapa banyak foto Sea yang diambil Noah secara diam-diam.
Langit pun sudah mulai berubah warna menjadi jingga. Itu artinya Sea dan lainnya akan segera memasuki acara utama.
Menikmati indahnya langit kala mentari mulai terbenam. Hal yang dapat memanjakan mata dan jiwa dengan cara yang berbeda.
Duduk di atas tikar yang sekiranya hanya bisa menampung dua orang dewasa saja, Sea dan Noah duduk berdampingan. “Maafkan aku,” ucap Noah lebih dulu. “Kuakui semalam aku terbawa emosi hingga bertindak bodoh.”
Sontak Sea memalingkan wajahnya. Memandang wajah Noah yang semakin tampan saat terkena bias cahaya jingga dari sang mentari. “Aku pun begitu. Maafkan aku, Mas.”
“Aku juga mengaku salah. Sebagai istri harusnya aku meminta izinmu ketika hendak pergi. Kau pantas untuk marah padaku,” ucap Sea penuh penyesalan.
__ADS_1
Lagi-lagi netra dan hati Noah mengkhianati logikanya. Akh ... bukannya tampak menyedihkan, mengapa wajahnya tampak menggemaskan saat sedang menyesal seperti ini, protes Noah dalam hati.
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Kita berdua sama-sama bersalah dan sudah mengakuinya.” Ungkap Noah.
Sea mengangguk setuju, lalu kembali pandangannya mengarah ke arah langit yang sudah mulai gelap. Netranya berkaca-kaca, ada air mata yang sedang ia tahan.
“Dan terima kasih Sea untuk bekal makan siangnya,” ucap Noah lirih namun masih dapat di dengar oleh Sea.
Sejak detik itu, senyum tak pernah hilang dari wajah cantik Sea. Bahkan setelah mereka turun dari puncak bukit, makan malam, lalu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Sebelum terlelap, Sea kembali membayangkan indahnya matahari saat terbenam hari ini.
Pemandangan yang mengajarkan Sea jika segala sesuatu pasti memiliki akhir, tak peduli sesuatu itu indah atau pun tidak. Begitu juga dengan kesalahpahaman antara dirinya dan Noah.
Semoga ini menjadi awal berakhirnya hubungan buruk antara aku dan Mas Noah, doa Sea dalam hati.
......................
Banyak perubahan yang terjadi dalam waktu semalam saja. Interaksi antara Sea dan Noah sudah lebih baik dari sebelumnya. Canda dan tawa yang mereka lontarkan saat sarapan bersama, bukan lagi sebuah kepalsuan. Entah keajaiban apa yang telah terjadi, namun Mami Joanna dan Ayah Peter sungguh bahagia melihatnya.
Mami Joanna dan Ayah Peter berharap rencana mereka benar-benar berhasil. Selama ini, bukannya Mami Joanna dan Ayah Peter tak tahu dengan sandiwara keduanya. Hanya saja mereka tak ingin ikut campur terlalu jauh.
Keduanya tahu jika Sea begitu mencintai putranya dan mereka percaya kebaikan dan ketulusan hati gadis itu mampu meluluhkan Noah.
Namun semua keyakinan itu mereka miliki sebelum insiden bunuh diri Aneesa terjadi. Keraguan mulai muncul saat Noah menyatakan penolakannya untuk dijodohkan. Belum selesai satu masalah, lalu kesalahpahaman muncul membuat semuanya makin keruh. Akhirnya keduanya berinisiatif merencanakan liburan dadakan ini. Liburan yang dimanfaatkan dengan baik oleh pasangan suami istri baru, Sea dan Noah untuk melepas penat.
Seperti saat ini, di atas sebuah speed boat Sea sedang dibantu oleh Noah untuk memeriksa kelengkapan dan keamanan perlengkapan menyelam yang sudah terpasang di tubuhnya. Dengan teliti Noah melakukan pekerjaannya, memastikan tak akan ada sesuatu hal buruk terjadi nantinya. Sebagai seorang pria, melihat lekuk tubuh Sea membuat Noah menelan salivanya. Setelah dirasa siap keduanya pun menyelam di pandu oleh pihak-pihak yang sudah ahli di bidangnya.
......................
Keduanya pergi sesaat setelah sarapan, dan baru kembali saat jam makan siang akan tiba. Dress tanpa lengan berwarna putih yang dihiasi motif bunga menjadi pilihan Sea untuk ia kenakan siang ini.
Sekali lagi hatinya dibuat menghangat saat Noah tiba-tiba memasangkan topi di kepalanya. “Matahari sangat terik, pakai topi ini jika tak ingin kulit wajahmu terbakar.” Begitu katanya.
Mami Joanna dan Ayah Peter tersenyum menyambut kedatangan Sea dan Noah yang ikut bergabung untuk makan siang di sebuah restoran yang menawarkan menu seafood sebagai menu andalannya.
Mereka menikmati hidangan yang disajikan dengan sangat lahap, sesekali memuji betapa lezatnya masakan koki di restoran tersebut. Semuanya terasa menyenangkan, terasa damai sebelum seorang pria mendekati meja keluarga Myles dan menyapa Sea.
“Sea!” Seru pria itu. Air mukanya menggambarkan keterkejutan, seperti tak percaya jika bisa bertemu dengan gadis itu.
“Ka-ak Alfio?” balas Sea yang tak kalah terkejutnya. Sama seperti kedua mertuanya yang tak mengira jika mereka akan bertemu pria yang terlibat keributan dengan putranya beberapa hari yang lalu.
Sedangkan Noah ... senyum dan tawanya seketika hilang saat melihat pria bernama Alfio juga ada di tempat yang sama dengan mereka. Seperti ada api yang membakar hatinya, Noah dibuat geram saat sekilas melihat senyum yang diberikan Sea untuk Alfio. Apalagi saat pria itu terus mencuri-curi pandang kepada istrinya.
Entah bagaimana bisa muncul, namun kini di pikirannya Noah menduga jika pertemuan dengan pria itu telah direncanakan oleh Sea.
Brak.
Noah menutup pintu kamar dengan keras. Melihat itu Sea yakin jika yang terjadi setelah ini adalah hal yang buruk.
“Kau!” sambil menunjuk pada wajah Sea.
“Berani sekali kau mengatur pertemuan dengan pria itu di sini!” Tuding Noah tanpa bukti.
__ADS_1
“Apa? Aku?!” pekik Sea.
...----------------...