Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 37. Menenangkan diri


__ADS_3

Di sebuah pulau yang cukup terpencil. Jauh dari kebisingan kota yang seakan tak ada liburnya, seorang wanita cantik sedang bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya selama 10 hari terakhir.


Meski sudah meninggalkan tempat ini selama 4 tahun lamanya, tak sulit baginya untuk beradaptasi kembali dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan di pulau itu. Meski tak lahir di sana, namun ia dibesarkan di sana.


Seanna, wanita itu memilih untuk kembali ke kampung halamannya untuk menenangkan diri. Ya, hanya menenangkan diri… sebab untuk sebuah kata perpisahan belum terpikirkan dan masih ia simpan jauh di dasar hatinya.


Masalahnya sekarang, tak ada yang bisa menjamin jika rencana akan selalu berjalan seperti yang diinginkan.


“Manusia hanya bisa berusaha, bukan? Dan Tuhan yang akan menentukan hasilnya,” kalimat penyemangat yang ia gumamkan setiap hari. Tepat ketika ia pertama kali membuka mata.


Selama 10 hari berada di kampung halamannya, secara fisik memang Sea jauh lebih baik. Sea memiliki waktu tidur lebih banyak jika dibandingkan saat dia masih tinggal di kota. Pasalnya, Sea tak tahu harus melakukan apa. Dia tak harus kuliah atau bekerja di sana.


Selain itu, berat badannya pun jelas sekali terlihat bertambah. Pipinya yang sebelumnya tirus, kini terlihat lebih tembam.


Mbok Sum, wanita paruh baya yang sudah merawatnya sejak kecil itu sering menggoda Sea dengan sebutan chubby. Membuat sang Nona akan mencebik dan Si Mbok akan semakin gemas melihat wajah Nona muda yang sangat ia rindukan.


Berbanding terbalik dengan fisiknya, jauh di lubuk hatinya terkadang ada kata penyesalan yang selalu membayanginya.


“Kemana kepercayaan dirimu, Sea?” tanyanya pada dirinya pagi ini.


Setelah 10 hari menjadi pengecut dengan lari dari masalah, akhirnya Sea berani mempertanyakan hal itu pada dirinya. Jelas di ingatannya bagaimana Mami Joanna, mertuanya itu begitu menentang ide yang kata Sea adalah ide cemerlang.


“Mami, aku ingin pulang.” Pintanya dengan memelas kala itu.


“Kamu menyerah?” tanya Mami Joanna. “Mami tak akan menahan atau memaksamu untuk bertahan. Kamu tahu… bagi Mami, kamu dan Noah sama saja. Kasih sayang Mami pada kalian berdua itu sama,” ungkap Mami Joanna.


Air mata Sea kala itu mengalir begitu derasnya. Wanita yang baru saja kehilangan calon bayinya itu, dalam hati terus mengucap syukur dan berterima kasih pada mendiang ibu kandungnya.


Terima kasih Ayah, Bunda, karena telah menitipkanku pada orang yang tepat. Mami Joanna dan Ayah Peter benar-benar menyayangiku dengan tulus, aku bisa merasakannya. Batin Sea


Sea menggeleng seraya menatap kedua netra Ibu mertuanya. “Mami, bukankah saat menerima perjodohan itu sudah kukatakan jika aku akan berjuang mendapatkan hati Mas Noah?”


“Mami masih percaya jika aku akan berhasil melakukannya, kan?” Tangannya menggenggam erat tangan Ibu mertuanya. Tak ia lepaskan genggaman itu hingga Mami Joanna mengangguk tanda setuju.


“Maka Mami harus percaya padaku. Yang aku dan Mas Noah butuhkan adalah waktu untuk memahami perasaan kami masing-masing,” ungkap Sea.


“Mas Noah harus mencari tahu sendiri arti diriku di hidupnya.” Ucap Sea dengan yakin.


“Aku pun perlu waktu untuk memulihkan perih di hatiku yang selama ini selalu kupendam.” Untuk pertama kalinya, akhirnya Sea mengakui bagaimana kondisi hatinya selama ia menjalin rumah tangga bersama Noah.


Mendengar pengakuan menantu kesayangannya, Mami Joanna memeluk erat tubuh ringkih itu. “Mami akan selalu mendukungmu. Mami percaya padamu. Jika sudah waktunya, katakan saja… Mami akan selalu siap untukmu.”


...………………....


Peluh membasahi keningnya setelah Sea melakukan rutinitas pertamanya pagi ini. Selama ia kembali ke rumah, salah satu yang kebiasaan yang ia terapkan adalah rutin berolahraga.

__ADS_1


Meski belum bisa berlari karena masih khawatir dengan kesehatannya, namun Sea seakan tak ingin mematahkan semangatnya yang menggebu-gebu untuk berolahraga. Setiap pagi, tepat pukul 06.15 wanita itu sudah siap untuk mulai jalan kaki.


Berkeliling di sekitar area tempat tinggalnya yang berada di tepian pantai. Menyapa para pedagang atau pemilik rumah makan yang sedang bersiap memulai usahanya.


Acara jalan pagi Sea akan berakhir di tepi pantai. Sepatunya telah ia tanggalkan. Telapak kakinya bebas menyapa langsung butiran pasir putih yang terasa hangat. Sea biarkan saja, kakinya basah tersapu ombak yang gelombangnya tampak lebih ramah dari gelombang hidupnya.


“Apa yang aku lakukan di sini?” gumam Sea.


“Apakah aku menyia-nyiakan waktuku?” Pandangannya tertuju pada hamparan luas lautan di hadapannya.


“Huf, aku benar-benar bisa gila jika terus memikirkan ini!” keluhnya.


Tanpa alas kaki, Sea berjalan pulang ke rumahnya dengan sepatu yang ia bawa di masing-masing tangannya. Tak butuh waktu lama untuk ia tiba di rumahnya, pasalnya rumah Sea tepat berada di sekitar wilayah pantai ini.


Senyuman manis Mbok Sum menyambut Nona Mudanya. “Mandi gih Non! Mbok sebentar lagi ingin ke pasar, mau ikut?” ajaknya.


“Pasar?” Sea sempat berpikir sejenak. “Baiklah, aku ikut! Aku bersiap dulu ya, Mbok.”


Satu kecupan mendarat di pipi Mbok Sum, Sea berikan tanpa permisi. Alih-alih sebagai pengasuh, bagi Sea… Mbok Sum selayaknya seorang Ibu.


Bagaimana tidak… Mbok Sum adalah orang yang merawatnya sejak bayi di saat kedua orang tuanya sibuk membangun kerajaan bisnis di Kota.


Saat membersihkan dirinya dan bersiap, entah mengapa Sea terbayang akan hidangan seafood yang ia tonton di salah satu drama kesukaannya yang berasal dari Negeri Gingseng. Tak ingin berlama-lama, Sea cukup memoleskan krim tabir surya ke wajahnya. Disusul dengan bedak tabur bayi yang beraroma bunga sakura dan lipstik dengan nuansa warna nude.


“Mbok Sum… tolong bantu aku mengikat rambutku,” teriaknya dari dalam rumah pada Mbok Sum yang masih sibuk merawat tanaman-tanaman hidroponik miliknya.


Meski tertawa, dalam hati Sea meringis. Istri? Apa aku pantas? Istri macam apa yang pergi tanpa pamit pada suaminya? batin Sea.


Sea yang tiba-tiba saja melamun, terlonjak karena cubitan Mbok Sum di pipinya. “Eh, malah ngelamun. Kemarikan sisirnya!” celetuk Mbok Sum.


Tak perlu Sea bercerita padanya jika ia sedang dalam masalah, Mbok Sum sudah bisa menebak jika Nona Muda kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja. Diam-diam Mbok Sum selalu mendapati Sea yang menangis saat malam tiba. Belum lagi igauan Sea saat ia diserang mimpi buruk. Semuanya menjelaskan jika hati Nona Mudanya begitu terluka.


Tapi siapa yang tega melukai hati wanita sebaik Nona? Apakah suaminya? Mbok Sum hanya bisa bertanya dalam hatinya, tanpa pernah memaksa Sea untuk bercerita.


...………………………...


Tak ada satu pedagang di pasar yang tak mengenal Mbok Sum juga Sea. “Non… hari ini mau Mbok masakin apa?”


Sea merogoh ponselnya dari saku rok lipitnya. Menunjukkan gambar berbagai macam olahan hidangan laut dan di sambut dengan anggukan kepala si Mbok tanda ia telah mengerti keinginan Nonanya.


“Oh Tuhan… mimpi apa aku semalam. Non Sea cantik ini mampir lagi ke kios abang Fatih,” seru seorang pria menyambut kedatangan wanita cantik yang selalu ia puja.


Fatih… putra dari seorang pedagang hasil laut terbesar di pulau tempat Sea tinggal. Telah menaruh hati pada wanita itu bahkan saat wanita itu masih berseragam sekolah putih biru. Perbedaan usia keduanya terpaut 10 tahun, namun hingga detik ini, pria yang wajahnya tergolong dalam kategori awet muda itu masih saja mengharapkan Sea jadi miliknya.


“Terima kasih Bang Fatih pujiannya,” balas Sea. Wanita itu selalu menganggap segala macam jurus rayuan dan gombalan Fatih hanya sebatas candaan belaka.

__ADS_1


“Bang, aku ingin membeli ikan, udang, cumi, kerang, hem… apa lagi ya?” tutur Sea.


“Hati abang mau gak, Non?” Sahut Fatih.


Sea tergelak, “Lah abang mati dong?” jawabnya.


“Makasih ya, abang… tapi Sea masih lebih menyukai hati sapi dari pada hati manusia,” imbuhnya.


Wajah Fatih berubah cemberut, “Non Sea tega bener dah! Abang Fatih yang gantengnya maksimal gini masa masih kalah saing sama sapinya Pak Haji,” celetuk Fatih mengundang tawa dari para pedagang lain di pasar.


Hal seperti ini lah yang Sea sukai saat ke pasar. Dirinya yang memang terkenal ramah pada siapa saja, selalu terhibur dengan obrolan-obrolan penuh canda tawa dengan para pedagang di pasar.


Alhasil, hari sudah sangat siang saat Sea dan Mbok Sum baru kembali dari pasar. “Gini nih kalau Non Sea juga ikut ke pasar. Roman-romannya kita akan telat makan siang,” ucap Mbok Sum seraya tangannya sibuk mengeluarkan barang belanjaan mereka.


“Jangan khawatir Mbok, Master Chef Sea siap membantu.” Sea sudah siap dengan apron warna merah muda bergambar buah stroberi.


Mbok Sum hanya menggeleng-geleng saja melihat tingkah Nona Mudanya. Keduanya sudah siap beraksi di dapur, mengolah seluruh bahan-bahan menjadi bermacam-macam hidangan yang lezat. Sea yang tak pandai memasak, mendapat bagian untuk mengupas bawang dan memotong-motong sayuran.


Meski bertubuh tambun, gerakan Mbok Sum sangat lincah saat memasak di dapur. Mbok Sum bahkan mampu memasak dua hidangan secara bersamaan, hingga menimbulkan decak kagum dari wanita muda yang berurai air mata setelah menyelesaikan tugasnnya untuk mengupas dan mengiris bawang merah.


Dalam sekejap berbagai macam menu olahan seafood sudah terhidang di atas meja makan. Sea lebih dulu menghuni salah satu kursi di sana, lalu disusul Mbok Sum.


“Astaga, Non Sea… kenapa malah ngelamun?” Tegur Mbok Sum yang ikut bergabung bersama nonanya.


“Tak baik melamun di depan makanan,” imbuhnya menasihati sea.


“Iya… maaf ya, Mbok.”


“Aku hanya berpikir, apa kita berdua mampu menghabiskan semua makanan ini?” tanya Sea.


“Jangan dipikirkan, makan saja dulu, Non.” Mbok Sum meletakkan hidangan penutup berupa puding mangga kesukaan Sea.


“Jika makanannya masih banyak, kita bisa bagikan ke tetangga. Apalagi jika dibawa ke pasar, pasti akan habis sekejap mata,” ujar Mbok Sum.


Baru saja wanita paruh baya itu duduk di kursi, bunyi bel terdengar nyaring di seluruh penjuru rumah. “Biar aku aja yang buka pintunya, Mbok!”


Sea segera beranjak untuk membuka pintu. Mana tega Sea membiarkan Si Mbok yang baru saja duduk untuk kembali berdiri dan membuka pintu.


“Sebentar!” Teriak Sea dari dalam rumah saat bunyi bel tak henti-hentinya terdengar. “Akh, gak sabaran banget sih!” Omel Sea.


Klik… klik…


Bunyi kunci pintu yang Sea putar sebanyak dua kali. Dan saat pintu sudah berhasil terbuka lebar, tubuh Sea sontak menegang. Beberapa kali ia coba mengedipkan matanya, mengira jika bisa saja penglihatannya kini ikut-ikutan bermasalah. Namun, apa yang ia lihat di hadapannya tak berubah sama sekali.


Tangannya yang memegang pegangan pintu sontak mencengkeram kuat benda itu. “Ka-ka-kamu di sini?”

__ADS_1


...————————-...


__ADS_2