Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 79. Trauma Sea


__ADS_3

Air mata tetap saja luruh meski kedua netra wanita malang itu dalam keadaan terpejam. Sea pikir setelah dua hari melewati detik demi detik dengan menangis, air mata itu telah mengering. Rupanya apa yang ia pikirkan itu salah, air mata itu masih saja terus saja berlinang tanpa ia minta.


Bersembunyi di balik selimut tebal, tak mampu mengurangi dinginnya malam ini. Sea masih menanti sumber kehangatannya kembali.


Sejak siang, dengan berat hati ia terpaksa membiarkan Noah pergi meninggalkannya. Sehingga seharian ini Mami Joanna yang menggantikan putranya untuk menjaga Sea.


“Jam berapa Mas Noah akan kembali, ya?” Lirih Sea bergumam dengan netra yang terus terpejam.


Sungguh Sea telah berusaha agar tak menampakkan kesedihan dan dukanya. Walaupun tak ada yang memberitahu, Sea bisa menebak jika Ibu mertuanya juga sudah pasti telah banyak menangis.


Bukan hanya kedua mertuanya, tapi semua orang terdekat Sea dan Noah juga turut bersedih atas musibah yang menimpa pasangan tersebut. Tapi hanya Sea yang tahu bagaimana besarnya perasaan takut dan cemas yang kini bersarang dalam benaknya.


Sejak penyerangan tersebut, tak pernah sekalipun Sea bisa tidur tanpa memimpikan kejadian mengerikan itu. Tak cukup dengan mimpi buruk, Sea juga akan merasa ketakutan saat ada pria yang tak ia kenal menatapnya.


Seperti kejadian tadi pagi ketika Mami Joanna mengajaknya berjalan-jalan di taman dengan kursi roda. Tiba-tiba saja Sea histeris ketika ada seorang pria yang menatap padanya. Ia pikir pria itu akan menyerangnya.


Mami Joanna telah berkali-kali mengutarakan niatnya untuk menghubungi Noah, namun Sea mencegahnya. “Aku baik-baik saja, Mi. Aku tak ingin mengganggu Mas Noah.” Begitulah Sea memberi alasan penolakan.


Hingga malam pun tiba. Terpaksa Sea harus berpura-pura tidur dengan lelap agar tak membuat Mami Joanna semakin khawatir.


Ceklek


Bunyi derit pintu seketika menghentikan lamunan Sea. Segera ia membuka kedua netranya dan bangkit dari posisi berbaringnya. Semoga yang datang adalah Noah, pikirnya. Sungguh ia sangat merindukan suaminya.


“Mas Noah? Kamu kah itu, Mas?” tanya Sea.


“Iya, ini aku.” Noah menyahut seraya menekan saklar lampu agar ruangan menjadi lebih terang.


Noah menghela napas, rupanya dugaan Noah benar, istrinya masih terjaga. “Mhiu sayang, kamu belum tidur?” Noah balik bertanya pada istrinya. Sedangkan Sea menjawab dengan gelengan kepala.


Sebelum menghampiri istrinya, terlebih dahulu Noah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya juga mengganti pakaiannya. Sementara Sea dengan sabar duduk di atas brankarnya. Pandangan wanita itu tak pernah berpindah dari arah pintu kamar mandi.


“Kamu menungguku?” tanya Noah seraya mendekat ke brankar istrinya.


Sea mengangguk lalu menggeleng, ia tak ingin membuat Noah khawatir. “A-aku sudah tertidur. Namun terbangun saat mendengar bunyi pintu saat kamu masuk,” kilah Sea.


Noah ikut duduk di sisi Sea. Mendekap erat tubuh wanita yang mengisi sebagian besar relung hatinya.


“Kamu tuh dari dulu paling gak punya bakat bohong,” ucap Noah seraya mengecup kening disusul bibir Sea.

__ADS_1


“Ayo, waktunya tidur.” Noah perlahan membantu Sea agar kembali merebahkan tubuhnya.


Sea menggeser sedikit tubuhnya, memberikan ruang agar Noah juga ikut berbaring di sisinya. Kepalanya lalu bersandar di dada bidang suaminya. Mendengar bunyi detak jantung Noah, membuat Sea kembali dirundung pilu.


“Ada apa?” Noah mengecup puncak kepala Sea saat menyadari jika istrinya itu sedang terisak.


Sea menggeleng. Tak ada kata yang mampu melukiskan perasaannya saat ini. Seperti ada belati yang menyayat-nyayat hatinya. Seperti ada godam yang menghantam tepat di dadanya.


Sakit … ya, raganya mungkin tampak pulih dengan baik. Tapi tidak dengan hatinya.


Isakannya semakin terdengar jelas. “Aku gagal lagi,” sesalnya. Lirih suara Sea terdengar begitu memilukan.


“Tak ada yang gagal, sayang.” Noah semakin mempererat dekapannya pada tubuh sang istri yang terus bergetar.


“Semua sudah menjadi takdir kita,” imbuhnya.


Sea menggeleng. “Ta-tapi … ta-tapi ….”


“Ssstttt … tak ada tapi-tapi, jika kamu berpikir telah gagal. Maka aku pun sama, aku sama gagalnya denganmu,” Noah menyela ucapan Sea.


“Aku telah gagal menjadi suami sebab tak bisa melindungimu.”


Gelengan kepala Sea akhirnya terhenti. “Mas, apa mungkin kita masih akan diberikan kepercayaan memiliki anak?”


Sea semakin mempererat dekapannya. Irama detak jantung Noah bagai sebuah alunan musik pengantar tidur yang sangat indah.


Ketika netranya sudah akan terpejam, Sea teringat jika Noah belum bercerita mengenai apa saja yang dilakukannya di kantor polisi. Apa yang membuat suaminya begitu lama meninggalkannya.


“Mas,” panggil Sea lembut.


“Hemm,” jawab Noah.


“Jadi, apa pelaku yang menyerangku sudah tertangkap?” tanya Sea.


Wanita itu menengadahkan kepalanya menanti jawaban sang suami. Ia ingin mencari kejujuran jawaban Noah dari kedua netranya.


“Ya, dia sudah tertangkap dan dia sudah mengakui perbuatannya,” jawab Noah menahan emosi saat membahas mengenai pelaku tersebut.


Membayangkan wajah pria yang telah merenggut nyawa calon buah hatinya, membuat dada Noah bergemuruh karena amarah. Dua kali pria itu telah mencelakai Sea dan dua kali pula calon buah hati mereka menjadi korban.

__ADS_1


Ya, pelakunya adalah pria yang dulu juga terlibat dalam kasus kecelakaan mobil yang menimpa Sea. Namun ada sesuatu hal yang membuat hati Noah gundah.


Jika dahulu pria itu berusaha keras agar terbebas dari jerat hukum, mengapa saat ini berbeda? Batin Noah.


Helaan napas lega Sea terdengar. “Syukurlah, aku bisa lebih tenang sekarang,” gumamnya tanpa sadar.


“Memangnya kenapa? Apa sebelumnya ada hal lain yang mengganggumu?”


Sea segera menggeleng. Tak ingin ia beritahu Noah jika akhir-akhir ini, gangguan kecemasannya kembali lagi. Sea merasa kembali ke masa-masa tersulit dalam hidupnya. Yaitu saat kedua orang tuanya pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Mendapati tatapan menelisik dari suaminya, Sea segera berpura-pura menguap. “Aku sudah mengantuk, ayo kita tidur,” elaknya.


Noah yakin jika kini istrinya sedang menyembunyikan sesuatu lagi dirinya. Namun malam yang semakin larut membuat Noah mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Dirinya pun sama, ada satu hal yang masih berusaha ia tutupi dari Sea.


“Ya, ayo kita tidur.” Noah mengecup sekali lagi pada kening istrinya sebelum ia turut memejamkan matanya.


...…………...


Malam yang sama di tempat yang berbeda, hawa dingin mulai menyelimuti. Malam yang segelap pekat, sekelam sepi, serta hanya ada nyanyian serangga yang terdengar . Terlihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya.


Meski sedikit kesulitan, namun wanita itu terlihat mengerahkan seluruh tenaga miliknya untuk membawa tas besar menuju mobilnya. Setelah berhasil memasuukan tas berisi pakaian miliknya ke dalam mobilnya, segera ia mengambil posisi duduk di balik kemudi.


Tangannya bergetar saat menggenggam kemudi. Perasaan takut juga tak rela mulai menghinggapi batinnya. Sebelum ia mulai menginjak pedal gas, sekali ia menoleh pada rumah besar yang akan segera ia tinggalkan. Entah sampai kapan, ia pun tak memiliki jawabannya.


Jalanan yang sangat lengang, memudahkannya untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Belum 10 menit ia berkendara, dirinya dikejutkan dengan bunyi klakson mobil yang sangat nyaring dari arah belakang.


“Mengapa ia mengikutiku!” Wanita itu terlihat panik saat mobil yang mengejarnya berada di jarak yang cukup dekat dengan mobilnya.


Ia mengenal jelas mobil itu. Ia tahu dengan pasti siapa pria yang sedang mengejarnya.


“Tidak … tidak … aku tak boleh berhenti. Aku harus bisa kabur!” tekadnya.


Di jalanan yang lengang karena malam semakin larut, dua mobil itu terlihat melaju dengan kecepatan tinggi saling berkejaran. Walau air mata telah membuat pandangan wanita itu kabur, namun tetap tak menyurutkan niatnya untuk terus melajukan mobilnya menjauh dari mobil yang berada di belakangnya.


Sesekali ia akan melihat pada kaca spion tengah mobilnya. Ia harus terus memastikan jika mobil yang sejak tadi mengejarnya, berada pada jarak yang cukup jauh dengannya.


Tak lama berselang, dengan keahlian si pria dalam melajukan mobil dengan baik, ia akhirnya bisa menyalip mobil si wanita.


Ckiiiiiiittttt ….

__ADS_1


Kedua mobil pun terpaksa harus berhenti mendadak. Beruntung baik si pria maupun wanita itu tidak ada yang terluka.


...-----------------...


__ADS_2