Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 9. Kenangan Sea


__ADS_3

Lima tahun lalu, jelas di ingatan Sea jika hari itu adalah hari yang telah ia nanti sejak lama. Sweet Seventeen, meski Sea tak tahu apa yang spesial dengan ulang tahun saat usia ke-17 tahun namun seperti gadis remaja lainnya ia turut antusias menanti hari itu tiba. Dan yang paling penting, hari itu harusnya dua orang terpenting dan paling ia sayangi dan rindukan akan menemuinya.


“Mbok Sum, kok ayah dan bunda belum datang yah?” Kala itu tak henti-hentinya Sea melirik ke arah jam di pergelangan tangannya.


Sejak usia 10 tahun Sea tinggal di daerah pesisir pantai hanya berdua bersama Mbok Sum, pengasuhnya sejak kecil. Kedua orang tuanya yang memiliki sebuah perusahaan farmakologi di kota, mengharuskan Sea tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Entah alasan apa hingga ayah dan bundanya tak membawa serta Sea untuk tinggal di Kota bersama mereka.


Sea juga ingat jika saat itu dirinya sungguh tak sabar jika hanya duduk diam dan menanti. Menanti kepulangan kedua orang tuanya sambil memandangi lilin angka 17 yang menghiasi kue ulang tahunnya perlahan-lahan meleleh hingga tak berbentuk lagi.


Sea ingat, bagaimana dirinya yang tak henti-hentinya menengok ke luar rumah saat mendengar deru mobil yang ia duga adalah milik kedua orang tuanya. Sea ingat bagaimana kecewanya dirinya, setelah menunggu berjam-jam kedua orang tuanya tak kunjung tiba.


Bayangan senja yang sangat indah kala itu, masih tergambar jelas di benaknya. Hari sudah mulai sore, saat Sea memutuskan untuk menikmati senja seorang diri di tepi pantai yang tak jauh dari kediamannya. Setiap langkahnya menuju pantai berpasir putih itu diiringi tetesan air mata. “Ayah dan bunda jahat! Mereka lagi-lagi berbohong!” Gerutu Sea kala itu.


Duduk di atas pasir putih, alas kakinya sudah ia lepaskan. Ia biarkan gelombang air laut membasahi kakinya, bahkan sesekali wajahnya terkena cipratan air laut. Deru ombak terdengar bagai nyanyian yang mengusir sepinya, “Terima kasih karena telah menyanyikan lagu ulang tahun untukku,” ucap Sea diiringi tawa.


Kepalanya menengadah, menatap langit yang perlahan-lahan berubah warna menjadi jingga. “Indah sekali,” gumam Sea. “Karena indah, kuanggap senja sore ini menjadi kado ulang tahun terbaik yang dikirim Tuhan untukku.”


Masih bisa Sea rasakan dinginnya angin yang berembus sore itu, saat Mbok Sum berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Apa mungkin ayah dan bunda sudah tiba? Begitulah yang terpikirkan di benak Sea sambil menyambut Mbok Sum dengan senyuman.


“Kenapa berlarian Mbok Sum?” tanya Sea tanpa curiga. Ia berdiri untuk menyambut Mbok Sum.


“Non ... itu ... itu ....” Mbok Sum mengambil jeda untuk menghirup napas panjang.


“Tu-tuan dan Nyonya mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke mari. Mereka dinyatakan meninggal dunia,” ucap Mbok Sum diiringi tangisnya.


Sea mematung. Tak ada kata yang sanggup terucap. Tak ada suara yang mampu ia dengar. Seolah Sea tertarik ke dalam lubang yang dalam dan gelap. Tubuhnya luruh dengan sendirinya, Sea duduk bersimpuh dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.


“Ayah ... Bunda ... kalian begitu jahat!”


“Bahkan saat meninggalkan dunia ini, kalian hanya pergi berdua dan meninggalkanku sendiri.” Lirih Sea bergumam dalam isak tangisnya.


......................


“Tidak ... jangan pergi ... jangan tinggalkan aku sendiri,” gumam Sea dengan mata terpejam dan peluh yang membasahi keningnya. Kepalanya bergerak ke kanan-kiri hingga mengusik tidur Noah.

__ADS_1


“Sea!"


“Sea!" Noah guncang tubuh Sea sembari terus berusaha membangunkannya, “Sea, ayo bangun! Buka matamu, Sea!”


Sekejap kedua netra indah Sea terjaga. “Mas ....” Serunya lalu gadis itu sontak bangun dan memeluk Noah. Noah hendak melepaskan pelukan Sea, namun isakan tangis yang ia dengar membuat Noah mengurungkan niatnya. Ada apa dengannya? Batin Noah.


Sementara Sea yang terus mendekap Noah dengan erat sungguh bersyukur. Meski pelukannya tak mendapat balasan setidaknya Noah tak menolak pelukannya. Lima tahun sudah mimpi itu selalu menjadi bunga tidurnya di waktu yang sama.


Setiap awal bulan September, Sea lagi-lagi kembali mengenang saat-saat hidupnya begitu terpuruk ketika ia harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tuanya tepat di hari ulang tahunnya.


Waktu berjalan begitu cepat, pagi pun menjelang. Sepasang suami istri, Sea dan Noah sudah rapi dengan setelan berwarna hitam senada. Bukan karena ingin tampil serasi, namun Sea dan Noah pagi ini akan mengunjungi makam kedua orang tua Sea.


Setelah menempuh perjalanan dalam keadaan hening, akhirnya Sea dan Noah tiba di TPU yang menjadi tempat peristirahatan terakhir orang tua Sea. Noah menatap dengan sendu dua nisan yang berdampingan. Di nisan itu terukir nama Septian dan Namira, nama kedua mertuanya.


Hati Noah terenyuh saat melihat Sea duduk bersimpuh di sisi makan kedua orang tuanya. Meski gadis itu hanya diam dan menatap lurus pada nisan kedua orang tuanya, Noah tahu jika dalam hatinya kini Sea tengah menangis. "Pasti sangat sakit dan aku yakin jika gadis itu sedang bersedih." Gumamnya lirih.


Saat Noah hendak memeluk Sea untuk memberikan sedikit ketenangan bagi gadis yang berstatus istrinya, tiba-tiba saja bayangan dirinya beberapa waktu lalu yang tak jauh berbeda dengan Sea kembali muncul. Sontak rasa iba yang tadi sempat terlintas di benak Noah kembali dikalahkan oleh rasa benci pada Sea yang terus ia pupuk.


......................


Sementara Sea hari ini semakin tak bersemangat saat kuliah, sebab kedua sahabatnya sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Dua jam berlalu begitu cepat, sebab selama di kelas Sea hanya duduk diam dan terlarut dalam lamunannya. Saat hendak pulang, tanpa sengaja Sea bertemu dengan Alfio.


“Sea ....” Seru Alfio.


“Kak Al, bagaimana kabar kafe?” tanya Sea.


“Aneh kamu Sea,” jawab Alfio. Tanpa sadar tangannya mengelus puncak kepala Sea.


“Harusnya yang kamu tanyakan kabarnya itu adalah Si pemilik kafe.” Imbuhnya.


Sea tertawa. Tawa pertamanya hari ini. “Itu sih maunya, kakak.”


“Sea, kamu sibuk gak?” tanya Alfio. “Aku mau meminta pendapatmu mengenai dekorasi baru kafeku,” jelasnya.

__ADS_1


Sea melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa jam sebelum pengajian dimulai. Sea pun menyetujui permintaan Alfio untuk membantunya, hitung-hitung Sea membalas Alfio yang telah memberinya banyak foto yang sangat indah.


“Baiklah, tapi aku tak memiliki banyak waktu. Aku harus segera pulang,” jawab Sea.


Keduanya jalan beriringan menuju kafe Venus. Sea memang menyadari jika ada yang berbeda dari biasanya. Kafe tampak lebih sepi dari biasanya, hanya area parkir khusus karyawan yang terisi. “Apa kafe kakak tutup?” tanya Sea.


Alfio mengedikkan bahunya dan menyilakan Sea untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, “Surprise ...” teriak banyak orang.


Betapa terkejutnya Sea, sudah 5 tahun ia tak lagi pernah merayakan ulang tahunnya. Tampak Tessa dan Phila yang membawa kue ulang tahun dengan banyak lilin di atasnya.


“Selamat ulang tahun sahabatku tersayang,” ucap Tessa. “Jangan bersedih terus, kamu juga harus bahagia.” Ucapan selamat ulang tahun dari Tessa, ia akhiri dengan sebuah pelukan.


Setelah Sea meniup semua lilin di kue ulang tahunnya, sayang seribu sayang Phila yang hendak memeluk Sea malah tersandung salah satu kaki kursi membuat kue ulang tahun yang ia bawa terlontar dan sebagian mengenai pakaian Sea.


Alfio merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab dengan mengajak Sea ke butik untuk membeli pakaian baru. Dengan sedikit paksaan akhirnya Sea menerima tawaran Alfio.


......................


Waktu berlalu begitu cepat, di kediaman Peter Myles satu per satu tamu yang diundang untuk menghadiri pengajian sudah mulai berdatangan.


Noah mulai gusar sebab pengajian akan dimulai beberapa menit lagi sedangkan istrinya belum juga pulang dari kampus. Terlebih kedua orang tuanya terus-menerus menekan Noah untuk mencari tahu di mana keberadaan Sea.


“Pergi ke mana yah?” gumam Noah dengan ponsel yang menempel di telinganya. Noah sungguh dilema, antara kesal dan juga khawatir pria itu terus saja mondar-mandir di teras rumahnya.


Tak lama setelah itu, kedua netranya menyipit saat sebuah mobil menepi tepat di depan gerbangnya. Seorang pria turun dari sisi kemudi. Pria itu berlari ke sisi yang lain untuk membukakan pintu mobil.


Betapa terkejutnya Noah saat melihat jika gadis yang turun dari mobil tersebut adalah istrinya, Sea.


“Berani sekali dia membawa pria lain ke rumah ini! Geram Noah. Segera ia langkahkan kakinya lebar menuju gerbang.


“Sea!” Teriaknya meski jarak gerbang masih cukup jauh.


“Dasar wanita pembohong!” lanjut Noah menghina Sea.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2